Tag Archives: reuse

Sustainable Habit: Kembali ke Akar, Menuju Masa Depan

Papan pengumuman tempat pemilahan sampah dan pengomposan sampah di Bogor.

“Pernahkah Anda merasa cuaca belakangan ini semakin ‘aneh’? Panas yang menyengat di jam 10 pagi, atau hujan badai yang tiba-tiba turun di musim kemarau. Musim hujan yang tidak bisa diprediksi lagi. Musim buah yang bergeser. Badai, banjir dan bencana alam di mana-mana. Itu tanda kalau bumi kita sedang demam. Bumi yang kita pijak sedang meriang dan perlu segera berobat.”

Belakangan ini, istilah sustainablegreen economy, atau circular economy sering berseliweran di linimasa media sosial kita. Bagi sebagian orang, istilah-istilah ini terdengar “wah”, rumit, dan seolah-olah hanya menjadi urusan pemerintah atau korporasi besar. Padahal, jika kita telisik lebih dalam, esensinya sangat dekat dengan keseharian kita. Bahkan, mungkin tanpa sadar kita sudah melakukannya—atau setidaknya, orang tua kita dulu sudah melakukannya.

Mengapa topik ini menjadi begitu hot dan penting sekarang? Jawabannya sederhana: Bumi kita sedang demam. Cuaca ekstrem, tumpukan sampah yang tak terurai, hingga krisis air bersih adalah sinyal bahwa cara hidup kita selama beberapa dekade terakhir ada yang salah. Kita terlalu nyaman dengan pola “Ambil, Pakai, Buang”.

Di tulisan ini, saya ingin mengajak Anda menyelami konsep Ekonomi Sirkular (Circular Economy) bukan dari kacamata akademis yang berat, tapi dari sudut pandang seorang kepala keluarga. Bagaimana prinsip ini bisa kita terapkan di meja makan, di dapur, hingga di halaman rumah kita? Mari kita mulai.

Memahami Konsep “Hijau” (Green)

Apa Sebenarnya Makna di Balik Istilah-Istilah “Hijau” Ini?

Sebelum kita melangkah ke “cara melakukan”, kita perlu menyamakan frekuensi dulu tentang “mengapa” dan “apa”. Seringkali kita terjebak jargon. Kita mendengar SustainableGreen Economy, dan Circular Economy di berita, tapi apa relevansinya dengan kehidupan pribadi dan keluarga kita?

Mari kita bedah satu per satu dengan bahasa yang sederhana.

1. Sustainable (Keberlanjutan) Secara harfiah, sustainable berarti “mampu bertahan”. Dalam konteks lingkungan, definisi yang paling saya suka adalah: Memenuhi kebutuhan kita saat ini tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang (anak cucu kita) untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Bayangkan Bumi ini seperti “modal usaha” atau aset investasi warisan leluhur. Hidup sustainable artinya kita hidup dari “dividen” atau keuntungan dari modal usaha tersebut, tanpa menggerus modal pokoknya. Jika kita menghabiskan air bersih, menebang hutan tanpa menanam kembali, mengotori sungai, merusak tanah dan mencemari laut, itu sama saja kita sedang “memakan modal”. Akibatnya? Anak cucu kita nanti akan mewarisi bumi ini yang bangkrut. Jadi, sustainable bukan sekadar soal lingkungan, tapi soal keadilan antargenerasi.

2. Green Economy (Ekonomi Hijau) Ini adalah model ekonomi yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan manusia dan kesetaraan sosial, sekaligus mengurangi risiko lingkungan secara signifikan. Kuncinya ada pada efisiensi dan rendah karbon.

Bagi sebuah keluarga, prinsip ekonomi hijau ini sangat masuk akal. Menghemat listrik, menggunakan air secukupnya, dan memilih peralatan yang awet adalah bentuk efisiensi. Ekonomi hijau mengajarkan kita bahwa “ramah lingkungan” seringkali berbanding lurus dengan “ramah di kantong” dalam jangka panjang.

3. Circular Economy (Ekonomi Sirkular) Inilah konsep yang menurut saya paling revolusioner namun sebenarnya paling purba. Saat ini, dunia beroperasi dengan sistem Ekonomi LinearAmbil (bahan baku) -> Buat (produk) -> Pakai -> Buang (sampah). Ujungnya adalah tumpukan sampah di TPA yang menggunung.

Ekonomi Sirkular menantang konsep itu. Tujuannya adalah menutup siklus tersebut menjadi lingkaran. Prinsipnya meniru cara kerja alam. Di hutan, tidak ada yang namanya “sampah”. Daun kering jatuh menjadi humus, humus menyuburkan tanah, tanah menumbuhkan pohon baru. Semuanya berputar.

Dalam Ekonomi Sirkular, barang didesain untuk dipakai selama mungkin, bisa diperbaiki (repairable), bisa digunakan kembali (reusable), dan jika sudah rusak parah, bahannya bisa didaur ulang (recyclable) atau dikembalikan ke alam (regenerative).

