Tag Archives: Puisi

Suaramu

Suaramu merayap-rayap
Lewat kebel
menyembur keluar lewat loudspeker
kemudian tanpa permisi nyelonong
masuk telingaku

Ya….Allah….
Suara apa ini…????!!!
Merdunya melebihi desiran
ombak lautan
Lembutnya melebihi bisik
dedaunan
Tenangnya melebihi gemericik
air pegunungan

Lewat celah-celah sempit
suaramu menuju telaga darahku
dengan riang berenang menuju
jantungku

Di sana
setelah melewati beribu-ribu pintu vena
suaramu menggelegar
memukul tambur
bertalu-talu

Purwokerto, April 1994

Sajak Lilin

Lilinku sudah hampir padam
Sebentar lagi gelap datang
Dan hitam pekat yang ada
Lilinku beku tiba-tiba
Karena dingin dan gelap pekat
Karena dingin……………
………….karena gelap pekat
Lilinku musnah
Aku bimbang
Dan hatiku juga padam

Magelang, Feb 90

Pagi-pagi

Pagi aku bangun
suasana sepi
Pagi itu aku buka pintu
mentari pucat pasi

Dan seekor laron
melintas bebas
menikmati sepi
tanpa burung
tanpa cicak

Aku lihat juga
dua gadis kecil
belajar naik sepeda
yang satu luka dilututnya
yang satu malah takut berdua
kemudian keduanya tertawa
tanpa menghiraukan
seekor laron yang merangkak sedih
tak bisa terbang lagi

Magelang, Des 89

Puisi Cinta

Waktu sekolah di SMA aku pernah baca sebuah puisi cinta terjemahan dari bahasa arab. Puisi itu masih kuingat hingga sekarang.

DIALOG

‘Ali Ahmad Sa’id (Anonis) (1930 – )

Jangan katakan bahwa cintaku
Sebentuk cincin atau gelang
Cintaku ialah pengepungan benteng lawan
Ialah orang-orang nekat dan pemberani
Sambil menyelidik mencari-cari, mereka menuju mati.

Jangan katakan bahwa cintaku
Ialah bulan,
Cintaku bunga api bersemburan.

***

Buat Sepasang Mata Tak Dikenal

Muhammad Al Fayaturi (1930 – )
Continue reading

*

Hidup ini adalah
air yang mengalir
Dari tebing-tebing…
….gemericik….
Menyusuri batu-batu terjal
Merayap…
Meliuk-liuk bagai ular
Menuju laut…
Dua dunia yang jelas batas-batasnya
Asin dan
Tawar

Purwokerto, 8 – November 1994

Di Persimpangan Jalan

Di persimpangan jalan
Kuraba sukmaku dalam kegelapan
Di persimpangan jalan
Kuraba jiwaku dalam kebimbangan

Oktober 1988
Isroi

*

Hidup ini adalah
air yang mengalir
Dari tebing-tebing…
….gemericik….
Menyusuri batu-batu terjal
Merayap…
Meliuk-liuk bagai ular
Menuju laut…
Dua dunia yang jelas batas-batasnya
Asin dan
Tawar

Purwokerto, 8 – November 1994

*

I love some one
or some girl
She is veri pretty
very nice
And she love me, too
Who is she…?
I know who she is only
Because she live in my heart

Purwokerto, November 1992
Isroi

Rintihan Semusim Kepada Penguasa Jagad

Tuhan……..
Ketika matahari tidak mau lagi
hilang di batas cakrawala
Panas sinarnya telah berubah jadi
neraka
Untuk sekian kalinya aku makan
bangkai yang kian mengering

Tuhan……
Manusia telah keranjingan dengan
bualan setan
Manusia telah terlelap
di atas duri-duri kenikmatan
Seakan lupa akan diri Mu

Tuhan….
Mengapa tak kau turunkan
azab bagi kami?
Mengapa tak kau kiamatkan
dunia ini?

Tuhan…
Aku sudah bosan..
Aku sudah muak….

Tuhan…..
Kalau boleh aku meminta
Bagaiman kalau nerakaMu
dipindahkan ke sini saja?

Maret 1989
Isroi

Hey…

Hey….kau…..
…….ya…..kau
tekadmu membaja
tapi keberanianmu
tidak ada

Juni 1990
isroi