Category Archives: Kompos

artikel dan posting tentang kompos, pengomposan, pembuatan kompos, dan pertanian organik

Sustainable Habit: Revolusi Kecil dari Dapur Kita

Pernahkah Anda membayangkan perjalanan satu kantong plastik sampah yang Anda buang pagi ini?

Begitu diangkut oleh tukang sampah, ia akan bercampur dengan ribuan ton sampah lain, ditumpuk di truk, lalu berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang sudah menggunung seperti Bantar Gebang atau Galuga. Di sana, sampah itu akan “abadi”. Plastik tidak terurai, sementara sisa makanan yang terbungkus plastik akan membusuk tanpa oksigen, menghasilkan gas metana yang bau dan memicu pemanasan global.

Fakta yang menyedihkan adalah: Lebih dari 50% isi kantong sampah kita sebenarnya adalah sampah organik. Sisa nasi, kulit buah, potongan sayur, duri ikan, hingga daun kering di halaman.

Artinya, jika kita bisa mengelola sampah organik ini di rumah, kita sudah mengurangi beban TPA, beban tukang sampah, dan beban lingkungan sebanyak separuhnya. Kita sedang memotong mata rantai masalah sampah tepat di sumbernya: Rumah Tangga.

Tantangan Terberat: Melawan “Refleks” Diri Sendiri

Dua tempat sampah yang berbeda untuk sampah organik (sampah dapur) dengan non organik.

Mengapa hal yang terdengar sederhana ini begitu sulit dilakukan? Jawabannya bukan karena teknologinya mahal, tapi karena kebiasaan.

Selama puluhan tahun, kita terbiasa dengan konsep “kumpulkan – angkut – buang”. Kita mencampur kulit pisang dengan botol plastik dalam satu tong sampah. Mengubah kebiasaan ini butuh usaha ekstra. Kita harus menyediakan dua tempat sampah berbeda. Kita harus berpikir sejenak sebelum membuang: “Ini organik atau bukan?”

Tantangan kedua yang sering menjadi alasan pembenar adalah: Lahan Sempit. “Rumah saya tipe 36, halaman sudah disemen semua, mana bisa bikin kompos?” Padahal, justru di lahan sempit dan rawan banjir inilah pengolahan sampah organik menjadi sangat vital.

Solusinya ada pada dua metode sederhana yang bisa kita terapkan sesuai jenis sampahnya: Biopori dan Kompos Pot.

1. Sampah Dapur Basah? Masuk Biopori

Sampah dapur (sisa lauk, nasi basi, kulit buah berair, jeroan ikan) adalah jenis sampah yang paling cepat membusuk dan berbau. Solusi terbaik untuk ini adalah Lubang Resapan Biopori (LRB).

Biopori adalah “teknologi” jenius yang sangat hemat tempat. Kita hanya butuh lubang di tanah berdiameter 10 cm dengan kedalaman 80-100 cm.

  • Cara Kerja: Masukkan sampah dapur ke dalam lubang ini. Tutup. Selesai.
  • Keajaiban di Dalam Tanah: Di dalam lubang gelap itu, cacing tanah dan mikroorganisme akan berpesta. Mereka mengubah sampah bau itu menjadi kompos yang menyuburkan tanah di sekitarnya.
  • Manfaat Ganda: Selain memusnahkan sampah, lubang ini berfungsi menyerap air hujan. Bagi warga perumahan yang sering tergenang air, biopori adalah penyelamat. Ia mencegah banjir sekaligus menabung air tanah.

Bagi yang halamannya sudah dipaving/semen, Anda cukup melubangi paving seukuran pipa paralon. Jadi, alasan lahan sempit sebenarnya sudah tidak relevan.

Saya di rumah membuat lubang di tanah khusus untuk sampah organik dapur dengan drum bekas ukuran 50 liter yang dipotong. Ini lebih besar daripada biopori yang umum dibuat. Memang tujuannya biar bisa muat lebih banyak sampah organik. Dengan lubang seukuran ini, lubang biopori ini sudah beberapa tahu tidak penuh.

2. Sampah Kebun/Kering? Jadikan Kompos

Untuk sampah organik yang lebih kering dan padat seperti daun-daun kering, ranting kecil, atau sisa sayuran mentah yang banyak, kita bisa mengolahnya menjadi pupuk kompos.

Jika tidak punya tanah luas untuk membuat bak kompos, gunakan Komposter Ember atau Komposter Jumbo Bag. Anda bisa menumpuk sampah ini dalam wadah tertutup, memberinya sedikit bio-aktivator (bakteri pengurai), dan membiarkannya terfermentasi. Kebetulan di rumah ada banyak tanaman hias dan anggrek. Secara reguler tanaman-tanaman ini dirawat dan banyak sampah-sampah sisa tanaman. Di depan rumah juga ada pohon rambutan yang daunnya sering banget rontok. Sisa daun dan tanaman ini semuanya masuk ke dalam komposter.

