Menggagas Usaha Bioethanol Skala Kecil (Rumah Tangga)

Bioethanol menjadi salah satu bahan bakar alternatif penganti bensin yang sangat potensial. Teknologi sudah tersedia, bahan tersedia, pasar jelas terbuka. Masalahnya sekarang bagaimana mewujudkan industri ini, khususnya untuk skala kecil. Skala petani dan rumah tangga.

Kesadaran akan habisnya sumber daya minyak dari fosil sebenarnya sudah disadari sejak beberapa dekade yang lalu. Saya masih ingat, ketika sekolah di SMA (sekarang SMU) guru pelajaran fisika menerangkan akan hal ini. Upaya-upaya untuk mencari sumber energi alternatif pun mulai dicanangkan. Kalau saya tidak salah ingat, dulu dijelaskan sumber-sumber energi alternatif antara lain: matahari, angin, dan gelombang laut. Memang waktu itu wacana membuat ethanol/solar dari bahan terbarukan belum gencar seperti sekarang. Namun, sepertinya upaya-upaya itu hanya tertulis di teksbook-teksbook saja. Realitanya saya belum melihatnya secara nyata.

Harga minyak bumi yang masih rendah dan sumber daya yang masih cukup melimpah mungkin yang melenakan bangsa ini, lebih khusus lagi para pemimpin bangsa ini. Penelitian-penelitian dan usaha-usaha untuk mencari sumber daya energi alternatif tidak mendapatkan prioritas utama. Dukungan pendanaan atau pun regulasi sangat minim. Makanya tidak heran kalau perkembangan penelitian ini tidak banyak berkembang.

Lebih Baik Terlambat Daripada Tidak Sama Sekali

Kita baru ‘kalang kabut’ ketika tiba-tiba harga minya meloncak tinggi tanpa terkendali. Kita baru ‘ribut’ ketika cadangan BBM menipis, bahkan sekarang negeri ini pun sudah menjadi net importer BBM. Ketika subsidi BBM sudah tidak kuat lagi ditanggung pemerintah, mau tidak mauharga-harga BBM ikut melambung tinggi. Rakyat menjerit. Rakyat memberontak. Mereka menuntut harga BBM diturunkan. Yang lebih memprihatinkan lagi adalah sudah harganya tidak terjangkau barangnya langka lagi. Menyedihkan.

Pemerintah pun mencoba untuk tidak tinggal diam. Alasan politis. Beberapa program energu baru dan terbarukan pun diluncurkan. Keputusan presiden sudah dikeluarkan. Bahkan beberapa program sudah dijalankan. Sebut saja: program jarak pagar, blue energy, dan lain-lainnya. Hasilnya bisa kita lihat bersama, program jarak pagar boleh dikata kurang berhasil. Blue Energy pun membuat malu pejabat-pejabat di negeri ini. Ada lagi program biodiesel dan bioethanol. Program biodiesel mungkin yang paling siap, baik dari sisi teknologi maupun bahan baku. CPO kita melimpah. Tetapi ternyata ada satu kendala yang diluar jangkauan pemerintah, yaitu mekanisme pasar yang menentukan harga CPO. Dengan harga CPO saat ini (kurang lebih US$ 1000/ton) tidak ekonomis jika akan dibuat menjadi biodiesel.

Bioethanol menjadi alternatif lain disamping biodiesel. Majalah Trubus boleh dikata sangat intens mempopulerkan bioethanol ini. Artikel-artikel di majalah itu muncul di beberapa edisi. Pelatihan-pelatihan pun dilaksanakan secara intensif. Lembaga-lembaga lain juga mulai melaksanakan pelatihan-pelatihan serupa. Saya tidak punya data pasti sudah berapa kali pelatihan-pelatihan ini dilaksanakan. Sama ‘tidak tahunya’ dengan berapa orang yang sudah mulai mencoba untuk membuat usaha bioetanol skala kecil maupun skala menengah.

