Anak-anak Perkasa

Sulit saya mengungkapkan isi perasaan saya. Iba, sedih, marah, kecewa, geram, miris bercampur aduk jadi satu. Orang-orang yang tidak punya banyak saya temui di sekeliling saya. Mereka bukan pengemis, tetapi mereka yang berusaha sekuat tenaga untuk bertahan hidup dan berjuang. Entah dengan cara apa saya bisa membantu orang-orang ini.

Saya tidak bercerita tentang pengemis dan gelandangan. Terus terang saya jarang sekali memberi uang kepada pengemis yang sering mangkal di pingir jalan atau di masjid-masjid selesai sholat jum’at. Saya sangat selektif sekali kalau mau memberi uang kepada pengemis. Saya lebih ‘respect’ pada orang-orang miskin yang berusaha untuk bertahan hidup tanpa harus meminta-minta dengan mengeksploitasi kemiskinannya dan kemalangannya. Misalnya, Aki Penjual Telur Ayam.

Anak penjual combro

Beberapa waktu yang lalu banyak diberitakan di media tentang kisah Aisyah yang merawat bapaknya di dalam becak. Sebenarnya banyak anak-anak seperti mereka yang ada di sekitar kita. Pernahkah kita sedikit memperhatikan lingkungan kita. Banyak sekali anak-anak seperti Aisyah dan mereka membutuhkan uluran tangan kita.

Pernah saya temui seorang anak yang menjual combro malam-malam. Hujan gerimis dan malam sudah larut, tapi anak itu masih keliling komplek menjajakan dagangannya. Saya panggil anak itu. Saya pegang dagangannya sudah dingin semua. Saya tanya ke dia;”Kenapa malam-malam masih berjualan dan tidak pulang saja?”
“Takut dimarahi emak, karena dagangannya belum laku”, jawabnya singkat.
Deg…seperti disambar geledek saya mendengarnya. Saya borong gorengan-gorengan itu dan saya suruh dia segera pulang.

Anak Pemulung 1
Suatu malam saya makan di warung tenda dekat pasar. Selesai makan saya mau membayar makanan saya. Di balik gelapnya malam dan ramainya kendaraan, saya melihat seorang anak melintas dengan membawa kantong plastik. Dia memakai kaos hitam, celana seragam SD merah panjang dan tidak memakai alas kaki. Saya perhatikan anak itu memunguti botol dan gelas plastik bekas air mineral. Setelah berjalan beberapa jauh dia duduk termenung di pinggir jalan. Saya lihat jam tangan saya menunjuk angka 09.30.

Saya dekati anak itu, saya tanya namanya;”Siapa namamu, Dik?”
“Ucup”, jawabnya singkat. Saya tidak begitu jelas mendengarnya.
“Kamu sekolah?” tanya saya lagi.
Dia mengangguk singkat.
“Kamu tinggal di mana?” lanjut saya.
“Di Gang Bengkong,” jawabnya.
Trenyuh saya mendengarnya. Uang yang ada di saku saya serahkan ke dia,”Ini untuk sekolah kamu.”

Tak beberapa lama melintas seorang ibu menarik gerobak dan dibelakangnya ada seorang anak kecil lain yang juga membawa kantong plastik. Ternyata si Ibu itu adalah ibunya Ucup dan anak kecil itu adiknya.

Air mata saya tumpah tanpa terasa. Saya pulang dengan perasaaan campur aduk tidak karuan.

Anak Pemulung 2
Sore hari pulang kerja, saya melihat seorang anak berjongkok di perempatan komplek dekat rumah. Dari jauh anak itu seperti meringis, entah menangis, entah menahan sakit. Sampai di rumah saya minta orang yang kerja di rumah untuk menemui anak itu.embua
“Coba lihat, kenapa anak itu menangis,” pinta saya.
“Ajak anak itu ke rumah,” suruh saya lagi.

“Kemu kenapa menangis?” tanya saya ke anak itu.
“Tidak apa-apa,” jawabnya malu-malu.
“siapa namamu?”
“Rizki.”
“Rizki, kenapa kamu menangis? Ada anak yang nakal sama kamu?”
Riski mengeleng pelan.
“Perut saya sakit….belum makan”, jawabnya lirih sambil menunduk.

“Dir, ambil kue yang di meja dan buatkan anak ini minum!” pinta saya. Kebetulan di rumah sedang tidak ada makanan apa2, hanya ada sisa kue kemarin saja.

Anak itu saya suruh duduk di teras rumah. Sambil makan biskuit saya tanya lagi anak itu, dia tinggal di mana, apakah dia sekolah, dan orang tuanya siapa.

Rizki anak pertama dari empat bersaudara. Adiknya ada yang meninggal satu. Bapaknya kerja buruh membuat sepatu, tapi bapaknya suka main judi dan mabok. Jadi tidak pernah punya uang. Ibunya yang kerja serabutan. Dia memulung untuk mencari tambahan uang. Rizki sekolah di MI swasta sudah kelas 6, tapi tidak tahu apakah bisa melanjutkan sekolah atau tidak.

***
Hidup ini memang keras. Ada anak-anak perkasa yang harus berjuang bertahan hidup.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s