Pemanfaatan TKKS untuk Pupuk Kompos/Pupuk Organik di Kebun Sawit

pohon sawit

Kelapa Sawit

Langka dan mahalnya harga pupuk tidak hanya menjadi masalah bagi petani, tetapi juga bagi perkebunan-perkebunan besar, seperti perkebunan sawit. Harga pupuk non subsidi saat ini sangat tinggi di atas Rp. 10.000/kg. Kondisi ini mendorong perkebunan untuk mencari pupuk alternatif, karena ‘nyawa’ perkebunan sawit ada di pupuk. Alternatif terbaik adalah dengan memanfaatkan TKKS (tandan kosong kelapa sawit) untuk pupuk organik/kompos. Pembuatan kompos tkks sangat mudah, murah, dan dapat untuk subtitusi pupuk kimia.

1. TKKS Cacah
2. TKKS Utuh
3. Masalah Biaya

Pupuk Kompos TKKS Cacah

Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS), atau sering disebut juga tankos atau jankos, adalah limbah dari pengolahan pabrik kelapa sawit (PKS). Setelah melalui perebusan tandan sawit akan dirontokkan buah-buahnya. Sisanya adalah tandan yang sudah kosong buahnya. TKKS ini masih diperas lagi untuk mengambil sisa-sisa minyak yang masih ada di dalamnya. Kemudian melalui konveyor TKKS diangkut ke tampat penampungan TKKS.

tkks

tkks

TBS (Tandan Buah Segar) yang bagus dapat mencapai berat antara 20 – 30 kg. Kalau sudah rontok buahnya menghasilkan TKKS dengan berat antara 13 – 17 kg. Ukurannya lumayan besar, sebanding dengan beratnya. Karena ukurannya yang lumayan besar, TKKS perlu dicacah terlebih dahulu sebelum dibuat kompos. Tujuan pencacahan ini adalah untuk memperkecil ukuran dan memperluas luas permukaan TKKS, sehingga TKKS dapat terdekomposisi dengan lebih cepat.

Setelah melewati belt conveyor, TKKS dimasukkan ke dalam mesin pencacah. Ada banyak macam mesin pencacah. Misalnya yang sederhana seperti di dalam gambar di bawah ini:

tkks

Atau yang sedikit canggih seperti gambar di bawah ini:

mesin cacah

Kualitas mesin cacah menentukan hasil cacahannya. TKKS yang sudah dicacah kurang lebih sudah jadi serabut seperti gambar di bawah ini:

tkks

TKKS yang sudah hancur siap untuk dibuat kompos. TKKS diangkut ke lokasi pengomposan dengan menggunakan dump truk.

tkks

tkks

Secara alami TKKS akan mengalami dekomposisi menjadi kompos. Tetapi perlu waktu yang luamaaa zekali. Mungkin bisa sampai 6 bulan baru bisa digunakan. Ada berbagai metode untuk mempercepat proses pengomposan. Salah satunya adalah dengan menggunakan aktivator pengomposan. Aktivator ini berisi mikroba-mikroba yang dapat mempercepat proses pengomposan. Ada banyak sekali aktivator yang ada di pasaran dengan berbagai merek dan kualitasnya masing-masing. Salah satunya adalah PROMI (info Promi: tag Promi atau Promi) yang dikembangkan oleh Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia (BPBPI). Aktivator Promi tidak memerlukan tambahan bahan-bahan lain untuk mengkomposkan TKKS. Selain itu penambahan aktivator Promi juga murah, karena biayanya tidak lebih dari < Rp. 25/kg TKKS (hanya biaya aktivator saja).

Pengunaan Promi sangat mudah sekali. Setiap 1 ton TKKS memerlukan Promi antara 0.5 – 1 kg. Promi diencerkan dengan menggunakan LCPKS (Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit). Banyaknya LCPKS yang diperlukan disesuaikan dengan kebutuhan air bahan, kurang lebih sekitar 30 – 40% bahan. Larutan Promi ini kemudian disemprotkan secara merata ke seluruh tumpukan TKKS.

tkks

Agar aktivator bisa merata ke seluruh permukaan TKKS perlu dilakukan pembalikan. Pembalikan dapat dilakukan dengan menggunakan mesin Turner (pembalik). Dengan menggunakan turner pencampuran dapat merata sempurna. Namun, masalahnya harga turner juga tidak murah. Cara kerja turner ini bisa dilihat di sini.

