Menggapai Matahari

Mengapai matahari, itu judul yang aku tuliskan disebuah buku catan kecil ukuran 4 x 5 cm. Aku tuliskan rencana-rencanaku, mimpi-mimpiku, dan keinginan-keinginanku di buku kecil ini. Buku ini aku taruh di meja belajarku agar mudah kucari setiap kali aku ingin membacanya. Hanya sekedar mengingatkan padaku, apa-apa yang sudah aku rencanakan. Apalagi di awal-awal tahun baru seperti sekarang ini.

Buku itu sudah sangat lusuh. Meski pun begitu isinya selalu aktual bagiku. Biasanya aku mengevaluasi, apakah yang aku rencanakan sudah aku lakukan? Sudah sejauh mana aku berjalan? Tersesatkah aku? Dan pertanyaan yang semacam itu. Kemudian aku coba juga untuk menyusun lagi rencana-rencana di tahun depan, mimpi-mimpi ku susun lagi.

Misalnya, di buku kecil itu aku pernah menulis: aku ingin menulis sebuah buku. Kira-kira tiga tahun kemudian mimpi itu terlaksana. Meskipun buku yang aku tulis bukan buku seperti yang aku rencanakan semula.

Rencana mudah sekali ditulis. Yang sulit adalah merealisasikan rencana-rencana itu. Kadang-kadang kita sendiri lupa dengan apa yang telah kita rencanakan. Atau bahkan tidak jarang pula kita melupakan rencana-rencana kita. Lebih parah lagi kalau kita lari dari rencana-rencana itu.

***

Pernahkan Anda ditanya oleh seseorang: “Mau pergi ke mana, Mas?” atau “Mau apa, Mas?” Kita bisa menjawab pertanyaan itu dengan pertanyaan yang benar. Atau kita jawab dengan jawaban asal-asalan, sekedar basa-basi.

Sekarang coba ajukan pertanyaan yang sama pada diri sendiri: Mau ke mana aku? Apa yang ku cari dalam hidup ini? Apa yang kau inginkan? Dan Siapa sebenarnya diriku ini?

Coba jawab dengan BENAR bukan jawaban yang BETUL (BENAR tidak sama dengan BETUL, karena KEBENARAN tidak sama dengan KEBETULAN). Cobalah untuk jujur pada dirimu sendiri. Anda boleh saja menjawab dalam hati, kalau malu jika didengar oleh orang lain. Kalau anda masih kebingungan juga untuk mencari jawaban yang BENAR, cobalah kembali mengingat masa-masa yang telah lalu. Susun kembali kenangan-kenangan lama. Lalu cobalah melihat ke masa depan, jauh ke depan. Kebenaran itu terletak di hati, jadi coba bertanya pada hati kecilmu sendiri.

Setiap orang memiliki jawabannya sendiri-sendiri. Tidak perlu mencontek jawaban orang lain.

Bersyukurlah kalau Anda menemukan jawaban yang BENAR. Tetapi jika Anda sendiri tidak tahu dengan jawabannya. Waspadalah.

Ibarat orang yang akan bepergian, jika dia tahu tempat yang dia tuju akan mudah baginya. Jika dia tidak tahu, dia bisa bertanya pada orang. Jika dia tersesat dia bisa saja mencari jalan kembali.

Tetapi jika orang yang bepergian sendiri tidak tahu tempat mana yang akan dituju. Maka dia tidak akan sampai di mana-mana, atau bisa saja dia tersesat di mana saja. Kalau dia bertanya, tidak ada orang yang bisa membantunya. Bahkan mungkin saja dia tidak bisa mencari jalan kembali.

Hidup sama seperti orang yang sedang bepergian. Kata orang jawa: “Urip ibarate wong mampir ngombe”. Hidup ibarat orang yang sedang bepergian, kemudian berteduh sebentar di bawah pohon. Lalu melanjutkan perjalannanya lagi.

Mumpung masih awal tahun baru, cobalah untuk mencari jawaban yang BENAR dari pertanyaan-pertanyaan itu: “Apa yang aku cari dalam hidup ini? Mau ke mana aku?”

***


 

One response to “Menggapai Matahari

  1. Dewi lukitaningsih

    benar …. kita harus tau tujuan hidup ini…. dan memaknainya dengan berbuat sebanyak2nya amal ibadah…. karena ini yang akan kita bawa untuk menuju kehidupan abadi nanti

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s