Category Archives: Literatur

literatur, pustaka, referensi

Buku Gratis: Rice-feeding insects of tropical Asia

Rice-feeding insects of tropical Asia
B.M. Shepard, A.T. Barrion, J.A. Litsinger
This field guide documents the community of insects that feed on rice in the tropical zone of Asia and complements the IRRI publication “Helpful insects, spiders, and pathogens: friends of the rice farmers.” It covers 78 phytophagous species in 64 genera, 27 families, and 8 orders. The phytophage guild represents five groups-general defoliators, (27 species), plant suckers (25 species), early vegetative pests (11 species), soil pests (9 species), and stem borers (6 species). Stem borers and plant suckers comprise the major rice pests. A brief description of each insect’s life stage and damage it does to the rice plant is presented for a quick and reliable identification.
Specifications

Publisher: International Rice Research Institute
Language: English
ISBN: 9789712200625
Pages: 234 pages

Buku Gratis: Field problems of tropical rice (English)

Buku Gratis: Mitra Petani Padi: Serangga, Laba-laba dan Patogen yang Membantu

Buku Gratis: A Handbook of rice seedborne fungi

Buku Gratis: Manual for Hybrid Rice Seed Production

Buku Gratis: Panduan Lapang Praktis untuk Gulma Padi di Asia

Media Tanam Jahe: Arang Sekam, Zeolit, dan Pasir

Ini lanjutan tentang beberapa bahan yang bisa digunakan sebagai media tanam jahe. Selain bahan-bahan yang mengandung nutrisi atau ‘gizi’ untuk tanaman. Dalam pembuatan media juga diperlukan beberapa bahan tambahan lain. Bahan-bahan ini mungkin tidak atau sedikit sekali kandungan nutrisinya, namun penambahan bahan-bahan ini diperlukan dalam pembuatan media tanam jahe. Bahan-bahan ini tidak mesti ada, tetapi penambahan bahan-bahan ini bisa meningkatkan kualitas dari media tanam jahe.

Salah satu bahan yang bisa dipakai adalah zeolit. Zeolit adalah salah satu bahan mineral yang ditambang dan memiliki karakteristik khusus sebagai bahan pencampur media tanam. Salah satu manfaat dari zeolit adalah sebagai bahan pembenah tanah. Zeolit bisa meningkatkan nilai KTK (Kapasitas Tukar Kation), yaitu sebuah nilai yang menunjukkan kemampuan media tanam untuk bertukar kation dengan perakaran. Hara mineral akan terserap oleh akar dan akar akan menukar kationnya dengan larutan tanah. Gampangnya, semakin tinggi nilai KTK akan semakin efisien penyerapan hara nutrisi oleh tanaman. Zeolit diberikan dalam jumalh sedikit saja. Zeolit ada yang berbentuk tepung, kerikil atau bongkahan. Zeolit yang digunakan dalam pembuatan media tanam jahe adalah zeolit tepung atau pasir kecil. Zeolit juga dapat memperbaiki struktur tanah. Tanah yang banyak mengandung liat bisa menjadi lebih gembur dengan penambahan zeolit.

Bahan lain yang juga biasa digunakan sebagai media tanam adalah arang sekam. Arang sekam berperan dalam membantuk struktur tanah. Tanah bisa menjadi lebih berongga sehingga akan meningkatkan kandungan oksigen tanah. Tanah juga membuat media tanam menjadi lebih ringan. Arang sekam juga bisa ‘memegang’ hara nutrisi agar tidak tercuci. Namun, arang sekam menyebabkan penurunan kapasitas menyimpan air media tanam. Jika diberikan dalam jumlah yang banyak, media tanam akan lebih mudah kering. Keseimbangan antara arang sekam dan coco peat dalam pembuatan media tanam penting, terutama untuk mendapatkan kadar air media tanam yang sesuai untuk tanaman jahe.