Ini adalah salah satu mesin turner. Gede juga ya.., tinggiku hanya sepertiganya saja.

tkks

Kalau tidak ada turner pembalikan dapat juga dilakukan dengan menggunakan traktor loader. Memang memerlukan waktu yang lebih lama, tetapi asal dilakukan dengan baik, pencampuran dapat sempurna juga.

tkks

Promi sudah tercampur merata di seluruh permukaan TKKS. Pembalikan ini hanya dilakukan sekali saja sudah cukup. Setelah itu tumpukan TKKS ditutup dengan menggunakan terpal. Sebaiknya terpal dipilih yang cukup tebal dan kuat. Akan lebih baik lagi jika yang tahan UV. Tutup terpal berfungsi untuk menjaga kelembaban dan suhu agar optimal untuk proses dekomposisi TKKS.

tkks
TKKS yang sudah tercampur merata dengan aktivator Promi.

Udah itu saja, tidak ada lagi perlakuan lagi. Tumpukan ini dibiarkan saja. Untuk kontrol proses, dilakukan pengukuran suhu dan pengamatan kadar air. Pengukuran suhu menggunakan termometer batang biasa. Harganya juga murah. Suhu yang bagus adalah 60 – 70oC dalam waktu beberapa hari hingga tiga minggu berikutnya. Pengukuran kadar air dikira-kira saja. Jangan sampai TKKS kering, karena akan menghambat proses pengomposan.

tkks

Atau

Tidak perlu nunggu lama-lama, cukup 4 – 6 minggu saja. Kompos yang baik ditandai dengan adanya perubahan kenampakan dan kelunakan TKKS. Kalau dilihar sekilas TKKS masih berserabut-serabut. Tetapi kalau dipegang akan terasa lunak dan mudah putus alias sudah jadi kompos. Jika dianalisis di laboratorium rasio C/N-nya sudah di bawah 30.

tkks
Aku di depan tumpukan kompos TKKS yang sudah matang.

Kompos TKKS ini siap ditebarkan di kebun sawit. Dosisnya bisa disesuaikan dengan kebutuhan kebun. Tetapi umumnya antara 25 – 60 kg/ph/sm. Kompos ditebarkan dibawah tajuk sawit (ditengah-tengahnya antara pohon dan ujung tajuk) atau dipiringan sawit.

tkks

tkks

tkks

Proses dekomposisi akan tetap berlangsung terus di lapang, karena kompos yang dibuat dengan Promi bersifat Bioaktif. Maksudnya, mikrobanya akan tetap aktif dan berfungsi pula sebagai biofertilizer. Kira-kira kurang dari sebulan, kompos itu sudah menyatu dengan tanah dan siap memberikan nutrisi untuk tanaman sawit.

tkks

tkks

tkks
Kompos disebarkan di piringan tanaman sawit

TKKS Utuh

Pencacahan TKKS untuk pembuatan kompos memang sangat membantu dalam mempercepat proses pengomposan. Tetapi tidak semua PKS memiliki mesih cacah. Umumnya TKKS masih dibuang dalam bentuk utuh. Kalau anda tidak memiliki mesin pencacah atau loader atau turner yang bisa digunakan untuk pembalikan, tidak perlu berkecil hati, TKKS masih bisa digunakan untuk menambah nutrisi tanaman sawit. Caranya sangat mudah sekali.

Beberapa kebun memanfaatkan TKKS utuh sebagai mulsa. Nah…dengan sedikit pengembangan metode mulsa ini bisa juga diterapkan. Masih dengan menggunakan Promi . Kebetulan mikroba bahan aktif Promi memiliki ketahanan hidup yang lumayan. Jadi meskipun tanpa proses pengomposan mikroba ini masih tetap aktif.

tkks

BPBPI mengembangkan teknik yang sangat efisien untuk memanfaatkan TKKS utuh ini. BPBPI mengembangkan alat yang disebut dengan automatic sprayer. Dengan alat ini larutan Promi disemprotkan ke TKKS secara otomatis. Alat ini ditempatkan di dalam konveyor. Jika ada TKKS yang lewat, sensor akan mendeteksi dan larutan disemprotkan ke TKKS tersebut.

