Bertahan Hidup di Alam Liar

latihan survival di alam liar

Ketika berlatih survival di alam liar. Nomorku 163.

Empat hari ini benar2 pengalaman luar biasa bagiku. Empat hari mencoba bertahan hidup sendiri di alam liar. Makan seadanya. Minum sedapatnya. Tidur sebisanya. Tidak ada ponsel atau alat komunikasi yang lain. Lapar, capek,  hujan, dingin, gelap, was-was adalah tantangan yang mesti ditaklukkan.

Hari pertama, bekal yang terbawa hanya sepotong jagung, dua butir ubi, 5 butir kurma, dan gula jawa. Air hanya sebotol kecil air mineral. Baju hanya yang melekat di badan. Tidak ada alat komunikasi apa pun, kamera juga tidak ada.  Tidak ada uang sepeser pun. Perlengkapan yang terbawa matras, ponco, kompas, head lamp, golok/belati, nasting, korek api, tali rafia, sleeping bag, buku kecil, ballpoint dan mushaf. Sangat terbatas bekal dan perlengkapan yang ada di tas carrierku. Bismillah.

Menjelang tengah malam petualangan dimulai. Langit terang dan bintang-bintang berkelap-kelip di langit mengiringi langkah ini. Aku menyusuri jalan setapak yang menanjak landai. Aku terus berjalan hingga lewat tengah malam, sampai di tempat yang agak lapang. Aku berhenti di tempat itu untuk bermalam. Segera aku membuat bivak sederhana yang penting bisa untuk berteduh. Aku membangun bivak tepat di dekat sungai kecil. Alhamdulillah, sungai itu airnya sangat jernih dan bisa diminum.

Sebelum istirahat, aku sempatkan sholat malam dua rokaat dan witir satu rokaat saja. Waktu subuh masih cukup lama, cukup banyak waktu untuk istirahat. Saya segera mengelar matras dan masuk ke dalam sleeping bag untuk tidur.

Bismika allahumma ahya wa bismika ammut. Amin.

……………….. ZZzzzzzzzzzZZZZZZZZzzzzzzzzZZZZZZzzzzzzzzzz …………………….

Aku benar2 terlelap di kehangatan sleeping bag ini. Hingga serasa ada sesuatu yang membangunkanku. Aku lihat jam menunjukkan pukul setengah empat lebih. Sebentar lagi masuk waktu subuh. Dengan agak malas, aku bangun dan mencoba untuk meluruskan otot-otot di badan.

Jarak antara bivakku dan sungai hanya sekitar dua-tiga meter saja. Dekat sekali. Aku menuju sungai kecil itu untuk cuci muka dan ambil wudhu. Aku sholat fajar dua rokaat. Istirahat sebentar sambil menunggu masuk waktu subuh. Untuk menandai masuk waktu subuh, aku mengandalkan jam tanganku dan melihat matahari. Ketika langit diufuk mulai terlihat semburat cahaya, dan sudah terlihat antara benang hitam dan putih, berarti waktu subuh sudah tiba.

Alhamdulillah, udara pegunungan ini segar sekali. Seperti biasa, sambil menunggu matahari, aku dzikir pagi yang saya hafal.

Ketika matahari mulai bersinar. Aku mencari kayu dan ranting kering. Aku buat tungku dari batu hingga bisa untuk menaruh nasting. Ada beberapa kotak parafin yang terisa di kantong. Aku bakar parafin ini untuk mulai membakar ranting dan kayu. Nasting aku isi air, kemudian jagung dan ubi mulai aku masak. Perlu waktu cukup lama memasak dengan cara ini. Meski agak basah karena embun pagi, kayu-kayu dan ranting kering ini mudah terbakar dan api bisa bertahan cukup lama.

Sambil menunggu jagung masak, aku coba mencari kalau-kalau ada sesuatu yang bisa dimakan. Di pinggir hutan ini saya temukan pohon perdu kecil yang daunnya berbulu. Buahnya kecil-kecil dan berbulu juga. Buah yang sudah masak berwarna unggu. Buah ini rasanya manis. Saya kumpulkan dan dapat lumayan banyak. Cukuplah untuk cemilan di pagi hari selain sepotong jagung dan sebutir ubi setengah matang.

Gunung Kencana, Bogor

Gunung Kencana, tempat kami berlatih survival. Gunung dengan hutan yang masih perawan. Menantang untuk dijelajahi.

Ketika matahari naik setinggi tombak, aku lanjutkan lagi perjalanan dan mulai masuk ke hutan. Petualangan yang sebenarnya baru dimulai. Sebelum mulai perjalanan, aku isi dulu tempat air dengan air dari sungai kecil itu. Jalan setapak mulai terjal dan menanjak. Hutan ini benar-benar hutan yang masih perawan. Vegetasinya sangat lebat. Di lantai hutan tumbuh paku-pakuan, rotan, dan tanaman perdu lainnya. Pohonnya tinggi-tinggi dan besar-besar. Batang pohon itu hampir seluruhnya ditumbuhi lumut dan paku2an sampai setinggi 10-15 m. Suasananya sangat lembab, tipikal hutan tropis di Indonsia. Lantai hutan memiliki humus yang sangat tebal. Aku dapat mencium bau tanah humus hutan ini. Aroma yang menyegarkan. Suara kicauan burung dan serangga tongeret ramai terdengar.

