Category Archives: MyFamily

Menanam Living Stone/Lithops


Baca juga: Lithops atau Living Stone | Benih Lithops atau Living Stone | Benih Lithops/Living Stone | Menanam Benih Lithops | Merawat Tanaman Lithops |


Benih living stone alias batu hidup alias lithops sudah sampai. Saatnya untuk menanam benih-benih itu. Ini pertamakalinya kami menanam tanaman ini. Tanaman ini bukan tanaman asli dari Indonesia. Konon katanya tanaman ini berasal dari benua Afrika yang kering. Tanaman ini termasuk tanaman sekulen. Banyak yang mengatakan kalau tanaman ini sulit untuk ditumbuhkan. Baiklah, marilah kita coba menanam benih living stone ini.

Kami sudah mencoba Googling untuk mencari tahu bagaimana caranya menanam benih living stone ini. Cukup sulit dan membutuhkan waktu yang lama. Meski tidak mudah, kami tertantang untuk bisa menumbuhkan benih living stone ini. Media yang sering disebutkan di internet susah kita peroleh di sini. Jadi media tanam ini kami modifikasi dengan media yang banyak ditemukan di Indonesia ini. Kami masih belum yakin apakah media ini bisa cocok. Semoga saja.

Media yang kami gunakan terdiri dari beberapa bagian, yaitu: pasir, tanah, sedikit kompos dan coco peat. Semua media tanam tersebut kami ayak terlebih dahulu untuk membentuk tekstur yang halus. Komposisinya antara pasir 1:1. Kemudian ditambah sedikit kompos, sedikit saja. Coco peat juga ditambahkan sedikit, tapi agak lebih banyak daripada kompos. Coco peat berfungsi untuk mempertahankan kelembaban, mirip dengan perlite. Semua bahan diayak agar halus dan kemudian dicampur sampai merata.

Kami menggunakan tempat kue dari plastik yang ada bagian bawahnya dan penutup atasnya. Masukkan media tanam ini ke dalam wadahnya. Kemudian taburkan benihnya dengan hati-hati dan merata. Taburkan selapis tipis pasir halus. Semprot dengan air sampai basah. Pertumbuhan benih membutuhkan kondisi yang lembab. Jadi airnya harus cukup, tapi jangan terlalu banyak. Tutup penutupnya. Simpan di tempat yang terang.

Benih lithops membutuhkan waktu yang cukup lama untuk berkecambah. Ada yang mengatakan 2 minggu ada yang mengatakan sampai 12 bulan alias tiga bulan. Kita tunggu saja.

Advertisements

Coba Tantangan Ini; 2 Jam Saja Siang Hari Matiin Gadget

anak main gadget

Anak-anak asik dengan gadgetnya.

Pernah tidak Anda merasakan kalau sebenarnya kita sudah ‘dijajah’ oleh gadget? Entah itu smarphone, tablet, netbook, laptop, dan sebangsanya. Rasanya gadget tidak bisa lepas dari tangan kita. Main game, FBan, Twitteran, Googling, YouTube-an atau hanya sekedar berselancar di dunia maya. Banyak yang ketagihan, termasuk saya. Coba saja perhatikan kalau sedang meeting/rapat. Iseng-iseng coba hitung, berapa persen dari peserta rapat yang asik dengan gadget-nya. Coba perhatikan di jalan, berapa banyak pejalan kaki yang berjalan seperti zombie, asik dengan gadgetnya. Coba perhatikan di rumah, siapa-siapa saja yang tidak bisa lepas dari gadgetnya; kita sendiri, istri kita, anak-anak kita, atau bahkan pembantu kita.

Gadget memang di satu sisi banyak memberi manfaat bagi kita. Gadget telah memudahkan pekerjaan-pekerjaan kita. Gadget juga memberi pengalaman baru dan cara pandang baru dalam kehidupan manusia. Masalahnya, gadget membuat kecancuan baru. Ibaratnya manusia modern tidak bisa hidup tanpa gadget.

Banyak fonomena baru akibat kecanduan gadget ini. Misalnya, mulai bergesernya kehidupan sosial manusia dari ‘dunia nyata’ ke ‘dunia maya’. Ada orang yang memiliki banyak teman di Facebook, bahkan mungkin mencapai ribuan teman. Aktif berkomunikasi. Aktif bertegur sapa. Aktif bersendau gurau. Bahkan aktif berdebat. Tapi itu terjadi di ‘Dunia Maya’.

