Category Archives: Islam

Healing Level Langit: Ketika Nabi Diajak “Jalan-Jalan” Melintasi 7 Dimensi Saat Sedang Terpuruk

Namaku terinspirasi dari peristiwa Isra’ Mi’raj ini. Aku lahir dini hari di hari Sabtu, 14 Rajab. Bulan Rajab adalah bulan terjadinya Isra’ Mi’raj. Simbah kakung, Mbah Amad Dakwan, memberiku nama ISROI. Entah kenapa jadi ISROI aku juga tidak tahu, tapi nama itulah yang tertulis di surat lahir dari desa.

Makanya, peringatan Isra’ Mi’raj selalu menjadi momen istimewa bagiku pribadi. Rasanya seperti diingatkan kembali pada identitas diri dan peristiwa agung yang melekat pada namaku.


Pernah nggak sih kamu merasa sedih banget? Merasa terpuruk, hopeless, karena kehilangan support system terbaik, sampai rasanya dunia sempit sekali?

Itulah fase yang dialami Rasulullah Muhammad SAW sebelum peristiwa Isra’ Mi’raj. Sejarah mencatat tahun itu sebagai ‘Amul Huzni (Tahun Kesedihan). Beliau baru saja kehilangan istri tercinta, Khadijah r.a. Kehilangan kekasih hati yang sangat dicintai dan selalu ada saat suka duka itu mellow banget, Bro. Rasanya separuh jiwa pergi.

Berikutnya, paman pelindungnya, Abu Thalib, yang selama ini selalu membela, menjadi pendukung utama, dan sosok yang disegani oleh kafir Quraisy, juga meninggal dunia. Belum lagi, dakwah beliau di Thaif ditolak mentah-mentah dengan lemparan batu hingga beliau berdarah-darah.

Coba bayangkan dirimu berada di posisi Rasulullah waktu itu. Sedih, hampa, dan manusiawi banget kalau merasa lelah mental.

Di titik terendah itulah, Allah SWT memberikan penghiburan (Tasliyah) yang nggak tanggung-tanggung. Kalau anak sekarang healing-nya main ke mall atau staycation ke tempat wisata, Nabi beda. Beliau diundang langsung “main” ke rumah-Nya di Sidratul Muntaha.

Ini bukan dongeng. Ini adalah perjalanan dinas lintas dimensi yang terekam abadi dalam Al-Qur’an (QS. Al-Isra: 1 & An-Najm: 13-18).

Mari kita bedah faktanya berdasarkan data yang valid (Sahih Bukhari & Muslim) dan sedikit tinjauan sains biar makin mind-blowing.

1. Kendaraan Super Cepat: Al-Buraq

Perjalanan dimulai dari Masjidil Haram (Makkah). Jibril membawa kendaraan dinas bernama Al-Buraq.

Dalam hadits riwayat Muslim, hewan ini dideskripsikan berwarna putih, lebih besar dari keledai tapi lebih kecil dari bagal. Kecepatannya? Mind-blowing.

“Ia meletakkan langkah kakinya sejauh pandangan matanya.” (HR. Muslim No. 164)

Ini bukan teleportasi sihir, tapi perjalanan fisik dengan kecepatan super tinggi yang melipat jarak. Kalau pakai logika fisika, ini teknologi Ilahi yang melampaui kecepatan cahaya.

2. Waktu yang Sangat Singkat vs Jarak Antariksa

Mari kita bicara data. Jarak darat dari Makkah ke Masjidil Aqsa adalah sekitar 1.239 km. Kalau zaman dulu naik unta butuh waktu sebulan pergi, sebulan pulang.

Lalu, jarak ke langit? Wah, ini lebih gila lagi. Untuk kamu yang belum tahu, satuan jarak antariksa itu ukurannya adalah Tahun Cahaya (Light Year). Kecepatan cahaya itu 300.000 km per detik. Bayangkan kamu berlari secepat itu selama satu tahun tanpa henti. Nah, jarak yang kamu tempuh itu disebut 1 tahun cahaya (setara 9,4 triliun km).

Sebagai gambaran betapa luasnya langit: Jarak Bumi ke pusat galaksi Bima Sakti kita saja diperkirakan sekitar 26.000 tahun cahaya. Itu baru satu galaksi, belum jarak antar galaksi, apalagi jarak antar langit, sampai ke Sidratul Muntaha (Langit ke-7 dan seterusnya).