Hasilnya? Dalam beberapa minggu, sampah itu berubah menjadi “emas hitam”—pupuk organik berkualitas tinggi yang siap menyuburkan tanaman hias, anggrek, atau kebun sayur di pot Anda. Komposnya aku gunakan lagi untuk memupuk tanaman-tanaman hiasku. Alhamdulillah, bisa hemat pupuk dan tanaman jadi lebih subur.

Kompos Sampah Organik
Tempat pengomposan sampah organik selain sampah organik daput.
Kompos sampah organik
Pengomposan sampah organik daun selain sampah dapur

Keuntungan Jangka Panjang: Lingkaran Kebaikan

Ketika kita mulai memilah dan mengolah sampah organik, kita akan merasakan dampak positif yang berantai:

  1. Rumah Lebih Bersih: Tong sampah utama kita tidak akan berbau busuk lagi karena hanya berisi sampah kering (kertas, plastik) yang bersih.
  2. Hemat Pengeluaran: Tidak perlu lagi membeli pupuk kimia. Tanaman di rumah tumbuh subur dengan pupuk gratis buatan sendiri.
  3. Amal Jariyah Lingkungan: Kita meringankan beban petugas kebersihan yang setiap hari harus mencium bau busuk sampah kita. Kita juga memperpanjang umur TPA agar tidak cepat penuh.

Mulai dari Satu Lubang

Menjadi sustainable tidak harus menunggu punya kebun luas atau menunggu program pemerintah. Ia dimulai dari keputusan kecil di dapur kita.

Mungkin rasanya ribet di awal. Mungkin kita akan lupa dan tercampur lagi. Tidak apa-apa. Mulailah dengan satu lubang biopori dulu. Mulailah dengan memisahkan sisa nasi dulu.

Ingatlah, sampah organik sejatinya bukanlah sampah. Ia adalah sumber daya alam yang tersesat. Tugas kitalah untuk mengembalikannya ke tempat asalnya: Tanah.

Materi Pelatihan Petani FFL

Lubang Besar untuk Sampah Organik Rumah Tangga

Kami sudah cukup lama mulai memiliah sampah organik dan an-organik. Sayangnya, meskipun kami sudah memilahnya, petugas sampahnya masih mengangkutnya dalam satu truk sampah yang sama. Padahal maksud kami adalah ingin membantu mengurangi sampah yang dibawa ke TPA. Muncullah ide untuk membuat lubang di teras depan untuk menampung sampah organik.

Saya meyakini kalau pemilahan sampah organik dan an-organik di tingkat rumah tangga bisa menjadi salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan sampah. Berdasarkan statistik, volume sampah organik cukup besar, lebih dari 50% dari volume sampah yang dihasilkan dalam satu keluarga. Kalau sampah organik ini bisa diolah dan tidak ikut diangkut ke TPA akan bisa sangat signifikan mengurangi volume sampah. Keluarga kami sudah mulai untuk memilah sampah cukup lama (Baca: Memilah Sampah Organik). Namun sayangnya, di Indonesia ini pengangkutan sampah masih dijadikan satu. Jadi, meskipun kami sudah susah payah memilah sampah, akhirnya akan dijadikan satu juga oleh petugas pengangkut sampah. Kesel banget nggak tuh….

Ada banyak cara untuk mengolah sampah organik. Misalnya saja yang paling mudah dan gampang adalah dengan membuat kompos. Saya pernah juga mencoba membuat tong sampah organik khusus untuk membuat kompos (Baca: Komposter Sampah Sederhana). Prinsipnya sih memang sederhana dan mudah, namun applikasinya ternyata tidaklah mudah. Kenapa? Pertama, pernah komposter saya diangkut oleh pemulung. Jengkel banget deh… Kedua, masih muncul bau tidak sedap dari komposter ini. Lah.. rumah kami kan mungil. Bau dari depan rumah bisa masuk ke dalam rumah, bahkan mungkin rumah tetangga. Ketiga, setelah jadi kompos mau dipakai untuk apa. Halaman kami sempit dan penuh dengan pot-pot tanaman. Produksi komposnya melebihi kebutuhan kompos kami.

