Tag Archives: ArasoE

Kisah-kisah di ArasoE: Serangan Lebah di Kebun Tempeh

Seperti hari-hari biasanya. Setiap sore SKW atau sinder kebun wilayah akan mengontrol kebunnya. Apalagi kalau musim tebang seperti sekarang ini. Sore2 biasanya mereka membakar daduk (daun tebu kering) sisa tebangan hari ini.

Selepas asar, Pak Rusli SKW C1 keliling kebun. Sambil naik motor KLX-nya yang gagah. Pak Rusli keliling dari jalan poros kebun ke Darampa lalu belok ke Tempeh. Pak Rusli ini orangnya kecil, tubuhnya langsing dan berjenggot tipis. Naik motor KLX warna hijau. Keren banget.

Pak Rusli menyusuri pingir kebun Tempeh yang berbatasan dengan kampung dan kebun warga. Di pinggir kebun banyak pohon besar dan rindang. Pak Rusli menaiki motornya pelan2 sambil memperhatikan kalau ada sapi yang masuk kebun.

Tiba2 ada tawon yang hinggap di dadanya. Pak Rusli mengibaskan tangan untuk mengusir tawon itu. Lalu datang lagi tawon lain. Pak Rusli memukul dadanya dan membuang lagi tawon itu.

Tak diduga. Datang kawanan lebah menyerang Pak Rusli. Tawon2 itu mulai menyengat tangan dan leher pak Rusli. Pak Rusli menghentikan motornya dan menangkis tawon2 yang datang.

Tawon yang menyerang semakin banyak. Topi dan wajahnya mulai tertutup oleh tawon2 itu. Pak Rusli lari menuju kampung dan minta pertolongan warga.

Namun, warga malah lari ketakutan dan menutup pintu rumah mereka. Mereka kira ada babi yang datang. Soalnya, seluruh tubuh Pak Rusli sudah tertutup ribuan lebah. Hitam semua.

Pak Rusli mulai kesakitan. Sengatan lebah terasa panas di wajahnya. Matanya mulai tidak bisa melihat, karena matanya mulai tertutup oleh lebah2 itu. Setiap kali dia ambil dengan tangan lebah2 itu. Ribuan lebah lain segera menyerangnya. Lebah2 itu masuk ke baju dan celananya.

“Tolong ….tolong…!!!!!”, teriaknya meminta pertolongan.

Nggak ada orang yang menolongnya.

“Mati aku ….”, pikirnya dalam hati.

Antara sadar dan tidak, Pak Rusli ingat kalau lemab takut dengan api. Dia merogoh saku jaketnya. Ada korek di situ.

Dia ambil kain, kebetulan ada solar. Kainnya dibasahi dengan solar dan hendak dibakarnya. Tapi, tangannya mulai kaku. Tangannya tidak bisa menyalakan api.

Pak Rusli lari lagi. Sayup2 dia mendengar ada ibu2 yang teriak dari dalam rumah;

“Buka semua bajunya ki.. sambil lari..”

Pak Rusli membuang topinya. Lebah2 menyerang topinya itu.

Pak Rusli membuang kaosnya yang berwarna putih. Kaosnya dalam sekejan jadi hitam karena dikerumuni lebah.

Dia buang celanya, hingga hanya tersisa celana dalam.

Ada warga yang berani keluar dan menyalakan api dari daun2 kering. Pak Rusli segera menuju api itu dan duduk di dekatnya.

Lebah2 mulai pergi. Setelah lebah2 pergi. Warga mulai datang menolongnya. Pak Rusli diangkat ke teras salah satu rumah warga. Mereka beramai2 mencabuti sisa2 sengatan yang ada di tubuhnya. Ada ribuan sengatan; di wajah, kepala, telapak tangan, leher. Hampir semua tubuhnya banyak sisa sengatan.

Antara sadar dan tidak sadar, Pak Rusli minta di telponkan asistennya dan wakernya yang rumahnya tidak jauh dari kampung ini.

Asistennya, Pak Umar datang. Setengah panik dia menelpon pak SKK untuk minta pertolongan. Kebetulan waktu itu Pak SKK sedang di kebun kasimpureng. Tidak jauh lokasinya.

“Assalamu’alaikum, Puang. Bisa minta bantuan ta’? Pak Rusli diserang lebah. Sekarang di tempeh.”

“Leh…leh… di mana itu ki?”

Karen panik pak SKK naik mobil jip daihatsunya menuju tempeh. Beliau belum hafal jalanan di situ. Di tengah jalan dia tanya ke petani yang ada di jalan. Ditunjunkkan arahnya.

“Terima kasih, pak di!” Katanya sambil menjalankan mobilnya.

