Tag Archives: pestisida

Cara Pembuatan Pestisida Nabati: Ekstrak Mimba


Ketika sedang bongkar2 file saya menemukan catatan lama ketika saya belajar tentang pestisida nabati dengan Pak Haji Zaka. Berikut beberapa resep pestisida nabati yang saya dapat dari Pak Haji. Bahan untuk membuat pestisida nabati ini adalah bahan organik, jadi ramah lingkungan.

Baca juga: Pestisida Nabati


Ekstrak Mimba

OPT Sasaran: wereng, pengerek batang dan nematoda

Bahan dan alat:
1. Biji mimba 50 gr
2. Alkohol 10 ml
3. Air 1 L
4. Penumbuk
5. Baskom/ember

Cara pembuatan:
1. Biji mimna ditumbuk halus.
2. Tambahkan alkohol dan diaduk.
3. Tambahkan air 1 L dan diaduk sampai merata.
4. Larutan diendapkan satu malam.
5. Larutan yang bening dipisahkan dan dipakai sebagai pestisida nabati.

Penyakit Jahe: Bercak Daun Helminthosporium


Saya bukan ahli penyakit jahe, jadi catatan ini disarikan dari buku “Ginger The Genus of Zingiber” dan beberapa sumber lain. Sebagian foto2 diambil dari buku tersebut.

Ada beberapa penyakit pada tanaman jahe yang disebabkan oleh kapang, antara lain: busuk rimpang (soft rot) yang disebabkan oleh kapang Pythium, kuning (yellows) yang disebabkan oleh Fusarium, bercak daun (Phyllosticta leaf spot) yang disebabkan oleh Phyllosticta, bercak daun heminthosporium (Helminthosporium leaf spot) yang disebkan oleh Helminthosporium, dan Thread blight yang disebabkan oleh Pellicularia filamentosa. Saya akan coba membuat catatan tentang penyakit-penyakit tersebut.

Penyakit-penyakit tersebut sebagian bisa diatasi dengan menggunakan menggunakan jamur antagonis, seperti Trichoderma dan Aspergillus. Kedua jamur ini ada di dalam Aktivator Promi. Sebagai tindakan preventif, Anda bisa menggunakan Aktivator Promi dalam media tanam jamur.

Pupuk Organik Cair Khusus Jahe klik di sini.


Bercak Daun Helminthosporium

Penyakit bercak daun jahe

Penyakit bercak daun jahe

Bercak daun pada tanaman jahe bisa disebabkan oleh beberapa jamur/kapang pathogen. Kapang pahtogen yang menyebabkan bercak-bercak daun salah satunya adalah Helminthosporium. Berbedaan dengan bercak daun yang disebabkan oleh Phyllosticta adalah ukuran bercak-bercaknya. Bercak daun yang disebabkan oleh Helminthosporium berukuran kecil bulat atau oval dengan ukuran 4 s/d 5 mm x 2 s/d 3 mm. Bercak ini muncul di kedua permukaan daun jahe. Bercak-bercak ini semakin lama akan semakin membesar. Bercak yang sudah ‘matang’ ditandai dengan bagian tengah yang mati, dikelilingi oleh cincin coklat dan daerah berwarna kuning di bagian terluar. Penyebab penyakit ini adalah kapang Helminthosporium. Penyakit ini jarang ditemui. Penyakit ini disebabkan oleh kapang/jamur, penanganan penyakit ini bisa menggunakan bubur bordo/bordeaux. Agar terhindar dari penyakit ini, selalu gunakan benih/bibit jahe yang sehat.

Pestisida Buatan Sendiri: Bubur Bordo (Bordeaux)

Bubur bordo atau Bordeaux adalah salah satu pestisida yang bisa dibuat sendiri. Pestisida ini sudah dikenal sangat lama dan terbukti manjur untuk mengatasi serangan penyakit yang disebabkan oleh jamur.


Baca juga: Pestisida Nabati


Bahan-bahan:

  1. ¼ Kg Gamping/Kapur
  2. ¼ Kg Belerang
  3. ¼ Kg Prusi atau terusi atau CuSO4
  4. Air 6 liter

Alat-alat:

  1. Ember dua buah
  2. Panci
  3. Kompos
  4. Lumpang/ulekan

Cara membuat:

  1. Masukkan prusi ke dalam ember.
  2. Haluskan gamping dan belerang jadi satu, kemudian dimasukkan ke dalam ember kedua
  3. Rebus 6 liter air sampai mendidih.
  4. Masukkan 3 liter air mendidih ke dalam ember satu yang berisi trusi. Aduk hingga tercampur merata.
  5. Masukkan 3 liter air mendidih sisanya ke dalam ember ke dua. Aduk hingga tercampur merata.
  6. Satukan masing-masing adonan dan diaduk sampai merata.
  7. Diamkan adonan semalaman hingga terbentuk cairan bening dan ada endapannya.
  8. Ambil cairan yang berwarna bening dan gunakan untuk menyemprot daun tanaman yang terserang penyakit.
  9. Endapan bisa digunakan untuk dicampurkan dengan media tanam.

