Category Archives: Bogor

Rough Opal Batu Kalimaya Banten

Rough Labradorite

Bahan Kalimaya Teh yang Full Jarong/Play Colour

Rough Kalimaya/Opal Banten

Rough Opal Kalimaya Banten

Bahan kalimaya teh yang full jarong. Warnanya cantik sekali.

Melanjutkan posting kemarin tentang keberuntungan Abim mendapatkan bahab Black Opal full jarong. Masih ada bahan opal kalimaya lain. Setelah diamati memang kalimaya batu yang cantik. Sayang, ukurannya yang sak upil-upil. Ada dua bahan yang sak upil-upil ini. Perhatikan warna ‘jarongnya’, penuh dan dalam sekali.

Rough Opal Kalimaya Banten

Bahan kalimaya banten. Ukurannya umumnya kecil. Sepintas seperti pecahan batu biasa,

bahan kalimaya opal banten full jarong

Bahan kalimaya/opal banten yang full jarong. Warna bening.

bahan kalimaya opal banten full jarong

bahan kalimaya opal banten full jarong

bahan kalimaya opal banten full jarong

bahan kalimaya opal banten full jarong


Continue reading

Presentasi Cara Membuat Kompos Sampah Organik Rumah Tangga

Ini adalah slide presentasi yang saya buat tentang pengelolaan sampah, salah satunya adalah cara membuat kompos dari sampah organik rumah tangga dan sampah-sampah organik lainnya. Cara pengomposan sampah organik yang saya buat ini merupakah kumpulan dari berbagai pengalaman saya melakukan pengomposan sampah organik dengan menggunakan aktivator Promi.

Sampah organik yang berbeda memerlukan penanganan dan cara pengomposan yang sedikit berbeda. Misalnya saja, sampah organik rumah tangga yang dibuat dengan skala lebil kecil untuk satu rumah cara pengomposannya akan berbeda dengan cara pengomposan di TPS atau di TPA (Tempat Pembuangan Akhir Sampah).

Saya mengembangan cara pengomposan yang sesederhana mungkin dengan menggunakan Promi. Promi berisi tiga macam mikroba dan sudah digunakan untuk pengomposan sampah organik rumah tangga, seresah daun, kotoran hewan (kohe) sampi, kambing, domba, ayam, limbah perkebunan dan limbah industri kayu.

Labrador Klep Warna Biru

Rough Black Opal Full Play Colour

Abim hari ini beruntung mendapatkan bahan blak opal yang sudah keluar jarongnya. Awalnya jarongnya hanya terlihat sedikit di ujungnya. Warnanya merah menyala. Oleh Abim bahan black opal ini direndam dengan minyak zaitun dan sedikit digosok. Ternyata setelah digosok baru ketahuan jika jarongnya sudah full. Warnanya macam-macam: merah, hijau, biru, kuning. Hanya saja ukurannya yang kecil. Kalimaya dan black opal memang jarang yang berukuran besar. Umumnya kecil-kecil semua.

rough black opal kalimaya

Rough Black Opal Full Play Colour

Modus Anak Pengemis dan Pemulung di Ciomas

Hati siapa yang tidak akan ‘trenyuh’ kalau melihat anak kecil mengemis dan memulung. Rasa iba akan meluluhkan hati para dermawan untuk mengulurkan tangan dan memberi sedekah pada anak-anak ini. Justru ini yang dijadikan ‘modus’ oleh para pengemis-pengemis ini.

Kalau Anda sering melintasi jalan Pasir Kuda – Ciomas, Bogor, dalam minggu-minggu terakhir ini mungkin sering melihat anak kecil yang duduk di belokan Bojong Menteng dekat Sekolah Rimba Raya. Anak ini duduk sambil membawa kantung plastik besar dan memasang wajah yang seperti kesakitan. Siapa pun orang yang melihatnya pasti akan iba. Banyak orang yang melintas dan memberikan uang atau makanan.

Anak ini adalah anak yang sama, kira-kira setengah tahun yang lalu yang sering lewat di perumahan kami. Waktu itu dia juga duduk sambil memegangi perutnya. Selepas magrib dan hujan rintik-rintik. Dia seperti meringis menahan sakit dan lapar. Saya panggil anak itu, saya ajak ke rumah. Saya tanyakan siapa namanya, berapa umurnya, tinggal di mana, masih sekolah tidak dan kenama memulung.

Dia menyebutkan namanya. Tinggalnya di Kreteg. Ibunya di rumah dan ada seorang adiknya. Bapaknya katanya galak, suka mabuk dan suka berjudi. Dia masih sekolah kelas 5. Dia memulung untuk membantu mencari uang keluarga buat makan. Dia bercerita kalau dia dan adiknya belum makan.

Hati saya luluh. Saya beri dua uang, cukup untuk makan sekeluarga beberapa hari. Saya kasih juga makanan yang ada di rumah. Saya berjanji akan mencoba mencarikan donatur/dermawan yang bisa memberikan bantuan sehingga dia tidak perlu lagi memulung atau mengemis. Saya juga berencana untuk menengok rumahnya. Ketika saya mau antar dia pulang, dia menolak diantar.

Beberapa hari kemudian dia muncul lagi. Saya beri lagi sedikit rizqi. Ini berlangsung cukup lama. Lama-lama saya ‘curiga’ juga. Anak ini kalau dikasih makanan seperti menolak dan lebih memilih dikasih uang.

