Monthly Archives: November 2018

Slude Limbah Cair Pabrik Sawit Bisa untuk Pupuk Organik, Ini literaturnya

THE POTENTIAL OF TREATED PALM OIL MILL EFFLUENT (POME) SLUDGE AS AN ORGANIC FERTILIZER

Mohd Nizar Khairuddin, Abdul Jamil Zakaria, Isharudin Md Isa, Hamdan Jol, Wan Mohd. Nazri Wan Abdul Rahman, Mohd. Kamarul Syahid Salleh

Abstract

Palm oil mill contributed a significant benefit to agro-based industry and social-economic for Malaysia. Palm oil mill effluent (POME) is considered as a polluted wastewater and the treated POME sludge was produced from the open treatment ponds. The objective of this study was to determine the physicochemical characteristics of treated POME sludge and its potential as an organic fertilizer. It was collected from the dumping ponds in Felda Jengka 8, palm oil mill. Physicochemical characteristics, sampling and preparation of samples were analyzed according to the standard method of soil and the wastewater. The samples were collected after one and six month of age with different depths (one, two and three meters). The statistical analysis revealed that the depth was not significant on the physicochemical characteristics. The characteristics of the treated POME sludge was measures using CHNS-O, C/N ratio, solid analysis, heavy metal, macro and micronutrient, moisture content, and pH. However, the elements of oxygen, iron and pH were shown an interaction effects with time. In conclusion, the treated POME sludge has shown significant effect and the potential used as an organic fertilizer. Indeed, further studies on crops response are being conducted to prove the findings.

Download full text PDF.

Oncidium Golden Shower

Oncidium Golden Shower

Oncidium Golden Shower

Anggrek ini saya dapatkan mungkin setahun yang lalu. Minta dari teman dalam kondisi merana dan tidak terawat. Saya ambil satu rumpun, saya pecah-pecah dan saya tanam. Salah satu rumpun yang saya tanam mengeluarkan bunga. Ini lah bunganya. Setelah cek di buku dan searching di internet, namanya adalah Oncidium Golden Shower.

Ketika pertama kali saya dapatkan, si anggrek ini kondisinya memprihatinkan. Anggrek ini milik teman, saya melihatnya ketika berkunjung ke rumahnya. Anggrek ini menempel di pohon mangga dengan sangat rimbun. Waktu itu sedang musim kemarau, jadi sangat jarang hujan. Bulb-nya kering dan menguning. Saya minta ijin ke teman untuk meminta beberapa rumpun. Ada dua atau tiga jenis anggrek di situ. Saya ambil masing-masing satu rumpun. Terus terang waktu itu saya tidak tahu apa nama anggrek ini.

Sampai di rumah, rumpun anggrek ini saya bagi tiga. Satu rumpun saya tempelkan di atas pohon rambutan dan saya ikat dengan tali rafia. Satu rumpun saya tanam di pot dengan media arang. Satu rumpun lagi saya tempelkan di papan pakis. Lalu saya rawat. Awalnya semuanya kena banyak sinar matahari, terutama pagi hari. Anggrek ini mulai tumbuh. Bulb-nya mulai berubah dari kuning menjadi hijau. Lalu akar-akarnya mulai tumbuh banyak dan rimbun. Beberapa mulai keluar daun-daun baru. Saya senang sekali.

Karena sesuatu hal, anggrek yang menempel di papan pakis saya pindahkan agak ke bagian dalam yang lebih teduh. Beberapa saat kemudian, ternyata anggrek ini mulai keluar knop-nya. Tangkai bunganya menjuntai dan semakin memanjang bercabang. Setelah beberapa lama mekarlah bungga anggrek kecil berwarna kuning dengan lidah yang lebar.

Saya cek di buku anggrek yang saya punya, anggrek jenis ini dari genus Oncidium dan kemungkinan adalah Oncidium golden shower. Saya tidak tahu anggrek ini sudah hibrida atau masih species. Entah.

Meski bunganya kecil-kecil, tetapi kalau rumpunnya banyak dan rimbun, anggrek ini akan terlihat lebih indah dan menarik.
Saya semakin bersemangat memeliharanya.

BIODEGRADABILITY OF CASSAVA EDIBLE BIOPLASTICS IN LANDFILL AND PLANTATION SOIL