Antara Petani dan Pestisida

hormon tanaman giberelin auksin sitokinin

Sering aku bertanya sendiri, kenapa petani kita sulit sekali  menggunakan kompos, pupuk organik, atau pestisida nabati. Sudah banyak pelatihan, resep-resep, bahkan produk-produk organik membanjiri pasaran. Tiga tahun terakhir pemerintah gencar dengan program GO ORGANIK 2010. Sekarang tahun 2010…..!!!!!??????

Pagi ini aku bertemu dengan seorang teman, Pak Gondo – sebuah nama klasik. Dia sudah menunggu sejak semalam, tapi karena aku baru sampai rumah hampir tengah malam. Pagi hari kami baru bertemu dan berdiskusi.

Temanku ini sudah lama sekali bergelut di dunia pestisida, seorang marketing, pasukan teritorial. Dia paham betul kondisi riil lapangan, apa yang disukai, dan dimaui pasar. Apa yang diceritakannya padaku, sedikit banyak memberi pemahaman baru padaku. Seperti potongan puzzle, aku menemukan lagi potongan yang lain.

Aku jadi ingat waktu kuliah dulu. Ada seorang temen dari Fak Pertanian yang ambil PKL tentang residu pestisida organik di sayuran yang dijual di sekitar kampus. Hasilnya, hampir semua sayuran di kampus mengandung residu pestisida yang di atas ambang batas.

Penelitian kecil ini dilanjutkan ke petani-petani yang mensuplay sayuran itu. Hasilnya lebih mengejutkan lagi, ternyata mereka menyemprot pestisida beberapa hari sebelum panen. Pantesan residunya sangat tinggi.

Beberapa hari yang lalu, temenku yang lain, Pak Ali Pramono mengabarkan kalau petani hortikultura di lereng Dieng bukan hanya menyemprot pestisida, tetapi ‘memandikan’ sayurannya dengan pestisida.  Nyemprotnya bukan pakai sprayer, tapi pakai water pump. Edan …. tenan…..!!!!!

Cerita Pak Gondo seperti membenarkan kisah-kisah itu. Petani kita maunya instant. Kalau ada penyakit atau hama maunya sekali semprot langsung KO – thek sek -. Kalau mereka menggunakan pestisida, misalkan di labelnya tertulis 10 ml/liter. Makainya bukan 10 ml, tapi 20 – 30ml. Harapannya hama & penyakit langsung musnah seketika dan tidak datang lagi.

Akibatnya justru sebaliknya, hama jadi resisten dan dosisnya selalu meningkat. Ngak ada formula pestisida ampuh yang bertahan lama di pasaran. Selalu muncul pestisida baru dengan daya racun yang semakin dahsyat. Ironinya, petani selalu menggunakannya over dosis…..  Kere tenan…..!!!!!????

Produsen pestisida terang aja untung besar. Katanya Indonesia merupakan pasar besar pestisida dunia. – bisa dimaklumi –

Yang aku tidak habis pikir, begitu mudahnya pestisida -pestisida dapat ijin. Kabar angin mengatakan, Komisi Pestisida bisa mengeluarkan ijin dengan super kilat. Kalau menurut aturannya satu tahun, anehnya raksasa pestisida di Indonesia bisa mendapatkannya dalam waktu sekejab. —entahlah kebenaran berita angin ini —-

Ada semacam pembodohan sistematik pada para petani. Aku ngak tahu seberapa besar pengetahuan petani tentang bahaya pestisida ini. Untuk kesehatan mereka, untuk kesehatan anak-anak mereka, dan untuk nasib penerus bangsa ini.

Banyak petani yang berfikir pragmatis, yang penting sekarang bisa panen besar. Urusan esok….mah…gimana nanti aja.

Setelah aku telusuri, ini kasus di daerah pesisir, mereka umumnya sewa lahan. Waktunya hanya beberapa kali musim panen. Jadi mereka tidak peduli, apakah cara budidaya mereka merusak tanah atau tidak, merusak lingkungan atau tidak, “bukan tanahku…. ini…..”

Saya pernah iseng tanya ke petani, kenapa mereka menggunakan pestisida demikian banyak. Mereka menjawab dengan polosnya: ” Lha…nek mboten ngeten, mboten panen je, Pak.”

Ammmpppunnnn deh…..!!!!!