Pada kenyataannya di ‘dunia nyata’. Orang ini adalah orang yang suka menyendiri di kamar. Asik dengan komputer atau smartphonenya. Kalau di jalan juga asik main-main dengan gadgetnya. Kalau di kantor juga jarang bertegur sapa dengan teman-temannya. Uniknya, ketika bertemu dengan ‘teman di dunia maya’-nya itu di jalan. Mereka tidak bertegur sapa. Karena mereka tidak kenal secara fisik di dunia maya.

Saya pernah mengalaminya sendiri. Kebetulan saya aktif di salah satu group di Facebook. Ada teman dunia maya yang sering memberi komentar ke postingan-postingan saya. Dan saya juga tahu dia di dunia nyata. Pada suatu hari saya bertemu dengan dia dalam sebuah acara. Saya sok akrab dan mencoba mengajaknya ngobrol. E…..tidak tahunya dia malam dingin-dingin saja, bahkan seperti tidak mengenal saya. Bener-bener keki saya pada saat itu. Ternyata dia hanya ‘teman saya di dunia maya’ saja. Parah kan…..

Ada anak tetangga yang juga maniak gadget. Hari-hari sepulang sekolah, masuk kamar langsung main gadget. Entah main game atau main FB. Jarang sekali keluar rumah. Temennya di kampung juga sedikit. Ada satu dua temennya yang kadang-kadang ikut bermain di rumahnya. Main game juga.

Saya juga merasakan mulai ‘kecanduan’ dengan gadget. Bahaya. Saya mulai berfikir untuk mengendalikan ‘kecanduan’ ini. Saya yang ngatur gadget saya, bukan gadget yang ngatur saya.

Saya mencoba untuk bisa sedikit lepas dari ‘kecanduan’ gadget ini. Sebisa mungkin di siang hari ada waktu-waktu yang bebas dari gadget. Minimal dua jam saja. Tidak lama, kan. Saya coba tinggalkan gadget saya. Kalau perlu dimatikan. Saya ganti dengan aktivias lain, aktivitas di dunia nyata. Gadget dikembalikan ke fungsi dasarnya saja; komunikasi – telepon dan sms.

Saya coba juga untuk anak-anak. Karena mereka juga sudah mulai kecanduan gadget. Apalagi si Yusuf, kalau batterai iPadnya ‘low’ pasti teriak-teriak minta di-charge. Kalau koneksi internetnya lambat, teriak-teriak juga. Kakak-kakaknya juga lebih sama parahnya. Saya sadar ini tidak baik. Untungnya, istri saya cerewet untuk malasah ini. Tugasnya yang marah-marah dan melarang anak-anak agar terlepas dari gadgetnya. Saya melakukan pendekatan lain. Saya mencoba mencarikan alternatif kegiatan yang bisa membuat mereka terlepas dari kecanduan gadget.

10154183_10208320277752922_5128002523139139110_n
Di rumah ada banyak buku. Kami ajak mereka untuk membaca. Royan dan Abim saya minta mengajak adiknya untuk membaca buku dan bercerita apa saja tentang isi buku itu.

Kebetulan saya juga suka dengan tanaman. Saya ajak anak-anak untuk ‘bercocok tanam’. Kami juga punya projek kecil untuk ‘bercocok tanam’ ini.

Kami tidak punya pembantu. Jadi pekerjaan rumah dikerjakan secara gotong-royong. Pekerjaan ini cukup menyita waktu dan membuat capek. Aktivitas ini bisa mengurangi kontak antara kami dengan gadget.

Semoga langkah-langkah ini bisa membebaskan kami dari kecanduan gadget. Kami bisa terbebas dari jajahan gadget. Kembali ke kehidupan di ‘dunia nyata’.

permainan loncat tali anak-anak

Permainan loncat tali. Permainan yang menyehatkan, melatih fisik, dan kemampuan sosial anak-anak.

Yusuf dan Teman Barunya; Belalang Sembah

Abim dari dulu memang suka dengan binatang (baca di link ini: Mengajarkan Anak tentang Alam dan Binatang). Dia paling jago kalau menangkap binatang dan tidak takut dengan binatang sejak kecil. Kali ini dia mendapatkan anak belalang sembah. Dia bawa pulang belalang sembah itu dan diberikan ke adiknya Yusuf. Yusuf senang sekali, karena dia punya teman baru; Belalang Sembah.

