Catatan-Catatan Umroh – Bagian 15

Jin-jin di Makkah dan di Madinah

Karena penasaran dan rasa ingin tahu, saya iseng bertanya kepada Pak Gunawan.

“Pak Gunawan. Kalau di sini ada jin atau setan tidak…????” tanya saya.

Waktu itu kami sedang menunggu sholat magrib di dalam Masjidil Haram. Tepatnya di posisi tengah lantai 1, masuk dari pintu 74. Di sini lebih nyaman, karena karpetnya tebal, dekat dengan air zam-zam, dekat dengan rak Al Qur’an dan cukup ramai jama’ahnya. Namun, kekurangannya bagi kami, di posisi ini dingin banget. Setiap tiang di masjidil Haram ada AC-nya, bagian atas ada kipas yang selalu bergerak. Ukuran kipasnya besar dengan diameter kurang lebih 1.5 meter. Dingin plus angin….. kombinasi sempurna untuk mengigil.

“Di sini saya tidak melihat ada setan, Pak.” Jawab Pak Gunawan.
“Tidak ada sama sekali setan-setan seperti yang ada di Indonesia atau di hotel Malaysia itu. Tidak ada gendruwo, tidak ada raksasa, tidak ada leak, tidak ada kunti, tidak ada wewe, tidak ada pocong.” Lanjutnya lagi memberi pejelasan.

“Di sini yang ada jin. Jin Muslim kali, ya?”
“Waktu kita tawaf kemarin, mereka saya lihat banyak yang sholat di atas Ka’bah. Mereka besar-besar dan putih-putih.”
“Ada juga yang ikut tawaf bersama orang-orang. Mereka juga berpakaian ihram. Kalau ada orang yang tinggi-tinggi, besar-besar dan bau-nya wanggiiiiii……. banget… Itu Jin, Pak. Kalau Pak Roi ketemu, coba lihat kakinya napak ke bumi tidak? Jin-jin itu seperti terbang dan tidak terlihat kaki-nya.”
“Kadang-kadang kan ketika tawaf meskipun ramai dan penuh, selalu ada spot-spot yang seperti kosong. Mereka banyak di situ itu. Ikut tawaf bersama orang-orang.”

“Kalau di dalam masjid seperti tempat ini mereka terlihat tidak?” Tanya saya lagi menyelidik.

“Ada, Pak!”

“Di mana?”

“Tuh di sono….!” lanjut Pak Gunawan tanpa menunjukkan arah, hanya memberi isarat dengan pandangan mata.

Dalam pandangan Pak Gunawan, Jin-jin itu menempel di dinding-dinding dalam masjid. Ikut bertafakur bersama kita menunggu waktu sholat berjama’ah. Seperti yang disebutkan dalam Al Qur’an Surat Adz Dzariyat: 56, bahwa tidaklah diciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada Allah, Robb Semesta Alam ini. Jin-jin muslim itu juga beribadah sebagaimana kita manusia beribadah. Bereka juga berumroh, melakukah tawah, sa’i dan ibadah-ibadah lainnya. Subhanallah.

***
Saya yang masih penasaran mencoba bertanya-tanya lagi ke Pak Gunawan. Apalagi tentang sesuatu yang ghoib dan tidak banyak orang yang tahu. Kebetulan, Pak Gunawan ini memang sudah bisa mendeteksi keberadaan ‘mahluk ghoib’ sejak kecil dulu. Bakat ini bukan diperoleh dengan sengaja, tetapi karena faktor ‘keturunan’. Nenek moyangnya dari garis keturunan ayahnya berasal dari Trenggalek, Jawa Timur. Kakeknya adalah tokoh supranatural yang cukup terkenal dan disegani. Dari garis keturunan kakek itu sampai sekarang masih ada yang mewarisi ‘ilmu’ dan menekuni praktek-praktek semacam ini. Pak Gunawan awalnya tidak sadar jika mewarisi ‘kekuatan’ ini dan tidak pernah mempraktekkan kegiatan-kegiatan supranatural. Keluarganya dari golongan terpelajar dan terpandang. Sekolahnya di Luar Negeri dan berpendidikan tinggi. Anehnya, kemampuan itu masih tetap ada dan tidak hilang.

