Tag Archives: Ciomas

Puasa Ngowes ke Tanjakan Sengked, Ciomas

Abim hobi naik sepeda. Meski di bulan puasa Ramadhan seperti ini, Abim tetap saja ngowes. Kali ini dia sudah siap-siap ngowes pagi-pagi sekali. Tujuannya adalah tanjakan Sengked Ciomas. Orang menyebutnya tanjakan setan, karena tinggi dan kemiringannya yang tidak mudah ditaklukan. Jaraknya kurang lebih satu km dan kemiringannya sampai 40o. Miring banget.

Tidak banyak orang yang bisa sekali naik bisa sampai atas tanpa berhenti. Dulu Abim tidak bisa nanjak tanpa berhenti, tapi sekarang dia sudah bisa nanjak ke tanjakan Sengked tanpa berhenti sampai atas.

Silahkan dicoba kalau ada yang punya stamina dan nyali.

Ini salah satu jagoan tanjakan Sengked. Pak Rudi.

Advertisements

Pak Rudi, Jagoan Sepeda Tanjakan Sengked – Ciomas

Modus Anak Pengemis dan Pemulung di Ciomas

Hati siapa yang tidak akan ‘trenyuh’ kalau melihat anak kecil mengemis dan memulung. Rasa iba akan meluluhkan hati para dermawan untuk mengulurkan tangan dan memberi sedekah pada anak-anak ini. Justru ini yang dijadikan ‘modus’ oleh para pengemis-pengemis ini.

Kalau Anda sering melintasi jalan Pasir Kuda – Ciomas, Bogor, dalam minggu-minggu terakhir ini mungkin sering melihat anak kecil yang duduk di belokan Bojong Menteng dekat Sekolah Rimba Raya. Anak ini duduk sambil membawa kantung plastik besar dan memasang wajah yang seperti kesakitan. Siapa pun orang yang melihatnya pasti akan iba. Banyak orang yang melintas dan memberikan uang atau makanan.

Anak ini adalah anak yang sama, kira-kira setengah tahun yang lalu yang sering lewat di perumahan kami. Waktu itu dia juga duduk sambil memegangi perutnya. Selepas magrib dan hujan rintik-rintik. Dia seperti meringis menahan sakit dan lapar. Saya panggil anak itu, saya ajak ke rumah. Saya tanyakan siapa namanya, berapa umurnya, tinggal di mana, masih sekolah tidak dan kenama memulung.

Dia menyebutkan namanya. Tinggalnya di Kreteg. Ibunya di rumah dan ada seorang adiknya. Bapaknya katanya galak, suka mabuk dan suka berjudi. Dia masih sekolah kelas 5. Dia memulung untuk membantu mencari uang keluarga buat makan. Dia bercerita kalau dia dan adiknya belum makan.

Hati saya luluh. Saya beri dua uang, cukup untuk makan sekeluarga beberapa hari. Saya kasih juga makanan yang ada di rumah. Saya berjanji akan mencoba mencarikan donatur/dermawan yang bisa memberikan bantuan sehingga dia tidak perlu lagi memulung atau mengemis. Saya juga berencana untuk menengok rumahnya. Ketika saya mau antar dia pulang, dia menolak diantar.

Beberapa hari kemudian dia muncul lagi. Saya beri lagi sedikit rizqi. Ini berlangsung cukup lama. Lama-lama saya ‘curiga’ juga. Anak ini kalau dikasih makanan seperti menolak dan lebih memilih dikasih uang.

Kemudian dia mangkal di jalan dekat masjid. Selepas sholat berjama’ah banyak yang lewat jalan ini. Saya tanya ke Pak Haji tetangga saya, “Kasihan anak itu, Pak Haji,”
“Biarkan saja, anak itu memang kerjaannya mengemis”,

Saya sedikit kaget dengan jawaban Pak Haji ini setahu saya adalah orang yang dermawan.

Lama-lama saya juga tidak lagi rutin memberi uang ke anak ini.

Entah sejak kapan, anak ini tidak lagi terlihat di komplek perumahan kami. Tahu-tahu dia sudah ada di pertigaan Bojong Menteng itu.

Saya mencoba mencari tahu ke tetangga sekitar dan beberapa orang tentang anak ini. Saya terkejut dan sedikit jengkel juga. Pertama, anak ini tinggal di kampung di dekat sekolah anak saya. Beberapa teman anak saya kenal dan tahu anak ini. Pantas saja anak saya tidak mau ketika saya minta untuk memberikan sedekah ke anak ini.
“Bi, nggak usah ngasih uang ke anak itu,”
“Kenapa?”
“Kata temenku, uangnya dipakai untuk ‘ngenet’ di warnet di dekat sekolah.”
“Masa…???”
“Iya…Abi sih suka nggak percaya.”

Di pertigaan Bojong Menteng (Bomen), saya coba tanya ke pedagang sepatu dan tukang gosok batu.

“Uuuuu…anak itu mah…memang begitu. Bandel.”
“Tuh….noh Bapaknya nongkrong di warteg. Bapaknya jagain di sana.”