Kemudian dia mangkal di jalan dekat masjid. Selepas sholat berjama’ah banyak yang lewat jalan ini. Saya tanya ke Pak Haji tetangga saya, “Kasihan anak itu, Pak Haji,”
“Biarkan saja, anak itu memang kerjaannya mengemis”,

Saya sedikit kaget dengan jawaban Pak Haji ini setahu saya adalah orang yang dermawan.

Lama-lama saya juga tidak lagi rutin memberi uang ke anak ini.

Entah sejak kapan, anak ini tidak lagi terlihat di komplek perumahan kami. Tahu-tahu dia sudah ada di pertigaan Bojong Menteng itu.

Saya mencoba mencari tahu ke tetangga sekitar dan beberapa orang tentang anak ini. Saya terkejut dan sedikit jengkel juga. Pertama, anak ini tinggal di kampung di dekat sekolah anak saya. Beberapa teman anak saya kenal dan tahu anak ini. Pantas saja anak saya tidak mau ketika saya minta untuk memberikan sedekah ke anak ini.
“Bi, nggak usah ngasih uang ke anak itu,”
“Kenapa?”
“Kata temenku, uangnya dipakai untuk ‘ngenet’ di warnet di dekat sekolah.”
“Masa…???”
“Iya…Abi sih suka nggak percaya.”

Di pertigaan Bojong Menteng (Bomen), saya coba tanya ke pedagang sepatu dan tukang gosok batu.

“Uuuuu…anak itu mah…memang begitu. Bandel.”
“Tuh….noh Bapaknya nongkrong di warteg. Bapaknya jagain di sana.”

Orang-orang di situ mengenal Bapaknya yang suka berjudi dan mabok. Dia yang mengajari anaknya untuk memulung dan mengemis. Dia gunakan uang itu untuk main judi dan mabok. Anaknya juga sama saja, lebih banyak menggunakan uangnya untuk ‘berfoya-foya’ dan main di warnet.

“Coba dikasih makanan, pasti anak itu tidak mau. Maunya dikasih uang.”

Saya baru menyadari kenapa tetangga saya yang awalnya iba dan kasihan, kemudian berubah mengacuhkan anak ini. Sebenarnya ada banyak lembaga dan dermawan yang bisa dan bersedia untuk membantu biaya hidup dan biaya sekolah anak ini. Tetapi, kalau anaknya sendiri lebih memilih untuk ‘menjual’ kefakirannya dan seperti tidak mau di tolong, mau bagaiman lagi.

Toko Mesin Jahit Singer di Bogor

Toko mesin jahit Singer Bogor

Toko Singer Bogor

Kalau ditanya apa merik mesin jahit yang paling terkenal di Indonesia, jawabannya ya Singer. Mesin jahit ini sudah masuk ke Indonesia sejak jaman penjajahan Belanda. Perwakilan-perwakilan Singer bahkan pernah melakukan konvensi pada tahun 1892. Simbah saya saja belum lahir. Nah, di Bogor ada toko perwakilan Singer yang ada di Jl. Merdeka. Model tokonya masih terkesan kuno, meski ketika saya datang kemarin sudah dicat ulang dengan warna merah.

Toko Singer ini merupakan salah satu toko singer yang ‘senior’. Bagian display toko sudah dipermak menjadi lebih terlihat modern. Di bagian tengah ada tempat administrasi dan bagian dalam/belakang tempat reparasi mesin jahit. Di bagian tengah ini ada tangga kuno yang menuju ke lantai 2. Konon, kata karyawan di toko Singer itu, ‘penunggu’-nya noni-noni Belanda. Noni-noni ini biasa duduk di anak tangga itu. hiiiiiii……..

Ada sebuah perjanjian antara Singer dengan pemilik toko/lahan. Toko ini tidak bisa dipindahtangankan atau diperjual belikan tanpa sepersetujuan Singer. Jadi sampai sekarang, bahkan setelah bertahun-tahun toko ini tetap menjadi toko Singer.

Toko ini juga menjadi pusat service mesin jahit, baik yang bermerek Singer atau merek yang lain. Di kalangan komunias Singer Indonesia, toko ini juga menjadi rujukan untuk reparasi mesin jahit. Teknisi-teknisinya cukup terampil dan bersertifikat internasional.

Toko ini juga menjual mesin singer, mulai dari yang baru sampai yang model lama. Ada banyak modelnya dengan harga yang bervariasi.Lengkap lah menurut saya.

Toko mesin jahit Singer Bogor

Konvensi Singer Indonesia 1982


Continue reading

Tanaman Karet Pertama Kali Ditanam di Bogor

image

Tanaman karet pertama di Indonesia di tanam tahun 1876 di Cultuurin Bogor.

Indonesia adalah produsen lateks/karet terbesar kedua di dunia. Tanaman karet bukanlah tanaman asli Indonesia. Pertama kali ditanam di Bogor, Jawa Barat tahun 1876 . Dari sini kemudian menyebar ke Sumatera dan Jawa. Penjajah Belanda menjadikan Indonesia sebagai daerah perkebunan karet dan akhirnya menjadi salah satu produsen karet terbesar di dunia.

image

image