Teknologi etanol sebenarnya bukan teknologi yang baru dan sulit. Dasar-dasar teknologi ini sudah ada sejak puluhan atau ribuan tahun yang lalu. Di negeri ini saja, katanya sejak jaman majapahit sudah ada orang yang membuat ciu atau tuak. Minuman yang membuat orang teler. Bahkan dalam Islam pun disebutkan bahwa haram hukumnya meminum-minuman yang memabukkan, alias minum tuak. Artinya di jalan Rasulullah dulu sudah ada teknologi untuk membuat etanol.

Ethanol yang biasa diminum (di dalam tuak, ciu, atau beer) sebenarnya sama dengan ethanol yang digunakan untuk bahan bakar. Bedanya adalah dalam konsentrasinya saja. Kalau etanol di dalam minuman keras berkisar antara 1 – 30%, sedangkan untuk bahan bakar harus sedikit mungkin mengandung air (99.5%). Di sini muncul kebutuhan untuk memurnikan etanol tersebut. Dan, alhamdulillah, teknologi ini sudah tersedia.

Tantangan berikutnya adalah masalah bahan baku. Bahan baku yang paling mudah difermentasi adalah gula, seperti nira, molasses, nira tebu, atau gula-gula yang lain. Tetapi jika bahan ini yang digunakan jelas tidak ekonomis. Kemudian mulai dicari bahan lain, yaitu: pati-patian. Misalnya dari singkong, sagu, ganyong, garut, ubi, sorgum, jagung dan lain-lain. Bahan yang paling banyak dipromosikan saat ini adalah singkong. Tapi ini juga mulai dipermasalahkan, karena ke depan akan sangat berkompetisi dengan pakan dan pangan. Teknologi untuk bahan-bahan ini sudah tersedia dan siap digunakan.

Nah, untuk mengantisipasi hal itu saat ini juga sedang sangat giat dilaksanakan penelitian untuk memanfaatkan lignoselulosa sebagai bahan baku ethanol. Ini mimpi saya. Jadi obsesi saya adalah mengejar mimpi ini.

Kelembagaan Harus Dibangun

Kembali ke bahan baku pati-patian, khususnya singkong. Teknologi sudah tersedia, bahkan berbagai kalangan pun mulai mencoba untuk membuka usaha ini. Tak terkecuali para petani atau usaha rumah tangga. Tapi menurut pendapatku pribadi, usaha ini jika dilakukan dalam skala sangat kecil rasanya zulit. Modalnya terlalu besar yang dibutuhkan, rasanya tidak ada petani yang sanggup melakukannya. Kecuali kalau didukung oleh pemerintah atau pengusaha. Modal yang cukup besar antara lain digunakan untuk membeli enzym, alat destilasi dan dehidrasi.

Saya punya ide. Baru ide, jadi jangan ditanyakan mana buktinya….

Ini berawal dari para pengrajin ciu di Bekonang, Solo. Mereka melakukan dalam skala rumah tangga, dan berjalan sampai sekarang. Memang aku belum pernah mengkajisecara detail kasus di bekonang ini. Meskipun demikian bisa dijadikan contoh.

Bisa saja petani memproses singkong menjadi ethanol dengan kadar 10 – 15%. Mungkin petani bisa meningkatkanny dengan destilasi sederhana menjadi sekitar 35%. Ethanol dengan kadar ini kemudian diserahkan ke pengepul/koperasi. Koperasi lah yang akan membuat ethanol kadar 35% menjadi 99.5%. Dari sini kemudian di jual ke pertamina/pengusaha yang akan mengolahnya dengan bensin menjadi E10 atau E5.

Petani bisa dibina oleh koperasi dengan memberikan bantuan modal untuk membeli singkong, peralatan sederhana, dan enzym yang digunakan untuk membuat etanol ini. Dengan cara ini petani bisa dirangsang untuk memproduksi etanol dengan skala yang kecil dan mereka mendapatkan tingkat keuntungan yang wajar. Kalau digambarkan mungkin seperti gambar di bawah ini.