Nah, TKKS yang sudah diberi (diinokulasi) dengan Promi bisa ditebarkan di areal sawit. TKKS ditumpuk di piringan sawit. Tinggi tumpukan sebaiknya satu tumpuk saja, karena jika lebih dari satu tumpuk ada bahanyanya. Tumpukan TKKS ini bisa dijadikan sarang oleh larva kumbang tanduk, salah satu hama sangat berbahaya di kebun sawit.

tkks
Tumpukan TKKS yang terlalu tinggi bisa menjadi sarang larva kumbang tanduk

TKKS utuh dapat juga dimasukkan ke dalam lubang besar, jika penanaman menggunakan metode lubang besar. Satu lubang dapat diberi kurang lebih 500 kg TKKS. Jika kondisi cuaca cukup lembab dan mendukung, proses pengomposan akan berlangsung. TKKS utuh akan lebih cepat melapuk dan siap memberikan nutrisi untuk tanaman sawit. Promi juga berfungsi sebagai pengendali serangan gonoderma. Metode lubang besar ini juga cukup efektif sebagai tindakan preventif terhadap serangan gonoderma.

tkks
TKKS diaplikasikan di lubang besar.

tkks
Aku sedang mengamati TKKS utuh yang sudah satu bulan di lapang. TKKS ini sudah melapuk dan berkurang ukurannya. Artinya proses pengomposan terjadi.

Pemanfaatan TKKS utuh ini mungkin merupakan solusi terbaik bagi sebagian besar PKS, mengingat tidak semua PKS memiliki fasilitas pengomposan. Dengan metode yang dikembangkan oleh BPBPI ini proses dekomposisi TKKS utuh dilapang bisa menjadi lebih cepat daripada tanpa Promi. Di tumpukan TKKS yang digunakan untuk mulsa juga terlihat adanya pertumbuhan akar-akar sawit baru. Dan lagi tidak ada larva kembang tanduk yang ditemukan di bawah tumpukan ini.

tkks
TKKS utuh yang aku pegang ini sudah mengecil dan sangat rapuh. Padahal kurang dari sebulan sejak inokulasi.

tkks

tkks

Masalah Biaya

Salah satu pertimbangan utama yang biasanya diperhatikan oleh perkebunan adalah masalah biaya. Biasanya mereka bertanya berapa biaya yang diperlukan untuk membuat kompos tersebut? Atau berapa biaya untuk memperkaya TKKS utuh.

Penggunaan Promi relative lebih rendah daripada menggunakan aktivator atau metode lain. Apabila mulai dari awal, maksudnya dari belum ada fasilitas pengomposan, biaya investasinya murah. Biaya investasi ini diperlukan untuk:
1. Persiapan areal pengomposan
2. Loader/turner
3. Instalasi pipa untuk penyemprotan LCPKS.
4. Plastik penutup.

Investasi yang besar mungkin untuk pembelian turner yang mencapai milyaran atau loader yang beberaatus juta. Plastik penutup juga menggunakan terpal plastik biaya yang kualitasnya paling bagus. Tidak perlu menggunakan penutup khusus seperti yang ditawarkan oleh perusahaan-perusahaan luar negeri. Harganya juga sangat murah.

Dari sisi operasional juga sangat efisien dan tidak memerlukan biaya besar. Pengadukan dan penyemprotan dengan metode lain menyarankan dilakukan 2 kali seminggu. Itu saja waktunya bisa lebih dari 2 bulan, misalnya saja 3 bulan. Jadi selama proses pengomposan akan dilakukan 24 kali penyemprotan dan 24 kali pengadukan. Biayanya bisa dihitung sendiri: tenaga dan bahan bakar. Buka tutup plastik berkali-kali juga merupakan faktor yang menyebabkan terpal menjadi cepat aus.

Dengan menggunakan metode Promi hanya diperlukan satu kali penyemprotan dan satu kali pembalikan selama proses pengomposan yang berlangsung selama 1.5 bulan.

Beban biaya untuk aktivator Promi tidak lebih dari Rp. 25/kg TKKS.

Jika dihitung biaya langsung (HPP) pembuatan kompos ini memang bervariasi, tergantung dengan efisiensi proses yang dilakukan. Sepanjang pengalaman saya berkisar antara Rp. 80 – Rp. 300/kg kompos. Jauh banget ya..selangnya. Ini karena di setiap pabrik menggunakan cara perhitungan yang berbeda-beda. Biaya yang dimasukkan pun juga berbeda-beda. Kadang-kadang biaya-biaya ‘siluman’ juga dimasukkan.

Biaya yang cukup besar antara lain untuk biaya pengankutan dan aplikasi. Tetapi biaya ini relative sama untuk semua metode pengomposan. Salah satu cara untuk mengefisienkan adalah dengan pengeringan kompos (lihat di posting ini: ).

