Tag Archives: Sawit

Tubuh Silika (Silica Bodies), salah satu keunikan tandan kosong kelapa sawit

tandan kosong kelapa sawit

Serabut tandan kosong kelapa sawit (TKKS) diselimuti oleh tubuh silika (silica bodies).

Tandan kosong kelapa sawit (TKKS) jika dicacah-cacah akan menghasilkan serabut seperti serabut kelapa. Jika di lihat di bawah mikroskop, serabut-serabut kelapa sawit ini seperti ditempeli dengan paku-paku yang menyelimuti seluruh permukaan serabut TKKS tersebut. Bentuk-bentuk seperti mata paku ini adalah tubuh silika (silica bodies). Tubuh silika ini adalah pelindung. Tubuh silika ini juga yang menyebabkan pisau mesin cacah tankos sawit cepat aus. Apalagi kalau tidak dibuat dari baja yang kuat.

tubuh silika tandan kosong kelapa sawit

Serabut tandan kosong kelapa sawit (TKKS) diselimuti oleh tubuh silika (silica bodies).

Selulosa dari Tandan Kosong Kelapa Sawit

Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) volumenya luar biasa besarnya di Indonesia. TKKS bisa dimanfaatkan untuk bermacam-macam produk, tidak hanya sekedar kompos saja. Salah satu langkah awal pemanfaatan TKKS adalah mengekstrak selulosa.

Beberapa tahun yang lalu, saya sudah bisa membuat pulp dari TKKS. Prosesnya dengan sedikit memodifikasi teknik yang banyak dipakai di industri pulp. Saya juga mencoba membuat pulp dengan memanfaatkan jamur.

image

Pulp dari tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS)

Continue reading

Pembuatan Kompos Sisa Pangkasan Pelepah Sawit dengan Promi

kompos pelepah sawit promi

Sisa pangkasan pelepah yang bisa dimanfaatkan untuk bahan pengomposan dengan menggunakan aktivator Promi.

Salah satu limbah biomassa yang banyak terdapat di kebun sawit adalah sisa pangkasan pelepah sawit. Pelepah sawit yang sudah tua dan menguning akan dipangkas dan ditumpuk di kebun sawit. Sisa pangkasan ini hanya dibiarkan saja dan tidak dimanfaatkan. Sisa pangkasan pelepah sawit bisa dibuat kompos dan digunakan untuk memupuk tanaman sawit. Pengomposan pelepah sawit dengan Promi sangat sederhana dan mudah dilakukan. Berikut ini adalah cara pengomposan pelepah sawit dengan menggunakan Promi yang dilakukan oleh Bp. Cut Zaini di Aceh. Bapak Cut Zaini memiliki kebun sawit seluas 40 ha dan sudah berumur kurang lebih 15 tahun dan ada juga yang masih TBM. Dalam pengomposan ini Bapak Cut Zaini juga menggunakan kotoran sapi, karena kebetulan harga kotoran sapi di tempat tersebut sangat murah dan tersedia melimpah. Pengomposan pelepah sawit bisa dilakukan tanpa menggunakan kotoran sapi, namun jika ada bahan tambahan seperti kotoran sapi akan lebih baik.

Cara pengomposan pelepah sawit mirip dengan cara pengomposan jerami (baca di sini: Kompos Jerami). Peralatan yang diperlukan untuk pengomposan pelepah sawit:

  1. Parang
  2. Cetakan bambu, ukuran 2m x 1m x 1 m yang bisa dipasang dan dilepas
  3. Ember atau drum volume 150 liter
  4. Gayung
  5. Cangkul atau garpu
  6. tali untuk mengikat
  7. plastik mulsa atau terpal untuk menutup kompos

kompos pelepah sawit promi

Persiapan cetakan dan bahan-bahan pengomposan pelepah sawit.


Continue reading

Pelatihan Penanganan Penyakit Ganoderma di PPBBI

Buku ‘Kelapa Sawit di Indonesia’ oleh Adlin U Lubis

image

Salah satu buku kelapa sawit Indonesia karya Adlin U Lubis

Kelapa sawit saat menjadi salah satu komoditas penting perkebunan Indonesia. Perkembangan kelapa sawit tidak bisa dipisahkan dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit di Medan. Dari lembaga itu ada sebuah buku penting kelapa sawit karya H. Adlin U Lubis.

Buku itu mungkin sudah cukup tua dicetak ketika saya masih sekolah SMA. Buku itu merangkum hasil2 penelitian kelapa sawit di Indonesia. Isinya sangat lengkap dan menjadi rujukan kelapa sawit di Indonesia.

Ir. H. Adlin U. Lubis

Terus terang saya merasa iri dengan Pak Adlin Lubis. Beliau mewariskan ilmu yang terus dipakai hingga sekarang. Dalam Islam, salah satu amalan yang pahalanya akan terus mengalir adalah ilmu yang bermanfaat. Ilmu kelapa sawit yang ditinggalkan oleh Pak Adlin Lubis akan terus dimanfaatkan oleh pekebun sawit Indonesia.

