Ternyata Produksi itu Tidak Mudah

Salah satu produk hasil penelitian lab kami, yaitu PROMI, berkembang cukup pesat. PROMI dikembangkan dalam waktu 1 – 2 dua tahun yang lalu pada saat aku pertama kali masuk ke Balai. Tahun pertama lebih banyak pada pengembangan dan pengenalan produk. Kami mencoba PROMI di beberapa tempat. Ada banyak perbaikan dan pengembangan pada waktu itu. Tahun pertama, awal tahun 2005, produk ini belum diberi nama dan hanya dibuat beberapa puluh kilo saja. Tahu berikutnya sudah diberi nama dan mulai diuji coba, tahun 2006 dibuat beberapa ratus kilo kilo. Tahun 2007, ada pesanan sekitar 19 ton, tetapi hanya laku setengahnya saja. Di tahun ini pemasaran dilakukan sangat agresif, terutama oleh Dr. Darmono dan Dr. Agus Purwantara, aku membantu beliau di ‘belakang’. Tahun 2008 ini kami mendapat tantangan untuk memenuhi permintaan sekitar 80 – 100 ton. Lonjakan yang sangat luar biasa, khususnya bagiku. Ibaratnya seorang anak, baru bisa jalan tiba-tiba disuruh sprint.

Ini bukan pekerjaan yang mudah, khususnya bagiku. Ini pengalaman yang sangat berharga sekali bagiku. Aku belajar bagaimana menjadi seperti manajer produksi di perusahaan/pabrik. Aku harus merubah mind set dari peneliti ke ‘mandor’ pabrik. Ini yang tidak mudah, karena aku belum pernah belajar manajemen, apalagi manajemen pabrik. Tantangan yang sangat luar biasa. Banyak yang harus dipersiapkan matang-matang agar target dan permintaan ini bisa dipenuhi.

Memproduksi Mudah, yang Susah Pemasaran

Awalnya aku berfikir, memproduksi itu mudah, yang susah adalah memasarkannya. Secara teknis aku bisa memproduksi produk-produk berbasis mikroba. Dari sisi kualitas aku berani bersaing dengan produk-produk yang sudah mapan di pasaran, bahkan produk-produk luar negeri. Tetapi apalah artinya kualitas dan kemampuan produksi, kalau produknya sendiri tidak bisa dijual.

Sejalan dengan waktu, aku kenal beberapa pengusaha keturunan China. Ada yang sangat sukses, ada yang sukses, dan ada yang pernah sangat sukses. Aku banyak berdiskusi dan belajar dengan mereka. Kata mereka salah satu kunci ‘berdagang’ adalah adanya pasar. Kalau pasar (dalam hal ini permintaan) sudah dikuasai, memproduksi itu mudah. Kemudain aku juga belajar dari sales-sales yang sering memasarkan produk-produknya. Aku amati bagaimana mereka mendekati calon komsumen (dalam hal ini petani), bagaimana merayu, dan bagaimana memasarkan produk-produknya.

Ini juga sangat disadari oleh senior-seniorku. Setahun terakhir merupakan tahun-tahun pemasaran yang sangat agresif. Dr. Darmono berhasil menjalin kerjasama dengan Yayasan Danamon Peduli. Dr. Agus menjalin kerjasama dengan sebuah CV dan berhasil mendapatkan kepercayaan yang sangat besar. Ada kerjasama dengan beberapa Pemda Propinsi dan Pemda Kab/Kota. Ada juga kerjasama dengan perusahaan atau CV. Ada juga jalinan dengan Gapoktan/Kelompok Tani. Aku sedikit-sedikit memasarkan ke petani, beberapa komunitas pertanian, dan pemasaran melalui internet. Upaya-upaya ini bukan upaya yang sederhana, perlu kejelian melihat peluang, menjalin silaturahmi dan komunikasi, dan tentunya kepandaian untuk meyakinkan orang.