Yang lebih menarik lagi adalah pemanfaatan TKKS utuh. Karena hanya perlu investasi alat outomatik sprayer dan aktivator Promi. Ini sangat-sangat murah dibandingkan dengan metode-metode pemanfaatan TKKS lain untuk pupuk organik.

tkks


DOWNLOAD PUPUK ORGANIK

Silahkan didownload resources yang mungkin Anda perlukan juga:

  1. Buku Petunjuk Pupuk Organik Granul
  2. Buku Petunjuk Teknis Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT): Padi Sawah Irigasi
  3. Petunjuk Teknis Uji Mutu Pupuk Organik
  4. Standard Mutu Pupuk Organik
  5. Kompos
  6. SNI Dolomit
  7. Kompos Limbah Kakao
  8. Petunjuk Lapang PTT Padi
  9. Budidaya Padi Sehat
  10. Brosur Budidaya Padi Sehat
  11. Brosur Kompos Jerami
  12. Pengelolaan Lahan untuk Budiaya Sayur Organik
  13. Pupuk Organik dan Pupuk Hayati
  14. Sifat Fisik Tanah dan Metode Analisisnya
  15. Analisis Biologi Tanah
  16. Juknis Mutu Pupuk Organik
  17. Menuju Pertanian Lahan Kering Lestari
  18. Pembuatan Kompos-Balittanah
  19. Pemupukan Berimbang
  20. Sifat Fisik Tanah dan Metode Analisisnya
  21. Petunjuk Pengambilan Sampel Tanah untuk Analisis Biologi Tanah
  22. Compost Quality TestGermination Index Method
  23. Compost and Soil Conditioner Quality Standards 2005

Daftar bahan lain yang bisa didownload: Download Di Sini
Cara mendownload: Klik dua kali pada link yang akan didownload. Kemudian ikuti perintah selanjutnya. Kalau ada iklan yang muncul, klik aja iklannya atau langsung ke SKIP ADD yang ada di pojok kanan atas.

Advertisements

44 responses to “Pemanfaatan TKKS untuk Pupuk Kompos/Pupuk Organik di Kebun Sawit

  1. Asslamualaikum pak isroi,
    Saya heru, saya mau bertanya tentang 1).nisbah tandan kosong kelapa sawit kisaran berapa dan 2). apakah dalam waktu 2 bulan kompos TKKS sudah bisa dianggap matang, karena saya sempat mengukur suhu kompos selama sebulan penuh. Kompos yang saya ukur meliputi bahan kompos yang berumur 0-30 hari dan 30-60 hari. Dari keduanya suhu yang terukur sangat tinggi, hingga mencapai >40 derajat celcius dan tidak ada yang 40 derajat celcius sedangkan mikroorganisme mesofilik tidak ada.
    3). Pada hari ke 60 (2 bulan) suhu yag terukur sekitar 50 derajat celcius, apakah dengan suhu tersebut kompos bisa dikatakan matang

    Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih

    • Wa’alaikum salam,
      1. Rasio awal TKKS antara 40 -60.
      2. Kriteria kematangan kompos adalah apabila rasio C/N-nya sudah di bawah 30. ada juga yang menyarankan di bawah 25. Tetapi menurut saya di bawah 30 sudah cukup. Lamanya proses pengomposan tidak bisa dijadikan sebagai dasar penilaian apakah kompos sudah matang atau belum. Sebaiknya diukur rasio C/N-nya.
      3. Suhu pengomposan TKKS yang biasa saya lakukan bisa mencapai 65 – 70 oC. Ini berlangsung mulai hari ke4 – sampai minggu ke-4 atau ke-5. Setelah itu suhu mulai turun ke-40oC. Sekali lagi suhu juga tidak bisa dijadikan patokan apakah kompos sudah cukup matang atau belum.
      Ciri-ciri fisik mungkin bisa diamati. Misalnya: TKKS sudah menjadi lebih lunak, mudah dicincang, suhu sudah di bawah 40oC (meskipun tidak selalu begitu), baunya sudah seperti bau kompos (maksudnya tidak seperti bau TKKS yang baru keluar dari pabrik).
      Semoga membantu.

      isroi

  2. 1) Nisbah C/N TKKS sebelum dikomposkan kisaran berapa
    2) Suhu yang terukur selama 2 bulan lebih dari 40 derajat celcius, apakah tidak ada aktivitas bakteri mseofilik yang hanya mampu hidup pada suhu di bawah 40 derajat celcius
    3) Pada hari ke-60 suhu yang terukur adalah 50 derajat celcius dan masih sangat panas, apakah dengan suhu tersebut kompos sudah bisa dikatakan matang?

  3. Aslmkum,wr,wb
    pak Isroi, apakah bisa dikatakan sama atau mirip antara promi dan Em4?
    Karena sama-sama mengandung mikroorganisme.
    Bagaimana perbedaan pengaruh penggunaan promi dan Em4 tehadap pengomposan tandan kosong kelapa sawit?
    Mohon balasannya untuk pengetahuan saya.
    Terimakasih.

