Category Archives: sustainable

Sustainable Habit: Revolusi Kecil dari Dapur Kita

Pernahkah Anda membayangkan perjalanan satu kantong plastik sampah yang Anda buang pagi ini?

Begitu diangkut oleh tukang sampah, ia akan bercampur dengan ribuan ton sampah lain, ditumpuk di truk, lalu berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang sudah menggunung seperti Bantar Gebang atau Galuga. Di sana, sampah itu akan “abadi”. Plastik tidak terurai, sementara sisa makanan yang terbungkus plastik akan membusuk tanpa oksigen, menghasilkan gas metana yang bau dan memicu pemanasan global.

Fakta yang menyedihkan adalah: Lebih dari 50% isi kantong sampah kita sebenarnya adalah sampah organik. Sisa nasi, kulit buah, potongan sayur, duri ikan, hingga daun kering di halaman.

Artinya, jika kita bisa mengelola sampah organik ini di rumah, kita sudah mengurangi beban TPA, beban tukang sampah, dan beban lingkungan sebanyak separuhnya. Kita sedang memotong mata rantai masalah sampah tepat di sumbernya: Rumah Tangga.

Tantangan Terberat: Melawan “Refleks” Diri Sendiri

Dua tempat sampah yang berbeda untuk sampah organik (sampah dapur) dengan non organik.

Mengapa hal yang terdengar sederhana ini begitu sulit dilakukan? Jawabannya bukan karena teknologinya mahal, tapi karena kebiasaan.

Selama puluhan tahun, kita terbiasa dengan konsep “kumpulkan – angkut – buang”. Kita mencampur kulit pisang dengan botol plastik dalam satu tong sampah. Mengubah kebiasaan ini butuh usaha ekstra. Kita harus menyediakan dua tempat sampah berbeda. Kita harus berpikir sejenak sebelum membuang: “Ini organik atau bukan?”

Tantangan kedua yang sering menjadi alasan pembenar adalah: Lahan Sempit. “Rumah saya tipe 36, halaman sudah disemen semua, mana bisa bikin kompos?” Padahal, justru di lahan sempit dan rawan banjir inilah pengolahan sampah organik menjadi sangat vital.

Solusinya ada pada dua metode sederhana yang bisa kita terapkan sesuai jenis sampahnya: Biopori dan Kompos Pot.

1. Sampah Dapur Basah? Masuk Biopori

Sampah dapur (sisa lauk, nasi basi, kulit buah berair, jeroan ikan) adalah jenis sampah yang paling cepat membusuk dan berbau. Solusi terbaik untuk ini adalah Lubang Resapan Biopori (LRB).

Biopori adalah “teknologi” jenius yang sangat hemat tempat. Kita hanya butuh lubang di tanah berdiameter 10 cm dengan kedalaman 80-100 cm.

  • Cara Kerja: Masukkan sampah dapur ke dalam lubang ini. Tutup. Selesai.
  • Keajaiban di Dalam Tanah: Di dalam lubang gelap itu, cacing tanah dan mikroorganisme akan berpesta. Mereka mengubah sampah bau itu menjadi kompos yang menyuburkan tanah di sekitarnya.
  • Manfaat Ganda: Selain memusnahkan sampah, lubang ini berfungsi menyerap air hujan. Bagi warga perumahan yang sering tergenang air, biopori adalah penyelamat. Ia mencegah banjir sekaligus menabung air tanah.

Bagi yang halamannya sudah dipaving/semen, Anda cukup melubangi paving seukuran pipa paralon. Jadi, alasan lahan sempit sebenarnya sudah tidak relevan.

Saya di rumah membuat lubang di tanah khusus untuk sampah organik dapur dengan drum bekas ukuran 50 liter yang dipotong. Ini lebih besar daripada biopori yang umum dibuat. Memang tujuannya biar bisa muat lebih banyak sampah organik. Dengan lubang seukuran ini, lubang biopori ini sudah beberapa tahu tidak penuh.