Selain itu perlu juga dibuat semacam regulasi/perda atau apapun namanya yang menjamin kelangsunga usaha ini. Kalau perlu juga mengandung bank yang akan mendukung di sisi permodalannya.

Wallahua’lam


DOWNLOAD BIOETHANOL

Silahkan didownload resources yang mungkin Anda perlukan juga:

Daftar bahan lain yang bisa didownload: Download Di Sini
Cara mendownload: Klik dua kali pada link yang akan didownload. Kemudian ikuti perintah selanjutnya. Kalau ada iklan yang muncul, klik aja iklannya atau langsung ke SKIP ADD yang ada di pojok kanan atas.

Advertisements

20 responses to “Menggagas Usaha Bioethanol Skala Kecil (Rumah Tangga)

  1. Terima kasih atas artikelnya,sangat bermanfaat. Bagi anda yg mau mengiklankan atau menjual atau mencari barang-barang kebutuhan rumah tangga baik baru maupun bekas bisa dilihat di http://www.infobarangbekas.com. Sebentar lagi akan muncul terobosan pasang iklan dapat penghasilan tambahan.tunggu saja ya…

  2. mas tau cara dan alat utk meningkatkan kadar ethanol ga??
    kirim aja ke uzumaki_narutco@yahoo.com…tq

  3. Cara untuk meningkatkan kadar ethanol:
    1. Destilasi dengan menggunakan destilator. Destilasi bisa meningkatkan kadar ethanol hingga 95%.
    2. Dehidrasi untuk menghilangkan air di dalam ethanol 95%. Bisa menggunakan kapur atau zeolit khusus. Dengan dehidrasi ini ethanol 95% bisa dijadikan ethanol kering yang bisa dipakai sebagai penganti bensin.

    isroi

  4. bagus tulisannya mas, saya mau tanya tentang regulasi pemerintah, saya ada rencana untuk bikin skala rumah tangga kapasitas 400ltr per hari, izin seperti apa yang mesti saya siapkan, biar tidak bentrok dgn aparat dan cukai. terimakasih

  5. Untuk perijinan saya tidak tahu banyak. Tetapi bisa ditanyakan ke dinas perindustrian terdekat.

    isroi

  6. Bravo, pak Isroi atas tulisan yang baik. Hanya satu hal yang masih menggelitik di benak saya. Etanol sebagai bahan bakar harus dijual dengan harga di bawah harga pertamax (target pertama Pertamina dalam aplikasi bioetanol). Dengan harga ini, dibutuhkan efisiensi produksi yang tinggi – yang berarti banyak hal antara lain: harga bahan baku yang murah dan tidak bersaing, proses yang sangat efisien dengan perolehan yang tinggi dan swasembada energi. Hal ini sangatlah sulit untuk dilakukan skala kecil atau rumahan. Sebagai contoh: agar efisiensi tinggi, proses fermentasi tidak boleh terkontaminasi (kontaminasi akan menurunkan perolehan), karena itu sistem fermentasi harus aseptik. Untuk mendapatkan proses aseptik, pengusaha harus memasang boiler untuk sterilisasi kukus atau dengan CIP (cleaning in place) dengan bahan kimia. Biaya yang dikeluarkan untuk keperluan ini cukup signifikan dibandingkan dengan modal kerja. Karena itu, saya sarankan bagi mereka yang berminat untuk memulai usaha bioetanol di rumah, mohon agar dilakukan kajian ulang agar tidak merugi di kemudian hari.

    Salam – Ronny Purwadi

  7. mas,mau tanya berapa biaya untuk memulai usaha ini? kemana saya harus mencari untuk pemasaran hasilnya?

