Bila aku mati nanti
Aku ingin menikmati
hangatnya api neraka
Karena surga
sudah kudapatkan
di dunia
[april 1990]
Bila aku mati nanti
Aku ingin menikmati
hangatnya api neraka
Karena surga
sudah kudapatkan
di dunia
[april 1990]
Duduk di bangku
dengan cahaya lentera
dengan tangan terbuka
Coba memahami kata-kata
Coba menerjemahkan bahasa
Dengan terkatuk-katuk
Terus mengganjal mata
Namun apa akhirnya?
Semuanya lupa
[Magelang 03/89]
Sebuah kapal telah mengarungi samudra
Dengan nakhoda yang terus berteriak-teriak
tenpa ada ujung pangkalnya
Perutnya tampak gendut kekenyangan air laut
Anak buahnya tanpak kelelahan
mengayuh dayung
Yang hanya minum keringatnya sendiri
Yang tak kalah asin denga air laut
Benderanya tampak kuyu enggan berkibar
Anginpun sudah berhenti meniup layar
Kemudian satu per satu anak buahnya roboh
tapi tangannya masih tampak kuat memegangi dayungnya
Walaupun tidak bergerak sejengkal pun
Sang nakhoda terus berteriak-teriak
Walaupun ia tahu anak buahnya
sudah tidak mendengar apa-apa lagi
[Magelang, 06/88]
“Itu bulan”, katamu
“Bukan, itu matahari”, sahutku
“Itu bulan…!!!”, katamu ngeyel
“Bukan, itu matahari.
Bulan sudah dimakan Betara Kala kemarin”, sahutku
“Itu bulan…!!!!”, katamu dengan suara tinggi
“Itu matahari, cuma karena sekarang banyak kabut jadi seperti bulan”, jelasku
“Itu bulan…..!!!!!!”, teriakmu
Matamu yang bening terpaku menatapnya
Tak berkedip
Dan kau tetap pada pendirianmu
Bahwa itu bulan
“Matahari tak pernah keluar malam, kan ?” gumanmu
Kabut makin tebal
Kita sama-sama ragu, apakah itu bulan atau matahari,
Karena tak lagi jelas perbedaan
Siang atau malam
[Pringamba, Purwokerto, 21-9-97]
*
Huru-huruf bicara tanpa kata
Pena tak lagi menari-nari
Hanya kita termanggu dalam sendiri
Tak tahu kau atau aku
Hanya angin semilir meniup resah
Magelang, Oktober 1989
Suaramu merayap-rayap
Lewat kebel
menyembur keluar lewat loudspeker
kemudian tanpa permisi nyelonong
masuk telingaku
Ya….Allah….
Suara apa ini…????!!!
Merdunya melebihi desiran
ombak lautan
Lembutnya melebihi bisik
dedaunan
Tenangnya melebihi gemericik
air pegunungan
Lewat celah-celah sempit
suaramu menuju telaga darahku
dengan riang berenang menuju
jantungku
Di sana
setelah melewati beribu-ribu pintu vena
suaramu menggelegar
memukul tambur
bertalu-talu
Purwokerto, April 1994
Lilinku sudah hampir padam
Sebentar lagi gelap datang
Dan hitam pekat yang ada
Lilinku beku tiba-tiba
Karena dingin dan gelap pekat
Karena dingin……………
………….karena gelap pekat
Lilinku musnah
Aku bimbang
Dan hatiku juga padam
Magelang, Feb 90
Pagi aku bangun
suasana sepi
Pagi itu aku buka pintu
mentari pucat pasi
Dan seekor laron
melintas bebas
menikmati sepi
tanpa burung
tanpa cicak
Aku lihat juga
dua gadis kecil
belajar naik sepeda
yang satu luka dilututnya
yang satu malah takut berdua
kemudian keduanya tertawa
tanpa menghiraukan
seekor laron yang merangkak sedih
tak bisa terbang lagi
Magelang, Des 89
Masa kecil, masa penuh kenangan. Masa kecil adalah masa bermain dan bersenang-senang. Masa kecilku juga penuh kenangan. Kalau aku datang ke tempat-tempat mainku dulu, kenangan-kenangan itu serasa muncul lagi di kepalaku. Ada satu tempat favorit kami untuk bermain, yaitu: sawah di belakang rumah.
Rumahku berdiri tepat di pinggir saluran irigasi, kami menyebutnya ‘kali bening’ artinya ‘sungai yang airnya jernih’. Memang dulu air sungai itu sangat jernih, karena sumbernya dari mata air yang juga disebut ‘kali bening’. Cerita orang-orang tua di kampungku, sungai itu tempat untuk semua aktivitas yang berhubungan dengan MCK.
Kali bening di belakang rumahku.
Posted in MyFamily, Uncategorized
Tagged Jawa Tengah, kali bening, kenangan, lumpur, Magelang, sawah, sungai
Seperti yang sudah aku sampaikan pada posting-posting sebelumnya bahwa sortasi sampah warga adalah pekerjaan paling menyusahkan(coba lihat di sini). Oleh karena itu cara terbaik yang mudah dilakukan adalah dengan memisahkan sampah sejak pertama kali sesuatu berubah menjadi sampah. Jadi sampah organik dibuang ditempat sampah organik, sampah plastik dibuang di tempat sampah plastik, sampah kertas dibuang di tempat sampah kertas, demikian seterusnya. Upaya ini bukanlah sesuatu yang mudah. Sebenarnya apa sih susahnya membuang sampah sesuai tempatnya. Mudah. Yang susah adalah membiasakan diri atau lebih tepatnya memaksakan diri untuk melakukan hal itu.
Link terkait: Mengelola Sampah Warga
Sampah bukan MASALAH, SAMPAH ADALAH BERKAH.
Info lengkap pelatihan pengelolaan sampah klik disini: BERKAH DARI SAMPAH
Aku mencoba mulai dari diriku sendiri. Dalam Islam dikenal dengan ibda’ bi nafsi, mulai dari diri sendiri. Lalu orang-orang di sekitarku, keluargaku sendiri. Awalnya agak sulit juga meyakinkan istriku untuk memisahkan sampah menjadi dua kelompok saja: organik – non organik. Lama-lama bisa juga. Kemudian mengajari anak-anakku. Ini lebih mudah daripada meyakinkan istriku, karena aku bisa menggunakan ‘power’-ku sebagai ‘Abi’. Aku bilang, sampah ini dibuang di sini, maka anak-anak akan menurutinya. Mula-mula harus diberi tahu terus, tetapi lama-lama menjadi kebiasaan dan mereka sudah pada tahu sendiri. (lihat di sini). Aku belum mengolah sampah organikku sendiri, baru memisahkannya saja. Ini pun masih banyak yang harus dibenahi di rumahku sendiri. Tidak mengapa, paling tidak ini sudah merupakan awal yang bagus.