Tapi, menurut dalil Al-Qur’an (Surat Al-Isra ayat 1), Allah menggunakan kata “Lailan” (suatu malam), yang dalam kaidah bahasa Arab (Nakirah) bermakna “hanya sebagian kecil dari malam”. Bukan semalam suntuk.

Ulama memperkirakan perjalanan ini terjadi selepas Isya dan Nabi sudah kembali sebelum waktu Subuh. Bayangkan! Jarak ribuan kilometer di bumi plus jutaan tahun cahaya di langit (pulang-pergi), hanya ditempuh dalam waktu beberapa jam saja (kurang dari sepertiga malam). Ini bukti bahwa hukum fisika tunduk total pada Penciptanya.

3. Transit di Palestina: Reuni Para Nabi

Tujuan pertama bukan langsung ke langit, tapi ke Masjidil Aqsa (Palestina).

Di sini, Rasulullah SAW melakukan sholat 2 rakaat. Menurut riwayat shahih (HR. Muslim), beliau menjadi imam bagi ruh para Nabi terdahulu. Ini adalah simbolisasi bahwa risalah Islam adalah penyempurna dari ajaran Nabi-Nabi sebelumnya. Persaudaraan Sesama Muslim (Ukhuwah), Ikhwanul Muslimin. One brotherhood, one mission.

4. Menembus 7 Langit (The Sky Tour)

Langit yang tampak di atas kita itu ternyata berlapis-lapis dan setiap lapis ada pintu serta penjaganya. Setelah dari Palestina, barulah Jibril membawa Nabi naik (Mi’raj) menembus lapisan langit. Di setiap pintu langit, Jibril harus meminta izin penjaga (protokol keamanan langit ternyata sangat ketat!).

Di sinilah terjadi “Meet and Greet” dengan para senior, nabi-nabi terdahulu (Sumber: HR. Bukhari, Kitab Bad’ul Khalq):

  • Langit 1: Bertemu Bapak Manusia, Nabi Adam a.s.
  • Langit 2: Bertemu sepupu, Nabi Isa a.s. & Yahya a.s.
  • Langit 3: Bertemu pria tertampan (diberi setengah ketampanan dunia), Nabi Yusuf a.s. Artis Korea mah lewat!
  • Langit 4: Bertemu Nabi Idris a.s.
  • Langit 5: Bertemu Nabi Harun a.s.
  • Langit 6: Bertemu Nabi Musa a.s. (Ada momen haru di sini, Nabi Musa menangis karena tahu umat Nabi Muhammad akan lebih banyak masuk surga dibanding umatnya).
  • Langit 7: Bertemu Bapak Para Nabi, Nabi Ibrahim a.s. yang sedang bersandar di Baitul Ma’mur (Ka’bah-nya penduduk langit).

5. Oleh-Oleh Istimewa: Negosiasi “Diskon” Sholat

Puncak perjalanan ini adalah di Sidratul Muntaha, tempat yang tidak bisa dijangkau nalar manusia. Di sinilah Allah memberikan perintah Sholat 50 Waktu sehari semalam.

Bayangkan kalau kita harus sholat 50 kali sehari? Mungkin kita nggak sempat kerja, apalagi scroll medsos.

Di sinilah peran Nabi Musa a.s. (di langit ke-6) menjadi mentor. Beliau menyarankan Rasulullah untuk minta keringanan (diskon), berkaca dari pengalaman beliau mengurus Bani Israil yang fisiknya kuat tapi jiwanya sering membangkang.

Rasulullah pun bolak-balik menghadap Allah untuk meminta keringanan.

  • Dari 50 jadi 40…
  • Turun terus… per 10 atau per 5 waktu…
  • Hingga akhirnya deal di angka 5 waktu.

Sebenarnya Nabi Musa masih menyarankan untuk minta kurang lagi, tapi Rasulullah SAW bersabda: “Aku sudah meminta hingga aku merasa malu. Sekarang aku ridha dan berserah diri.” (HR. Bukhari).

Meski jumlahnya jadi 5, Allah memberikan bonus luar biasa: Pahalanya tetap dicatat setara 50 kali sholat! Win-win solution banget, kan? Satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipat.

6. Pagi Hari yang Menggemparkan: Logika Iman Abu Bakar

Rasulullah kembali ke Makkah sebelum subuh. Saat beliau menceritakan hal ini di pagi harinya (di Hijr Ismail), penduduk Makkah heboh. Mereka mengejek, “Mana mungkin ke Palestina cuma semalam? Biasanya butuh waktu sebulan!”