Di sepanjang perjalanan ini aku temukan tanaman yang bentuk daunnya mirip daun begonia, bunganya kecil2 bergerombol. Bunga tanaman ini bisa dimakan. Rasanya sedikit asem seperti jeruk. Sambil berjalan aku makan bunga2 ini, lumayan untuk mengisi perut yang belum kenyang ini.

Meski belum lewat tengah hari, suasana mulai gelap seperti menjelang sore. Kabut mulai turun dan seperti akan turun hujan.

Jalan semakin terjal. Di beberapa tempat kemiringannya lebih dari 35-45o. Vegetasi pun semakin lebat. Aku berhenti setelah sampai di tempat yang tinggi dan mendatar. Gerimis mulai turun, sepertinya hujan lebat segera datang.

Bener saja. Baru sesaat istirahat, hujan benar2 turun. Aku segera memakai jaketku yang tahan air. Dengan cepat aku keluarkan poncoku. Ponco itu aku buka dan aku tutupkan ke atas tas carrier untuk melindungi dari air hujan. Dalam posisi itu secepatnya aku memasang bivak. Ujug2nya aku ikat dengan tali rafia. Satu ujung aku ikatkan ke pohon. Ujung yang satu aku aku ikatkan ke pohon seberangnya. Ujung yang belakang aku ikatkan ke ranting dan posisinya lebih rendah. Jadi posisinya miring agar air bisa mengalir. Kurang dari dua menit bivak sudah jadi. Untuk menahan air agar tidak masuk, pinggir-pinggir bivak aku tutup dengan daun paku pohon. Aku aman berteduh di dalam bivak ini.

Ketika hujan reda, aku keluar mencari kayu bakar dan makanan lain yang bisa aku temukan. Aku kumpulkan juga daun2 paku pohon dan aku susun di dalam bivak sebagai alasnya. Daun paku2 ini membuat alas bivakku lebih bersih dan sedikit hangat. Aku temukan buah hutan yang warnanya merah kecil. Rasanya manis, tapi bijinya besar2.

Ada banyak paku pohon yang tumbuh di hutan ini. Ada beberapa jenis paku pohon, beberapa jenis paku pohon daun mudanya yang belum mekar sempurna bisa di makan. Tangkai daun muda ini lunak. Bagian dalamnya bisa langsung di makan. Rasanya lumayan lah, lunak, banyak airnya. Aku kumpulkan agak banyak untuk persediaan makan.

Aku kembali membuat perapian. Daun paku muda itu aku bersihkan dan aku rebus bareng dengan ubi. Makananku setengah matang lagi.

Setelah reda beberapa waktu, hujan turun lagi. Aku kembali berteduh dan mencoba untuk memejamkan mata sambil menahan dinginnya kaki yang basah. Dalam kondisi ini aku harus tetap sholat dan sebisa mungkin bisa istirahat. Tidur penting sekali, terutama untuk memulihkan tenaga dan menjaga badan agar tidak lemah dan sakit.

Gunung kecil ini tidak terlalu tinggi, ketinggiannya sekitar 1700 dpl. Meski tidak terlalu tinggi, udaranya dingin mengigit. Khususnya kalau menjelang masuk waktu subuh. Dingin……. brbrbrbrbr….

Selepas sholat magrib, perjalanan dilanjutkan lagi. Malam gelap membuat suasana hutan semakin mencekam. Jalan setapak yang dilalui kadang2 menanjak kadang2 menurun curam. Jalannya sempit banget. Di beberapa tempat ada jurang. Aku harus berjalan dengan sangat hati-hati. Benar-benar menantang.

Di tempat ini aku tidak ketemu sumber air. Jadi, aku benar2 mengandalkan sisa air yang ada di dalam botol. Aku mesti benar2 berhemat air. Aku hanya minum seperlunya saja.

Dua jam perjalanan, nafas mulai tersenggal-senggal. Aku bermalam di tempat yang sedikit miring. Vegetasinya lebih lebat. Cukup sulit untuk menemukan tempat bermalam yang agak landai dan nyaman.

Lantai hutan vegetasinya sangat rapat dan lembab. Ketika selesai membuat bivak, di wajah serasa ada sesuatu yang mengigit. Aku coba raba pipi kananku, terasa ada yang menempel lunak-lunak…. hiiii….. apa ini. Bentuknya pipih panjang. Ini pasti pacet, pikirku. Benar saja, ketika aku tarik salah satu ujungnya, pacet ini molor. Giginya sudah menamcap di wajahku, untuk belum lama jadi belum banyak darah yang disedotnya. Segera aku tarik dan aku buang pacet itu.