Pak Gunawan sadar kalau kekuatan itu bukan sesuatu yang istimewa. Pernah ketika SMP dulu Pak Gunawan di ruq’yah syariah. Pak Gunawan menceritakan bahwa proses ruq’yah itu sakit sekali.

“Telinga saya ini rasanya ditusuk pakai kayu besar….!!!! Sakit sekali….!!!”
“Tangan ini seperti di sayat-sayat menggunakan pisau besar. Bayangkan sendiri bagaimana rasanya!”

Kata Pak Gunawan menceritakan rasa sakit ketika di ruq’yah. Karena tidak tahan Beliau minta dihentikan dan tidak dilanjutkan proses Ruq’yahnya.

“Kalau di luar masjidil Haram apakah juga ada setan dan jin? Misalnya di jalan-jalan atau di dalam hotel?” tanya saya lagi penuh penasaran.

“Tidak ada, Pak Isroi. Di sini bersih. Beda dengan di tempat kita di Indonesia, hampir semua tempat ada jin dan setannya. Apalagi di tempat-tempat maksiat, banyak sekali mereka.” Kata Pak Gunawan menjelaskan lebih jauh.

Di tempat-tempat atau ruangan yang dibiarkan kosong, hampir selalu ada setannya. Kalau masuk suatu ruangan, meski ruangan itu kosong, Pak Gunawan selalu mengucapkan salam “Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh”. Pak Gunawan menjelaskan kalau hanya ucapan salam itu yang tidak bisa dijawab oleh setan. Kalau kita mengucapkan salam seperti itu, setan-setan akan pergi dengan sendirinya dan kita tidak akan bisa diganggu setan.

***
Suatu ketika kita pulang sholat isya’ bertiga; saya, Pak Gunawan dan Pak Totok. Kita berjalan beriringan dari pintu 74 menuju ke arah exit 4 dan ke jalan Ummul Quro di depan Hotel Hilton Makkah. Di pertigaan itu jalanan macet. Banyak mobil taksi berhenti dan orang-orang berlalu lalang. Beberapa polisi berjaga di pertigaan jalan itu. Jalan ke arah depan Hotel Hilton di tutup polisi. Kami berjalan menyusuri pagar pembatas menyeberang jalan.

Tepatnya di ujung pertigaan, pas di samping tempat sampah ada sedikit ruangan. Tempatnya agak gelap dan remang-remang. Maklum hari sudah mulai malam. Tiba-tiba
“Hhhhhaaaaa…..!!!!!!”””””””

Kami semua kaget….. “Astaghfirullahal’adhim……!!!!!”
Lari menghindar sambil mengelus dada masing-masing.

Ada semacam mahluk duduk di samping tempat sampah itu dan mengangak tangannya tinggi-tinggi. Badannya besar. Besar banget pokoknya. Duduk berselonjor. Kakinya besar-besar… telapak kakinya besar, jari-jarinya besar banget. Matanya melotot. Wajahnya bulat dan gemuk. Hitam comang-cameng. Ketika kami lewat (maaf) baunya ruar biasa busuknya.

“Apa itu tadi, Pak…?????” tanya saya.
“Iya… apa itu ….????” kata Pak Totok mempertegas pertanyaan saya.

“Masya Allah apa itu tadi…???” kata Pak Gunawan.

“Itu jin atau setan ya, Pak Gunawan?” kata saya bertanya lagi.

“Bukan, Pak. Mungkin gelandangan atau orang gila.”

Tempat ini selalu kita lewati kalau berangkat dan pulang dari majid. Baru sekali ini kami ketemu dengan ‘makhluk’ ini. Benar-benar mengagetkan dan menakutkan.