2. Sampah Kebun/Kering? Jadikan Kompos

Untuk sampah organik yang lebih kering dan padat seperti daun-daun kering, ranting kecil, atau sisa sayuran mentah yang banyak, kita bisa mengolahnya menjadi pupuk kompos.

Jika tidak punya tanah luas untuk membuat bak kompos, gunakan Komposter Ember atau Komposter Jumbo Bag. Anda bisa menumpuk sampah ini dalam wadah tertutup, memberinya sedikit bio-aktivator (bakteri pengurai), dan membiarkannya terfermentasi. Kebetulan di rumah ada banyak tanaman hias dan anggrek. Secara reguler tanaman-tanaman ini dirawat dan banyak sampah-sampah sisa tanaman. Di depan rumah juga ada pohon rambutan yang daunnya sering banget rontok. Sisa daun dan tanaman ini semuanya masuk ke dalam komposter.

Hasilnya? Dalam beberapa minggu, sampah itu berubah menjadi “emas hitam”—pupuk organik berkualitas tinggi yang siap menyuburkan tanaman hias, anggrek, atau kebun sayur di pot Anda. Komposnya aku gunakan lagi untuk memupuk tanaman-tanaman hiasku. Alhamdulillah, bisa hemat pupuk dan tanaman jadi lebih subur.

Kompos Sampah Organik
Tempat pengomposan sampah organik selain sampah organik daput.
Kompos sampah organik
Pengomposan sampah organik daun selain sampah dapur

Keuntungan Jangka Panjang: Lingkaran Kebaikan

Ketika kita mulai memilah dan mengolah sampah organik, kita akan merasakan dampak positif yang berantai:

  1. Rumah Lebih Bersih: Tong sampah utama kita tidak akan berbau busuk lagi karena hanya berisi sampah kering (kertas, plastik) yang bersih.
  2. Hemat Pengeluaran: Tidak perlu lagi membeli pupuk kimia. Tanaman di rumah tumbuh subur dengan pupuk gratis buatan sendiri.
  3. Amal Jariyah Lingkungan: Kita meringankan beban petugas kebersihan yang setiap hari harus mencium bau busuk sampah kita. Kita juga memperpanjang umur TPA agar tidak cepat penuh.

Mulai dari Satu Lubang

Menjadi sustainable tidak harus menunggu punya kebun luas atau menunggu program pemerintah. Ia dimulai dari keputusan kecil di dapur kita.

Mungkin rasanya ribet di awal. Mungkin kita akan lupa dan tercampur lagi. Tidak apa-apa. Mulailah dengan satu lubang biopori dulu. Mulailah dengan memisahkan sisa nasi dulu.

Ingatlah, sampah organik sejatinya bukanlah sampah. Ia adalah sumber daya alam yang tersesat. Tugas kitalah untuk mengembalikannya ke tempat asalnya: Tanah.

The Art of Maintenance: Memperpanjang Napas Barang, Mengurangi Beban Alam

Setelah membahas tentang filosofi back to basic dan seni berburu barang bekas (thrifting) dalam dua tulisan sebelumnya, ada satu kepingan puzzle penting dalam gaya hidup berkelanjutan (sustainable living) yang sering terlupakan. Kepingan itu bernama: Merawat dan Memperbaiki.
Baca artikel sebelumnya di sini:
Sustainable Habit: Kembali ke Akar, Menuju Masa Depan

Thrifting: Melawan Gengsi, Memperpanjang Umur Bumi

Di era konsumerisme modern, kita sering tergoda dengan kemudahan. Barang rusak sedikit? Buang. Baterai mulai boros? Beli baru. Ada model yang lebih kinclong? Ganti. Tanpa sadar, pola pikir “sekali pakai” ini telah menumpuk gunung sampah dan menguras sumber daya bumi secara masif.

Padahal, salah satu prinsip paling fundamental dari keberlanjutan adalah: menggunakan sebuah produk selama mungkin.

