Sejarah Masuknya Stevia ke Indonesia

image

Tulisan lain tentang stevia klik di STEVIA

Stevia bukanlah tanaman asli Indonesia. Stevia yang mengandung pemanis alami ini berasal dari belahan dunia lain, Amerika Selatan. Asalnya dari distrik Amambai dan Iquaqu, yaiti daerah sekitar perbatasan Paraguay-Brazil-Argentina di Amerika Selatan. Tanaman ini tumbuh liar tetapi ada juga yang ditanam oleh penduduk setempat. Nama lokalnya adalah Caa-he-he, Caa-enhem atau Kaa he-e. Saya coba cari daerah asalnya dg Google Maps belum ketemu.

Oleh penduduk setempat stevia sudah digunakan sebagai pemanis makanan atau minuman. Mungkin bangsa-bangsa kolonial jaman dulu, termasuk Mbah Bertoni dan Mbah Rebaudi, yang ikut memperkenalkan stevia ini ke dunia luar. Hingga pada akhirnya sampai juga ke negeri kita Indonesia.

Stevia diintroduksikan ke negeri matahari terbit, Jepang, pada tahun 1970. Tanaman ini segera populer di Jepang dan kemudian menyebar ke belahan dunia lainnya. Dari Jepang stevia menyebar ke Korea, China, Taiwan, Filipina, Thailand, Malaysia, Papua Nugini, dan Indonesia.

Menurut catatan yang ada, stevia masuk ke Indonesia tahun 1977, tujuh tahun setelah masuk ke Jepang. Saya duga, di tahun2 ini stevia pastilah sedang naik daun dan gencar sekali diperkenalkan ke seluruh dunia. Entah siapa yang membawa biji stevia ini pertama kali ke Indonesia. Mungkin kalau di bongkar2 arsip deptan/badan litbang deptan bisa tahu siapa dulu yang membawa bijinya ke Indonesia.

Penanaman stevia pertama kali dilakukan di Tawangmangu, Solo.  Stevia yang ditanam berasal dari biji. Setelah ditanam ternyata banyak variasi dari tanaman stevia ini.

Lembaga yang kemudian ditunjuk untuk meneliti stevia secara mendalam adalah BPP Bogor (Balai Penelitian Perkebunan) di awal tahun 80-an. Penelitian intensif dilakukan, termasuk seleksi klon2 unggul. Tahun 1983 stevia di tanam di Garut Selatan (PT Garsela Raya). Kemudian di tanam juga di kebun percobaan Ciomas dan Pasir
Sarongge.

Stevia mengandung pemanis alami dan rasa manisnya 200-300 kali gula pasir. Namun, stevia memiliki cacat rasa yang kurang disukai konsumen, yaitu rasa langu dan sepet. Saya masih ingat ketika pertama kali minum ‘jus’ stevia sekitar 13 tahun lalu; cairannya berwarna coklat dan rasa manisnya ‘aneh’. Kalau gula pasir rasa manis diujung lidah. Gula stevia manisnya terasa di bagian tengah dan belakang lidah. Memang masih ada rasa langu dan sepet. Aneh.

Mungkin karena itu popularitas stevia kemudian menurun dan seperti lenyap di telan angin. Meskipun begitu popularitas stevia di dunia internasional masih ada dan stevia dipakai untuk produk2 makanan, minuman, dan obat/herbal.

Kini ketika penyakit diabetes banyak menyerang orang, pamor stevia mulai bersinar lagi. Penelitian stevia terus dilanjutkan dan klon2 baru dikeluarkan. Stevia klon baru lebih ‘enak’ rasa manisnya. Rasa langunya sudah berkurang drastis. Meski belum menyamai ‘enaknya’ gula pasir.

Pengolahan paska panen juga gencar dilakukan. Seduhan daun stevia tidak lagi coklat, tapi lebih mirip teh hijau. Semoga rasa manisnya semakin enak dan nikmat.

Saya menduga pamor stevia akan semakin bersinar. Apalagi kalau manisnya bisa mengantikan pemanis sintetik. Orang pintar pasti akan lebih memilih pemanis alami dan organik ini.

Sumber:
Tulisan2 lama dari Pak Amin, Pak Lalang, Pak Oskari, Pak Dedy, dan Pak Tahardi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s