Saya punya mimpi, sebelum saya menghadap ilahi nanti. Saya ingin meninggalkan ilmu seperti bukunya Pak Adlin Lubis ini. Insya Allah. Kabulkanlah Ya Robb. Amin.

Penambahan Bahan Organik dengan Promi untuk Kelapa Sawit

Tankos Sawit Kini Tidak Gratis Lagi

Tengah bulan lalu saya diajak jalan2 oleh teman melihat2 kebun sawit di sisi barat P. Sumatera. Ada banyak yang saya lihat, namun yang membuat saya sedikit terkejut adalah tandan kosong kelapa sawit atau tankos. Ternyata kini tankos tidak gratis lagi.

Kurang lebih sepuluhan tahun yang lalu ketika awal-awal saya kerja dengan tankos. Tankos sama sekali tidak ada harganya. Bahkan ketika itu pabrik sawit membuat incinerator untuk membakar tankos. Ketika pembakaran tankos dilarang. Tankos ditumpuk saja.

Tahun-tahun itu saya meyakini konsep ‘dari tanah kembali ke tanah’. Tankos dibuat kompos dan dikembalikan ke lahan sawit. Harga tankos masih nol dan kompos sawit menjadi ekonomis. Bertahun-tahun kemudian, berdasarkan cerita pekebun, aplikasi kompos tankos mulai menunjukkan hasilnya. Tankos yang diaplikasikan ke tanah, baik sebagai mulsa atau pun kompos memberikan performa produksi yang lebih baik daripada pemupukan kimia saja.

Tankos juga memiliki peluang untuk dimanfaatkan sebagai berbagai macam produk. Salah satunya bioethanol.

Sejak awal saya sudah menduga jika kelak tankos ini akan ada harganya. Ketika banyak orang yang mencari2, maka akan berlaku hukum ekonomi. Tankos akhirnya ada harganya.

Petani menceritakan ke saya jika ketika mereka setor tbs ke pabrik mereka pulangnya membawa tankos. Tankos ini tidak gratis. Ada harganya, kira2 Rp. 300rb per truk. Andaikan satu truk isinya pool 5 ton, harga tankos per kgnya sebesar Rp. 60. Harga ini belum termasuk ongkos kirim, ongkos angkat2 dan ongkos encer.

Secara kasar, biaya bahan saja jika tankos dibuat menjadi kompos harganya akan menjadi Rp. 120/kg kompos. Jika dibuat menjadi ethanol kira2 menjadi Rp. 240 – 300 per liter ethanol. Ini belum ditambah dengan biaya aktivator, tenaga kerja, energi, investasi, dll.

Harga tankos sudah keniscayaan karena mengikuti hukum ekonomi. Selama harga ini masih lebih rendah daripada harga produk turunannya, harga ini tidak menjadi masalah. Tantangannya adalah membuat proses yang lebih ekonomis dan efisien, sehingga harga produk turunan tankos bisa ditekan serendah mungkin.

Pengomposan Bahan Organik In-situ untuk Kebun Kelapa Sawit

Ngapain pemerintah menyiapkan lahan biomassa

Kliping Kompas tgl 29 Agustus 2014, hal 14, kol 1-2

Kliping Kompas tgl 29 Agustus 2014, hal 14, kol 1-2

Ngapain pemerintah repot-repot menyiapakan lahan untuk menyediakan biomassa, lha wong biomassa yang tersedia saja belum tergarap.

Hari ini saya baca sebuah berita kecil di Harian Kompas, tgl 29 Agustus 2014, halaman 7, kolom 1-2. Judulnya menarik bagi saya: Energi Terbarukan; Lahan Pengembangan Biomass Disiapkan. Ketika saya membaca berita itu sedikit senang, karena pemerintah punya keinginan untuk mengembangan energi alternatif yang terbarukan. Akan tetapi saya akan mengkritisi kebijakan pemerintah ini.

Saya sudah mendengar desas-desus akan pengembangan energi dari biomassa ini. Kebutuhannya memang sangat besar, khususnya untuk pasar export. Konon kabarnya Korea sudah melarang penggunaan batubara dan mengantinya dengan biomassa. Artinya, kembali ke jaman baheula lagi. Kasarnya begini; energi biomassa = kayu bakar. Karena yang dibakar sama-sama kayu, cuma namanya sekarang sedikit mentereng: energi biomassa.

Korea adalah negeri yang industrinya maju, tentu saja sangat membutuhkan banyak energi untuk menjalankan industrinya itu. Nah, mereka kan tidak punya lahan yang luas. Datanglah mereka ke Indonesia mencari lahan untuk menanam ‘kayu bakar’. Menurut kabar desas-desus lagi yang tidak jelas kebenarannya; investor korea sudah menanam ribuah hektar tanaman ‘kayu bakar’ di Indonesia, di wilayah Indonesia Timur dan Kalimantan.