Di dunia yang bergerak serba cepat ini, ada sensasi yang sulit ditolak ketika kita melakukan unboxing barang baru. Aroma plastik segar, layar yang masih mulus tanpa sidik jari, dan janji akan performa yang lebih canggih. Iklan-iklan membombardir kita setiap detik dengan pesan tersirat: “Yang lama sudah usang, yang baru adalah kebahagiaan.”

Jika thrifting adalah tentang menyelamatkan barang dari tempat sampah, maka maintenance (pemeliharaan) dan repair(perbaikan) adalah tentang mencegah barang tersebut masuk ke tempat sampah sejak awal. Ini adalah garis pertahanan pertama kita dalam menjaga bumi.

Paradoks Efisiensi dan Beban Tersembunyi

Seringkali kita berpikir bahwa menjadi ramah lingkungan itu mahal. Harus beli mobil listrik, harus pasang panel surya, atau membeli produk eco-friendly yang harganya dua kali lipat produk biasa. Padahal, prinsip dasar keberlanjutan adalah efisiensi sumber daya.

Setiap barang yang kita miliki—sepasang sepatu, blender di dapur, laptop, hingga sepeda motor—memiliki apa yang disebut embodied energy atau energi yang terkandung. Ini adalah total energi yang digunakan untuk menambang bahan bakunya, memprosesnya di pabrik, merakitnya, hingga mengirimkannya ke depan pintu rumah kita.

Ambil contoh sebuah smartphone. Tahukah Anda bahwa sekitar 85-95% jejak karbon (carbon footprint) dari sebuah ponsel pintar berasal dari proses produksinya, bukan dari listrik yang kita pakai untuk mengecasnya setiap hari?

Artinya, jika kita merawat ponsel tersebut agar bisa bertahan 4 tahun alih-alih menggantinya setiap 2 tahun, kita telah memangkas dampak lingkungan sebesar 50%. Rumusnya sederhana: Semakin lama masa pakai sebuah barang, semakin kecil “biaya” yang harus dibayar oleh alam.

Namun, memperpanjang umur barang tidak terjadi secara ajaib. Ia membutuhkan usaha, disiplin, dan perubahan pola pikir. Berikut adalah bagaimana kita bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari melalui contoh-contoh yang sangat dekat dengan kita.

1. Kendaraan: Jantung Mobilitas yang Harus Dijaga

Bagi banyak dari kita, kendaraan bermotor bukan sekadar alat transportasi, tapi tulang punggung aktivitas ekonomi. Namun, seringkali kita abai.

Ganti Oli: Jangan Tunggu Mogok Oli adalah darah bagi mesin kendaraan. Banyak orang menunda mengganti oli dengan alasan “masih bisa jalan” atau “tanggung bulan tua”. Padahal, oli yang sudah kotor dan encer kehilangan kemampuan melumasinya. Akibatnya, gesekan antar komponen mesin meningkat.

Dampaknya berantai: mesin menjadi cepat panas, komponen internal tergerus (aus), dan yang paling relevan dengan isu lingkungan: pembakaran menjadi tidak sempurna. Mesin yang tidak terawat menghasilkan emisi gas buang yang jauh lebih kotor dan boros bahan bakar. Dengan mengganti oli tepat waktu sesuai rekomendasi pabrikan, kita tidak hanya menjaga mesin awet bertahun-tahun, tapi juga menjaga udara kota tetap sedikit lebih bersih.

Servis Berkala: Deteksi Dini Seperti halnya tubuh manusia yang butuh medical check-up, kendaraan butuh servis berkala. Mekanik bisa melihat masalah yang tidak kasat mata bagi orang awam. Kampas rem yang mulai tipis, filter udara yang tersumbat, atau busi yang sudah kotor. Filter udara yang kotor, misalnya, membuat mesin “sesak napas”. Akibatnya, mesin harus bekerja lebih keras dan menyedot bensin lebih banyak. Merawat kendaraan adalah wujud efisiensi energi yang paling nyata.