Beberapa petani jahe juga menambahkan pasir dalam pembuatan media tanam jahe. Fungsinya sama, yaitu untuk memperbaiki struktur tanah. Pasir juga akan meningkatkan rongga-rongga tanah, meningkatkan kandungan oksigen dalam tanah, tetapi juga membuat media tanam menjadi cepat kering. Di daerah yang curah hujannya tinggi, penambahan pasir dan arang sekam bisa membantu mengurangi tingkat kelembaban media tanam, sehingga tanaman jahe tidak mudah terserang oleh penyakit dari dalam tanah.

Buku-buku Gratis dari Puslitbangtan dan IRRI

Buku-buku dan CD gratis dari Puslitbangtan.

Buku-buku dan CD gratis dari Puslitbangtan.

Serasa mendapatkan rejeki nomplok saya hari ini. Kebetulan saya dan teman saya ditugaskan mengikuti seminar hasil penelitian di Puslitbangtan, di Jl. Merdeka, Bogor. Topiknya tidak terlalu familier bagi saya. Rupanya penugasan ini membawa ‘rejeki’ dan ‘barokah’ bagi saya. Saya mendapatkan 9 buku, satu CD, dan tiga BWD (bagan warna daun). Buku-buku tentang pertanian dan pengetahuan praktis pertanian lainnya.

Buku-buku yang saya peroleh adalah:

  • Masalah Lapang: Hama, penyakit, hara pada Padi
  • Musuh Alami Hama Padi
  • Gula Padi di Asia
  • Hama, Penyakit, dan Gulma pada Tanaman Ubi Kayu
  • Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Ubi Kayu
  • Penelitian Padi dan Palawija
  • Peningkatan Produksi Kedelai di Lahan Pasang Surut
  • PTT Ubi Kayu
  • Layanan Konsultasi Padi Indonesia
  • CD Inovasi Teknologi Pengendalian Tikus Padi Sawah Berbasis Ekologi

Ada lima buku tentang padi, mulai dari hama, agensia hayati, penyakit, dan konsultasi tentang pertanian. Buku ini sangat bermanfaat untuk petani. Menurut saya, buku-buku ini mesti dimiliki oleh penyuluh dan praktisi pertanian Indonesia.

Masalah lapang hama penyakit hara pada padi

Masalah lapang hama penyakit hara pada padi. Buku gratis dari Puslitbangtan,


Continue reading

Panen Jahe Gajah per Polybag 10 – 20 kg, mungkinkah?

Jahe Gajah

Rimpang Jahe Gajah yang tumbuh maksimal

Saya tertarik membahas ini. Banyak orang yang tergiur menanam jahe gajah karena terbuai dengan ‘janji’ panen jahe per polybag 10 kg bahkan ada yang bilang 20 kg. Apakah mungkin ….. ? Siapa saja yang sudah bisa panen rata-rata 10 kg atau lebih per polybag ukuran 60 cm x 60 cm atau pakai karung silahkan absen di kolom komentar di bawah dengan menyertakan foto atau buktinya. Terus terang, saya belum pernah melihat dengan mata kepala dan mata kaki sendiri, belum pernah pegang dengan tangan sendiri, dan belum pernah mencium dengan bibir sendiri.


PENTING!!!

Baca juga: Informasi-informasi menyesatkan Budidaya Jahe dalam Polybag. | Panen Jahe Emprit dalam Polybag.


Saya ingin membahas masalah ini dengan data literatur yang bisa dipertanggungjawabkan, bukan dari kabar angin apalagi katanya si anu yang tidak jelas ‘sanad’ dan ‘matannya’. Jadi pakai data dari laporan ilmiah atau dari data statistik resmi pemerintah. Data-data tersebut umumnya adalah data produksi tanaman jahe yang ditanam di ladang, bukan di polybag. Untuk mendapatkan perkiraan produksi data per polybag saya menggunakan asumsi. Asumsi yang saya gunakan adalah satu polybag ukuran 60 cm x 60 cm atau karung yang diisi dengan tiga bibit jahe gajah. Satu ha kurang lebih setara dengan 6000 polybag. Jadi menghitungnya adalah dari data produksi jahe per ha dibagi dengan 6000 polybag didapatkan data produksi per polybag. Perhitunga ini juga bisa dibalik, data dari polybag dikalikan 6000 diperoleh data setara produksi satu hektar.