Saya tidak tahu apakah ini sudah direncanakan matang-matang atau sekedar ikut-ikutan. Menurut berita Kompas di atas pemerintah akan menyiapkan lahan untuk penanaman ‘kayu bakar’. Kata kabar berita itu lagi, konon, Indonesia membutuhkan 2 juta ha lahan untuk menanam ‘kayu bakar’.

Ngapain pemerintah repot-repot menyiapkan lahan untuk ‘kayu bakar’ seluas itu. Lha wong Indonesia punya banyak limbah biomassa yang melimpah ruah dan tidak termanfaatkan. Barangnya tinggal ambil saja, tidak usah menanam, bahkan ‘mungkin’ tidak usah beli. Tinggal ongkos angkut saja. Ini saya tahu sendiri, karena lama saya mengelutinya, yaitu: Limbah biomassa KELAPA SAWIT. (Baca: Potensi Limbah Biomassa Sawit)

Indonesia adalah negera produsen kelapa sawit terbesar di dunia. Produksi minyak sawit menurut data dari BPS tahun 2013 diperkirakan mencapai 26,9 juta ton CPO. Kalau dihitung secara kasar produksi CPO sebanyak itu akan menghasilkan limbah biomassa yang ruuuaaarrr biaya besar zekali; yaitu:

TANKOS: 30.93 juta ton
FIBER dan Cangkan: 25.5 juta ton
Limbah Cair: 94.15 juta ton

Total biomassa (Tankos, fiber, cangkang): 56.43 juta ton.
(Ini hitungan kasar ….lho….)

Neraca Massa Kelapa Sawit

Menurut berita kompas itu lagi 1 ha lahan ‘kayu bakar’ bisa menghasilkan 64 ton ‘kayu bakar’. Ini artinya limbah sawit itu equivalent dengan 882 187 ha lahan ‘kayu bakar’ atau dua kali lipat luas lahan yang akan dibangun di Madura itu.

Konversi energinya juga sangat besar. Dari Tankos, cangkang, dan fiber bisa dihasilkan energi listrik, sedangkan dari limbah cair bisa dihasilkan biogas. Angka perkiraan kasarnya adalah:

Listrik: 16 152 mega watt
Biogas: 2 692 m3.

Ini jumlah anergi yang sangat-sangat besar. Ini belum limbah biomassa yang lain yang dari agroindustri, seperti: bagas tebu, jerami padi, serbuk gergaji, batok kelapa, limbah kotoran ternak, dll. Masih banyak sekali.

Saya tahu, itu hanya itung-itungan di atas kertas. Merealisasikannya tidak mudah. Namun, mbok yao…pemerintah itu juga memikirkan potensi-potensi biomassa yang sudah ada di lapangan. Saya tahu sendiri, limbah biomassa sawit masih ‘terbengkalai’ dan tidak termanfaatkan.

Beberapa kali saya mencoba diskusi dengan pengusaha sawit dan menyampaikan ide ini. Bagi pengusaha sawit, mereka kurang tertari memanfaatkan limbah biomassa sebagai energi. Lha mereka sediri sudah kecukupan energi dari limbah cangkan saja. Bahkan sisa. Apalagi kalau disuruh repot-repot membuat biogas segala. Mereka enggan berinvestasi.

Kalau pun mereka bisa memproduksi listrik dan dijual ke pe-el-en, itungan-itungan mereka masih nggakk ‘masuk’. Masalahnya, pe-el-en maunya harganya super murah. Bagaimana pengusaha bisa untung klo harganya sama dengan ongkos produksi.

Di sini sebenarnya peran pemerintah. Menjebatani antara pengusaha dan kebutuhan masyarakat. Yang butuh energi itu masyarakat luas. Pengusaha punya ‘limbah biomassa’ yang tidak termanfaatkan dan mereka tidak tertarik untuk memanfaatkannya. Posisis pemerintah adalah ditengah-tengahnya. Jadi ‘jembatan’ itu dengan regulasi maupun kebijakan lainnya.

Contoh sederhana, misalnya; pemerintah memberikan subsidi untuk pengusaha yang bisa menyediakan listrik untuk masyarakat. Maksudnya, memberikan harga yang layak bagi pengusaha. Atau memberikan keringanan pajak, infrastruktur dll, sehingga pengusaha tetap bisa mendapatkan keuntungan dari usaha itu.Masih banyak contoh-contoh bentuk dukungan riil pemerintah untuk pemanfaatkan biomassa dari limbah perkebunan di Indonesia.

Seandainya ide ini berjalan, krisis energi akan bisa diatasi. Indonesia memiliki potensi biomassa yang besar dan lahan yang luas.
Kalau hanya sekedar ‘Kayu bakar’ tinggal ambil saja. Tinggal kemauan (good will) dari pemerintah untuk mendorong pemanfaatan ‘kayu bakar’ ini.

Kita tunggu saja kiprah pemerintahan baru ke depan. Apakah masih pro-rakyat atau justru mau mengail di atas penderitaan rakyat.

walllahu’alam.

Pelatihan Pengendalian Ganoderma pada Perkebunan Kelapa Sawit