Dengarkan “Keluhan” Kendaraan Anda Pernahkah Anda mendengar bunyi “cicit” aneh saat mengerem atau bunyi kasar saat mesin dinyalakan? Itu adalah cara kendaraan “berbicara” bahwa ada yang salah. Prinsip sustainable habitmengajarkan kita untuk segera memperbaiki masalah sekecil apapun. Jangan tunggu parah. Mengganti seal karet yang bocor harganya mungkin hanya puluhan ribu rupiah. Tapi jika dibiarkan, olinya habis, mesinnya jebol, biayanya bisa jutaan rupiah untuk turun mesin. Lebih parah lagi, jika mesin rusak total, kita terpaksa membeli kendaraan baru—yang berarti membebani bumi dengan proses produksi kendaraan baru lagi.

2. Musuh Tak Terlihat: Debu dan Kotoran

Salah satu kegiatan yang sering dianggap sepele dan membosankan adalah membersihkan barang. “Ah, cuma debu, nanti juga kotor lagi.”

Pemikiran ini keliru. Debu dan kotoran adalah musuh senyap yang memperpendek umur barang secara drastis.

Elektronik dan Panas Pada perangkat elektronik seperti laptop, PC, atau kulkas, debu yang menumpuk di ventilasi udara adalah pembunuh nomor satu. Debu menghambat aliran udara, menyebabkan perangkat menjadi overheat (panas berlebih). Komponen elektronik yang bekerja dalam suhu tinggi akan mengalami degradasi performa lebih cepat. Baterai laptop akan cepat menggembung, prosesor akan melambat, dan akhirnya mati total. Hanya dengan modal kuas kecil atau blower untuk membersihkan debu sebulan sekali, Anda mungkin telah menambahkan 1-2 tahun usia pakai pada gadget Anda. Saya sendiri masih menggunakan Macbook Air keluaran tahun 2014. Berkat perawatan rutin dan menjaga kebersihannya, laptop berusia lebih dari satu dekade ini masih bisa diandalkan untuk menulis artikel ini.

Furnitur dan Interior Di rumah, debu yang menempel pada sofa kain atau gorden, jika dibiarkan, akan menjadi kerak yang sulit dibersihkan dan merusak serat kain. Akhirnya, sofa terlihat kusam dan sobek, lalu kita membuangnya ke TPA. Padahal, dengan rutin divakum atau dilap, furnitur bisa bertahan puluhan tahun dan bahkan bisa diwariskan.

3. Menghormati Kapasitas: Jangan Memforsir Alat

Keberlanjutan juga bicara soal keseimbangan dan batas kemampuan. Setiap alat diciptakan dengan spesifikasi dan kapasitas tertentu.

Seringkali karena ingin cepat selesai, kita memaksakan penggunaan alat.

  • Memasukkan pakaian melebihi kapasitas mesin cuci.
  • Membawa beban di motor melebihi tonase yang dianjurkan.
  • Menggunakan blender rumahan untuk menggiling bumbu keras tanpa henti dalam waktu lama.

Ketika kita memforsir alat (overload), kita sedang menyiksa komponen di dalamnya. Bearings mesin cuci akan cepat oblak, shockbreaker motor akan mati, dan dinamo blender akan terbakar. Menggunakan barang sesuai kapasitasnya adalah bentuk rasa hormat kita terhadap sumber daya. Sabarlah sedikit. Mencuci dua kali putaran dengan beban ringan jauh lebih baik daripada satu kali putaran tapi merusak mesin.

4. Rumahku Istanaku: Filosofi “Tambal Sulam”

Rumah adalah aset terbesar kita, namun juga penyumbang limbah konstruksi yang besar jika sering direnovasi total.