Produktivitas jahe nasional di Indonesia hanya berkisar dari angka 21-30 ton per ha (saya baca di tulisan dari Balitro). Ini data hasil panen jahe yang di tanam di ladang bukan di polybag. Dari data itu, kalau dibagi per polybag produktivitas jahe gajah tertinggi adalah 5 kg per polybag. Ada teman yang menceritakan jika jahe gajah yang ditanam di polybag, sampai-sampai rimpang dan tunasnya menonjol keluar polybag, ketika dipanen bobotnya masih kurang dari 5 kg per polybag.

Ok. Jadi kalau dibuat perhitungan, itung-itungannya seperti ini:

5 kg per polybag —> 30 ton per ha
10 kg per polybag —> 60 ton per ha
20 kg per polybag —> 120 ton per ha

Laporan produksi paling top di China yang pernah saya dapatkan adalah 88 ton per ha (Baca di sini: Penelitian Top di China). Laporan yang lain di bawah itu semua, ada yang 60 ton per ha, ada yang 51 ton per ha, tapi umumnya masih berkisar di kepala 3. Kalau produksi 88 ton per ha, dibagi per polybag dapatnya angka 14,7 kg per polybag. Saya tidak sepenuhnya percaya dengan data ini. Kalau pun benar, mungkin varietas jahenya adalah varietas terbaru yang super top markotop.

Sepanjang pengetahuan saya, varietas jahe keluaran Balitro (lembaga penelitian yang menghasilkan varietas jahe paling top di Indonesia) tidak ada yang potensi produksinya mencapai 88 ton per ha. Dilihat dari sisi varietas jahe gajah yang digunakan oleh petani jahe di Indonesia, rasanya mustahil bin mustahal produksi jahe per polybag 60×60 bisa mendapatkan 20 kg per polybag. Angka 10 kg per polybag saja menurut saya masih jauh. Bukan tidak mungkin, tapi rasanya masih perlu kerja keras dari peneliti2 di Balitro untuk mendapatkan varietas jahe gajah super. Kalau pakai bibit jahe asalan, artinya tidak jelas varietasnya apa, tetuanya dari mana, jahe muda atau jahe tua tidak jelas, penyakiten lagi; hampir bisa dikatakan tidak mungkin bisa panen 10 kg per polybag.

Yang lagi mimpi bangun-bangun … heh heh … bangun…. !!!!!!!

Bisa panen jahe gajah 10 kg per polybag tentu saja mungkin, tapi banyak syaratnya.

Pertama, varietas jahe yang digunakan memiliki potensi produksi >80 ton per ha. Realitas produksi selalu di bawah potensi produksinya, bisa dapat 80% dari potensi produksinya sudah sangat top markotop.

Kedua, bebas dari serangan hama dan penyakit. Kalau tanaman jahenya terserang busuk rimpang, busuk pangkal batang, daun bercak-bercak, dimakan uret, dimakan nematoda, tidak mungkin jahe bisa tumbuh maksimal dan optimal. Sekali lagi, selain bibit yang top, tanaman jahe juga harus bebas dari hama dan penyakit.

Ketiga, nutrisi hara/pupuk yang diberikan jumlahnya cukup dan seimbang. Pupuk tidak hanya perlu banyak sekali, tetapi juga harus seimbang. Kebutuhan nutrisi/pupuk tanaman bisa disediakan dari media tanam dan pupuk yang diberikan, baik yang padat maupun pupuk cair lewat daun. Saya ingin membahas masalah ini agak lebih detail.