Orang-orang di situ mengenal Bapaknya yang suka berjudi dan mabok. Dia yang mengajari anaknya untuk memulung dan mengemis. Dia gunakan uang itu untuk main judi dan mabok. Anaknya juga sama saja, lebih banyak menggunakan uangnya untuk ‘berfoya-foya’ dan main di warnet.

“Coba dikasih makanan, pasti anak itu tidak mau. Maunya dikasih uang.”

Saya baru menyadari kenapa tetangga saya yang awalnya iba dan kasihan, kemudian berubah mengacuhkan anak ini. Sebenarnya ada banyak lembaga dan dermawan yang bisa dan bersedia untuk membantu biaya hidup dan biaya sekolah anak ini. Tetapi, kalau anaknya sendiri lebih memilih untuk ‘menjual’ kefakirannya dan seperti tidak mau di tolong, mau bagaiman lagi.

Ciomas; Sentra Industri Kecil Sepatu di Bogor

Sentra Sepatu Ciomas Bogor

Sepeda motor yang mengangkut sepatu di jalanan Ciomas.

Entah sejak kapan Ciomas menjadi sentra industri kecil sepatu. Yang jelas saat ini di wilayah Ciomas dan sekitarnya banyak pengrajin sepatu rumahan. Mereka memproduksi sepatu pesanan toko. Bukan hanya satu dua rumah, tetapi banyak penduduk Ciomas yang mengais rejeki dengan membuat sepatu.

Kalau Anda berkunjung ke Ciomas akan banyak ditemui sepeda motor yang membawa tumpukan kardus sepatu. Di jalan Ciomas, Pasir Kuda, Cikaret dan Ciapus. Mereka membawa  dari rumah-rumah pengrajin ke toko grosir sepatu di Pasar Anyar Bogor.

Mereka tidak membuka toko sepatu sendiri, tapi hanya membuat khusus pesanan toko. Pengrajin juga tidak menjual sepatu secara eceran/grosir di rumah2. Jadi tidak banyak toko yang menjual sepatu di daerah Ciomas, seperti yang banyak dijumlai di Cibaduyut, Bandung. Justru yang banyak ditemui adalah toko2 yang menjual bahan2 untuk membuat sepatu.

Continue reading

Tempat Belanja Murah di Ciomas

Minimarket ‘branded’ banyak bertebaran di sudut-sudut kota Bogor, bahkan sampai ke daerah-daerah pingiran dengan interval jarak yang sangat dekat sekali. Belanja di minimarket ‘branded’ memang enak, tapi harga-harganya miring ke atas. Beberapa item lebih mahal dari warung-warung kecil. Untungnya di daerah Ciomas ada tempat-tempat belanja yang murah sekali untuk belanja kebutuhan sehari-hari/bulanan, namanya Toko ‘Barokah Lestari Makmur’. Toko grosir dan eceran langganan warung-warung di seputaran Ciomas.

Saya diberitahu toko ini oleh ibu kostku dulu. Beliau tahu, anak kost uangnya mempet, karena itu dia memberitahu tempat belanja yang harganya murah-murah. Awalnya Toko Lestari Makmur ada di pertigaan pintu ledeng, dekat pasar Ciomas lama. Toko ini berkembang pesat hingga membuat toko yang lebih besar mirip supermarket di dekat Kantor Kecamatan Ciomas. Kalau dari arah Kecamatan posisinya ada di kanan jalan. Toko ini selalu ramai, buka mulai jam 7.30 sampai 20.30 malam.

Langganan toko ini adalah para pedagang-pedagang warung yang ada di kampung-kampung di sekitar Ciomas. Warung-warung di komplek kami pun juga belanja di toko ini. Harganya jauh lebih murah daripada harga di Minimarket yang menjamur di sepanjang jalan ini. Contoh sederhana saja, harga mie instan; harga eceran lebih murah sampai 15%. Harga grosir bisa lebih murah 20%. Hampir semua barang harganya murah.

Untuk belanja kebutuhan bulanan seperti: sabun, detergen, pewangi, pasta gigi, shampoo, gula, beras, tepung, mie instant, minuman instant, kertas tissue, saus, minyak goreng, telor dan makanan kecil. Kalau belanja di toko ini cukup untuk satu bulan, dengan uang yang sama jika belanja minimarket hanya cukup untuk tiga minggu. Memang sih, sebagian besar barang-barang di toko ini dijual grosir dan kalau beli harus satu kotak atau satu renteng, tidak bisa satuan.

Tempat Beli Susu dan Minyak

Sebagian besar belanjaan kami beli di Toko Lestari Makmur, kecuali susu dan minyak goreng. Untuk susu dan minyak goreng ada toko yang juga murah harganya, yaitu Toko Serasi. Harga susu instant, susu bayi dan minyak goreng lebih murah daripada di Toko Lestari Makmur. Kecuali harga susu kotak, harga susu kotak di toko ini lebih tinggi dari pada di toko Lestari Makmur.