Salah satu contoh paling klasik adalah atap bocor. Bocoran kecil di plafon seringkali kita abaikan dengan meletakkan ember di bawahnya. “Nanti saja kalau sudah musim kemarau diperbaiki,” pikir kita. Padahal, air adalah pelarut universal yang jahat bagi bangunan. Rembesan air yang kecil itu pelan-pelan merapuhkan kayu rangka atap, menjebol plafon gipsum, merusak cat dinding, hingga menyebabkan korsleting listrik yang berbahaya.

Biaya (dan material) untuk menambal satu lubang genteng sangatlah murah dan ramah lingkungan. Namun, jika dibiarkan sampai atap ambruk, kita butuh kayu baru, semen baru, cat baru, dan plafon baru. Berapa banyak pohon yang harus ditebang dan emisi semen yang dihasilkan hanya karena kita menunda perbaikan kecil? Segera perbaiki. Jangan biarkan kerusakan kecil bermetastasis menjadi kanker bagi rumah Anda.

5. Repair Culture: Melawan Budaya Sekali Pakai

Terakhir, dan mungkin yang paling penting, adalah keberanian untuk memperbaiki barang elektronik atau perabotan yang rusak.

Kita hidup di zaman di mana biaya perbaikan seringkali dianggap tidak rasional dibandingkan harga barang baru. “Biaya servis printer 500 ribu, beli baru cuma 900 ribu. Mending beli baru, dapat garansi.”

Secara finansial jangka pendek, mungkin logika itu masuk akal. Tapi secara ekologis, itu bencana. Printer lama Anda akan menjadi sampah elektronik (e-waste) yang mengandung logam berat berbahaya.

Cobalah untuk selalu memprioritaskan opsi perbaikan:

  1. Cari Tahu Dulu: Seringkali kerusakan barang elektronik hanya masalah sepele. Kabel putus, sekring putus, atau tombol kotor. YouTube adalah perpustakaan raksasa untuk tutorial Do It Yourself (DIY) repair.
  2. Dukung Tukang Servis Lokal: Membawa barang ke tukang servis lokal (bukan service center resmi yang seringkali menyarankan ganti unit) memiliki dampak ganda: Anda mengurangi limbah dan Anda menghidupkan ekonomi rakyat.
  3. Upgrade Parsial: Laptop lambat tidak selalu harus ganti baru. Mungkin hanya perlu ganti SSD atau tambah RAM. Sepeda tua tidak enak digowes mungkin hanya perlu ganti rantai dan sprocket.

Pada akhirnya, The Art of Maintenance bukan hanya soal menghemat uang atau menyelamatkan lingkungan. Ia juga memiliki dampak psikologis yang positif.

Ada ketenangan batin yang muncul ketika kita tahu bahwa barang-barang di sekeliling kita—kendaraan, rumah, peralatan—berada dalam kondisi prima dan siap digunakan. Kita tidak dihantui rasa was-was “kapan ini akan rusak”.

Merawat barang mengajarkan kita untuk melambat, menjadi lebih teliti, dan lebih menghargai proses. Di tengah dunia yang bising dengan seruan “BELI! BELI! BELI!”, tindakan mengambil lap kain, memegang obeng, atau mengecek dipstick oli adalah sebuah tindakan perlawanan yang sunyi namun revolusioner.

Mari kita mulai dari hari ini. Cek kendaraan Anda, bersihkan debu di meja kerja Anda, dan perbaiki keran air yang menetes itu. Karena bumi tidak butuh lebih banyak barang baru; bumi butuh kita untuk lebih mencintai apa yang sudah kita miliki.

Thrifting: Melawan Gengsi, Memperpanjang Umur Bumi

Kondisi Pasar Jembatan Item Jatinegara

Mendengar kata “barang bekas”, apa yang pertama kali terlintas di benak Anda? Kumuh? Rusak? Atau mungkin, tanda ketidakmampuan finansial?