Tanpa disadari di depannya ada got besar. Ban mobilnya tergelincir masuk got, mobilnya terguling di dasar got. Roda2nya menghadap ke atas.

Pak Umar mulai gelisah; kenapa pak SKK lama sekali nggak sampai2.

Pak Rusli mulai pingsan. Disengat satu ekor lebah saja sakit. Apalagi ini ribuan lebah. Nggak bisa membayangkan bagaimana rasa sakitnya; panas, perih dan gatal di seluruh tubuh.

Pak Umar menelpon Pak SKK;

“Sampai mana, puang? Kenapa lama sekali?”

“Mobilku kebalik di kebun. Nggak bisa jalan ini.”

Mandor2 kebun lainnya berdatangan untuk menolong Pak SKK.

Akhirnya, Pak Rusli dibawa ke puskesmas Cina dengan naik motor.

Satu malam Pak Rusli dirawat. Setelah agak mendingan, Pak Rusli minta pulang ke rumah. Dokter hanya memberi obat penahan sakit dan vitamin.

Pak Rusli dirawat di rumah. Tiga hari kemudian, saya sudah ketemu dengannya di masjid waktu sholat subuh.

Alhamdulillah.

Kisah-kisah di ArasoE: Pengembala Kesurupan di Sibulue

Sibulue adalah nama gunung kecil atau bukit di sebelah utara pabrik gula. Di sekeliling gunung ini terletak beberapa kebun tebu; Sibulue, Polewali, Kaju dan ArasoE. Nama-nama kebun sama dengan nama desa yang mengelilingi bukit Sibulue. Beberapa tempat di bukit Sibulue ini terkenal angker dan ada ‘penunggu’-nya. Kepercayaan masyarakat setempat.

Bukit Sibulue bukan bukit yang besar. Bukit ini banyak batu-batu kapurnya. Batu-batunya ada yang berukuran besar. Pohon-pohonnya tidak terlalu lebat dan rapat. Malah cenderung jarang-jarang, karena sedang musim kemarau panjang seperti saat ini. Rumput-rumputnya nampak kuning kecoklatan karena kering.

Warga kampung sekitar bukit Sibulue banyak yang memilhara sapi. Sapi-sapi itu digembalakan di pematang-pematang kebun tebu, di sawah-sawah atau di ladang-ladang terbuka lainnya yang ada rumpunya. Banyak juga warga yang membuat kandang di kaki bukit Sibulue. Luas kandangnya bisa ratusan meter dan diisi beberapa ekor sapi. Kadang ini dikelilingi oleh pagar kayu atau bambu dan kawat berduri. Setiap hari yang punya sapi akan datang dua kali, pagi dan sore hari, untuk memberi minum dan pakan untuk sapi-sapinya.

Ada juga peternak yang memiliki banyak ekor sapi, tetapi tidak punya kadang di kaki bukit. Mereka biasanya mengembalakan sapi-sapinya di kaki bukit Sibulue. Suatu hari ada warga desa yang mengembalakan sapinya ke Sibulue. Semua tanpak normal-normal saja. Pengembala menunggu sapi-sapinya makan sambil berteduh di bawah pohon. Dia mengawasi sapi-sapinya dari kejauhan. Mereka biasanya membawa bekal makan, minum dan tentunya juga rokok.

Si pengembala merasa pingin buang hajat kecil. Dia berdiri dari tempat duduknya semula. Lalu ‘clingak-clinguk’ mencari tempat yang relatin ‘aman’. Dia berjalan menuju balik batu besar dan melampiaskan hajatnya di situ. Seeerr…..  Lega.

Tiba-tiba…. belum selesai dia memasukkan burungnya lagi, lehernya seperti tercekik.

“eerrgghhhh…..”

Buru-buru dia merapikan diri lalu kembali ke tempatnya semula sambil sedikit berlari. Tangannya memegangi lehernya. Tak berapa lama wajahnya memerah…..lalu lama-lama membiru………..

Dia beranjak pulang dengan langkah sedikit gontai…sapi-sapinya ditinggalkannya begitu saja. Di tengah jalan dia ketemu dengan tetangganya…

“Kenapa kamu…???” tanya tetangganya dengan terheran-heran.

Si pengembala tidak banyak menjawab, hanya menunjuk ke lehernya yang agak susah bernapas. Tetangganya mengantarkannya pulang ke rumah. Dia ditidurkan di tempat tidurnya.

Kabar menyebar dengan cepat. Tetangganya berdatangan ke rumah kayunya, karena penasaran dan pingin tahu. Rumahnya jadi ramai.

Singkat cerita, mereka jadi tahu kalau si pengembala ini ‘mungkin’ kerusupan atau diganggu jin. Mereka memanggil tetua kampung untuk menolongnya.Tetua kampung datang dan melihat kondisinya. Lalu dia berkata pada keluarganya:

“Ambilkan ayam….!”