Dari laporannya Koh Kun, diperkirakan pupuk yang dibutuhkan untuk setiap panen 1000 kg jahe adalah: 6,34 kg N, 0,75 kg P2O5, dan 9,27 kg K2O. Kalau ingin panen 10 kg per polybag kebutuhan nutrisi pupuknya masing-masing per polybag adalah sebanyak 63,4 gr urea, 7,5 kg SP36 dan 92,7 gr KCl. Kebutuhan pupuk per hektarnya lumayan buanyak zekali. Nilai-nilai ini belum diperhitungkan efisiensi serapan haranya. Sebagai gambaran, untuk KCl saja agar produksinya setinggi itu perlu paling tidak 650 kg KCl per ha.

Bukti kongkrit dari laporan penelitian di China, untuk mendapatkan hasil produksi 51 ton per paling tidak dibutuhkan 1000 kg urea, 250 kg SP36 dan 725 kg KCl per ha. Agar bisa mencapai 60 ton per ha (atau 10 kg per polybag) perlu pemupukan dan perawatan yang optimmal. Media tanam yang digunakan harus yang paling bagus; baik dari kualitas maupun kuantitas. dan harus bersih dari hama dan penyakit. Pupuk jahe bisa diberikan dalam bentuk padat maupun cair.

Jadi kalau teman-teman sekarang menanam jahe di polybag hanya menggunakan pupuk kandang/bokashi saja, itu saja dibuat dalam waktu seminggu, persentasenya juga kuecil bin sedikit, tidak pakai pupuk kimia, hanya pakai MOL atau POC buatan sendiri yang belum jelas berapa kandungan pupuknya, satu polybag hanya diisi satu bibit, bibitnya tidak jelas varietas dan potensi produksinya, kena serangan busuk rimpang, kena serangan busuk pangkal batang, daunnya bercak-bercak kuning, layu bakteri; segera bangun dan sadar.

Untuk mendapatkan hasil yang optimal perlu kerja keras dan ketekunan. 10 kg per polybag bukan tidak mungkin.
Salam sukses.

— ::: lanjut lagi lain kesempatan :::–


Baca juga:

Semuanya tentang Jahe
Pupuk Anorganik Khusus Jahe
Hormon/ZPT Giberelin untuk Jahe
Hormon/ZPT untuk Bibit Jahe
Hormon/ZPT untuk Menghambat Tunas Jahe
Penggunaan Mikroba Trichoderma sp untuk Tanaman Jahe


Berapa banyak jahe ‘makan’ setiap harinya?

rimpang jahe 3 bulan

Rimpang jahe umur 3 bulan. Ada tiga anakan dan banyak akar yang tumbuh.

Masih ingat kan kalau jahe itu punya ‘mulut’ (baca di artikel ini: Pola dan kebutuhan makan (pupuk) tanaman jahe). Makanan jahe adalah hara mineral (pupuk) yang kita berikan ke tanaman jahe tersebut. Tapi berapa banyak sih jahe makan setiap harinya …? Pertanyaan itu sungguh mengelitik. Untungnya, peneliti (lagi-lagi) dari negeri ‘tirai bambu’ telah mencoba mencari jawaban atas pertanyaan ini. Koh Xin-Sheng dan teman-temannya (2010) melakukan penelitian untuk mengukur berapa banyak pupuk yang dimakan oleh tanaman jahenya setiap harinya. Pengetahuan ini penting sekali, terutama agar kita bisa memberikan makanan alias pupuk yang tepat untuk tanaman jahe kita. Berikut ini data hasil penelitian Koh Xin.

Serapan hara (pupuk) N, P dan K oleh tanaman jahe (Xin-Sheng et al. 2010)

Serapan hara (pupuk) N, P dan K oleh tanaman jahe (Xin-Sheng et al. 2010)

Continue reading