Jujur saja, bagi sebagian besar masyarakat kita, membeli barang baru (brand new in box) seringkali dianggap sebagai simbol kesuksesan. Ada rasa bangga saat membuka segel plastik, mencium aroma “barang baru”, dan menjadi pemilik pertama. Sebaliknya, membeli barang bekas atau second hand seringkali terhalang oleh satu tembok besar bernama: Gengsi.

Padahal, jika kita mau menyingkirkan gengsi itu sejenak dan melihat dari kacamata yang lebih luas, membeli barang bekas adalah salah satu tindakan paling revolusioner yang bisa kita lakukan hari ini. Bukan hanya untuk dompet kita, tapi untuk keberlangsungan tempat tinggal kita: Bumi.

Dalam tulisan bagian kedua tentang Sustainable Habit ini, saya ingin mengajak Anda menyelami dunia thrifting (belanja barang bekas). Mengapa kebiasaan ini perlu kita normalisasi, bahkan kita biasakan sebagai sebuah kebiasaan yang sustainable.

Filosofi di Balik Barang Bekas: Memperpanjang Umur Pakai Barang

Dalam konsep ekonomi sirkular yang saya bahas di tulisan sebelumnya, musuh utamanya adalah budaya “sekali pakai” dan “buang”. Setiap barang yang diproduksi di muka bumi ini—mulai dari baju, gadget, hingga mobil—membutuhkan sumber daya alam. Ada air yang dipakai, mineral yang ditambang, dan emisi karbon yang dilepaskan pabrik saat memproduksinya.

Ketika kita membeli barang baru, kita memberi sinyal ke pasar untuk “tolong ambil sumber daya alam lagi dan buatkan saya yang baru.”

Namun, ketika kita membeli barang bekas yang masih layak pakai dan fungsional, kita sedang melakukan tindakan heroik: Memperpanjang umur pakai (product life cycle) barang tersebut.

Bayangkan sebuah laptop. Energi terbesar yang dihabiskan laptop bukanlah listrik yang Anda pakai untuk men-cas setiap hari, melainkan energi saat proses manufakturnya. Jika laptop itu dibuang setelah 3 tahun, energi itu sia-sia. Tapi jika Anda membelinya dalam kondisi bekas dan memakainya 3 tahun lagi, Anda telah membagi “beban lingkungan” laptop tersebut menjadi jauh lebih ringan.

Jadi, thrifting bukan soal tidak mampu beli baru. Thrifting adalah bentuk penghargaan kita terhadap sumber daya alam yang sudah terlanjur diambil dari bumi.

Level Up: Dari 3R Menjadi 9R

Mungkin sejak sekolah dulu kita sudah sangat akrab dengan mantra lingkungan “3R”: Reduce, Reuse, Recycle. Itu dasar yang bagus, tapi untuk tantangan lingkungan hari ini, 3R saja ternyata tidak cukup.

Dalam konsep Ekonomi Sirkular yang lebih maju, dikenal istilah 9R Framework. Ini adalah tingkatan strategi untuk meminimalkan limbah. Semakin kecil angkanya (R0), semakin tinggi dampak positifnya.

Nah, di mana posisi thrifting atau membeli barang bekas dalam peta 9R ini? Ternyata posisinya sangat tinggi dan krusial:

1. R1: Rethink (Memikirkan Ulang) Sebelum dompet terbuka, thrifting mengajak kita mengubah pola pikir. Kita diajak untuk memikirkan ulang konsep “kepemilikan”. Apakah saya butuh barang yang baru, atau saya hanya butuh fungsinyaRethink adalah mengubah mindset bahwa barang bekas bukanlah sampah, melainkan sumber daya yang masih bernilai.

2. R3: Reuse (Menggunakan Kembali) Ini adalah inti dari thriftingReuse berarti menggunakan kembali produk yang sudah dibuang atau dilepas oleh pemilik pertamanya, yang masih dalam kondisi baik dan berfungsi sesuai tujuan aslinya. Saat Anda membeli baju di pasar loak atau membeli mobil bekas tetangga, Anda sedang melakukan praktik Reuse yang sesungguhnya. Anda mencegah barang itu turun kasta menjadi sampah.