    • Wa’alaikum salam. Selamat berkunjung ke blog saya. EM4 memang salah satu dekomposer paling terkenal di negeri ini. Karena sudah dikomersialkan sejak saya masih kecil dulu. Ada banyak perbedaan antara EM4 dengan Promi, tetapi mungkin karena masalah etika, sebagian saja yang saya sebutkan. Saya tidak sedang promosi, silahkan dibuktikan sendiri apa yang saya uraikan di sini. Pertama, Promi dikembangkan dengan mikroba asli indonesia. Artinya lebih sesuai dengan kondisi iklim maupun lingkungan di Indonesia. Promi bentuknya serbut, bukan cairan. Pembuatan kompos dengan Promi dibuat semudah mungkin dan semurah mungkin, tanpa perlu menambahkan bahan-bahan lagi seperti: pupuk kandang, kapur, tetes, dedak, dll. Pembuatan kompos dengan Promi tidak memerlukan pembalikan, pembalikan dilakukan jika diperlukan saja. Pengomposan dengan promi bekerja dengan suhu tinggi, sampai 70oC. Promi tidak hanya sekerdar biodekomposer tetapi juga sekaligus sebagai biofertilizer. Pengomposan dengan Promi dapat dilakukan dalam skala kecil, seperti di petani, maupun skala industri yang sangat besar dengan kapasitas sampai 600 ton/hari. Semoga penjelasan singkat ini bermanfaat.

  4. Aslmkum,wr,wb.
    Pak Isroi, apa perbedaan penggunaan promi dan Em4 terhadap pengomposan tandan kosong kelapa sawit?
    Apakah ada perbedaan yang sangat signifikan antara penggunan promi dan Em4 terhadap pengomposan?
    Mohon balasan dari bapak.
    Terimakasih.

  5. Yayan Nurdiansyah

    dear pa isroi,
    boleh menanyakan beberapa hal :
    bapak bertugas dimana sekarang ? trus dimana saya bisa mendapatkan dekomposer Promi tersebut.
    terima kasih sebelumnya

  6. mas, mau tanya …. itu sawit yang mas isroi foto itu di tanah berpasir ya???
    kebetulan saya punya pohon sawit, tidak seberapa luas, tanahnya berpasir seperti di foto mas isroi itu …..

    oya mas, untuk mendapatkan tandan kosong agak susah, krn jauh dr pabriknya … kalau misalnya aku ganti dengan “MRAMBUT” (sisa gabah giling) bisa gak ya mas???

    secara pupuk mahal, saya berencana memupuk dengan kotoran kambing dan mrambut … rencana sih setiap pohon aku kasih setengah kantung kotoran kambing ….. dan 1 kantung besar mrambut ….. masih perlu pupuk an organik gak mas???

    • Memang tanah di kebun tersebut agak berpasir dan banyak serpihan silika yang mirip kaca. Bahan organik apa saja bisa saja dijadikan kompos untuk menambah bahan organik di kebun sawit. Mrabut juga bisa, cuma mrabut ini agak lama menjadi kompos dan efeknya juga lama. Kotoran kambing bagus juga, tetapi dikomposkan terlebih dahulu. jangan yang masih baru keluar dari kambingnya. Pupuk an organik masih diperlukan, tetapi dosisnya saja yang dikurangi secara bertahap. Lihat pertumbuhan kelapa sawitnya.

  7. Salam, pak Isroi.
    Saya mau tanya mengenai kandungan hara kompos dari jankos yang telah anda buat. Karena saya bermaksud ingin membuat perbandingan nyata mengenai kandungan hara jankos murni dan yang telah anda komposkan.
    Terima kasih

  8. Assalamu Alaikum Wr. Wb.
    Saya mau nanya,
    Berapa kandungan hara jangkos yang sudah diberi promi dengan cara semprot dari Automatic Sprayer tsb.
    Apakah berpengaruh terhadap C/N rasionya bagi pematangan jankos dan berapa lama pematangan tsb?
    Atau berpengaruh pada unsur haranya.
    Jika ada, berapa kandungan haranya?
    Mohon jawabannya, karena rasa saya ingin tau.
    Jika berkenan, saya ucapkan Terima kasih.

  9. salam pak Isroi,
    saya mau tanya apakah ada perubahan kandungan hara jankos yang telah anda komposkan dibandingkan dengan jankos murni.
    jika ada, berapa kadar hara yang terkandung dalam kompos tersebut?
    mohon jawabannya.
    terima kasih

  10. Selama ini saya telah memiliki usaha pembuatan kompos dari limbah sampah, tetapi saya belum memahami cara2 pembuatan kompos dari limbah sawit. mohon infonya dimana kita bisa mendapatkan/membeli mesin pencacahnya serta berapa harganya?