Cara Aplikasi:

  1. Dosis penyemprotan adalah 50 sampai 70 ml per tangki (14 liter), atau satu gelas aqua untuk tiga tangki penyemprot.
  2. Semprotkan secara merata ke tanaman yang terserang penyakit.
  3. Interval penyemprotan seminggu sekali

PERHATIAN:
Pakailah pestisida ini secara bijak. Jangan menggunakannya secara berlebihan. Penggunaan berlebihan akan menyebabkan penyakit menjadi tahan terhadap pestisida.

Cara Pembuatan Pestisida Nabati untuk Kutu Kebul


Info lengkap pestisida nabati organik klik di sini: Pestisida Nabati


Bahan- bahan:

  • Bawang putih 1 ons
  • kunyit 1 ons
  • Lengkuas 3 ons
  • Sereh 3 batang Merica secukupnya

Cara membuat:

Semua bahan ditumbuk sampai hancur, tambahkan air 1 liter dan didihkan sebentar. Setelah selesai pindahkan ke ember atau wadah. Tambahkan sabun cuci yang biasa untuk mencuci piring secukupnya, aduk sampai rata, kemudian dinginkan. sebelum digunakan saring dengan kain halus, agar tidak menyumbat semprotan.

Aplikasi:Tambahkan air, setiap 100 cc – 200 cc tambahkan air 3 s/d 4 liter air. Semprotkan pada tanaman yang terkena hama.

Sumber: Group FB Jahe Merah Organik

Bercocok Tanam di Teras Rumah (part 2)

image

Ini melanjutkan lagi posting sebelumnya tentang bercocok tanam di teras rumah. Awalnya cuma iseng-iseng saja, ternyata asik juga. Teras rumah yang cuma seuprit bisa untuk menanam sayur2an. Cara penanamannya organik dan tidak menggunakan pupuk kimia atau obat2a kimia. Jadi lebih sehat dan lebih aman. Istilah kerennya sekarang adalah urban organic farming.

Benih & Bibit Tanaman

Saya akan cerita mulai dari awal, benih tanaman sayur-sayuran. Kebetulan beberapa waktu yang lalu saya mudik ke kampung halaman di Magelang. Di kampung benih lokal tanaman sayuran harganya murah. Saya beli beberapa macam benih. Terutama benih-benih yang cocok di dataran rendah. Saya membeli banyak benih tanaman, seperti: bayam cabut, kangkung cabut, tomat, cabai rawit hijau, cabai rawit merah, terong unggu, terong lalap, kacang panjang, sawi hijau dan kobis (kol). Belinya cuma sekantong kecil saja. Jumlah itu sudah lebih dari cukup untuk menanam di halaman rumah.

image

Kangkung Cabut

Continue reading

Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), Pestisida dan Regulasinya

Presentasi Pestisida Organik dan Hayati Prof. Dr. Agus Kardinan

Cara Pembuatan Ekstrak Lerak dan Buah Pinang, Pestisida Nabati untuk Keong Emas

hormon tanaman giberelin auksin sitokininBiji lerak kalau di Jawa biasanya untuk mencuci  batik. Emak saya biasa memakai lerak untuk mencuci jarik batiknya. Biji lerak mengandung saponin yang bersifat sebagai emulsifier. Dengan biji leran ini minyak dan air akan bisa membentuk emulsi.

Kandungan saponin dalam biji lerak ternyata juga bisa digunakan untuk pestisida nabati hama keong emas. Keong emas sering memakan tanaman padi yang masih muda. Padi yang baru di tanam bisa habis diserang keong.

Penggunaan lerak untuk menanggulangi keong emas cukup mudah. Larutkan lerak dengan air dan kemudian diencerkan secukupnya setelah itu disemprotkan ke lahan sawah. Keong emas akan berkurang dengan sendirinya.

Cara lain untuk menanggulangi hama keong emas secara organik adalah dengan menggunakan biji pinang. Biji pinang ditumpuk dan diencerkan dengan air. Airnya kemudian disemprotkan atau disiramkan ke sawah yang terserang keong emas.

Kurangi penggunaan racun kimia. Silahkan dicoba cara ini.

