Monthly Archives: November 2019

Foto Ularku yang Paling Laku di Shutterstock

Awalnya cuma iseng saja naruh foto untuk ‘dijual’ di Shutterstock. Gara-gara diming-imingi sama temen. Banyak banget soalnya foto di hardiskku. Kira-kira setahun yang lalu saya pelan-pelan mulai upload foto di Shutterstock. (Silahkan baca di link ini: Dapat Approval dari Shutterstock). Nggak terasa sudah 800-an foto aku upload. Foto-fotonya macam-macam sih. Laku Alhamdulillah, tidak juga ndak apa-apa. Iseng-iseng berhadiah.

Pelan-pelan mulai ada fotoku yang di download. Belum banyak yang di download sih, saat ini baru sekitar 116x dowload dari 800 foto. Dan sudah dua kali dapat trasfer dari Shutterstock. Lumayan buat ganti pulsa untuk upload.

Dari sekian banyak foto yang sudah saya upload, ternyata foto yang paling ‘laku’ ada foto ular cobra yang saya ambil di alun-alun Magelang.

Meskipun tidak seaktif dulu lagi, tapi sampai sekarang saya masih upload foto-foto. Kadang-kadang foto yang saya ambil dengan kamera mirrorless atau kamera HP saja.

Meskipun tidak banyak, lumayan lah. Ibaratnya nabung sedikit-demi sedikit.

Foto ular cobra

Continue reading

Kisah-kisah di ArasoE: Bukit Teletubies Mario

Bukit Telebubies adalah sebutan untuk bukit kecil di kebun Mario, Kec. Mare, Kab. Bone. Bukit ini berada di tengah kebun tebu yang luasnya 100-an ha. Letaknya tidak jauh dari jalan poros Sinjai-Watapone. Bukitnya kecil, tapi pemandangan di sini memang fotogenik. 

Pas saya ke sana, sedang musim kemarau panjang. Rumput-rumputnya kering dan ada bekas sisa pembakaran daduk tebu. 

Kalau pas musim hujan, bukit ini tampak hijau segar. 

Kisah-kisah di ArasoE: Pengembala Kesurupan di Sibulue

Sibulue adalah nama gunung kecil atau bukit di sebelah utara pabrik gula. Di sekeliling gunung ini terletak beberapa kebun tebu; Sibulue, Polewali, Kaju dan ArasoE. Nama-nama kebun sama dengan nama desa yang mengelilingi bukit Sibulue. Beberapa tempat di bukit Sibulue ini terkenal angker dan ada ‘penunggu’-nya. Kepercayaan masyarakat setempat.

Bukit Sibulue bukan bukit yang besar. Bukit ini banyak batu-batu kapurnya. Batu-batunya ada yang berukuran besar. Pohon-pohonnya tidak terlalu lebat dan rapat. Malah cenderung jarang-jarang, karena sedang musim kemarau panjang seperti saat ini. Rumput-rumputnya nampak kuning kecoklatan karena kering.

Warga kampung sekitar bukit Sibulue banyak yang memilhara sapi. Sapi-sapi itu digembalakan di pematang-pematang kebun tebu, di sawah-sawah atau di ladang-ladang terbuka lainnya yang ada rumpunya. Banyak juga warga yang membuat kandang di kaki bukit Sibulue. Luas kandangnya bisa ratusan meter dan diisi beberapa ekor sapi. Kadang ini dikelilingi oleh pagar kayu atau bambu dan kawat berduri. Setiap hari yang punya sapi akan datang dua kali, pagi dan sore hari, untuk memberi minum dan pakan untuk sapi-sapinya.

Ada juga peternak yang memiliki banyak ekor sapi, tetapi tidak punya kadang di kaki bukit. Mereka biasanya mengembalakan sapi-sapinya di kaki bukit Sibulue. Suatu hari ada warga desa yang mengembalakan sapinya ke Sibulue. Semua tanpak normal-normal saja. Pengembala menunggu sapi-sapinya makan sambil berteduh di bawah pohon. Dia mengawasi sapi-sapinya dari kejauhan. Mereka biasanya membawa bekal makan, minum dan tentunya juga rokok.

Si pengembala merasa pingin buang hajat kecil. Dia berdiri dari tempat duduknya semula. Lalu ‘clingak-clinguk’ mencari tempat yang relatin ‘aman’. Dia berjalan menuju balik batu besar dan melampiaskan hajatnya di situ. Seeerr…..  Lega.

Tiba-tiba…. belum selesai dia memasukkan burungnya lagi, lehernya seperti tercekik.

“eerrgghhhh…..”

Buru-buru dia merapikan diri lalu kembali ke tempatnya semula sambil sedikit berlari. Tangannya memegangi lehernya. Tak berapa lama wajahnya memerah…..lalu lama-lama membiru………..

Dia beranjak pulang dengan langkah sedikit gontai…sapi-sapinya ditinggalkannya begitu saja. Di tengah jalan dia ketemu dengan tetangganya…

“Kenapa kamu…???” tanya tetangganya dengan terheran-heran.

Si pengembala tidak banyak menjawab, hanya menunjuk ke lehernya yang agak susah bernapas. Tetangganya mengantarkannya pulang ke rumah. Dia ditidurkan di tempat tidurnya.