  8. Malam Oom,

    Memang benar yang menjadi faktor kesulitan adalah membeli enzym alpha & beta. Nah….Oom bisakah membrikan info di mana membeli enzym untuk area Jabotabek, berapa ya harganya?
    Mohon info dari Bapak2, Ibu2, Mas2, Mbak2, Oom2 serta Tante2 yang tahu tempat membeli enzym.
    Terima kasih sebelumnya.
    Salam untuk renewable energy,
    denade (djogja-cilegon)

  9. Bagi Para Pengusaha Bioetanol saya menawarkan kerjasama dalam hal suply bahan baku untuk pembutan Bioetanol.

    Saya menjual Singkong sebagai bahan baku bioetanol dengan harga kompetitif, silahkan hubungi 081x155x14x

    Salam sukses

  10. saya punya teknologi noncooking fermentasi
    jadi gak perlu pemanasan awal malah kerja reaktor fermentasi cuma butuh 2 hari, padahal yg konvensional 3 hari

  11. om is kasih skema/ilustrasi terutama pada alat pemurnian 99,5%-nya. utk orang awam spt saya kan perlu.

    • Sebenarnya sudah lama saya ingin menulis tentang proses pembuatan etanol secara lengkap. Tetapi waktu saya terbatas dan saat ini sedang banyak di pupuk organik. Mungkin suatu saat saya akan menuliskannya. Pembuatan etanol 99.5% sebenarnya cukup mudah. Coba cari di searching, saya pernah kasih saran ke pengunjung blog dan akhirnya berhasil juga. Caranya sama seperti proses destilasi. Destilasi tahap pertama sampai kadar etanol 95%. Kemudian ditambah dengan kapur tohor, dibiarkan semalam (over night), lalu didestilasi lagi. Memang dalam proses ini ada kerugian kehilangan etanol, karena sebagian terjerap di dalam kapur.

  12. Mas,, gMna cara memulai Usaha Bioethanol?? saya trtarik dng usaha tsb. Brpa modal awal yg di bthkan & dMna saya bza mEmbeLi Alat2 tsb untuk skala rUmahan & saya mNta aLmt yg bZa kami hub.i

  13. mas,mau tanya berapa biaya untuk memulai usaha ini? kemana saya harus mencari untuk pemasaran hasilnya?

  14. usaha yang patut ditiru, makasih mas untuk artikelnya

    Kita pasti pernah mendengar dengan instilah Wanita Karir yang berarti wanita yang secara serius menekuni pekerjaannya dan menjadi peganggang untuk mendapatkan pendapatan, apapun resiko ataupun apapun yang di hadapi wanita tersebut berjuang sekeras tenaga untuk mempertahankan pekerjaan pekerjaan mereka yang mereka geluti, apalagi pekerjaan terseebut adalah pekerjaan yang mereka senangi dan tidak sedikit wanita karir yang jatuh sakit bahkan stress ketika pekerjaan tersebut hilang

    Selanjutnay Klik : http://www.usahadirumah.web.id/usaha-di-rumah-untuk-ibu-rumah-tangga/

  15. terimakasih atas tulisan anda yg sangat menarik ini,trs terang semua ini menambah pengetahuan sy tentang bioethanol.beberapa waktu yg lalu orang tua sy ingin menjalankan bisnis pembuatan bioetanol,tp tdk jadi karena terkendala bahan baku yg sulit didapat dan tingginya harga.orang tua saya sdh membeli alat destilator lengkap dan masih baru, stlh membaca tulisan ini sebenarnya sy jd tertarik untuk memulainya lg.ada beberapa pertanyaan yg blm saya ketahui.
    1.bisa kasih info berapa harga tetes tebusekarang ini?
    2.untuk mendptkan 1 ltr etanol berapa liter tetes tebu yg diperlukan?
    3.kalau mau menjual hsl produksi sy berapa kira2 pasaran harga etanol sekarang ini ?
    terimakasih infonya

    salam
    rio

    • Selamat datang di blog saya, semoga bermanfaat.
      1. Saat ini saya sedang tidak di Indonesia jadi tidak tahu harga pasaran molases saat ini.
      2. Molases dg kualitas bagus, setiap 4-5 liter bisa diperoleh 1 liter etanol konsentrasi tinggi.
      3. Saya tidak tahu harga pasaran etnol saat ini di Indonesia. Sebaiknya pelajari terlebih dahulu regulasi etanol di Indonesia, kabarnya pajaknya tinggi sekali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s