Buahnya adalah permintaan yang datang bertubi-tubi. Awalnya kami agak kewalahan dengan permintaan PROMI dalam kemasan kecil, ukuran 1 kg/kemasan. Ini hanya masalah teknis saja. Ketika permintaan sudah semakin besar, tantangannya mulai bergeser dan membesar.

Ketika Pemasaran Sukses, Produksi Ternyata Tidak Mudah

Ketika permintaan dan kepercayaan mulai terbentu, produksi juga harus mengimbanginya. Permintaan besar berarti kemampuan dan kapasitas produksi juga harus besar. Dan ini ternyata tidak mudah.

Lab kami aslinya adalah laboratorium penelitian, didesain untuk penelitian. Kapasitas awal kami tentunya tidak seperti pabrik. Tantangannya adalah kami harus merubah lab dari berkapasitas kecil menjadi kapasitas pabrik. Dari kapasitas ukuran kg menjadi kapasitas ukuran ton. Aku harus memikirkan berapa sih sebenarnya kapasitas peralatan yang kami miliki, andaikan di-pol-kan berapa kemampuan kami. Pertanyaannya berkembang menjadi, fasilitas apa yang harus kami tambah, alat apa yang harus kami beli, dan lain-lain dan lain-lain. Ini baru dari sisi ‘perangkat kerasnya’.

Tantangan kedua adalah dari sisi ‘perangkat lunak-nya’ atau orang-orangnya. Teman-teman di lab pada dasarnya disiapkan untuk penelitian. Sekarang harus diubah menjadi mirip ‘orang pabrik’. Pikirannya adalah target produksi. Di sini aku harus dapat memetakan kemampuan orang-orang lab, siapa yang bisa membuat inokulum, siapa yang bisa jadi bagian keuangan, siapa yang bisa menjadi mandor, siapa yang bisa menjadi bagian gudang, bagian pembelian. Kemudian adalah melihat kapasitas produksi mereka secara keseluruhan. Kami harus menambah tenaga kerja, dari mulai yang ‘kasar’ sampai yang ‘trampil’. Di bagian lapang lebih berat lagi, karena harus mengatur orang agar target-target produksi bisa terpenuhi.

Tantangan ketiga adalah dari sisi bahan baku. Ketika produksi masih kecil, kami tidak terlalu pusing dengan bahan baku. Relatif tersedia dan mudah diperoleh. Ketika produksi semakin besar, problem mulai muncul. Ambil contoh saja, andaikan target produksi kami adalah 2 ton sehari, kami harus menyediakan stok bahan selama satu bulan, jumlahnya kira-kira 50 ton bahan baku. Kami harus mencari supplier-supplier bahan baku, mencari harga yang murah, dan menjamin stok bahan baku terjamin untuk beberapa bulan ke depan. Belum lagi masalah-masalah teknis yang tidak mudah ketika kapasitas membesar, seperti menyiapkan tempat pengolahan dan gudang penyimpanan.

Tantangan keempat adalah menjaga kualitas produksi. Ketika sedikit, kualitas mudah kami kendalikan. Tetapi ketika besar, ini masalah yang harus mendapat perhatian khusus.

Tantangan kelima adalah dari sisi biaya. Produksi besar berarti perlu modal yang besar. Dari mana modal kerja ini. Kami bisa mendapatkan uang muka dari pembeli, tetapi kapan dan berapa besarnya uang muka ini tidak mudah diprediksi. Aku harus memastikan atau meminta jaminan masalah dana ini. Dalam hitunganku dalam satu minggu saja harus ada uang tunai beberapa puluh juta.

Tantangan berikutnya adalah memenej itu semua agar berjalan seperti yang direncanakan dan yang diinginkan. Ini dilakukan day to day, banyak makan energi dan pikiran. Belum lagi kalau – menurutku istilahku – ‘manajemen panik’, kepanikan ketika ada permasalah produksi, yang membuat keputusan dan tindakan menjadi tidak terkontrol dan bisa mengacaukan semuanya. Pelajaran penting berikutnya: koordinasi itu penting dan tidak mudah.

So..TERNYATA PRODUKSI ITU TIDAK MUDAH.


Lanjutannya


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s