Mereka mencoba meruntuhkan mental Abu Bakar dengan kabar “gila” ini. Namun, jawaban Abu Bakar justru menjadi standar keimanan kita hari ini:

“Kalau Muhammad yang mengatakannya, PASTI BENAR. Aku percaya dia menerima wahyu dari langit (yang jaraknya tak terhingga) dalam sekejap, masa urusan ke Palestina saja aku ragu?” (HR. Al-Hakim).

Sejak saat itulah Abu Bakar bergelar As-Siddiq (Sang Pembenara Sejati).


Takeaway Buat Kita

Perjalanan Isra’ Mi’raj mengajarkan kita beberapa hal penting:

  1. Sholat adalah “Healing”: Perintah ini turun saat Nabi sedih. Perintah yang langsung disampaikan oleh Allah ke Rasulullah tanpa perantara Malaikat (jemput bola). Artinya, sholat adalah cara kita “naik” menemui Allah untuk mengadu masalah hidup, layaknya Mi’raj-nya orang mukmin.
  2. Validitas Mutlak: Kisah ini valid, diriwayatkan dalam kitab-kitab hadits terpercaya (Bukhari-Muslim), bebas dari dongeng-dongeng seram (israiliyat) yang nggak jelas sumbernya.
  3. Kasih Sayang Nabi: Perjuangan Nabi negosiasi sholat dari 50 ke 5 waktu itu bukti betapa beliau peduli sama kita, umatnya yang lemah ini.

Jadi, kalau hari ini kamu merasa berat melangkah ke sajadah untuk sholat 5 waktu, ingatlah: Perintah ini dijemput langsung ke Langit ke-7, bukan sekadar “titipan” via kurir malaikat.

Babad Tanah Jawi

Catatan tentang buku Babad Tanah Jawi.

Babad Tanah Jawi

Babad Tanah Jawi

Waktu kecil dulu saya kadang2 diajak Bapak nonton wayang kulit atau pagelaran ketoprak di alun2. Dulu ada acara ketoprak di Tvri Jogja yang sering saya lihat, yaitu ketroprak Gito-Gati. Jadi dikit2 saya tahu cetita2 babad tanah jawa.

Ketika membaca buku ini pikiran saya serasa kembali ke masa2 lalu. Cerita2 ketoprak itu seperti hadir kembali. Ceritanya Ario Penangsang, Joko Tingkir, Breh Wijaya, dan Kanjeng Sunan Gunung Jati.

Buku ini ditulis oleh orang Belanda W.L.Olthof, di Leiden tahun 1941 dalam bahasa jawa. Lalu diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Saya tidak tahu cerita ini asli atau campur aduk dengan cerita fiksi. Mungkin ada fakta2 sejarah yang dituliskan di sini, tapi sepertinya juga ada ‘bunga2’ fiksinya. Namun, Disitulah menariknya buku ini.

Ada keterkaitan antara sejarah2 kerajaan Hindu, Budha dan Islam di tanah Jawa, Sumatera sampai ke Champa dan China. Beberapa waktu yang lalu sempat ramai dengan adanya fakta sejarah koin jaman Majapahit yang bertuliskan arab/Islam. Mungkin juga ada benarnya. Di dalam buku ini disebutkan bahwa jaman Majapahit dulu sudah ada hubungan dengan kerajaan Champa yang sudah masuk Islam. Bahkan sunan2 jaman dulu datang dari Makkah ke Kerajaan Majapahit.

Menariknya di dalam buku ini banyak cerita2 tentang masuknya Islam di Nusantara, asmara, perselingkuhan dan pengkhianatan, intrik2 perebutan kekuasaan, cerita2 kesaktian tokoh2 jaman dulu, kesaktian Kanjeng Sunan Walisongo, Ki Ageng Selo, Aria Penangsang, Ki Ageng Pemanahan, Raden Patah, Kisahnya Joko Tingkir yang terkenal, dan kisah2 keturunan raja2 yang akan berkuasa di tanah jawa ini.

Sejak jaman dulu sebenarnya agama Islam dan politik (pemerintahan) tidak pernah dipisahkan dalam sejarah tanah jawa. Tokoh agama, Para Sunan, juga merupakan tokoh politik atau pimpinan politik kerajaan. Yang menjadi raja2 di tanah jawa punya garis keturunan dengan para Sunan.