Siapa sebenarnya yang salah, petani, peengusaha, atau pemerintah….??????? — tau’ ah…..gelap…..

Beberapa hari yang lalu saya jalan-jalan ke lereng merapi. Banyak petani yang menanam sayuran dan tanaman horti yang lain. Selain itu, sebagian lagi menanam tembakau. Tembakau adalah salah satu bahan pestisida nabati yang ampuh. Apalagi aku lihat ada juga suren, cabe, dan tanaman bahan pestisida nabati yang lain. Sebenarnya jika mereka mau repot sedikit aja, mereka bisa membuat pestisidanya sendiri. Mungkin tidak seampuh pestisida kimia, tapi lebih aman untuk kesehatan, aman untuk lingkungan, dan aman untuk masa depan yang lebih baik.

Wallahua’lam.



Link terkait:Daftar Tanaman untuk Pestisda Nabati | Pengendalian HPT dengan Pestisda Nabati | Kompos Jerami | Contoh Pembuatan Pestisida Nabati | Pestisida Nabati untuk Wereng | Pengendalian Hama dan Penyakit dengan Pestisida Nabati

Info lengkap pestisida nabati klik di sini: Pestisida Nabati


Posted from WordPress for Android

Advertisements

19 responses to “Antara Petani dan Pestisida

  1. bagi info juga ya mas, baru tadi siang saya cari2 racun bwt wereng, pas dapet yg dicari ternyata ada hal yg bikin saya agak bengong, komisi pestisida yg berwenang mengatur peredaran pestisida di seantero negri ini ternyata masih byk kecolongan. byk pestisida yg dilarang malah laris manis dipasaran,,,waduhh pantes aja populasi wereng ampun2an ya begini ini kasus nya… kebetulan saya juga petani organik yg berada di sekeliling peredaran racun,tp utk musim ini saya mau gak mau kuratif dgn racun sintetik,drpd gagal panen,krn sebelum memutuskan utk menggunakan racun sintetik saya udh menggunakan segala yg saya tau..

  2. Iya bener bgt Roi….
    aq tahu betul. di lingkungan sekitar rumahku kan juga banyak yang nanam sayur…ya kaya gitu nyemprotnya super.
    aq juga jadi ngeri mau makan juga….kalo ga nanam sendiri untuk konsusmsi sendiri, jadi hanya dlm ukuran yg relatif sempit.
    Ah…mana ada sih petani yang paham harus memperhatikan lingkungan. kan mereka yg penting dapat uang…karena emang hidupnya sdh susah.
    Harusnya, untuk generasi muda tani yg peduli yg mulai merintis hal itu kan….? banyak juga yag ng dah tanya, katanya “apa benar perubahan iklim sekarang itu salah kita para petani?” berarti mereka dah mulai berpikir.
    Harusnya, ada yang mau merintisnya. jadi contoh dan bukti, sehingga yang lain mau menirunya…katakan demi anak cucu dan kesehatan kita bersama. Ayo….bareng2, aq sendiri belum bisa.

    • Iya..Rus…
      Tugas merobak kebiasaan petani adalah tugas berat. Dulu jamannya BIMAS, sangat intensif sekali digalakkan pemakaian pupuk dan pestisida. Program itu berjalan dengan sangat lancar (aku duga…lho), karena sokongan dana yang kuat produksen pupuk dan pestisida. Itu aja makan waktu sampai beberapa repelita.
      Nah, sekarang kalau mau merubah mestinya pakai metode yang sama, semacam BIMAS itu. Cuma masalahnya, siapa yang mau MENYOKONGNYA, ini petaka bagi perusahaan pupuk dan pestisida, rasanya hanya basa-basi kalau mereka mau menyokong program ini.
      Kita berusaha semampu kita aja. Kita lakukan apa yang bisa kita lakukan.

