Peneliti Harus Kreatif

Dunia penelitian adalah dunia yang menantang dan mengasikkan. Walaupun di Indonesia, penelitian termasuk ‘lahan kering’ dan jarang diminati. Awalnya aku juga tidak pernah bermimpi apalagi bercita-cita jadi peneliti. Namun, nasip dan takdir membawaku ke dunia ini. Aku sudah masuk ke dunia ini. Aku harus totalitas didalamnya. Makanya aku belajar dan menyelami dunia panelitian ini.

Setelah sekian lama aku mulai mencintai duniaku, dunia penelitian. Enaknya adalah kita bisa menyalurkan ide-ide kita. Peneliti bekerja secara otonom. Bisa meneliti sendiri atau bekerja dalam sebuah tim. Rasanya sih sekarang harus bekerja dalam tim, karena tidak ada peneliti yang serba tahu dan serba bisa. Mungkin jaman dulu betul, seperti yang kita lihat di televisi/film-film.

Jam kerja peneliti juga diatur sendiri. Kadang-kadang santai, tetapi kadang-kadang juga bergadang tidur di lab.

Ketika meneliti, seringkali pikiran mengelana ke mana-mana. Mengelana ke dunia yang mungkin hanya ada di pikiran peneliti itu sendiri. Kadang-kadang muncul ide-ide gila, tidak lazim, atau bahkan menyalahi hukum-hukum sain saat ini. Biarin aja.

Misalnya saja, aku pernah naik bis dari Magelang ke Semarang. Sambil naik bis aku perhatikan betapa ruwetnya kabel lisrik dan kabel telepon di sepanjang perjalanan. Pikiranku membayangkan bagaimana kalau listrik bisa dialirkan tidak lewat kabel. Tetapi lewat gelombang seperti radio atau televisi. Pasti tidak ruwet seperti itu. Aku membayangkan sebuah dunia tanpa kabel.

Ketika meneliti sering kita dihadapkan banyak masalah. Kita punya data-data, punya hasil analisa statistik, dan foto-foto atau gambar yang lain. Peneliti harus punya pandangan menembus data-data atau analisa statistik itu. Melihat sesuatu yang tak terlihat. Atau mencari alternatif-alternatif lain.

Peneliti juga harus punya sikap pantang menyerah, punya ketahanan mental. Banyak juga masalah-masalah yang belum terpecahkan. Kalau tidak tahan bisa frustasi.

Selama kurang lebih 5 tahun aku mencoba mengkomposkan limbah organik perkebunan tebu, khususnya seresah tebu. Selama itu pula aku belum benar-benar berhasil. Banyak cara dan metode sudah aku coba. Aku sudah kerahkan apa yang aku tahu, semua pengalamanku mengelola limbah padat organik. Tetapi belum selesaijuga permasalahannya. Sampai detik ini. Padahal dari kerjaku mengelola limbah tebu ini, paling tidak sudah ada dua produk penelitian yang dihasilkan: SuperDec dan PROMI.

Meskipun PROMI lahir dari laban tebu dan belum berhasil untuk mengatasi masalah di lahan tebu, tetapi justru PROMI ini berhasil di ‘tempat lain’. Ini lah menariknya. Kadang-kadang kita serius dan pusing dengan satu masalah. Ketika menyelesaikan masalah itu, justru muncul ide-ide dan solusi untuk masalah yang lainnya.

Peneliti juga harus punya pikiran terbuka. Mau menerima ide-ide dan saran orang lain. Bahkan ide-ide yang berasal dari bukan bidangnya sendiri. Beberapa waktu yang lalu aku menerima tamu, seorang doktor teknik mesin lulusan jepang. Kami berdiskusi tentang pupuk, dunia yang doktor itu tidak kuasai. Lalu dia bercerita tentang pekerjaannya di sebuah pabrik onderdil mobil. Di pabrik ini dia menerapkan teknik-teknik statistik. Teknik yang baru pertama kali itu aku mendengarnya. Dia menyarankan aku untuk menggunakan teknik itu di peneltian-penelitianku karena lebih simpel dan akurat.

Boleh juga pikirku. Mungkin aku akan gunakan teknik ini untuk menyelesaikan problem-problem penelitianku. Insya Allah.

Seringkali peneliti juga harus memperhatikan pendapat  orang lain meskipun pendidikannya lebih rendah dari dia.  Misalnya saja, aku harus memeperhatikan pendapat para mandor, asisten, atau manajer kebun, bahkan petani, ketika mau melakukan penelitian lapang.  Mereka jauh lebih paham tentang kondisi kebun dan tanaman daripada aku.  Pengetahuanku lebih banyak dari teori buku, sedangkan mereka belajar langsung di lapangan.  Kalau aku tidak memperhatikan pendapat mereka, bisa gagal penelitianku.

Ada beberapa contoh.  Seorang setingkat asisten kebun bercerita tentang peneliti yang melakukan penelitian di kebun mereka.  Peneliti ini tidak mau mendengan pendapatnya, akhirnya penelitian itu gagal.  Masalahnya kadang-kadang hanya karena peneliti yang lulusan S3 merasa lebih tahu daripada asisten yang hanya lulus SPMA.

Jadi peneliti juga harus sedikit ‘gila’. Jangan terlalu mengukung diri dengan pakem-pakem yang ada. Cobalah untuk sedikit ‘gila’ itu. Siapa tahu ada ide-ide berguna yang diperoleh.

Ok deh….aku mau jadi ‘gila’ dulu…. 😦

Advertisements

One response to “Peneliti Harus Kreatif

  1. huekekkeke… jangan sampai gila beneran Pak 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s