Letak toko ini memang tidak strategis. Posisinya pas di belokan dan tempat parkirnya agak sempit. Meski tidak strategis banyak langganannya, terutama yang punya bayi dan anak kecil. Dari Toko Lestari Makmur masih jalan sedikit ke arah Cikoneng, posisinya tepat di seberang gang masuk ke Cikoneng.

Untuk belanja-belanja kecil lainnya, kami biasanya beli di warung dekat rumah saja. Meski di warung kecil, harganya lebih murah daripada di minimarket. Kami sangat jarang belanja di minimarket. Hanya sekali-sekali saja kami belanja di minimarket. Kasihan juga warung-warung kecil ini, keberadaannya terdesak oleh minimarket.

Di Bogor Cuma Dua Pilihan: Kalau Tidak Macet Ya…. Macet Banget

KEMACETAN YANG TIDAK ADA PILIHAN

Kota Bogor memiliki banyak julukan. Dulu julukan kota Bogor adalah Kota Hujan. Itu dulu….. Sekarang Bogor punya banyak julukan lain: KOTA SEJUTA ANGKOT dan KOTA MACET. Saya yang sudah lumayan lama tinggal di Bogor memang benar-benar merasakan bagaimana tersiksanya dengan kondisi jalan di Kota Bogor ini. Sampai-sampai ada anekdot yang cukup terkenal di kota Bogor; Di Bogor cuma ada dua pilihan: kalau tidak macet ya macet banget.

Saya tinggal di pingiran kota yang jadi langganan kemacetan; Ciomas. Banyak simpul-simpul kemacetan di jalur yang setiap hari saya lewati. Bayangkan saja. Jarak rumah saya dengan kantor hanya 6.8 km (saya hitung pakai speedometer). Kalau saya naik mobil ke kantor, waktu tempuhnya 1:00 – 1:15 menit, kalau saya naik motor waktu tempuhnya 30 – 45 menit, kalau naik angkot waktu tempunya 1:30 menit. Artinya kecepatan kendaraan hanya 6.8 – 13.6 km per jam. Gila kan???!!! Kadang-kadang jalur ini super macet. Pernah saya dari rumah ke kantor naik mobil ditempuh dengan waktu 2 jam lebih. Minggu-minggu ini entah kenapa jalur tempat saya hampir selalu macet parah setiap hari. Celakanya, jalur ini sangat minim jalur alternatif untuk menghindar dari kemacetan. Jika sudah kena macet, tidak ada pilihan lain, kecuali putar balik kembali ke rumah.

Rumah saya ada di Ciomas, dekat dengan kantor kecamatan Ciomas. Ada beberapa simpul kemacetan di jalur ini. Mulai dari yang paling bawah dulu: pertigaan Kretek Ciomas, depan Bukit Asri Ciomas, depan Villa Ciomas, pertigaan pintu ledeng, pertigaan Ciomas Harapan dan SMP PGRI 1, pertigaan Pasir Kuda, pertigaan Gunung Batu, Merdeka sampai depan Station.

Continue reading

Kuliner: Mie Hotplate Murah di Ciomas; WHO

Meski lokasinya tidak jauh dari rumah, kami jarang mampir ke tempat ini. Kami juga tahu kalau tempatnya selalu ramai dengan anak-anak muda. Kami baru sekali makan beberapa malam yang lalu. Ternyata masakannya memang enak, hot, super pedas, dan harganya sangat bersahabat. Pantesan selalu ramai.

Nama tempatnya W.H.O. Singkatan dari Waroeng Hotplate Odon. Tempat makan ini mengusung kosep heavy metal. Anak muda baget. Warnanya didominasi warna merah dan ditempeli poster2 ukuran besar bintang musik rock dan heavy metal. Semua pramusajinya laki2 muda. Umurnya saya kira tidak ada yang lebih dari 25 tahun. Meja dan kursinya biasa-biasa saja.

image

Menikmati mie hotplate WHO Ciomas

Continue reading

Catatan Ciengkek (lagi)

image

Ciengkek masih jadi tantangan untuk ditaklukkan. Saya coba mengukur berapa jarak dan tinggi tanjakan Ciengkek ini. Pengukuran di mulai dari jembatan kali Ciomas yang ada di dekat  pangkalan pasir. Untuk mengukur ketinggian saya menggunakan aplikasi Altimeter untuk Smartphone Android. Ketinggian di posisi awal ini terbaca 286 dpl.

image

Untuk mengukur jarak tempuh dan waktunya saya menggunakan aplikasi Endomondo. Dengan aplikasi ini saya bisa merekam jejak di peta Google Maps, jarak yang ditempun dan waktu tempuhnya. Saya bersepeda berdua saja dengan Arroyan.

Continue reading

Catatan Main Sepeda Hari Ini, Ming 26/10/14

image

Cari keringat, berdua saja sama Si Abim. Jalanan naik uphill, lewat sawah2, kampung2, tanjakan, dan sungai. Jaraknya tdk begitu jauh, 1 jam saja.