  3. Ass,wr,wb
    selamat siang mas Is ,sy boleh minta tolong ?.Karena setiap blog yng sy cari bahan-bahannya berbeda-beda sebab sy akan menanam padi 5 ha pada tanggal 25 juli 2010 dengan pemberian Bokashi 5 ton/ha .Sudi kiranya mas memberikan bahan-bahan yang akurat di dalam pembuatan bokashi tersebut mulai dari berapa bahan organiknya ,pembuatan molasenya sampai proses terakhir. Bila sy ikuti blog satu-persatu mengenai pembuatan bokashi dg bahan yg berbeda akan berubah pula anggaran yang sy buat,hal ini membuat sy pusing.Mohon ya mas via email anak saya pandanus.seed @yahoo.com dari drh. Rianty, mengenai email tik.tak kini sudah jadi milik adek sy

    • Wa’alaikum salam.
      Saya juga tidak hafal tentang pembuatan bokashi. Karena bokashi identik dengan kompos yang dibuat dengan EM4. Sudah luama sekali saya tidak pakai EM4. Saran saya, lebih mudah dan cepat, pakai saja pupuk kandang (kotoran sapi/hewan yang sudah dikomposkan) sebanyak satu truk (kurang lebih 5 ton) per ha. Jadi tidak usah membuat bokashi sendiri. Kalau waktunya tinggal 4 hari lagi, ngak mungkin jadi bokashi. Malah mati nanti tanamannya kalau diberi kompos mentah.
      Semoga membantu.
      Wassalam.

  4. Ndeso Kluthuk

    mmg bnr mas roi, hambatan buat pengembangan n aplikasi pupuk n pestisida organik msh sgt jauh dari harapan kita2 yg bs berfikir jangka panjang. Perlu usaha keras n serius dari pemerintah buat pengembangannya, misal dg subsidi buat menekan harga pestisida alami shg petani yg kebanyakan berkantong tipis bisa cepat tertarik.

    @ mas roi
    mkasih tahun kemarin dah ngasih pedoman presentasi di pasca biologi ugm.

  5. Pingback: Belajar Meramu Pestisida Nabati untuk Pertanian Organik « Berbagi Tak Pernah Rugi

  6. pak isroi selamat sore

    Lama sekali saya nga masuk blog bapak….waktu itu saya sering masuk di masalah jerami dan kompos.
    Pesticida kimia laksana ‘tuhan’ bagi petani kita,,berapapun dibeli asal ada sampai ngutang dilakukan.ironi memang….petani dengan’kepinterannya’hafal diluar kepala produk produk pest kimia dan perusahaan juga.
    Mungkin mereka hafal karena peran sales dengan iming iming kaosnya,jadi mereka bisa menghafalkan sambil nyemprot.

    Padahal mereka juga tahu hama itu musim demi musim bukan berkurang tapi bertambah…buktinya pengalaman saya sewaktu pulang kampung dan kebiasaan saya setelah selang sehari saya jalan jalan bersama istri untuk tengok tanaman sendiri dan saya lihat …tidak ada orang yang disawah itu yang tidak menggendong sprayer…..yang tentunya pest kimia karena dari baunya .waktu itu tanaman padi lagi bunting tua/mendekati lahir

    Inikah petani gurem kita yang lagi membuat ‘bom’ (hama) yang suatu saat meledak…memenuhi berita…hama wereng……dst
    Saya sendiri petani organik hanya bisa mendengar berita itu…mungkin juga sama para orang di departemen pertanian itu.

    salam petani mandiri

    suli

    • Selamat datang kembali pak Suli. Silahkan membuat pestisida nabatinya sendiri. Ada juga tanaman orok-orok yang bisa dicoba juga untuk meningkatkan kandungan bahan organik tanah.

  7. Pingback: Sayuran Organik Lebih Sehat « Berbagi Tak Pernah Rugi

  8. Pingback: Pengendalian Hama dan Penyakit dengan Pestisida Nabati « Berbagi Tak Pernah Rugi

  9. ass, pa!
    saya mo tanya fungsi perendaman ekstrak pestisida nabati apa dan apakah ada bahan perekat atau pelarut selain deterjen?
    trims sebelumnya y pa.

    • Wa’alaikum salam. (jangan singat assalamu’alaikum dengan ass, dalam bahasa inggris artinya jelek sekali!).
      perendamana tujuannya agar zat ekstraktifnya lebih banyak diperoleh.
      perekat umumnya pakai sabun colek yang mudah didapat. ada banyak perekat bisa beli di toko peretanian yang biasa dicampurkan dengan pestisida kimia atau pupuk cair lainnya.