Continue reading

Slude Limbah Cair Pabrik Sawit Bisa untuk Pupuk Organik, Ini literaturnya

THE POTENTIAL OF TREATED PALM OIL MILL EFFLUENT (POME) SLUDGE AS AN ORGANIC FERTILIZER

Mohd Nizar Khairuddin, Abdul Jamil Zakaria, Isharudin Md Isa, Hamdan Jol, Wan Mohd. Nazri Wan Abdul Rahman, Mohd. Kamarul Syahid Salleh

Abstract

Palm oil mill contributed a significant benefit to agro-based industry and social-economic for Malaysia. Palm oil mill effluent (POME) is considered as a polluted wastewater and the treated POME sludge was produced from the open treatment ponds. The objective of this study was to determine the physicochemical characteristics of treated POME sludge and its potential as an organic fertilizer. It was collected from the dumping ponds in Felda Jengka 8, palm oil mill. Physicochemical characteristics, sampling and preparation of samples were analyzed according to the standard method of soil and the wastewater. The samples were collected after one and six month of age with different depths (one, two and three meters). The statistical analysis revealed that the depth was not significant on the physicochemical characteristics. The characteristics of the treated POME sludge was measures using CHNS-O, C/N ratio, solid analysis, heavy metal, macro and micronutrient, moisture content, and pH. However, the elements of oxygen, iron and pH were shown an interaction effects with time. In conclusion, the treated POME sludge has shown significant effect and the potential used as an organic fertilizer. Indeed, further studies on crops response are being conducted to prove the findings.

Download full text PDF.

Trichoderma – Kapang yang Bermanfaat untuk Tanaman

trichoderma

Percobaan pengaruh Trichoderma terhadap pertumbuhan biji arabidopsis di cawan petri

Trichoserma sp sudah cukup lama dikenal sebagai salah satu bahan aktif biofertilizer dan biocontrol. Banyak spesies Trichoderma yang sudah terbukti bisa meningkatkan pertumbuhan tanaman, melarutkan fosfat dan menghasilkan hormon tanaman. Beberapa spesies Trichoderma juga dikenal bisa menjagi agen antagonis untuk berbagai penyakit tular tanah. Contoh yang sudah cukup dikenal adalah penggunaan Trichoderma untuk pengedalian penyakit Ganoderma pada tanaman kelapa sawit dan penyakit busuk pangkal batang pada tanaman komoditas lainnya.

Saya sedang iseng-iseng mencari literatur tentang Trichoderma dan menapatkan litratur baru yang menguraikan peranan Trichoderma oleh Lopez-Bucio et al 2015. Di dalam paper itu ditunjukkan salah satu percobaan untuk membuktikan pengaruh Trichoderma terhadap pertumbuhan benih Arabidopsis. Dan hasilnya sangat mencengangkan saya. Jelas sekali terlihat perbedaan pertumbuhan kecambah yang ada trichodermanya dan yang tidak ada trichodermanya. Ruar biasa.

Di dalam paper itu juga disebutkan beberapa metabolit sekunder yang dihasilkan oleh Trichoderma. Ada banyak sekali seperti yang ada di gambar di bawah ini.

Trichoderma

Metabolit yang dihasilkan oleh Trichoderma

López-Bucio, José, Ramón Pelagio-Flores, and Alfredo Herrera-Estrella. “Trichoderma as biostimulant: exploiting the multilevel properties of a plant beneficial fungus.” Scientia horticulturae 196 (2015): 109-123.

KEEFEKTIFAN BEBERAPA DEKOMPOSER UNTUK PENGOMPLOSAN LIMBAH SLUDGE PABRIK KERTAS SEBAGAI BAHAN BAKU PUPUK ORGANIK

KEEFEKTIFAN BEBERAPA DEKOMPOSER UNTUK PENGOMPLOSAN LIMBAH SLUDGE PABRIK KERTAS SEBAGAI BAHAN BAKU PUPUK ORGANIK

Abstrak
Sludge, a solid waste by-product of paper industry, is very useful as raw materials for organic fertilizer, since this material contains carbon, and others mineral such as nitrogen, phosphorus, and pottasium. This researh evaluated 128 treatments which is combination of32 decomposers and four types of media. Thirty two decomposer are combination of 5 selected isolates i.e. omphalina sp., agrayli sp., pholyota sp., T. Pseudokoningii, and unidentified fungsi isolated from basal stem of coconut, while four types of media were sludge, sludge +cocopit, sludge+manure, sludge+cocopit+manure. composting of sludge was conducted in bag log containing 0.5 kg dry weight of sludge. Optimim condition of composting of sludge was obtained by supplementing with manure in combination with the composer (Polyota sp. And mixture of omphalina sp.+agraylie sp.+ unidentfiied fungsi isolated from basal stem of coconut). This condition can enchaane the rate of composting process, showed by reducing dry weight of compost and C concentration, and the highest percentage of carbon reducing. Application of this organic fertilizer increase the growth, N and P

Pengomposan Jerami di Leuwiliang, Kab Bogor dengan Promi

Berikut ini pengomposan jerami dengan Promi di Leuwiliang. Untuk keterangan lebih lengkap silahkan lihat di link ini: Promi dan Promi.