3. R5: Refurbish (Memperbarui) Ini berkaitan erat dengan barang elektronik atau mesin yang saya sebutkan tadi. Refurbish adalah proses pembaruan atau modernisasi barang tua agar kondisinya kembali prima (terkadang up-to-date). Membeli laptop refurbished berarti Anda menghargai upaya pemulihan fungsi. Anda tidak membiarkan kerangka dan komponen mesin yang masih bagus itu dilebur begitu saja (di-recycle), tapi memberinya kesempatan hidup kedua.

Jadi jelas, thrifting bukan sekadar gaya-gayaan. Dalam piramida kelestarian lingkungan, tindakan Reuse dan Refurbish(membeli bekas) itu jauh lebih mulia daripada Recycle (daur ulang). Daur ulang butuh energi besar untuk melebur bahan, sedangkan Reuse nyaris tanpa energi tambahan.

Memperbaiki Jaket di Pasar Jatinegara

Apa Saja yang Bisa Di-Thrift?

Banyak orang mengira thrifting hanya soal baju import atau fashion anak muda. Padahal, spektrumnya sangat luas. Hampir semua kebutuhan hidup sebenarnya bisa dipenuhi dari pasar sekunder, asalkan kita jeli.

  1. Kendaraan (Mobil, Motor, Sepeda): Ini adalah contoh paling rasional. Nilai mobil baru bisa turun (depresiasi) hingga 20-30% begitu keluar dari showroom. Membeli kendaraan bekas tahun muda dengan kondisi prima adalah keputusan finansial yang sangat cerdas. Fungsinya sama, harganya jauh berbeda.
  2. Perkakas dan Alat Pertukangan: Palu, kunci inggris, gergaji, atau bor listrik adalah barang-barang yang didesain tahan banting. Bor bekas yang usianya 5 tahun seringkali masih sama kuatnya dengan bor baru, tapi harganya mungkin tinggal seperempatnya.
  3. Elektronik dan Gadget: Ini favorit saya. Laptop, kamera, hingga jam tangan. Seringkali orang menjual gadget mereka bukan karena rusak, tapi karena bosan atau ingin upgrade ke model terbaru. Ini adalah peluang emas bagi kita untuk mendapatkan teknologi tinggi dengan harga miring.
  4. Furnitur: Lemari jati tua atau meja kerja bekas kantor seringkali memiliki kualitas material yang jauh lebih kokoh dibandingkan furnitur partikel serbuk kayu yang dijual di toko modern saat ini.

Mengenal Barang Refurbished: Bekas Rasa Baru

Selain barang bekas murni (used), sekarang kita juga mengenal istilah Refurbished. Ini adalah jalan tengah yang menarik bagi Anda yang masih ragu soal kualitas.

Barang refurbished adalah barang bekas (atau barang retur) yang sudah ditarik kembali oleh pabrikan atau teknisi profesional, diperbaiki komponen yang rusaknya, dibersihkan, diuji ulang fungsinya, dan dijual kembali—seringkali dengan garansi.

Membeli barang refurbished menurut saya adalah sweet spot dalam sustainable living. Kita menyelamatkan barang dari tumpukan sampah elektronik, tapi kita mendapatkan jaminan kualitas yang hampir setara barang baru. Di luar negeri, membeli iPhone atau MacBook refurbished resmi dari Apple adalah hal yang sangat lumrah dan dianggap cerdas.

Cuan dari Barang Bekas

Mari bicara angka. Idealisme lingkungan itu bagus, tapi penghematan uang adalah insentif yang nyata.

Membeli barang second bisa menghemat anggaran Anda mulai dari 30% hingga 50%, bahkan lebih. Bayangkan jika Anda perlu membeli perlengkapan rumah tangga senilai Rp 10 juta. Dengan berburu barang bekas berkualitas, Anda mungkin hanya perlu mengeluarkan Rp 5 juta. Sisa Rp 5 jutanya bisa Anda alokasikan untuk investasi, dana darurat, atau kebutuhan pendidikan anak.

