
Mendengar kata “barang bekas”, apa yang pertama kali terlintas di benak Anda? Kumuh? Rusak? Atau mungkin, tanda ketidakmampuan finansial?
Jujur saja, bagi sebagian besar masyarakat kita, membeli barang baru (brand new in box) seringkali dianggap sebagai simbol kesuksesan. Ada rasa bangga saat membuka segel plastik, mencium aroma “barang baru”, dan menjadi pemilik pertama. Sebaliknya, membeli barang bekas atau second hand seringkali terhalang oleh satu tembok besar bernama: Gengsi.
Padahal, jika kita mau menyingkirkan gengsi itu sejenak dan melihat dari kacamata yang lebih luas, membeli barang bekas adalah salah satu tindakan paling revolusioner yang bisa kita lakukan hari ini. Bukan hanya untuk dompet kita, tapi untuk keberlangsungan tempat tinggal kita: Bumi.
Dalam tulisan bagian kedua tentang Sustainable Habit ini, saya ingin mengajak Anda menyelami dunia thrifting (belanja barang bekas). Mengapa kebiasaan ini perlu kita normalisasi, bahkan kita biasakan sebagai sebuah kebiasaan yang sustainable.
Filosofi di Balik Barang Bekas: Memperpanjang Umur Pakai Barang
Dalam konsep ekonomi sirkular yang saya bahas di tulisan sebelumnya, musuh utamanya adalah budaya “sekali pakai” dan “buang”. Setiap barang yang diproduksi di muka bumi ini—mulai dari baju, gadget, hingga mobil—membutuhkan sumber daya alam. Ada air yang dipakai, mineral yang ditambang, dan emisi karbon yang dilepaskan pabrik saat memproduksinya.
Ketika kita membeli barang baru, kita memberi sinyal ke pasar untuk “tolong ambil sumber daya alam lagi dan buatkan saya yang baru.”
Namun, ketika kita membeli barang bekas yang masih layak pakai dan fungsional, kita sedang melakukan tindakan heroik: Memperpanjang umur pakai (product life cycle) barang tersebut.
Bayangkan sebuah laptop. Energi terbesar yang dihabiskan laptop bukanlah listrik yang Anda pakai untuk men-cas setiap hari, melainkan energi saat proses manufakturnya. Jika laptop itu dibuang setelah 3 tahun, energi itu sia-sia. Tapi jika Anda membelinya dalam kondisi bekas dan memakainya 3 tahun lagi, Anda telah membagi “beban lingkungan” laptop tersebut menjadi jauh lebih ringan.
Jadi, thrifting bukan soal tidak mampu beli baru. Thrifting adalah bentuk penghargaan kita terhadap sumber daya alam yang sudah terlanjur diambil dari bumi.
Level Up: Dari 3R Menjadi 9R
Mungkin sejak sekolah dulu kita sudah sangat akrab dengan mantra lingkungan “3R”: Reduce, Reuse, Recycle. Itu dasar yang bagus, tapi untuk tantangan lingkungan hari ini, 3R saja ternyata tidak cukup.
Dalam konsep Ekonomi Sirkular yang lebih maju, dikenal istilah 9R Framework. Ini adalah tingkatan strategi untuk meminimalkan limbah. Semakin kecil angkanya (R0), semakin tinggi dampak positifnya.
Nah, di mana posisi thrifting atau membeli barang bekas dalam peta 9R ini? Ternyata posisinya sangat tinggi dan krusial:
1. R1: Rethink (Memikirkan Ulang) Sebelum dompet terbuka, thrifting mengajak kita mengubah pola pikir. Kita diajak untuk memikirkan ulang konsep “kepemilikan”. Apakah saya butuh barang yang baru, atau saya hanya butuh fungsinya? Rethink adalah mengubah mindset bahwa barang bekas bukanlah sampah, melainkan sumber daya yang masih bernilai.
