Hilangnya Sawah di Kampungku

pemandangan dari jendela rumah

Pemandangan dari jendela kamarku tidak lagi indah. Sawah-sawah sudah tidak ada lagi. Air sungai kering, keruh, kotor dan bau.

Ketika aku masih kecil dulu, belakang rumahkau adalalah sawah. Konturnya menurun, dan di dasar bawahnya ada mata air yang jernih. Tepat di belakang rumahku ada sungai irigasi, kami menyebutnya ‘Kali Bening’, karena memang bening sekali airnya waktu itu. Mata airnya ada di kali bening, Payaman, Magelang.

Aku dan teman-teman biasa main di sawah. Kalau musim kering, biasanya kami main layang-layang. Di sawah tidak ada kabel listrik dan tidak ada pohon yang tinggi. Langitnya lapang, tempat yang cocok untuk main layang-layang. Kalau capek main layang-layang kami mandi di pancuran. Seger sekali airnya.

Paling asik adalah pada saat musim tanam padi tiba. Sawah biasanya dibajak dengan kerbau. Selesai olah tanah sawahnya diairi sedikit. Tanahnya gembur sekali. Kami biasanya main bola di sawah, main bola sambil main lumpur. Karena masih kecil, kami biasa telanjang, atau cuma pakai CD saja. Maklumlah masih anak-anak. Biasanya kami main kalau sudah sore, sepulang sekolah. Jaman dulu pulang sekolah jam 12. Tidak seperti anak-anak sekolah jaman sekarang, pulang sekolah jam 16. Sampai rumah sudah capek banget.

Kami main sore-sore untuk menghindari petani yang punya sawah. Soalnya, Pak tani sangat melarang kami main di sawah yang sudah diolah tanahnya. Begitu pak tani pulang, kami langsung mainan lumpur. Seneng sekali rasanya. Sepertinya tidak ada permainan yang paling mengasikkan selain main mandi lumpur.

Main di lumpur ada susahnya juga. Paling menyakitkan adalah kalau digigit TENGU. Tengu itu adalah serangga kecil berwarna merah dan kalau menggigit selalu di tempat spesial, yaitu di-titit. Rasanya gatal-gatal sakit, seperti ditusuk duri kecil di bagian tititnya. Kalau kegigit tengu biasanya kami duduk di atas batu di dekat pancuran mata air. Tititnya dibersihkan dulu, lalu dengan bantuan temen-temen kami mencari di mana tenguitu. Biasanya kelihatan merah kecil sekali. Kami hilangkan dengan ‘lengo klentik’ (minyak kelapa) dan dicukil pakai jarum. Wuiiihhh….saaakkitttt.

Kalau sawahnya sudah ditanami, kami tidak bisa lagi main ke sawah. Biasanya kami cuma mencari ikan di galengan-galengan (parit sawah). Kami mencari ikan gabus kecil, seperti ikan lele tapi tidak ada patilnya. Atau kami mancing belut. Tapi kami harus hati-hati kalau main di sawah, karena banyak ularnya. Belum pernah sih ada yang digigit ular, tapi kami sering bertemu dengan ular. Kebanyakan ular berbisa.

Kalau padi mulai tua dan menguning akan banyak burung-burung yang makan padi di sawah. Pak tani mulai memasang ‘memedi sawah’,orang-orangan sawah untuk menakuti burung. Pak tani membuat gubuk di sawah. Orang-orangan sawah itu dibuat beberapa buah, lalu diikat pakai tali panjang. Tali-talinya digantungi kain dan kaleng yang diisi kerikil. Talinya panjang sampai ke gubuk. Kalau ada burung, tapinya di tarik-tarik. Orang-orangan sawah akan bergerak dan kalengknya berbunyi nyaring. Burung-burungnya akan terbang ketakutan.

Burung-burung yang makan bulir padinya ada banyak; emprit, gereja dan glatik. Burung glatik yang paling cantik. Di pipinya ada warna merahnya, burungnya kecil seperti emprit, warnanya putih dan sayapnya coklat tua/hitam. Mereka hidup berkelompok, sekali terbang bisa ada ratusan burung. Pemandangan yang indah sekali.

Lain waktu kami mencari-cari sliring, hewan reptil kecil yang warnanya belang-belang kuning hijau coklat. Ukurannya kecil seperti kadal yang ramping, tetapi lebih panjang. Kami tangkap dan kami belai-belai. Kalau bosan kami lepaskan lagi ke rumput-rumputan.

Di sawah kami juga biasa mencari ‘tambang’, tanaman menjalar yang panjang dan kuat. Biasa buat main tali-talian. Tambangnya kami buat main ‘polisi-polisian’, kalau ada yang tertangkap kami ikat dengan tambang itu dan kami jadikan tawanan.

Kini pemandangan indah sawah-sawah dan padi-padi yang menguning sudah tidak ada lagi. Entah sejak kapan sawah itu tidak lagi ditanami padi. Mungkin sawahnya dijual dan ditanami pohon sengon laut (albasia). Anak-anak kampung jarang main ke sawah atau ladang. Sudah tidak asik lagi. Apalagi sekarang jamanya tivi dan smartphone. Mereka lebih asik main game dengan HP. Jalan pingir sawah yang dulu sempit, kini juga sudah dibangun dan dilebarkan. Jalannya sudah jadi melalui program padat karya. Sebentar lagi mau diaspal katanya.

Kali bening sekarang juga tidak ‘bening’ lagi. Malah airnya kering dan kotor. Banyak sampahnya, bau lagi.

Kalau aku buka jendela kamarku, pemandangan tidak lagi indah dan mengasikkan seperti dulu.

Advertisements

6 responses to “Hilangnya Sawah di Kampungku

  1. lha d tempat saya, sawah2nya kena jalan TOL semua hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s