Artikel lain tentang pestisida nabati/pestisida organik: PESTISIDA NABATI/PESTISIDA ORGANIK

Cara Pembuatan Pestisida Nabati dari Mimba

hormon tanaman giberelin auksin sitokininTanaman mimba (Azadirachta indica) adalah salah satu tanaman yang bisa dimanfaatkan sebagai peatisida nabati. Mimba memiliki beberapa keunggulan dibandingkan bahan pestisida nabati lainnya, antara lain: bersifat sistemik dan berspektrum luas. Senyawa aktif yang terkandung di dalamnya adalah azadirachtin (C35H44O16), selain itu juga mengandung meliantriol, nimbin, nimbidin, salanin dan komponen lainnya. Azadirachtin mengandung 17 komponen (Agus Kardinan, 2014).

Mimba efektif untuk mengendalikan sejumlah hama (OPT), seperti serangga, kutu, dan nematoda. Termasuk serangga yang masuk ke dalam jaringan tanaman, seperti penggerek batang, karena azadirahtin bersifat sistemik dan bisa masuk ke jaringan tanaman.

Bagian yang bisa dimanfaatkan sebagai pestisida nabati adalah biji dan daun. Namun, kandungan senyawa aktif di dalam biji lebih banyak. Kandungan minyak dalam biji antara 35%-45%. Bagian biji ini yang lebih banyak dimanfaatkan.


Info lengkap pestisida nabati/pestisida organik klik di sini: Pestisida Nabati


Ada beberapa cara pemanfaatan mimba sebagai pestisida, yaitu: pengepresan, ekstraksi, penepungan, dan pasta.

Pengepresan
Pengepresan adalah cara paling sederhana untuk mengambil senyawa aktif mimba. Caranya, biji ditumpuk dengan alu atau alat lain sehingga berbentun seperti bubuk. Selanjutnya remahan biji mimba ini dipress hingga keluar minyaknya. Minyak ditampung dalam wadah. Minyak ini lah yang digunakan sebagai pestisida nabati. Efisiensi pengepresan bisa ditingkatkan dengan pemanasan. Alat pengeres dibuat sedemikian rupa sehingga bisa dipanaskan. Pemanasan akan memudahkan keluarnya minyak, karena minyak akan lebih encer.

Continue reading

Catatan buku: Prinsip dan Teknologi Pertanian Organik, Prof. Agus Kardinan (editor)

Buku pertanian organik

Prinsip dan Teknologi Pertanian organik

Saya mendapatkan buku menarik tentang pertanian organik yang berjudul “Prinsip dan Teknologi Pertanian Organik” terbitan Badan Litbang Pertanian. Editor buku ini adalah Prof. Dr. Ir. Agus Kardinan, salah satu ahli pertanian organik dari Badan Litbang Pertanian. Bukunya cukup tebal, ukurannya A4. Menarik, kesan saya pertama kali mendapatkan buku ini.

Buku ini adalah kumpulan tulisan dari beberapa orang, terutama dari peneliti di Badang Litbang Pertanian. Artinya kredibilitas dari penulis maupun isinya bisa ‘dipegang’. Isinya cukup lengkap, mulai dari kebijakan pertanian organik di Indoneisa, prospeknya, prinsip pertanian organik yang ada di kepmentan, teknologi pestisida babati, pestisida hayati, cara praktis pembuatan pestisida nabati, aplikasi teknologi nano, dan juga kisah sukses pertanian organik. Menurut saya isi dan informasinya bagus dan bermanfaat. Namun, sayangnya buku ini lebih mirip monograph atau prosiding seminar. Kumpulan makalah yang ditumpuk dan di jilid.

Penulisannya juga bergaya tulisan ilmiah. Misalnya, bagian depan ada ringkasan eksekutif. Lalau di artikel-artikelnya ada abstrak, pendahuluan, dan ditutup dengan penutup dan daftar pusataka. Karena pada dasarnya adalah makalah terpisah terasa ada loncatan ide maupun gaya penulisan. Ada sebagian materi yang terasa diulang-ulang. Untuk pembaca awam atau praktisi pertanian organik, bahkan petani membaca buku ini terasa seperti makan roti afgan yang besar dan keras. Rotinya memang bergizi, tapi ngigitnya susah, apalagi mengunyah dan menelannya.

hormon tanaman giberelin auksin sitokininSaya juga agak sanksi dengan proses cetaknya. Sepertinya buku ini tidak dicetak tapi diprint dan langsung di jilid jadi buku. Saya khawatir kalau ketumpahan minuman atau kena air tulisannya bisa luntur. Sayang sekali.

Andaikan buku ini ditulis lebih populer, istilah-istilah teknis dan akademis dikurangi, lalu gaya bahasanya juga dibuat lebih santai, mungkin buku ini akan jadi seperti criping yang renyah dan membuat ketagihan.

Apa pun itu. Kalau Anda hobi pertanian organik, praktisi pertanian organik, atau pun pengamat saja, saya sarankan untuk memiliki buku ini.

Baca ulasan tentang beberapa buku di Catatan Buku