Menerapkan Prinsip Global ke Skala Rumah Tangga

Kompos Sampah Promi
Kegiatan pelatihan pengomposan sampah rumah tangga oleh LP2KLH di Kendal, Jawa Tengah

“Oke, itu teori makronya. Lalu apa hubungannya dengan saya yang cuma ibu/bapak rumah tangga biasa?”

Jawabannya: Sangat besar. Rumah tangga adalah unit ekonomi terkecil dari sebuah negara. Jika prinsip-prinsip di atas kita terapkan di rumah, dampaknya luar biasa. Ekonomi sirkular di rumah bukan berarti kita harus punya pabrik daur ulang plastik di halaman belakang.

Penerapannya bisa sederhana, seperti mengubah pola pikir (mindset) kita terhadap barang:

  1. Memandang Sampah sebagai Sumber Daya: Kulit buah dan sisa sayur bukan sampah bau yang harus segera dibuang ke tong depan rumah, tapi adalah “calon pupuk” yang berharga untuk tanaman kita. Ini prinsip sirkular: mengembalikan nutrisi ke tanah.
  2. Menolak Sekali Pakai: Saat kita menolak sedotan plastik atau membawa tas belanja sendiri, kita sedang memutus mata rantai ekonomi linear (ambil-pakai-buang). Kita mencegah timbulnya sampah sejak dari pikiran.
  3. Memperbaiki, Bukan Mengganti: Saat kipas angin atau laptop tua rusak, insting pertama kita seharusnya “bagaimana cara memperbaikinya?”, bukan “beli yang baru ah”. Memperpanjang umur barang adalah inti dari efisiensi sumber daya.

Sustainable Bukan Tren Baru, Tapi “Pulang” ke Masa Lalu

Belanja di pasar dengan membawa kantong sendiri.
Belanja di pasar dengan membawa kantong sendiri.

Jika kita renungkan kembali, gaya hidup “kekinian” yang disebut sustainable living ini sebenarnya bukanlah hal baru. Ini adalah cara hidup kakek-nenek kita, bahkan orang tua kita dulu, sebelum era industrialisasi plastik membombardir kenyamanan kita.

Coba ingat-ingat kembali suasana dapur ibu atau nenek kita di desa:

  • Mereka belanja ke pasar membawa keranjang anyaman bambu atau tenggok. Tidak ada kantong keresek yang menumpuk di kolong meja dapur.
  • Makanan dibungkus daun pisang atau daun jati. Setelah makan, bungkusnya dibuang ke kebun belakang dan membusuk menjadi tanah dalam hitungan minggu. Bandingkan dengan styrofoam pembungkus seblak atau nasi uduk zaman now yang butuh ratusan tahun untuk terurai.
  • Baju yang sobek sedikit akan dijahit atau ditambal, bukan langsung dibuang dan beli baru.
  • Air bekas cucian beras disiramkan ke tanaman cabai di pot, bukan langsung diguyur ke selokan.

Tanpa istilah keren seperti circular economy atau zero waste, mereka sudah mempraktikkannya. Mereka hidup selaras dengan alam karena kebutuhan dan kearifan, bukan karena tren media sosial.

Ironisnya, kemajuan zaman dan kemudahan teknologi justru membuat kita “mundur” dalam hal etika lingkungan. Kita terlena dengan budaya disposable (sekali pakai). Minum haus sedikit, beli air kemasan botol plastik. Makan ingin praktis, pakai sendok plastik.

Jadi, mengajak keluarga untuk hidup sustainable sebenarnya bukan mengajak mereka melakukan hal asing. Ini adalah ajakan untuk “pulang”. Kembali mengadopsi nilai-nilai luhur orang tua kita: menghargai barang, tidak mubazir, dan sadar bahwa sumber daya itu terbatas.

Mulai dari Diri Sendiri, Mulai Sekarang

Saya sadar untuk memillah dan mengolah sampah
Saya Sadar untuk Memilah dan Mengolah Sampah

Mungkin Anda berpikir, “Apa gunanya saya memilah sampah kalau tetangga saya masih membakar sampah sembarangan?” atau “Apa gunanya saya hemat listrik kalau pabrik-pabrik besar membuang asap hitam ke langit?”

Pemikiran skeptis seperti ini wajar, tapi menjebak. Perubahan besar tidak pernah terjadi secara serentak. Ia selalu dimulai dari gelombang-gelombang kecil.

Mari kita mulai dari 3M:

  1. Mulai dari diri sendiri: Jangan menunggu aturan pemerintah atau menunggu orang lain berubah. Jadilah teladan bagi keluarga dan anak-anak kita.
  2. Mulai dari hal yang kecil: Tidak perlu langsung memasang panel surya mahal. Mulailah dengan mematikan lampu kamar mandi yang tidak dipakai atau menghabiskan nasi di piring. Kebiasaan kecil yang konsisten (seperti prinsip compounding interest dalam saham) akan menghasilkan dampak besar seiring waktu.
  3. Mulai saat ini juga: Tidak perlu menunggu “Hari Bumi” atau tahun baru untuk berubah.