Kompos jerami promi

Kompos jerami promi

Kompos jerami promi

Kompos jerami promi

Kompos jerami promi

Kompos jerami promi

Kompos jerami promi

Menanam Cabai dengan Kompos Promi dari Limbah Singkong

kompos promi cabai

Tanaman cabai yang dipupuk dengan kompos Promi di Lampung

Kompos Promi ini digunakan untuk menanam cabai. Pak Waluyo selalu mengirimkan kabar terbaru tentang kondisi tanaman cabainya yang sehat. Memang sekarang belum memasuki masa panen. Tanaman cabainya terlihat subur, sehat, hijau dan segar-segar.

Salah satu bahan aktif dari Promi ini adalah Trichoderma sp. Kapang ini dikenal sebagai salah satu pengendali penyakit tular tanah. Saya sendiri belum pernah mencobanya. Petani-petani seperti Pak Waluyo ini yang mencobanya sendiri. Ternyata, aplikasi Promi bisa menghindarkan serangan penyakit tular tanah pada tanaman cabai. Bahkan salah seorang petani cabai di Pengalengan, Bandung, menceritakan jika tanaman cagainya yang hampir mati terkenal layu bakteri bisa sembuh kembali setelah diberi Promi.

Tulisan ini akan saya update terus dengan kabar-kabar terbaru dari Pak Waluyo.

Teman-teman yang ingin mendapatkan Promi bisa mmelihat alamat kontak yang ada di link ini: Promi.

kompos promi cabai

Bibit cabai yang ditanam dengan menggunakan kompos Promi


Continue reading

Pemanfaatan Sampah Botol Bekas untuk Penyiraman Tanaman

Sampah botol plastik bekas selain bisa dimanfaatkan untuk pot tanaman, botol plastik bekas ini juga bisa dimanfaatkan untuk pengairan atau penyiraman tanaman. Dengan memanfaatkan botol sebagai penampung air untuk tanaman, penyiraman menjadi lebih mudah dan tidak perlu sering-sering dilakukan. Air ini akan perlahan-lahan membasahi tanah dan menyediakan air untuk tanaman. Ada banyak ide yang bisa dicontoh selain ide-ide di video di bawah ini. Kita bisa membuat kreasi kita sendiri yang disesuaikan dengan kondisi setempat.
Selamat mencoba.

Berbagai macam ide untuk pemanfaatan sampah botol plastik bekas untuk pot tanaman bisa dilihat di link ini: Sampah Botol Plastik untuk Pot Tanaman.

Pengomposan Limbah Kayu dengan Promi

limbah serutan kayu

Limbah serutan kayu

Limbah kayu seperti serbuk gergaji, sisa serutan kayu atau serpihan-serpihan kayu banyak dihasilkan dari pabrik-pabrik pengolahan kayu maupun produk jadi kayu. Kayu, apalagi kayu-kayu yang terkenal awet, tidak mudah dikomposkan. Rasio C/N kayu umumnya sangat tinggi, artinya kandungan N-nya sangat rendah atau C-nya sangat tinggi. Beberapa kayu yang terkenal awet, seperti kayu jati, lebih sulit lagi untuk dikomposkan.

Rasio C/N dari sampel limbah kayu yang saya analisa sebesar 359. Nilai ini besar sekali jika dibandingkan dengan rasio C/N dari tankos sawit yang hanya 60-an atau sampah yang kurang dari 40. Pengomposan limbah kayu tanpa perlakuan apa-apa bisa membutuhkan waktu yang sangat lama. Meskipun dengan penambahan aktivator pengomposan.

Pertama kali saya mencoba mengkomposkan limbah kayu ini hanya dengan aktivator pengomposan hasilnya sangat diluar harapan. Sampai tiga bulan, proses pengomposannya berjalan sangat lambat, atau boleh dikatakan tidak terkomposakan sama sekali. Kemudian kami mencoba mencari cara agar limbah kayu seperti ini bisa lebih cepat dikomposkan. Alhamdulillah, ada kemajuan proses pengomposan limbah kayu ini.

Berikut ini beberapa stategi yang kami lakukan untuk mengkomposkan limbah kayu dengan Promi.

1. Menambahkan bahan lain yang relatif lebih mudah dikomposkan pada limbah kayu tersebut. Kami menggunakan daun-daun atau seresah yang ditambahkan pada serutan kayu. Cara ini ternyata cukup efektif. Mikroba aktivator promi bisa tumbuh lebih dulu di daun-daunan ini.

2. Kadar air harus cukup. Kayu relatif sulit menyerap air. Jadi sebelum proses pengomposan harus dikondisikan agar kadar air di dalam bahan mencukupi untuk proses pengomposan. Kadar air yang dianjurkan kurang lebih 60%. Namun, proses penambahan air bisa lebih dari itu, apalagi untuk kayu-kayu yang sudah dikeringkan.
Continue reading