Keluarganya pun segera mencari ayam dan diserahkan ke tetua kampung itu.

Continue reading

Kisah-kisah di ArasoE: Mahasiswi Kesurupan di Lerang


Sejak bulan puasa yang lalu saya ditugaskan di Kab. Bone. Pertama kali di Camming dan kemudian di ArasoE. Ada banyak kisah-kisah menarik yang ingin saya ceritakan di sini. Saya kisahkan di sini agar menjadi kenangan yang tak terlupakan. Semoga kisah-kisah ini juga bermanfaat untuk pengunjung blog ini. Selamat membaca.


Dua Mahasiswi Kesurupan di Lerang

Awal bulan Agustus ini ada sepuluh mahasiswa politan Pangkep yang magang. Enam orang perempuan dan empat orang laki-laki. Mereka magang selama kurang lebih tiga bulan di PG Bone ArasoE (PGB). Selama magang mereka di bawah bimbingan dari Risbang PGB. Orang Risbang yang menentukan aktivitas harian mereka. Kadang-kadang mereka di pengolahan lahan, kadang-kadang di pembibitan, kadang-kadang di penanaman atau di pemeliharaan tanaman.

Beberapa hari ini mereka diminta membantu penanaman KBI (Kebun Bibit Induk) oleh Pak SKW Risbang (SKW = Sinder Kebun Wilayah). Lokasi penanamannya di kebun Lerang 1. Kebun Lerang letaknya di wilayah desa Lerang. Posisinya agak di pinggir kebun dan berbatasan dengan lahan warga. Kebun ini dibatasi oleh sungai kecil dan banyak pohon-pohon rindang di pingir kebun ini. 

Mahasiswa magang ini membantu sejak mulai potong bibit sampai tanamnya. Kebetulan pada saat ini tenaga tebang dan tanam sedang sulit, jadi mereka yang membantu Risbang untuk penanaman KBI ini. Bibit diambil dari kebun bibit milik risbang yang ada di depan kantor Peltek (Pelayanan Teknis). Bibit diangkut dengan mobil pick up risbang yang sudah tua. Dan mahasiswa ini juga ikut naik di mobil pick up ini.

Bibit diturunkan di pinggir kebun, di bawah pohon-pohon yang rindang. Di sini teman-teman berkumpul. Beberapa ibu-ibu buruh tanam sudah menunggu di situ. Bak kayu berukuran 2m x 1m sudah disiapkan. Bak ini untuk merendam bibit dengan biostimulan Sucrosin. Namun air untuk merendamnya belum datang. Jadi mereka menunggu di bawah pohon sambil bercanda-canda.

Jam menunjukkan jam 9.30 lewat. Angin bertiup sepoi-sepoi membuat mata jadi berat dan rasanya pingin tiduran saja. Ada dua orang mahasiswi yang tiduran di atas tumpukan bibit. Mereka tampak terlelap dan tidak menghiraukan suara ribut teman-temannya yang bercanda. 

Penanaman bibit pun di mulai. Mereka tetap tiduran. Teman-temannya membiarkan saja mereka tidur. Soalnya, mereka tidur lelap sekali. Kasihan. Mungkin kecapaian.

Cuaca terik sekali di kebun. Panas menyengat. Maklum, ArasoE dekat dengan pantai dan tingginya hanya beberapa puluh dpl saja. Tapi suasana di bawah pohon memang teduh, dingin dan angin berhempus pelan. Dua orang mahasiswi itu tetap saja tertidur. 

Sampai akhirnya setelah matahari telah bergeser dari ubun-ubun kepala, mereka bersiap-siap untuk istirahat pulang. Mahasiswi itu dibangunkan temannya dan dipapah ke atas mobil pick up. Mereka berjalan gontai dan melanjutkan istirahatnya di atas mobil. 

Jalan kebun nggak rata, jalan tanah yang dikeraskan dengan batu-batu kali. Meski mobil terguncang-guncang dengan keras, dua orang mahasiswi ini masih melanjutkan istirahatnya. Sepertinya mereka kecapaian sekali. Jarak antara kebun ke mess lumayan jauh, 30 menit perjalanan. 

Sampai di rumah. Mereka tetap saja masih mengantuk. Matanya berat dan mereka mengelosor di lantai kamar. Cuaca memang panas banget. Lebih nyaman tidur di lantai yang pakai alas plastik. Mereka berdua melanjutkan mimpinya yang terputus tadi. Teman-temannya membiarkan saja mereka tidur. Teman-temannya ada yang makan dan sholat. 

Sampai menjelang asar mereka tetap belum makan dan belum sholat. Teman-temannya mulai curiga. Lalu, mereka membangunkan dua orang ini.

Continue reading