Mengenalkan Komputer pada Anak

Pengenalan Sejak Dini

Belajar Komputer Sejak Dini

Belajar Komputer Sejak Dini

Dalam sebuah puisinya Khalil Gibran mengatakan bahwa: anak-anak kita bukanlah anak kita, tetapi anak jamanya sendiri. Artinya anak-anak kita harus dipersiapkan untuk menghadapi jamannya sendiri. Salah satunya adalah mengenalkan dunia komputer pada Anak.

Kalau dulu jaman saya, saya mengenal komputer di tahun-tahun pertama kuliah. Itu saja layarnya masih ‘biru’. Sekarang OS sudah canggih sekali, fiturnya pun luar biasanya banyaknya. Komputer pun sudah masuk hampir ke semua bidang. Anak-anak kita sebaiknya diperkenalkan dengan komputer sedini mungkin.

Anak saya yang nomor satu: Ar Royan sangat suka dengan komputer. Kalau saya sedang bekerja dengan komputer dia ikut-ikutan nimbrung, mengganggu. Kalau sudah begini saya yang mengalah, dan menyerahkan komputer pada Royan. Rasa ingin tahunya yang tinggi mengoda dia untuk meng’klik’ apa saja yang ada di layar monitor. Kadang-kadang membuat saya binggung, karena tiba-tiba komputer sudah berubah konfigurasinya.

Pernah suatu hari dia main komputer. Umurnya saat itu baru 3 tahun, belum sekolah dan belum bisa membaca. Entah apa yang dia klik, tiba-tiba suara komputer hilang. Seharian saya mencoba memperbaiki komputer itu, tetapi tetap saja ngak ketemu masalahnya. Sambil sedikit jengkel dan bercanda, saya minta Royan untuk memperbaiki komputer itu. Saya minta dia mengulang apa yang dilakukannya pagi tadi. Anehnya Royan bisa mengembalikan suara komputer itu lagi.

Game Edukatif

Dalam petualangannya mengoprek-oprek komputer, Royan menemukan game. Sejak saat itu dia mulai asik main game. Kalau lagi asik bisa seharian dia tidak beranjak dari meja komputer. Hal ini membuat Umminya uring-uringan. Saya yang kena marah Umminya, karena dituduh mengajari Royan main game.

Kebiasaan main game ini sulit dicegah, karena itu aku mencoba taktik lain. Royan aku belikan CD game edukatif, salah satunya CD Anak dari Akal Interaktif. Hanya diberi petunjuk sebentar, Royan bisa memainkan game itu. Bahkan dia bisa menginstall game itu sendiri tanpa aku ajari. Game-game edukatif ini bisa membantu anak belajar, misalnya belajar matematika, membaca, bahasa Inggris, logika, memasang puzzle, mengenal warna, dan ketrampilan-ketrampilan yang lain. Game-game ini sebaiknya disesuaikan dengan umur dan kemampuannya. Saat ini banyak kok pengembang-pengembang game yang membuat game sesuai dengan umur dan kemampuan si anak. Ketika aku mulai beralih ke Linux, Royan pun belajar menggunakan Linux (Mandriva dan Ubuntu). Dia lebih suka memakai Ubuntu karena gamenya seabrek-abrek.

Aku mencoba juga untuk mengajarkan Royan program-program yang lain agar dia tidak melulu main game. Aku perkenalkan dia dengan MS PowerPoint/Impress. Di sini aku ajari dia menggambar bentuk-bentuk dan mewarnainya. Atau aku kenalkan dia dengan Paint untuk menggambar.

Salah satu cara untuk membuat dia tetap semangat adalah dengan memberinya reward. Yang sederhana saja. Misalnya, dengan memberi dia pujian ketika dia berhasil menyelesaikan puzzle. Atau ikut memberi semangat ketika dia main game matematika. Kadang-kadang saya berpura-pura tidak tahu dan meminta Royan mengajari saya mengerjakan game-game edukatif tersebut. Ini akan membuat dia bangga. Pernah dia menunjukkan ke saya bagaiman acara merubah tampilan desktop. Royan memberi tahu saya dengan perasaan bangga, dan saya pun memberinya pujian sewajarnya.

Pengenalan Secara Bertahap

Ketika Royan sudah bisa membaca, saya mencoba meningkatkan dengan mengajarinya tentang word processor (MS Word/Writer). Awalnya ketika saya ajari dia agak malas-malasan. Karena mungkin sedikit membosankan untuk anak seusia dia. Saya coba berbagai cara untuk meningkatkan semangatnya. Akhirnya saya menemukan sesuatu yang membuat dia bersemangat: menulis surat untuk kakek.

Aku ajak Royan menulis surat untuk kakek yang tinggal di Pati. Aku minta dia membuka program Word Processor. Saya diktekan kalimat pembukanya: Untuk Eyang Kakung dan Eyang Putri. Kalimat berikutnya saya minta dia berfikir tentang apa yang ingin diceritakan pada kakek. Setelah ketemu, aku minta dia menuliskannya di layar. Aku ajari juga Royan mengetik 10 jari. Posisi jari-jarinya aku ajari. Aku biarkan saja dia menulis sesukanya, tanpa tanda baca atau huruf besar. Aku hanya memberitahu dia ketika harus menekan space untuk memisahkan setiap kata.

Setelah surat itu selesai, kemudian dicetak. Aku minta Royan dan Ibrahim untuk menandatangani surat itu. Mereka sendiri yang melipatnya dan memasukkannya ke dalam amplop. Setelah diberi perangko surat itu kami antar ke kantor pos. Dari raut wajahnya, anak-anak tampak senang sekali.

Kira-kira seminggu kemudian datanglah surat balasan dari Eyang Kakung. Royan membacanya dengan penuh semangat. Kemudian aku minta dia untuk membalas surat itu lagi.

Ada beberapa hal yang dipelajari dari aktivitas menulis surat ini, antara lain: mengenalkan anak dengan Word Processor, mengajarkan anak mengetik 10 jari , mengajarkan anak menulis dan mengungkapkan pendapatnya dalam bentuk tulisan. Point terakhir ini yang penting.

Sejalan dengan peningkatan kemampuannya dan minatnya, saya ingin mengajarkan yang lain, seperti: menggunakan internet, email, menjelajah dunia maya, membuat blog, atau pemrograman sederhana. Tetapi ini semua tergantung minat si anak itu sendiri.

Kita tidak perlu memaksakan anak untuk mempelajari ini atau itu. Justru malah akan membuat anak tertekan dan bosan. Biarlah dia belajar sendiri, kita sebagai orang tua mengarahkan saja. Komputer dan internet seperti pisau bermata dua, ada sisi positifnya dan ada sisi negatifnya. Kita arahkan ke sisi positifnya agar dia tidak terjerumus ke sisi negatifnya.

Selamat mengajarkan komputer pada anak Anda.

Belajar Komputer

Belajar Komputer


mengetik 10 hari

mengetik 10 hari

Advertisements

4 responses to “Mengenalkan Komputer pada Anak

  1. Wah… idenya bagus sekali Mas 🙂 Anak saya udah saya akal2i bli komputer mainan tetep ajah lebih tertarik dengan komputer beneran huekekeke…

  2. Mengenalkan anak pada komputer lebih dini lebih baik, tapi harus hati-hati juga. Banyak juga negatifnya, apalagi kalau sudah kecanduan game atau internet.

  3. salam kenal, aq print ya… mau baca di rumah

  4. Kurang Meminati………………

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s