Pacet ini adalah binatang lunak kecil penghisap darah, mirip dengan lintah. Kalau lintah umumnya hidup di perairan, kalau pacet biasanya di darat yang suasanya lembab. Pacet akan mengigit dan menyedot darah mangsanya. Tubuhnya yang tadinya pipih kecil, bisa langsung berubah jadi genduk dan bulat. Pacet tidak beracun dan gigitannya sering tidak terasa, tapi geli juga kalau digigit pacet.

Aku teringat, di saku kantong tas pinggangku akau membawa beberapa sanchet lotion anti serangga. Segera aku usapkan lotion itu ke seluruh wajah, tengkuk, tangan dan kaki. Suasana gelap, jadi aku tidak bisa melihat ada berapa banyak pacet, di sekitarku. Biasanya di hutan lembab seperti ini banyak sekali pacet dan lintahnya.

Di tempat ini, aku kembali mencoba membuat perapian dan memasak. Makanan yang aku dapatkan masih sama. Ada beberapa tanaman hutan yang bisa di makan. Beberapa daun muda enak di lalap langsung asalkan ada sambal dan ikan asinnya. Hmmm nikmat. Jadi kebayang makanan di rumah.

Perjalanan dilanjutkan lagi. Kali ini berangkatnya ketika matahari masih terang. Jalannya lebih menjak dan lebih curam. Lututku yang pernah cidera mulai terasa ketika buat berjalan turun. Sedikit nyeri.

Bekal makanan sudah habis. Yang tersisa hanyalah sebutir gula jawa dan sebutir ubi. Untuk menahan lapar, sesekali aku gigit gula jawa ini. Kalau ketemu buah atau bunga yang bisa dimakan langsung aku makan. Perut mulai keroncongan. Terasa kosong. Mulut juga mulai kering. Maklum, bekal airku tinggal sedikit, aku harus berhemat air. Meski begitu, aku harus terus berjalan untuk menemukan perkampungan.

Aku menyusuri pungung pegunungan ini. Jalannya cukup terjal. Jalan setapaknya terlihat jarang dilalui orang. Hutannya juga sangat lebat. Di sepanjang jalan, banyak batang pohon tumbang yang melintang menutupi jalan. Ukurannya besar sekali. Aku harus melompati pohon-pohon tumbang ini.

Meski badan sudah mulai loyo. Langkah-langkah kaki sudah mulai diseret. Aku harus terus berjalan meski melangkah dengan perlahan. Aku berhenti lagi untuk beristirahat ketika menjelang sore. Rasanya cuaca di hutan ini selalu mendung. Matahari hanya bersinar sebentar saja. Selebihnya mendung, kadang-kadang berkabut dan gerimis. Hujan lebat hanya terjadi sekali dua kali saja, selebihnya gerimis-gerimis kecil.

Aku mulai mahir membuat bivak dan membuat nyaman bivakku untuk istirahat. Agar alas tidurku lebih bersih dan empuk, aku gunakan daun-daun paku dan daun-daun hutan lainnya. Aku tumpuk dan atur agar bisa menjadi alas tidur. Bagian atap bivak aku tutup juga dengan daun-daunnan. Bivakku kecil, kalau hujan gede, kadang-kadang air hujan masih bisa masuk. Kalau ditutup dengan daun-daun paku, air hujan tidak masuk ke dalam bivak. Aku bisa tidur lebih nyaman.

Kali ini aku istirahat lebih lama. Aku mencoba mencari makanan yang bisa aku temui di hutan. Apa saja. Daun-daun muda, buah-buahan hutan. Dalam kondisi lapar seperti ini, makanan apa saja terasa lezat.

Selepas sholat subuh, aku mulai berjalan kembali. Jalannan setapak terlihat jelas dan lebih lebar. Sepertinya jalan ini sering dilalui orang. Aku rasa ini sudah dekat dengan perkampungan. Satu jam berjalan, langit mulai terlihat terang dan pohon-pohon mulai berkurang lebatnya. Sudah dekat pinggir hutan pikirku.

Benar saja. Setengah jam kemudian pinggir hutan sudah terlihat. Kebun dan ladang terlihat dari kejauhan. Senang sekali rasanya. Aku berjalan lebih cepat, meski jalannan juga masih sulit dilalui. Curam sekali jalan setapak ini. Di beberapa tempat aku harus merosot agar cepat sampai bawah.

Alhamduilillah …… Allahuakbar ….. Subhanallah….. Akhirnya aku selamat sampai perkampungan.

Ada sungai kecil yang airnya jernih yang memisahkan antara pinggir hutan, ladang, dan perkampungan. Aku ambil air dan langsung aku minum dari sungai kecil itu. Sepatuku yang kotor aku bersihkan. Aku cuci muka, berkumur dan dengan jari-jari aku gosok gigiku. Segar sekali. Rasa capek sepertinya langsung hilang. Perut yang semakin meronta-ronta minta diisi.

***********************|||||||||************************
Itu sekelumit catatanku ketika mengikuti latihan survival di hutan. Sebenarnya ada banyak peserta lain selain aku. Aku hanya menceritakan kisahku sendiri.

Tahun depan, aku pingin petualangan yang lebih menantang lagi.

Insya Allah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s