Lain waktu berikutnya, ketika kami melewati jalan ini kami lebih berhati-hati dan coba memperhatikan ‘mahluk’ apa sebenarnya itu. Ternyata memang ada orang besar yang tiduran miring membelakangi jalan menghadap ke tembok. Berselimut kumal besar, tetapi masih terlihat sedikit punggungnya dan rambutnya. Jadi selama ini memang di pojokan itu ada ‘penghuni-nya’ yang luput dari perhatian orang-orang, termasuk kami.

***
Ketika di masjid Nabawi saya menanyakan hal sama ke Pak Gunawan. Suasana masjid Nabawi sangat berbeda dengan di Masjidil Haram. Masjid Nabawi lebih rapi, lebih teratur dan lebih tenang. Meski sedang musim dingin, suhu di Madinah ketika kami datang cukup bersahabat. Suhu di luar yang paling dingin masih belasan derajat celcius. Suhu di dalam majis lebih hangat lagi. Kami biasanya masuk melalui pintu No. 17 atau 18 dan mengambil posisi di tengah-tengah masjid yang agak lapang. Ketika sedang duduk-duduk menunggu sholat magrib saya bertanya ke Pak Gunawan.

“Di sini terlihat ada jin seperti yang di Makkah tidak, Pak Gunawan?” tanya saya penasaran.

“Hhmmmmm…… tidak ada, Pak.”

Lalu Pak Gunawan melihat-lihat ke sekeliling seperti mencari-cari sesuatu.

“Eh…. ada juga, Pak.”

“Sekarang ini sedang ada rombongan jin melintas di depan kita,” katanya mejelaskan.

Padahal karpet-karpet merah dan tebal di depan kita kosong sama sekali, tidak ada jama’ah yang duduk-duduk.

“Mereka berjalan rombongan menuju ke depan. Mungkin mereka mau sholat di dekat mihrob Nabi yang ada di bagian paling depan itu.” katanya lagi melanjutkan penjelasannya.

Perawakan mereka sama seperti manusia, seperti orang-orang Arab. Posturnya tinggi-tinggi, kulitnya putih-putih dan baunya wangi sekali. Tidak ada yang bentuknya aneh-aneh dan mengerikan, seperti yang ada di Indonesia.

***


1. Muqodimah
2. Manasik Terakhir
3. Penundaan Keberangkatan
4. Keberangkatan Hari Minggu
5. Tiga Hari di Hotel Negeri Sembilan
6. Jin-jin dan Setan Penunggu Hotel
7. Menunggu dengan Ketidakpastian
8. Akhirnya Berangkat ke Jeddah
9. Bergabung dengan Rombongan Ja’aah Madura
10. Menginjakkan Kaki di Masjidil Haram Pertama Kali
11. Umroh: Thawaf, Sa’i, Tahalul
12. Thawaf ke-2 dan Sholat di dalam Hijr Ismail
13. Perjuangan di Hajar Aswad dan Multazam
14. Cerita Tentang Mas Sugiono, Pemimpin Jama’ah Madura
15. Jin-jin di Makkah dan di Madinah
16. Mencium Hajar Aswad yang Kedua Kali
17. Belanja di Makkah
18. Ibadah Sepuas-puasanya di Masjidil Haram
19. Minum Air Zam-zam dan Kebutuhan Buang Hajat
20. Pak Gunawan Makan Daging Unta
21. Saling Berbalas Kentut
22. Jabal Nur dan Gua Hiro
23. Suasana Jalan-jalan di Makkah
24. Mau Diusir dari Hotel
25. Katering Orang Madura
26. Ketika Tubuh Mulai Drop
27. Tawaf Wada’
28. Berangkat Menuju Madinah
29. Madjid Nabawi, Raudah dan Makan Rasulullah
30. Suasana di Madinah
31. Berkunjung ke Jabal Uhud
32. Pemakaman Baqi’
33. Katering di Madinah
34. Belanja di Madinah
35. Salam Perpisahan
36. Kami akan Kembali Lagi, Insya Allah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s