  11. saya terkesan dengan tekhnik pemupukan anda dan saya punya pertanyaan sbb :
    1. berapa dosis pupuk organik perpokok dengan umur tanam 5 tahun, dan 8 tahun ?
    2. apabila LCPKS tidak tersedia, apakah dengan air biasa bisa untuk melarutkan promi atau em4 ?
    3. apakah jankos bekas ketekan bisa dijadikan pupuk organik seperti yang anda utarakan ?

    terima kasih atas artikelnya dan mohon penjelasannya.

    • 1. Dosis kompos TKKS untuk tanaman sawit umumnya 60 kg/pk/th. Ada juga yang memakai 30 atau 90 kg/pk/th.
      2. Pengenceran Promi bisa menggunakan air biasa, kalau untuk EM4 saya tidak tahu.
      3. Bisa saja.
      Semoga membantu.

      isroi

  12. Hallo Pak Isroi, saya Ann, tertarik dengan kompos dari TKKS. boleh saya tahu Kebun sawit yg sdh pake pupuk organik tsb? bagaimana pertumbuhannya dibanding waktu masih memakai anorganik?
    Apakah Unsur Hara Utara NPK +13 unsur lainnya dari pengolah TKKS ini bisa menandingi pupuk kimia? atau masih harus tetap memakai pupuk kimia? perbandingannya gimana ya?
    Apakah bapak ada membuat analisa.. setelah pake organik.. sawit lebih produktif atau harus tunggu 6-12 bln ke depan?
    sehingga bisa lebih menyakinkan kebun2 memakai organik?

    Oh ya.. dimana kita bisa uji Lab u/ kadar kompos yg kita buat?

    Kalo dibanding dengan pupuk kompok dari jerami, mana yg lebih bernutrisi? TKKS atau jerami?

    • Beberapa kebun milik PTPN IV sudah menggunakan pupuk organik dari TKKS, misalnya Kebun Dolok Sinumbah dan Gunung Bayu. Di Sumsel beberapa pabrik swasta juga sudah menggunakan dalam skala besar, misal: Pinago Utama. Trus di senakin kalimantan juga sudah ada yang pakai.
      Kandungan NPK di dalam kompos rendah, oleh karena itu diaplikasikan dalam jumlah yang cukup besar. Ini memang menjadi masalah tersendiri. Ada beberapa cara untuk menggatasi masalah ini. Sudah saya tulis di bagian lain blog ini.
      Selama ini aplikasi kompos selalu dibarengi dengan aplikasi pupuk kimia. Jadi kompos mensubtitusi sebagia kebutuhan hara dari pupuk kimia.
      Aplikasi kompos mulai terlihat setelah 6 bulan dipercobaan dalam polybag. Untuk tanaman TM biasanya setelah musim tanam tahun berikutnya.
      Saya hanya punya data selama 1 tahun aplikasi jadi belum bisa diambil kesimpulan yang luas. Produktivitas relatif sama, tetapi bobot per tandannya cenderung ada kenaikan.
      Waktu itu lagi musim kemarau, mungkin hasilnya tidak maksimal. Terlihat kecenderungan bahwa sawit yang dipupuk dengan kompos terlihat lebih tahan terhadap kekeringan. Penurunan produksinya lebih lambat, sedangkan sawit yang tidak diberi kompos drastis sekali penurunan produksinya.
      Lab kimia Balai Penelitia Biotek Perkebunan di Bogor biasa melakukan analisis kompos.
      Dibandingkan dengan jerami kompos tkks lebih banyak mengandung K.
      Semoga membantu.

  13. Dear Pak Isroi,

    Terima kasih ya atas penjelasannya.
    oh ya apakah untuk penelitian “nutrisi” dari pupuk kompos hanya dpt dilakukan di Lab Kimia balai Penelitian biotek Perkebunan Bogor? Apakah ada lab seperti di atas di Pulau Sumatra? Berapa lama dibutuhkan untuk mengenai nutrisi dlm Kompos yg dibuat?
    Oh ya pak, di blog bapak, saya sering baca ttg C/N. Maklum saya awam.. saya tidak mengerti apa itu C/N?
    Apakah itu menunjukkan suhu dari kompos di bawah 30 derajat atau apa ya?

