Category Archives: MyPoems

Puisi-puisiku

Sebuah Kapal yang Tiba-tiba Berhenti di Tengah Samudra

Sebuah kapal telah mengarungi samudra
Dengan nakhoda yang terus berteriak-teriak
tenpa ada ujung pangkalnya
Perutnya tampak gendut kekenyangan air laut
Anak buahnya tanpak kelelahan
mengayuh dayung
Yang hanya minum keringatnya sendiri
Yang tak kalah asin denga air laut
Benderanya tampak kuyu enggan berkibar
Anginpun sudah berhenti meniup layar
Kemudian satu per satu anak buahnya roboh
tapi tangannya masih tampak kuat memegangi dayungnya
Walaupun tidak bergerak sejengkal pun
Sang nakhoda terus berteriak-teriak
Walaupun ia tahu anak buahnya
sudah tidak mendengar apa-apa lagi

[Magelang, 06/88]

Kabut Tebal

“Itu bulan”, katamu
“Bukan, itu matahari”, sahutku
“Itu bulan…!!!”, katamu ngeyel
“Bukan, itu matahari.
Bulan sudah dimakan Betara Kala kemarin”, sahutku
“Itu bulan…!!!!”, katamu dengan suara tinggi
“Itu matahari, cuma karena sekarang banyak kabut jadi seperti bulan”, jelasku
“Itu bulan…..!!!!!!”, teriakmu

Matamu yang bening terpaku menatapnya
Tak berkedip
Dan kau tetap pada pendirianmu
Bahwa itu bulan
“Matahari tak pernah keluar malam, kan ?” gumanmu

Kabut makin tebal
Kita sama-sama ragu, apakah itu bulan atau matahari,
Karena tak lagi jelas perbedaan
Siang atau malam

[Pringamba, Purwokerto, 21-9-97]

***

*
Huru-huruf bicara tanpa kata
Pena tak lagi menari-nari
Hanya kita termanggu dalam sendiri
Tak tahu kau atau aku
Hanya angin semilir meniup resah

Magelang, Oktober 1989

Suaramu

Suaramu merayap-rayap
Lewat kebel
menyembur keluar lewat loudspeker
kemudian tanpa permisi nyelonong
masuk telingaku

Ya….Allah….
Suara apa ini…????!!!
Merdunya melebihi desiran
ombak lautan
Lembutnya melebihi bisik
dedaunan
Tenangnya melebihi gemericik
air pegunungan

Lewat celah-celah sempit
suaramu menuju telaga darahku
dengan riang berenang menuju
jantungku

Di sana
setelah melewati beribu-ribu pintu vena
suaramu menggelegar
memukul tambur
bertalu-talu

Purwokerto, April 1994

Sajak Lilin

Lilinku sudah hampir padam
Sebentar lagi gelap datang
Dan hitam pekat yang ada
Lilinku beku tiba-tiba
Karena dingin dan gelap pekat
Karena dingin……………
………….karena gelap pekat
Lilinku musnah
Aku bimbang
Dan hatiku juga padam

Magelang, Feb 90

Pagi-pagi

Pagi aku bangun
suasana sepi
Pagi itu aku buka pintu
mentari pucat pasi

Dan seekor laron
melintas bebas
menikmati sepi
tanpa burung
tanpa cicak

Aku lihat juga
dua gadis kecil
belajar naik sepeda
yang satu luka dilututnya
yang satu malah takut berdua
kemudian keduanya tertawa
tanpa menghiraukan
seekor laron yang merangkak sedih
tak bisa terbang lagi

Magelang, Des 89

Puisi Cinta

Waktu sekolah di SMA aku pernah baca sebuah puisi cinta terjemahan dari bahasa arab. Puisi itu masih kuingat hingga sekarang.

DIALOG

‘Ali Ahmad Sa’id (Anonis) (1930 – )

Jangan katakan bahwa cintaku
Sebentuk cincin atau gelang
Cintaku ialah pengepungan benteng lawan
Ialah orang-orang nekat dan pemberani
Sambil menyelidik mencari-cari, mereka menuju mati.

Jangan katakan bahwa cintaku
Ialah bulan,
Cintaku bunga api bersemburan.

***

Buat Sepasang Mata Tak Dikenal

Muhammad Al Fayaturi (1930 – )
Continue reading

*

Hidup ini adalah
air yang mengalir
Dari tebing-tebing…
….gemericik….
Menyusuri batu-batu terjal
Merayap…
Meliuk-liuk bagai ular
Menuju laut…
Dua dunia yang jelas batas-batasnya
Asin dan
Tawar

Purwokerto, 8 – November 1994

Di Persimpangan Jalan

Di persimpangan jalan
Kuraba sukmaku dalam kegelapan
Di persimpangan jalan
Kuraba jiwaku dalam kebimbangan

Oktober 1988
Isroi

*

Hidup ini adalah
air yang mengalir
Dari tebing-tebing…
….gemericik….
Menyusuri batu-batu terjal
Merayap…
Meliuk-liuk bagai ular
Menuju laut…
Dua dunia yang jelas batas-batasnya
Asin dan
Tawar

Purwokerto, 8 – November 1994