Secara tidak langsung, gaya hidup thrifting membuat kita lebih kaya. Kita mendapatkan fungsi yang sama (fungsionalitas adalah kunci), tapi dengan modal yang jauh lebih kecil.

Seni Berburu Barang Trifting: Teliti Sebelum Membeli

Tentu saja, membeli barang bekas ada seninya. Tidak bisa asal ambil seperti di supermarket. Ada risiko barang tidak berfungsi normal atau cacat tersembunyi. Di sinilah letak tantangan dan keasyikannya. Kita dituntut untuk menjadi pembeli yang cerdas dan kritis.

Berikut beberapa prinsip yang saya pegang:

  • Cek Fisik dan Fungsi: Jangan hanya lihat foto. Jika memungkinkan, cek barang secara langsung (Cash on Delivery / COD). Putar semua tombol, cek semua baut, nyalakan mesin.
  • Tanya Riwayat: Tanyakan pada penjual, “Kenapa dijual?”, “Pernah servis di mana?”, “Sudah dipakai berapa lama?”. Jawaban penjual seringkali bisa menjadi indikator kondisi barang.
  • Bandingkan Harga: Cek harga barunya, cek harga pasaran bekasnya. Pastikan harganya masuk akal. Terlalu murah patut dicurigai, terlalu mahal tidak worth it.

Surga Barang Bekas di Sekitar Kita

Pasar Loak Jembatan Item Jatinegara
Pasar Loak Jembatan Item Jatinegara (photo by Anwar)

Indonesia sebenarnya adalah surganya barang bekas. Kearifan lokal kita dalam memanfaatkan barang sisa sebenarnya sangat tinggi. Di setiap kota, pasti ada “pusat harta karun” yang menunggu untuk diulik.

Jika Anda di Jakarta, pasti tidak asing dengan Pasar Jembatan Item di Jatinegara. Di sana terhampar segala macam barang, mulai dari sepatu bekas, mainan anak, hingga barang antik yang tak terduga. Ada juga Pasar Loak Kebayoran Lama yang legendaris bagi pemburu kamera analog atau barang vintage.

Bergeser ke Yogyakarta, ada Pasar Klitikan Kuncen (Pakuncen) dan pasar malam Senthir di dekat Beringharjo. Bagi pecinta otomotif atau sekadar cari sparepart motor jadul, tempat ini adalah surga.

Bahkan di Depok dan kota-kota penyangga lainnya, kini mulai bermunculan toko-toko modern yang dikhususkan menjual barang-barang bekas terkurasi (biasanya furnitur atau pakaian), atau toko barang bekas Jepang yang sedang menjamur.

Ubah Rasa Malu Jadi Rasa Bangga

Sudah saatnya kita mengubah mindset. Membeli barang bekas bukanlah tanda kemunduran. Justru, itu adalah tanda kemajuan berpikir.

Jangan malu saat teman bertanya, “Lho, itu tasnya baru ya?” lalu Anda menjawab, “Oh nggak, ini beli second, masih bagus kan?”.

Jawaban itu menunjukkan bahwa Anda adalah konsumen yang rasional. Anda mendapatkan barang bagus, harga miring, dan di saat yang sama, Anda telah berkontribusi nyata menahan laju kerusakan bumi. Anda telah menyelamatkan satu barang dari TPA dan mencegah satu barang baru diproduksi dengan emisi karbon.

Jadi, untuk kebutuhan Anda berikutnya—entah itu ganti HP, beli meja belajar anak, atau cari perkakas—cobalah cek pasar barang bekas dulu sebelum ke toko barang baru. Siapa tahu, jodoh Anda ada di sana.

Teliti sebelum membeli, dan selamat berburu harta karun!