    Ada satu lagi, di blog Bapak ditulis untuk satu pohon sawit umumnya dibutuhkan 25-60kg per pohon per sm.
    Apa itu “sm”?
    25-60kg per pohon u/ satu tahun atau?
    komposisi tersebut asumsi kan pupuk kimia masih di pake? Komposisi Kimia & Kompos itu gimana ya? Apakah NPK 20%, Dolomite 20% & Kompos 60% atau ?
    Dan boleh tidak pemupukan dilakukan bersama2 antara kimia & Kompos? atau harus ada jangka waktu ?

    Bagusnya untuk Pupuk kompos, setahun berapa kali dipupuk? 3x per tahun atau?

    Terima kasih ya Pak
    Ann

    • Dear, Ann.
      Di lab kami ada mahasiswa S3 yang sedang mencoba juga untuk meneliti TKKS sebagai pakan. Namanya saya lupa, tetapi setahu dia adalah dosen Universitas Andalas. Hasilnya saya kurang tahu, karena saya belum ketemu lagi. Setahu saya penelitian ini bisa dilakukan di mana saja, asalkan cukup peraltan pendukungnya.

      Rasio C/N adalah rasio antara kandungan C-total dengan N-total. Rasio ini digunakan sebagai salah satu parameter dekomposisi bahan organik. Bahan organik mentah memiliki rasio C/N tinggi > 60, jika sudah jadi kompos biasanya sudah dibawah 25. Rasio C/N tidak ada satuannya. Rasio C/N tidak menunjukkan suhu.

      Dosis pemupukan sering disingkat ….kg/ph/sm maksudnya adalah kilogram/pohon/semester. Karena biasanya pemupukan oleh kebun dilakukan per semester.

      Biasanya kebun sudah memiliki dosis pemupukannya sendiri-sendiri yang didasarkan pada hasil analisa tanah dan daun. Tiap tempat mungkin saja berbeda-beda.
      Semoga bermanfaat.

  14. mas bisa minta bantuannya
    aku bingung yang digunakan untuk bahan baku listrik tu cangkang dan serat.tapi disini TBK.pa beda TBK ma cangkang dan serat
    jawab di emailku y mas
    aku mohon bgt

  15. Pingback: links for 2010-03-23 « Berbagi Tak Pernah Rugi

  16. selamat pagi pak isroi,
    saya mau nanya lagi nih..kalo selama terjadi peningkatan temperatur kompos, apakah biasanya perlu dibolak balik lagi atau didiamkan begitu saja? kemudian, sebetulnya pembalikan kompos itu apakah perlu sampai akhir pengomposan atau hanya beberapa kali di awal pengomposan saja? saya agak bingung dengan apa yg dipaparkan buku dan kenyataan yg saya dengar dari teman mengenai pembalikan kompos, jadi saya lsg menanyakan ke bapak yg lsg practice dgn kompos ini. terima kasih banyak atas balasannya

    • Selamat pagi juga.
      Aktivator yang dipakai apa? Atau tidak pakai aktivator. Proses pembalikan biasanya beda-beda tergantung pada teknik dan aktivator yang dipakai. Ada aktivator/teknik yang memerlukan pembalikan 2 kali seminggu, seperti yang dikembangkan oleh PPKS Medan. Ada juga yang kalau suhu naik dibalik-balik lagi. Ada yang hanya di awalnya saja. Ada dua tujuan pembalikan ini: 1) menurunkan suhu, 2) meningkatkan aerasi, 3) mencampur/honogenisasi kompos.
      Kalau aktivatornya pakai Promi pembalikan dilakukan di awal untuk mencampur aktivator. Setelah itu tidak dibalik-balik lagi. Meskipun suhunya naik sampai 70oC. Pembalikan dilakukan justru ketika tidak ada kenaikan suhu, atau suhu terlalu basah, atau jika ada masalah dalam proses pengomposan.
      Semoga membantu.

      • ohh begitu..jadi intinya pembalikan itu tidak harus sampai akhir pengomposan kan pak? hanya saat dibutuhkan..misalkan saat temperatur turun atau bau tidak sedap karena mgkn prosesnya jadi anaerobik (seperti apa yg saya baca di artikel2). kemudian, untuk sekali pembalikan, pembalikan dgn turner harus berapa kali pak? apakah cukup sekali saja atau berulang2? terima kasih banyak pak

      • Kalau pembalikan dengan turner sekali cukup. Tapi saya lihat di beberapa tempat ada yang dua kali. kalau pakai loader satu baris bisa dua atau tiga kali. Yang penting pencampurannya merata.
        Oh…ya..masalah pembalikan ini tergantung teknik yang digunakan lho. Kalau pakai tekniknya PPKS atau Banchus sepetinya 2 kali seminggu sampai akhir pengomposan. Mereka tidak menggunakan aktivator, tetapi memanfaatkan limbah cair pabrik sawit.