  10. ass pak prof…..
    Udah pulang dari kanada….
    wah…pak apa yang takutkan sekarang terbukti ‘kresek’ sudah 80% menyerang tanaman padi di gombong pada MT2 atau panenan kemarin feb-maret 2011……………alhamdulilah padi saya terhindar dari penyakit itu.Saya sejak kenal organik 3 tahun lalu sampai sekarang rata rata tanaman saya selamat.

    Dan pengalaman unik kemarin saya kedatangan tamu yang dulu menyebut saya’gila’ karena saya bartani yang sekarang orang menyebut SRI organik ‘jajar legowo’tanam satu satu ,umur muda,tidak memakai kimia sama sekali,dan di juluki pemulung sampah buah dari pasar.dan segala asesoris ‘nista’yang saya sandang waktu itu. apa nistanya…adalah saya tukang mengambil isi septiktank orang yang sudah penuh untuk dijadikan pupuk padat organik….

    Apa yang sekarang mereka pertanyakan…tidak lain beliau terheran akan tanaman padi saya hanya karena tidak kena canthomonas oryzae itu……

    Apakah petani seperti ini…yang menjadi harapan indonesia (baca: suswono) yang ingin surplus pangan tahun 2015…..dengan bernafsu menanam padi hibrida yang banyak kendala masalah rentan hama dan penyakit…..apakah disisi lain produsen benih hibrida dan pestisida kimia raksasa dunia (monsanto,dupont,syngenta,bayer dll) bertepuk tangan

    Saya hanya petani (organik ) bergelar pemulung sampah yang semakin kecil ditengah suara tepuk tangan mereka mereka para menteri saat menghadiri panen raya kawalan produsen kimia dengan hasil ubinan(saya tidak setuju hasilnya),para sales obat kimia dengan senyum lebarnya di barisan paling belakang dan perizinan masuknya pesticida kimia yang super cepat dan sering kecolongan katanya.

    • Asslm.
      Sudah lama tidak dengan kabar dari Pak Suli. Alhamdulillah kalau hasilnya semakin bertambah baik. Saya masih ‘ngudi kawruh’ di Göteborg, bukan di Kanada, Pak.
      Kalau tidak salah berarti sudah setahun lebih Pak Suli mempraktekkan padi organik ya? Memang hasilnya terlihat setelah beberapa kali musim tanam. Saya salut dengan ke-istiqomahan Pak Suli, yang berani menantang arus, beda sendiri, dan sekarang sudah mulai memetik hasilnya.
      Meskipun katanya kt menganut ekonomi pancasila, pada kenyataannya ekonomi kita kapitalis, produsen obat-obat kimia memang sangat gencar berpromosi. Surplus padi bisa saja dicapai, tatapi rasanya masih sulit dicapai dalam waktu dekat dengan sistem SRI. Perlu waktu dan kesungguhan seperti Pak Suli ini agar bisa terwujud. Para produsen obat-obatan pasti tidak ingin kehilangan pasarnya di Indonesia.
      Tetap istiqomah, Pak Suli. Dan ditularkan ke petani yang lain.

  11. numpang nulis ya mas, ini saya lihat dunia kita memang lagi edan karena kenapa begitu byk manusia yg sedang melakukan bunuh diri,merusak planet bumi ini yg satu satunya milik kita,rumah kita,tempat tinggal anak dan cucu kita nantinya, bumi seperti apa yang mau kita wariskan nantinya?..kok pemimpin pemimpin kita gak melakukan tindakan melihat penyalah gunaan pestisida ini?setahu saya semua pestisida yg ditumpahkan ke bumi ketika hujan maka ia akan mencemari tanah dan sumber air bersih,mengalir ke sungai mencemari air dan dari sungai mengalir ke laut mencemari lautan.
    semuanya akan berkumpul di lautan dan gak dapat dibayangkan berapa byk pestisida yg manusia tumpahkan diseluruh dunia ini., akhirnya lautan menjadi mati..harusnya kita tahu ada kata bijak begini bunyinya, apalah gunanya engkau memiliki dunia tapi kehilangan nyawa…

  12. asalamualaikum pak…

    apakh pemakaian MOL atau biofertilizer pada tanah dapat menghambat krusakan tanah akibat pemakain pupuk kimia n pestisida yang berlebihn??

  13. tolong dong di posting presentasi penggunaan pestisida nabati 5 tahun terakhir oleh masyarakat…terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s