Kabar menyebar dengan cepat. Tetangganya berdatangan ke rumah kayunya, karena penasaran dan pingin tahu. Rumahnya jadi ramai.

Singkat cerita, mereka jadi tahu kalau si pengembala ini ‘mungkin’ kerusupan atau diganggu jin. Mereka memanggil tetua kampung untuk menolongnya.Tetua kampung datang dan melihat kondisinya. Lalu dia berkata pada keluarganya:

“Ambilkan ayam….!”

Keluarganya pun segera mencari ayam dan diserahkan ke tetua kampung itu.

Continue reading

Kisah-kisah di ArasoE: Mahasiswi Kesurupan di Lerang


Sejak bulan puasa yang lalu saya ditugaskan di Kab. Bone. Pertama kali di Camming dan kemudian di ArasoE. Ada banyak kisah-kisah menarik yang ingin saya ceritakan di sini. Saya kisahkan di sini agar menjadi kenangan yang tak terlupakan. Semoga kisah-kisah ini juga bermanfaat untuk pengunjung blog ini. Selamat membaca.


Dua Mahasiswi Kesurupan di Lerang

Awal bulan Agustus ini ada sepuluh mahasiswa politan Pangkep yang magang. Enam orang perempuan dan empat orang laki-laki. Mereka magang selama kurang lebih tiga bulan di PG Bone ArasoE (PGB). Selama magang mereka di bawah bimbingan dari Risbang PGB. Orang Risbang yang menentukan aktivitas harian mereka. Kadang-kadang mereka di pengolahan lahan, kadang-kadang di pembibitan, kadang-kadang di penanaman atau di pemeliharaan tanaman.

Beberapa hari ini mereka diminta membantu penanaman KBI (Kebun Bibit Induk) oleh Pak SKW Risbang (SKW = Sinder Kebun Wilayah). Lokasi penanamannya di kebun Lerang 1. Kebun Lerang letaknya di wilayah desa Lerang. Posisinya agak di pinggir kebun dan berbatasan dengan lahan warga. Kebun ini dibatasi oleh sungai kecil dan banyak pohon-pohon rindang di pingir kebun ini. 

Mahasiswa magang ini membantu sejak mulai potong bibit sampai tanamnya. Kebetulan pada saat ini tenaga tebang dan tanam sedang sulit, jadi mereka yang membantu Risbang untuk penanaman KBI ini. Bibit diambil dari kebun bibit milik risbang yang ada di depan kantor Peltek (Pelayanan Teknis). Bibit diangkut dengan mobil pick up risbang yang sudah tua. Dan mahasiswa ini juga ikut naik di mobil pick up ini.

Bibit diturunkan di pinggir kebun, di bawah pohon-pohon yang rindang. Di sini teman-teman berkumpul. Beberapa ibu-ibu buruh tanam sudah menunggu di situ. Bak kayu berukuran 2m x 1m sudah disiapkan. Bak ini untuk merendam bibit dengan biostimulan Sucrosin. Namun air untuk merendamnya belum datang. Jadi mereka menunggu di bawah pohon sambil bercanda-canda.

Jam menunjukkan jam 9.30 lewat. Angin bertiup sepoi-sepoi membuat mata jadi berat dan rasanya pingin tiduran saja. Ada dua orang mahasiswi yang tiduran di atas tumpukan bibit. Mereka tampak terlelap dan tidak menghiraukan suara ribut teman-temannya yang bercanda. 

Penanaman bibit pun di mulai. Mereka tetap tiduran. Teman-temannya membiarkan saja mereka tidur. Soalnya, mereka tidur lelap sekali. Kasihan. Mungkin kecapaian.

Cuaca terik sekali di kebun. Panas menyengat. Maklum, ArasoE dekat dengan pantai dan tingginya hanya beberapa puluh dpl saja. Tapi suasana di bawah pohon memang teduh, dingin dan angin berhempus pelan. Dua orang mahasiswi itu tetap saja tertidur. 

Sampai akhirnya setelah matahari telah bergeser dari ubun-ubun kepala, mereka bersiap-siap untuk istirahat pulang. Mahasiswi itu dibangunkan temannya dan dipapah ke atas mobil pick up. Mereka berjalan gontai dan melanjutkan istirahatnya di atas mobil. 

Jalan kebun nggak rata, jalan tanah yang dikeraskan dengan batu-batu kali. Meski mobil terguncang-guncang dengan keras, dua orang mahasiswi ini masih melanjutkan istirahatnya. Sepertinya mereka kecapaian sekali. Jarak antara kebun ke mess lumayan jauh, 30 menit perjalanan. 

Sampai di rumah. Mereka tetap saja masih mengantuk. Matanya berat dan mereka mengelosor di lantai kamar. Cuaca memang panas banget. Lebih nyaman tidur di lantai yang pakai alas plastik. Mereka berdua melanjutkan mimpinya yang terputus tadi. Teman-temannya membiarkan saja mereka tidur. Teman-temannya ada yang makan dan sholat. 

Sampai menjelang asar mereka tetap belum makan dan belum sholat. Teman-temannya mulai curiga. Lalu, mereka membangunkan dua orang ini.

Continue reading