  17. ohh saya kira hanya beberapa saat saja karena saya pikir kalo diaduk terus lama2 panas berkurang shg suhu kompos tidak mencapai termofilik. oia pak, kalo dalam masa curing (pematangan), kompos itu perlu dibalik dan diberi air lg tidak? terima kasih,,maaf banyak nanya 😀

  18. Salam Kenal pak. nice posting…….. say penggila organik dari riau……. alhamdulillah 3 tahun menggunakan tanghkos dan kotoran sapi…. 6 ton per dua hektar dalam 3 kali npanen denganm umur sawit 21 tahun….

  19. Halo Pak Isroi, saya mau tanya lagi Pak, kenapa timbunan kompos TKS tingginya harus 1.5-2 m? Kemudian, kenapa lebarnya harus sekitar 3 m? Terima kasih atas penjelasannya.

    • Tumpukan kompos tidak harus seperti itu. Boleh saja dg ukuran lain. Sy pernah buat yg ukurannya 6 m. Pernah lihat juga yg tingginya 10 m.
      Ukuran itu dibuat agar:
      – pas dg ukuran turner
      – suhu tumpukan maksimal
      – memudahkan pengamatan

  20. malamm….maaf pak boleh tanya,,,kalo aplikasi dari kompos itu untuk jenis tanaman lain seperti tanaman sayuran bisa gak yaa,,karena kalo untuk tanaman sawit sepertinya hasil yang dapat di amati membutuhkan waktu cukup lama…

  21. Assalamu’alaikum
    Mas Isroi, postingannya sangat bermanfaat nih, mohon izin copas ya …
    Saya ingin mengajukan pertanyaan,
    1. Berapa lama sih waktu paling lama Tandan Kosong KS (utuh) efektif dapat digunakan sebagai pupuk (setelah keluar dari Conveyor) ?
    2. Hara apa saja yang terkandung dalan TKKS (utuh) dan dapatkah sebagai substitusi pupuk anorganik?

    Demikian mohon pencerahannya

    Jazakallah

    Wassalam

  22. tuan isroi…apa no…hp tuan

  23. terima kasih tuan.
    pertanyaan..tuan boleh bantu saya, saya ada bahan isi perut ikan sehari angaran 50 kg dan sayuran sekitar 30kg sehari…bagai mana untuk sya munafaatkan kedua dua bahan tersebut untuk dijadikan baja untuk kelapa sawit..terima kasih

    • Isi perut ikan dan sayuran bisa dibuat MOL (Mikroorganisme Lokal) (https://isroi.com/?s=MOL) dan digunakan sebagai pupuk organik cair (POC). Cara membuatnya adalah sebagai berikut:
      1. Isi perut ikan dan sayuran dihaluskan dengan menambahkan air hingga jadi seperti bubur.
      2. Tambahkan gula jawa/merah/gula pasir sebanyak 5%.
      3. Tambahkan PROMI atau biang mikroba sebanyak 5%. Campuran diaduk hingga tercampur merata.
      4. Ditutup, tetapi jangan ditutup rapat. Sisakan sedikit lubang untuk aerasi.
      5. Dibiarkan selama satu minggu.
      6. Setelah satu minggu, saring cairan fermentasi tersebut.
      7. Cairan hasil saringan digunakan sebagai pupuk organik cair (POC) untuk tanaman sawit atau tanaman yang lain.
      8. Sisa padatannya dikomposkan dan digunakan sebagai pupuk organik padat.

      Cara penggunaan MOL atau POC:
      1. Encerkan MOL dari limbah perut ikan dan sayur dengan perbandingan 1:10 air.
      2. Aduk hingga merata.
      3. Kocorkan di daerah perakaran kelapa sawit secukupnya.
      4. Untuk tanaman lain bisa disemprotkan ke daun.
      5. Aplikasi MOL dilakukan sebulan sekali atau dua minggu sekali.

      Semoga bermanfaat.

      6. Setelah satu minggu

  24. terima kasih. tuan saya akan mencubanya…saya doa kan agar tuan dapat rahmat dari allah yang terbaik disisi..anbia…kera banyak membantu ramai masaalah org lain….amin….

  25. Pingback: Media Tanam Jahe: Abu Tandan Kosong Kelapa Sawit | Berbagi Tak Pernah Rugi

  26. selamat sore pak isroi, maaf pak saya mau nanya bahan dalam pembuatan pupuk ini apa hanya jankos dan promi saja ?
    mohon dijelaskan lagi pak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s