Jarang saya tahan membaca buku sejarah dan cerita yang tebalnya sampai 800 halaman. Tidak ada gambarnya sama sekali. Isinya tulisan semua. Justru ‘gambar2’ itu muncul di dalam kepala.

Buku ini menjadi teman bacaan yang menarik, di sela-sela bacaan ‘keras’ sehari2. Menambah wawasan tentang sejarah dan budaya Islam di tanah Jawa ini. Andaikan saya bisa baca langsung yang berbahasa Jawa atau yang ditulis oleh orang jawa asli akan lebih menarik lagi.

99 + 1 = 0

99 + 1 = 0. Rumus yang menyalahi kaidah matematika. Tapi artinya dalam dan filosofis sekali. Rumus itu saya dapatkan dari sabahat baru saya, Pak Bambang S. Rumus yang jadi peringatan untuk mengarungi kehidupan ini.

Rumus itu didapatkan dari pengalaman hidup Pak Bambang sendiri yang penuh liku-liku. Pak Bambang orang yang hidup mapan. Kuliahnya di Amerika. Bekerja di tempat yang ‘basah’, tidak hanya sekedar ‘basah’ tapi ‘basah kuyup’. Punya istri yang baik dan cantik, dikaruniai anak-anak yang baik-baik dan pinter-pinter. Istrinya tipikal istri yang soleh, rajin mengaji dan haus akan ilmu agama. Seperti sempurna hidupnya.

Namun semua itu kemudian barubah. Secara lahiriyah, perubahan itu bukan perubahan yang ‘buruk’. Namun ini hanya permukaan luarnya saja.

Suatu hari istrinya, yang memang suka mengaji, belajar agama dan membaca, mendapatkan sebuah buku. Buku itu dicap oleh orang sebagai ajaran menyimpang, karena penasaran dia tetap menelaahnya sampai selesai. Menurut istrinya itu isinya bagus banget, buku yang mengajarkan kebaikan, suka menolong, banyak sedekah, rajin beribadah, dan semua perbuatan kebajikan yang lain. Istrinya semakin penasaran dan ingin ketemu langsung dengan yang mengajarkannya. Maka dia pun mencari alamatnya. Gampang dicari tinggal tanya mbah Google saja.

Kalau orang Jawa bilang ‘lha kok ndelalah’; kebetulan di tempat yang ditujunya itu istrinya bertemu dengan kawan sekolahnya dulu, bapak2 yang sudah lebih dulu mengikuti ‘ajaran baru’ ini. Singkat cerita istrinya kemudian akrif di pengajian dan pertemuan yang dilakukan oleh kelompok itu. Isinya baik semua. Bahkan baik banget. Orangnya juga baik-baik. Tidak melakukam kekerasan atau menyakiti orang. Istrinya semakin masuk ke dalam. Saking rajinnya beribadah sholat malam saja diwajibkan dalam kelompok itu. Dari ketiga anaknya dua orang akhirnya ikut masuk juga. Pak Bambang pun semakin binggung.

Setelah lama mulai kelihatan ‘penyimpangan-penyimpangannya’. Kemudian dia tahu syahadat kelompok itu diubah. Sekilas seperti tidak ada yang salah, artinya bener. Beberapa ibadah mulai ada ‘improvisasi’ dan ‘modifikasi’. Ujungnya yang memberi ajaran itu dindeklarasikan sebagai ‘nabi baru’. Pengikutnya banyak, bahkan sempat heboh di Indonesia. Dalam sejarah agama-agama samawi, nabi2 adalah laki-laki, kalau ini nabinya ‘wanita’. Kelompok ini percaya ‘akhir jaman’ sudah dekat, karena itu turunlah ‘nabi yang dijanjikan’ itu.

Kehidupan yang ‘sempurna’ itu akhirnya berubah. Biduk rumah tangganya pecah. Satu anaknya berhasil lepas dan ‘kembali’ ke jalan yang lurus. Mantan istrinya akhirnya menikah dengan laki2, kawan lamanya yang bertemu pertama kali di rumah ‘nabi baru’ itu.

****
Kisah ini dituliskan oleh Pak Bambang dalam sebuah buku. Bukunya belum diterbitkan karena banyak pertimbangan.

Godaan syaitan ternyata tidak hanya yang jahat-jahat saja. Syaitan mengoda dengan yang ‘baik-baik’, bagus-bagus, sholeh-sholeh. Godaan itu dibungkus dengan kebajikan-kebajikan. Namun, semuanya hanya ‘fatamorgana’ saja. Semua kebaikan itu hancur lebur dan tidak berbekas karena satu hal saja: akidahnya menyimpang. Tuhannya bukan Allah SWT, nabinya bukan Nabi Muhammad, dan kitabnya bukan Al Quran. Kasihan.