Hidup sustainable bukanlah kompetisi siapa yang paling suci dari dosa lingkungan. Ini adalah perjalanan untuk menjadi lebih sadar (mindful). Setiap langkah kecil yang kita ambil untuk mengurangi limbah dan menghemat energi adalah kontribusi nyata bagi bumi yang sedang demam ini.

Mari kita jadikan sustainable habit sebagai warisan terbaik kita untuk masa depan.

Pemanfaatan Sampah Botol Bekas untuk Penyiraman Tanaman

Sampah botol plastik bekas selain bisa dimanfaatkan untuk pot tanaman, botol plastik bekas ini juga bisa dimanfaatkan untuk pengairan atau penyiraman tanaman. Dengan memanfaatkan botol sebagai penampung air untuk tanaman, penyiraman menjadi lebih mudah dan tidak perlu sering-sering dilakukan. Air ini akan perlahan-lahan membasahi tanah dan menyediakan air untuk tanaman. Ada banyak ide yang bisa dicontoh selain ide-ide di video di bawah ini. Kita bisa membuat kreasi kita sendiri yang disesuaikan dengan kondisi setempat.
Selamat mencoba.

Berbagai macam ide untuk pemanfaatan sampah botol plastik bekas untuk pot tanaman bisa dilihat di link ini: Sampah Botol Plastik untuk Pot Tanaman.

Jangan Buang Sampah Sembarangan

Jangan buang sampah sembarangan, meski hanya secuil bungkus permen. Kalau orang satu kota buang bungkus permen sembarangan akan ada jutaan bungkus permen. Menumpuk dan jadi masalah bagi semua orang.
BUANGLAH SAMPAH PADA TEMPATNYA.

Pengelolaan Sampah Organik Kota – File Presentasi

Lihat videonya di link ini: Pengelolaan Sampah Kota

Undang-undang No. 18 Tahun 2008 tentang PENGELOLAAN SAMPAH

Artikel lain tentang sampah silahkan klik di sini: SAMPAH

Belajar dari Swedia: Memilah-Milah Sampah Sejak Dari Awal

This slideshow requires JavaScript.

Seperti yang pernah saya tulis di posting sebelumnya (Masalah sampah dan solusinya 1 2 3 4), sortasi adalah salah satu kerjaan yang banyak makan biaya jika tidak dilakukan sejak dari awal. Di Swedia, memilah sampah sudah dilakukan sejak pertama kali sampah dibuang.
Slogan 3R (Reuse, Recycle, Reduce) melibatkan proses sortasi atau memilah-milah sampah. Sampah mana yang bisa digunakan kembali (Reuse) dan mana yang bisa didaur ulang lagi (Recycle). Untuk daur ulang juga perlu dikelompokkan dan dipisahkan. Sampah plastik dikumpulkan dengan plastik, kaleng dengan kaleng, kaca/glass dengan gelas, dan kertas dengan kertas. Sampah-sampah organik juga dikelompokkan dengan sampah organik agar bisa diolah menjadi biogas atau kompos.
Kalau semua jenis sampah tercampur aduk seperti di negara kita Indonesia Raya. Proses sortasi rasanya zulit dilakukan dan akan banyak makan biaya. Saya lihat sendiri beberapa proyek sortasi sampah yang gagal di beberapa TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Sampah.
Continue reading

SEKALI LAGI: SAMPAH = DUIT


Baca ini juga: Cerita Sampah, Masalah, dan Solusinya Bagian 1 | Bagian 2 | Bagian 3 | Bagian 4 | Sampah = Duit | Ide Pemanfaaatan dan Pemasaran Kompos |



Sampah bukan MASALAH, SAMPAH ADALAH BERKAH.
Info lengkap pelatihan pengelolaan sampah klik disini: BERKAH DARI SAMPAH


Orang yang masih berpikiran bahwa sampah adalah benda yang menjijikkan sehingga sebaiknya dibuang harus mulai merekontruksi ulang pemikirannya tersebut. Karena sampah tidak selamanya bau, dan jorok. Sampah bisa bisa menghasilkan uang.

Beberapa hari yang lalu saya membaca sebuah berita kecil di Koran Tempo, Kamis, 30 Oktober 2008, halaman B2, bagian paling bawah sendiri berjudul ‘Rp. 100 juta per Hari dari Mengais Sampah’. Judul yang sangat mengelitik untuk dibaca. Diceritakan di dalam artikel itu jika tempat pembuangan sampah ilegal dengan luas sekitar 2 ha telah menggunung. Di tempat tersebut terdapat sekitar 2000 pemulung yang mengais rejeki dari sampah. Menurut sumber berita, setiap hari rata-rata setiap pemulung mendapatkan penghasilan Rp. 50 ribu. Jadi jika semua penghasilan semua pemulung dikumpulkan maka hasilnya adalah 2000 x Rp. 50 ribu = Rp. 100 juta. Wow….
Continue reading