Catatan Ciengkek (lagi)

image

Ciengkek masih jadi tantangan untuk ditaklukkan. Saya coba mengukur berapa jarak dan tinggi tanjakan Ciengkek ini. Pengukuran di mulai dari jembatan kali Ciomas yang ada di dekat  pangkalan pasir. Untuk mengukur ketinggian saya menggunakan aplikasi Altimeter untuk Smartphone Android. Ketinggian di posisi awal ini terbaca 286 dpl.

image

Untuk mengukur jarak tempuh dan waktunya saya menggunakan aplikasi Endomondo. Dengan aplikasi ini saya bisa merekam jejak di peta Google Maps, jarak yang ditempun dan waktu tempuhnya. Saya bersepeda berdua saja dengan Arroyan.

Royan masih muda, tenaganya tenaga kuda, napasnya panjang, Arroyan punya endurance yang lebih baik dari saya. Sejak dari start awal Arroyan sudah melaju di depan. Kira-kira duaratusan meter pertama saya sudah menyeran dan turun dari sepeda. Arroyan masih terus melaju sampai ke tanjakan belok yang pertama.

Saya terkapar beberapa menit. Napas nggos-nggosan dan detak jantung seperti dikejar setan. Arroyan istirahat dengan posisi berdiri bersandar di sepeda. Setelah napas berangsur normal saya berdiri, dorong sepeda sebentar sampai posisi agak landai baru kembali mengowes. Posisi gigi depan nomor 2 dan gigi belakang nomor 2.

Kami mengowes dengan posisi berdiri. Tidak bisa sambil duduk, karena kalau duduk roda depan akan terangkat. Ngowesnya dengan teknik seperti orang berjalan. Saya mengowes terus sambil mengatur napas. Sekali kayuh tarik napas, sekali kayuh buang napas.

Tarikan ke dua saya hanya mampu berjalan dua kelokan menuju tanjakan lurus yang terpanjang. Saya ‘KO’ di ‘buk’ pertama. Arroyan masih terus mengayuh sampai ke bagian atas.

image

Kali ini saya perlu waktu lebih lama untuk mengatur napas. Perut mulai mual seperti mau muntah. Pandangan meredup. Saya khawatir kalau mau pingsan di tanjakan ini. Ngeri juga di kalau sampai pingsan. Dua tahun lalu ada goweser yang meninggal karena terkena serangan jantung ketika mencoba menaklukkan tanjakan ini.

Setelah agak stabil saya coba mengowes lagi. Arroyan nunggu di atas. Saya tahu, sebenarnya Arroyan bisa terus, dia masih terlihat segar. Saya hanya bisa mengowes kira2 lima puluhan meter. Ini tanjakan paling curam menurut saya. Saya KO lagi di pos bambu. Saya terkapar di sana, napas tersengal2, dan mulai berkunang-kunang. Royan masih sabar menunggu saya menstabilkan stamina saya.

Kaki saya sudah mulai loyo. Saya bilang ke Arroyan kalau saya mau dorong dulu sampai kelokan di ujung tanjakan ini. Bahkan saya minta Arroyan untuk membantu saya mendorong sepeda saya. Saya terkapar sebentar untuk kembali mengatur napas.

Ini tanjakan terakhir. Saya coba naik dan gowes. Posisi gigi 1 dan 1. Posisi gigi paling rendah. Akhirnya dengan sisa napas dan tenaga sampai juga di puncak tanjakan Ciengkek ini.

Di puncak ini ketinggiannya adalah 382 dpl. Jaraknya 1.06 km. Waktu tempuh 28.19 menit termasuk istirahat. Jadi beda ketinggiannya adalah 96 m. Tanjakan tercuram saya rasa diatas 35o – 40o sudutnya.  Curam banget.

Advertisements

One response to “Catatan Ciengkek (lagi)

  1. waaah rutenya dicatet pake google maps ya, ide bagus buat catatan perjalanan nih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s