Belajar Fotografi 1

dendelion
Foto close up bunga dendolion yang saya ambil pakai kamera Kodak

Awalnya saya suka motret hanya untuk dokumentasi saja. Tujuan awalnya simpel saja, bagaimana membuat foto yang bagus untuk dokumentasi dan ilustrasi. Kemudian saya seperti terhenyak ketika menyadari bahwa foto tidak hanya sekedar gambar saja. Foto bisa bercerita, foto bisa mempengaruhi orang, foto bisa ‘nyeni’, bahkan foto bisa ‘memprovokasi’.

Saya masih ingat bertahun-tahun yang lalu, waktu saya masih kecil, Mas Lasimin – saudara sepupu saya – menunjukkan sebuah kamera analog kuno. Saya lupa mereknya, tapi rasa ingin tahu saya membuat saya coba-coba memotret dengan kamera itu. Pernah hasil fotonya hitam semua alias kebakar, karena saya salah membuka tutup filmnya.


Bapak saya bukan orang kaya, jadi saya tidak mampu beli kamera sendiri. Bahkan kamera pocket analog pun keluarga kami tidak punya. Saya hanya bisa pinjam saudara atau lihat teman-teman yang punya kamera. Kalau pingin foto ya..tinggal datang studio foto ‘Foto Kawanku’.

Ketika mulai kerja, saya sering memperhatikan fotografer kantor memotret preparat atau sampel penelitian kami. Masih pakai kamera analog. Hasilnya ketahuan setelah tiga hari. Saya kagum waktu itu, karena hasil fotonya bagus-bagus, jelas, dan tajam. Saya sering tanya-tanya tentang foto padanya.

Ketika kamera digital mulai ramai, kantor membeli kamera Nikon D50 dengan beberapa lensa. Fotografer kantor masih sering memotret sampel kami. Sekali-kali dia mengajari saya sedikit teknik foto dan membolehkan saya memotret. Sejak itu saya mulai lagi belajar foto dan tidak takut lagi filmnya kebakar.

Kalau ke lapang saya sering bawa kamera Nikon D50. Foto-foto jamur yang ada di blog saya sebagian besar saya ambil pakai kamera Nikon ini. Saya seneng banget karena saya bisa memotret dan hasil fotonya tidak mengecewakan.

jamur tkks
Foto jamur yang saya ambil pakai kamera Nikon D50

Sampai suatu ketika saya punya sedikit uang untuk beli kamera. Kamera pocket yang saya beli  pertama adalah Canon Digital Ixus. Harganya cukup mahal waktu itu, lebih dari Rp. 3jt untuk sebuah kamera kecil. Tapi saya cukup puas, karena hasil gambarnya tajam dan ‘ngejreng’ warnanya. Sejak itu saya membuat dokumentasi pakai  kamera  ini. Hanya untuk dokumentasi saja.

Rupanya kamera ini tidak berumur panjang. Saya pakai hanya sekitar dua tahun saja. Lalu rusak & ongkos memperbaikinya muahal banget. Akhirnya saya ganti kamera yang agak murah Kodak Easyshare 8MP. Sebenarnya saya tidak cukup puas dengan kamera ini, hasil gambarnya tidak setajam Canon. Apalagi kalau memotret di ruangan.

Kamera ini hampir selalu ada di saku atau tas saya. Saya pakai setiap saya perlukan. Meskipun kemampuannya terbatas, saya coba eksplorasi fitur-fiturnya dan memaksimalkan hasilnya.

jembatan gota alv
Foto jembatan Göta Alv yang saya ambil pakai kamera Kodak

Ketika di Göteborg saya ketemu dengan Erwin Adi Hartono yang suka memotret. Saya jadi ikut ketularan suka motrat-motret juga. Apalagi waktu nemenin Cik Fisal beli DSLR Canon EOS. Saya jadi lebih sering memotret dan belajar bagaimana memotret yang baik. Kadang-kadang saya memotret pakai kamera HP saya, Motorola Droid atau LG GW300.

kanal goteborg
Foto kanal di depan Brunnparken yang saya ambil pakai kamera Motorola Droid

Saya mulai agak serius belajar memotret. Kebetulan di sini ada perpustakaan kota yang cukup besar. Saya bisa pinjam buku tentang fotografi sebanyak yang saya mau. Apalagi waktu di perpustakaan ada pameran fotografi, saya semakin termotivasi belajar fotografi.

Di perpustakaan saya sering meminjam buku teknik fotografi, buku-buku yang menjelaskan dasar-dasar fotografi. Ada banyak buku yang sering saya baca seperti buku-bukunya Michael Freeman atau buku Photography Field Guide dari National Geographic. Atau buku karangan fotografer legendaris Ansel Adams. Saya coba praktekkan dengan kamera Kodok saya atau kamera HP.

Saya juga sering meminjam buku-buku fotografi karya fotografer-fotografer terkenal. Seperti bukunya Nick Brand, Peter Hugo, Ansel Adams, Brutus Östling, Sally Man, Hellström, atau karya-karya fotografi klasik Eugene Atget. Buku-buku Hasselblad Award, World Press Photo, atau buku terbitan National Geographic sering saya nikmati. Saya baca buku-buku itu disela membaca setumpuk jurnal atau menulis laporan dan jurnal. Buku-buku itu membuat saya sedikit relaksasi dan memberi nuansa lain di sela kesibukan saya kerja di lab.
Saya juga sering mengunjungi situs-situs fotografi, seperti yang sering saya kunjungi adalah dpreview.com, National Geography, fotosidan.se, fotokita.net. Saya gabung ke group dpreview, fotokita dan GPI (Gallery Photography Indonesia). Mau gabung juga ke fotosidan, tapi bahasanya sulit  saya ikuti.

Sekarang saya selangkah lebih serius belajar memotret, tidak hanya sekedar untuk dokumentasi saja. Fotografer Amatir.

Lihat album foto saya di FB: Isroi’s Photo Album
Posted from WordPress for Android

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s