2. R3: Reuse (Menggunakan Kembali) Ini adalah inti dari thrifting. Reuse berarti menggunakan kembali produk yang sudah dibuang atau dilepas oleh pemilik pertamanya, yang masih dalam kondisi baik dan berfungsi sesuai tujuan aslinya. Saat Anda membeli baju di pasar loak atau membeli mobil bekas tetangga, Anda sedang melakukan praktik Reuse yang sesungguhnya. Anda mencegah barang itu turun kasta menjadi sampah.
3. R5: Refurbish (Memperbarui) Ini berkaitan erat dengan barang elektronik atau mesin yang saya sebutkan tadi. Refurbish adalah proses pembaruan atau modernisasi barang tua agar kondisinya kembali prima (terkadang up-to-date). Membeli laptop refurbished berarti Anda menghargai upaya pemulihan fungsi. Anda tidak membiarkan kerangka dan komponen mesin yang masih bagus itu dilebur begitu saja (di-recycle), tapi memberinya kesempatan hidup kedua.
Jadi jelas, thrifting bukan sekadar gaya-gayaan. Dalam piramida kelestarian lingkungan, tindakan Reuse dan Refurbish(membeli bekas) itu jauh lebih mulia daripada Recycle (daur ulang). Daur ulang butuh energi besar untuk melebur bahan, sedangkan Reuse nyaris tanpa energi tambahan.

Apa Saja yang Bisa Di-Thrift?
Banyak orang mengira thrifting hanya soal baju import atau fashion anak muda. Padahal, spektrumnya sangat luas. Hampir semua kebutuhan hidup sebenarnya bisa dipenuhi dari pasar sekunder, asalkan kita jeli.
- Kendaraan (Mobil, Motor, Sepeda): Ini adalah contoh paling rasional. Nilai mobil baru bisa turun (depresiasi) hingga 20-30% begitu keluar dari showroom. Membeli kendaraan bekas tahun muda dengan kondisi prima adalah keputusan finansial yang sangat cerdas. Fungsinya sama, harganya jauh berbeda.
- Perkakas dan Alat Pertukangan: Palu, kunci inggris, gergaji, atau bor listrik adalah barang-barang yang didesain tahan banting. Bor bekas yang usianya 5 tahun seringkali masih sama kuatnya dengan bor baru, tapi harganya mungkin tinggal seperempatnya.
- Elektronik dan Gadget: Ini favorit saya. Laptop, kamera, hingga jam tangan. Seringkali orang menjual gadget mereka bukan karena rusak, tapi karena bosan atau ingin upgrade ke model terbaru. Ini adalah peluang emas bagi kita untuk mendapatkan teknologi tinggi dengan harga miring.
- Furnitur: Lemari jati tua atau meja kerja bekas kantor seringkali memiliki kualitas material yang jauh lebih kokoh dibandingkan furnitur partikel serbuk kayu yang dijual di toko modern saat ini.
Mengenal Barang Refurbished: Bekas Rasa Baru
Selain barang bekas murni (used), sekarang kita juga mengenal istilah Refurbished. Ini adalah jalan tengah yang menarik bagi Anda yang masih ragu soal kualitas.
Barang refurbished adalah barang bekas (atau barang retur) yang sudah ditarik kembali oleh pabrikan atau teknisi profesional, diperbaiki komponen yang rusaknya, dibersihkan, diuji ulang fungsinya, dan dijual kembali—seringkali dengan garansi.
Membeli barang refurbished menurut saya adalah sweet spot dalam sustainable living. Kita menyelamatkan barang dari tumpukan sampah elektronik, tapi kita mendapatkan jaminan kualitas yang hampir setara barang baru. Di luar negeri, membeli iPhone atau MacBook refurbished resmi dari Apple adalah hal yang sangat lumrah dan dianggap cerdas.
Cuan dari Barang Bekas
Mari bicara angka. Idealisme lingkungan itu bagus, tapi penghematan uang adalah insentif yang nyata.