Catatan buku: Islam dan Kebatinan

image


Baca catatan buku yang lain: BUKU


Buku ini salah satu koleksi buku ‘kuno’ yang ada di rak buku kami. Judulnya “Islam dan Kebatinan” karangan Prof. Dr. H. M. Rasjidi. Buku ini ditulis 47 tahun yang lalu. Pertama kali buku ini saya dapatkan ada di tumpukan bawah meja tahu rumahnya Pak Arifin Mukti. Ternyata isinya menarik dan tidak saya dapatkan di buku2 keislaman kontemporer. Lalu, buku ini saya minta bersama dengan beberapa buku kuno yang lain. Isi buku ini menarik karena membahas tentang beberapa aliran kebathinan yang ada di masyarakat dan sebagian “bercampur aduk” dengan Islam.

Realitanya kebathinan memang eksis dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Ketika SMA dulu saya pernah membeli sebuah buku terjemahan dari bahasa jawa. Judulnya: Kitab Gatoloco dan Kitab Darmogandul. Buku itu dijual di toko buku Cahaya yang ada di samping masjid Agung Magelang. Toko buku ini adalah toko buku Islam yang paling besar dan paling lengkap waktu itu. Saya tertarik membelinya karena di pengantarnya tertulis bahwa buku ini menceritakan tentang sejarah masuknya Islam di Indonesia. Bukunya cukup unik, karena dicetak dalam dua bahasa; satu sisi bahasa jawa dan sisi yang lain terjemahannya.

Saya mulai membaca buku itu. Ternyata isinya benar2 diluar dugaan saya. Isi buku itu bukannya tentang cerita sejarah Islam di Indonesia, tapi justru isinya melecehkan ajaran Islam. Saya tidak meneruskan membaca buku itu. Beberapa bulan kemudian saya mendengar di tvri kalau peredaran buku itu dilarang. Saya jadi ingat dan saya cari buku2 itu lagi. Tidak ketemu. Entah saya buang ke mana buku2 itu. Beberapa tahun kemudian baru saya tahu kalau buku itu merupakan salah satu kitabnya orang kebathinan.

Ketika kuliah saya pernah menginap di rumah teman saya di lereng gunung Sumbing. Bapak teman saya memiliki beberapa koleksi buku di ruang tamunya. Iseng2 saya baca satu buku. Saya terkejut ketika membaca isinya; isinya tentang ibadah yang campur2 dan tentang kitab kejadian manusia. Ternyata bapak teman saya adalah penganut aliran kebathinan.

Ketika KKN saya tinggal di desa terpencil di lereng pegunungan Dieng di Kab. Banjarnegara. Warga di desa saya ada dua kelompok penganut agama; Islam dan Hindu. Ternyata; di desa itu atau di kecamatan itu ada juga penganut aliran kebathinan.

Ketika saya menemukan buku ini baru saya memahami jika orang2 tersebut adalah penganut aliran kebathinan atau aliran kepercayaan. Di KTP mereka mungkin saja tertulis Islam, tapi mereka tidak menjalankan syariat Islam. Mereka beribadah denga cara lain. Ya…kebathinan itu.

Budaya manusia akan saling mempengaruhi. Dalam kasus kebathinan ini entah Islam yang mempengaruhi ‘kebathinan’ orang dulu atau justru ‘kebathinan’ yang mengotori ajaran Islam. Sesudah ratusan tahun Islam masuk ke Indonesia, masih ada beberapa kelompok orang Islam yang mencampur adukkan antara ajaran Islam dengan kebathinan. Akan lebih baik jika orang-orang ini mengikuti dan memilih salah satu saja. Dalam Islam, syirik adalah dosa yang tidak terampuni. Saya rasa demikian juga dalam ‘kepercayaan’ lain. Kalau tidak ‘murni’ tidak akan ‘diterima’ amalannya.

Buku karya Prof. Rasjidi ini sangat membantu saya dalam memahami tentang ‘kebathinan’ itu. Untung saja saya tidak melanjutkan sampai selesai ketima membaca kitab Gatoloco dan Darmogandul. Namun, saya kecewa karena kedua buku itu hilang dan tidak pernah saya temukan sampai sekarang.

Salam membaca.