Membeli barang second bisa menghemat anggaran Anda mulai dari 30% hingga 50%, bahkan lebih. Bayangkan jika Anda perlu membeli perlengkapan rumah tangga senilai Rp 10 juta. Dengan berburu barang bekas berkualitas, Anda mungkin hanya perlu mengeluarkan Rp 5 juta. Sisa Rp 5 jutanya bisa Anda alokasikan untuk investasi, dana darurat, atau kebutuhan pendidikan anak.
Secara tidak langsung, gaya hidup thrifting membuat kita lebih kaya. Kita mendapatkan fungsi yang sama (fungsionalitas adalah kunci), tapi dengan modal yang jauh lebih kecil.
Seni Berburu Barang Trifting: Teliti Sebelum Membeli
Tentu saja, membeli barang bekas ada seninya. Tidak bisa asal ambil seperti di supermarket. Ada risiko barang tidak berfungsi normal atau cacat tersembunyi. Di sinilah letak tantangan dan keasyikannya. Kita dituntut untuk menjadi pembeli yang cerdas dan kritis.
Berikut beberapa prinsip yang saya pegang:
- Cek Fisik dan Fungsi: Jangan hanya lihat foto. Jika memungkinkan, cek barang secara langsung (Cash on Delivery / COD). Putar semua tombol, cek semua baut, nyalakan mesin.
- Tanya Riwayat: Tanyakan pada penjual, “Kenapa dijual?”, “Pernah servis di mana?”, “Sudah dipakai berapa lama?”. Jawaban penjual seringkali bisa menjadi indikator kondisi barang.
- Bandingkan Harga: Cek harga barunya, cek harga pasaran bekasnya. Pastikan harganya masuk akal. Terlalu murah patut dicurigai, terlalu mahal tidak worth it.
Surga Barang Bekas di Sekitar Kita

Indonesia sebenarnya adalah surganya barang bekas. Kearifan lokal kita dalam memanfaatkan barang sisa sebenarnya sangat tinggi. Di setiap kota, pasti ada “pusat harta karun” yang menunggu untuk diulik.
Jika Anda di Jakarta, pasti tidak asing dengan Pasar Jembatan Item di Jatinegara. Di sana terhampar segala macam barang, mulai dari sepatu bekas, mainan anak, hingga barang antik yang tak terduga. Ada juga Pasar Loak Kebayoran Lama yang legendaris bagi pemburu kamera analog atau barang vintage.
Bergeser ke Yogyakarta, ada Pasar Klitikan Kuncen (Pakuncen) dan pasar malam Senthir di dekat Beringharjo. Bagi pecinta otomotif atau sekadar cari sparepart motor jadul, tempat ini adalah surga.
Bahkan di Depok dan kota-kota penyangga lainnya, kini mulai bermunculan toko-toko modern yang dikhususkan menjual barang-barang bekas terkurasi (biasanya furnitur atau pakaian), atau toko barang bekas Jepang yang sedang menjamur.
Ubah Rasa Malu Jadi Rasa Bangga
Sudah saatnya kita mengubah mindset. Membeli barang bekas bukanlah tanda kemunduran. Justru, itu adalah tanda kemajuan berpikir.
Jangan malu saat teman bertanya, “Lho, itu tasnya baru ya?” lalu Anda menjawab, “Oh nggak, ini beli second, masih bagus kan?”.
Jawaban itu menunjukkan bahwa Anda adalah konsumen yang rasional. Anda mendapatkan barang bagus, harga miring, dan di saat yang sama, Anda telah berkontribusi nyata menahan laju kerusakan bumi. Anda telah menyelamatkan satu barang dari TPA dan mencegah satu barang baru diproduksi dengan emisi karbon.
Jadi, untuk kebutuhan Anda berikutnya—entah itu ganti HP, beli meja belajar anak, atau cari perkakas—cobalah cek pasar barang bekas dulu sebelum ke toko barang baru. Siapa tahu, jodoh Anda ada di sana.
Teliti sebelum membeli, dan selamat berburu harta karun!