Catatan buku: Buku-buku Panduan Do’a

image


Baca catatan buku yang lain: BUKU


Berdoa adalah intinya ibadah. Islam mengajarkan untuk selalu berdoa dalam setiap kesempatan, setiap keadaan, dan setiap waktu. Ibaratnya sejak bangun tidur sampai tidur lagi ada doa-doa yang diajarkan oleh Rasulullah. Sebut saja; doa bangun tidur, doa masuk wc, doa keluar wc, doa berwudhu, doa setelah wudhu, doa keluar rumah, doa berangkat ke masjid, doa masuk ke masjid, doa setelah adzan, doa setelah sholat, doa keluar masjid, doa pagi hari, doa pakai baju, doa berangkat kerja/keluar rumah, doa naik kendaraan, doa mulai kerja, doa mau makan, doa setelah makan, doa sore hari, doa mau tidur, doa ketika mimpi buruk. Masih ada lagi doa-doa untuk keadaan tertentu; doa ketika bersin, doa ketima melihat sesuatu yang mengembirakan, doa ketika hujan, doa ketika mendengar petir, doa menengok orang sakit, doa mohon kesembuhan, doa memohon keturunan yang baik dan masih banyak doa-doa yang lain.

Kita tidak perlu menghafal semua doa-doa itu. Hafalkan saja sesuai kemampuan kita dan amalkan secara rutin dan istiqomah agar kita mendapatkan pahala atas setiap perbuatan kita.

Doa-doa itu ada yang bersumber dari Al Quran dan ada pula yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Karena doa adalah ibadah kita perlu belajar dari sumber-sumber yang terpercaya. Terutama untuk doa-doa yang bersumber dari hadist Rasul.

Kami membeli beberapa buku tentang doa-doa itu. Mulai dari buku yang tipis hingga tebal. Mulai dari buku yang kecil hingga buku yang besar. Kami mencoba menghafal doa-doa itu.

Salah satu koleksi buku tentand berdoa yang bagus menurut saya adalah buku “Kumpulan Doa dalam Al Quran dan Hadist” karya Syech Al Qothoni. Saya pernah ditunjukki oleh ustad versi asli dari buku saku ini. Buku ini telah diterjemahkan dengan ukuran yang sama dengan buku aslinya.

image

Keunggulan buku ini adalah ukurannnya yang kecil sehingga mudah disaku dan dibawa ke mana-mana. Dalil2 yang digunakan shahih dan terpercaya. Penulisnya juga salah satu ulama terkenal yang terpercaya. Isinya lengkap dan hampir meliputi setiap aktivitas seorang muslim.

Jika Anda sedang mencari buku rujukan tentang doa, sebaiknya Anda membeli buku ini. Selamat berdoa dan selamat membaca.

Jangan Lihat Orang dari ‘Casing’-nya.

Minggu ini saya mulai sholat di masjid yang berbeda dari mushola biasanya. Masjidnya cukup besar tapi jama’ahnya tidak banyak. Ada seorang jama’ah yang lain dari yang lain. Tampilannya anak metal. Rambutnya gondrong, kadang2 dikucir. Pakai kalung yang ada bandulnya gigi binatang. Pakai gelang rantai. Rantai gerbang rumah dibuat gelang kali, soalnya gede banget rantainya. Celananya jin ketat. Pakai kaos oblong. Awalnya saya kira hanya anak yang kebetulan lewat lalu sholat di masjid. Ternyata tidak. Waktu sholat berikutnya dia berjama’ah lagi dan lagi. Memang dia biasanya hadir mepet waktu iqomah dan kadang2 masbuk. Selesai sholat, berdoa sebentar lalu sudah bangkit keluar. Subahanallah, waktu sholat aubuh pun dia berjama’ah. Masih dengan pakaian yang sama seperti yang dia pakai waktu sholat isya’ semalam.

Tampilan anak metal, tapi rajin berjama’ah di masjid. Daripada tampilan rapi, pakai baju koko seperti santri, tapi sholat di rumah.    Telat lagi sholatnya.

Saya ingin berkenalan dengan ‘anak metal’ ini, sayang dia selalu pulang duluan. Lain waktu insya Allah.

Alunan Adzan di Masjidil Haram Mekkah

Mungkin kita sering mendengar lantunan adzan dari Masjidil Haram Mekkah, di HP, di komputer, di laptop, di televisi, atau di radio. Tetapi, pernahkan melihat muadzinnya? Silahkan dinikmati video muadzin dari masjidil haram ini.