Ibrahim sedang mengamati belalang sentadu/sembah

Ibrahim sedang mengamati belalang sentadu/sembah (fotonya abim tahun 2008)

Mungkin menurun dari kakak-kakaknya, Yusuf juga suka dengan binatang. Yusuf lebih imaginatif daripada kakak-kakaknya dulu. Yusuf senang sekali dengan teman barunnya ini. Dia ajak ngobrol terus belalang sembahnya. Yusuf memcoba memberi makan belalang sembah itu dengan daun-daunan. Ya…tentu saja belalangnya tidak mau, karena dia makannya belalang kecil yang lain, bukan daun-daun.

kid and mantis

Yusuf has a new pat, a mantis.

Belalang sembah berbeda dengan belalang-belalang yang lain. Belalan sembah termasuk hewan yang pemberani. Dia tidak takut dengan manusia dan tidak mudah lari jika dipegang. Bahkan dia cenderung menurut dan diam saja kalau kita pegang-pegang. Karakter belalang sembah ini cocok untuk diajak bermain-main dengan anak kecil. Mungkin bisa juga jadi pembelajaran untuk anak-anak PAUD atau TK.

Belalang sembah itu diletakkan di pohon bonsai yang kami milikki. Dia diam saja di situ dan tidak mau pergi. Cuma kami masih binggung belalangnya mau dikasih makan apa ya…???? Kalau siang hari belalang sembah itu diletakkan di luar rumah. Biar belalangnya bisa mencari makan sendiri. Kalau malam belalangnya dimasukkan ke dalam rumah. Alhamdulillah, sudah beberapa hari ini belalangnya masih setia jadi temannya Yusuf.

kid and mantis

Yusuf play with his mantis

kid and mantis

kid and mantis

mantis

Mantis

Mengganti Media Tanaman Hias

Tanaman hias dalam pot akan tumbuh dan lama-kelamaan akarna akan memenuhi pot. Akarnya bisa menembus bagian bawah pot dan masuk ke tanah. Jika dibiarkan terus, tanah akan habis dan tanaman akan mulai kurus. Akhirnya bisa mati tanaman hias yang kita sayangi itu. Jika akar tanaman sudah mulai penuh, saatnya untuk menganti media tanahnya dengan yang baru dan mengganti potnya dengan pot yang sudah besar.

Media tanam yang dipakai tergantung pada jenis tanaman yang akan ditanam. Misalnya saja untuk tanaman kaktus, sebaiknya lebih banyak menggunakan pasir dan tanah saja. Tidak perlu diberi kompos, atau diberi sediki sekali. Kalau untuk tanaman suplir, sebainya menggunakan banyak kompos dan harus lembab Kalau untuk tanaman gantung, sebaiknya menggunakan media tanam yang ringan.

Kali ini Arroyan mencontohkan bagaimana mengganti media tanam tanaman sekulen yang akarnya sudah memenuhi pot. Caranya tidak sulit. Perlu hati-hati agar akarnya tidak rusak dan tanamannya tidak stress.

Selamat mencoba.

Menanam Biji Rambutan

Di depan rumah kami ada pohon rambutan. Buahnya manis banget, meski kulitnya masih hijau. Tahun lalu rambutan kami berbuah lebat. Kami bagi-bagikan ke tetangga-tetangga rumah. Tahun ini rambutannya berbuah sedikit. Kami menggumpulkan biji-biji rambutan tersebut. Sebagian kami semai dan kami tanam.

Arroyan suka menanam biji-biji rambutan ini. Caranya sangatlah mudah. Sebelumnya biji-bijian ini dikeringkan dahulu. Biji kering bisa disimpan dalam waktu yang cukup lama. Kalau mau ditanam biji-biji ini diletakkan di atas tanah yang gembur dan lembab. Dalam waktu beberapa hari biji-biji yang kita semai akan berkecambah. Jika daunnya sudah muncul dua lapis/dua payung. Tingginya kurang lebih 15 cm. Bibit ini dipindahkan ke pot yang lebih besar.

Arroyan menceritakan bagaimana cara dia memindahkan bibit-bibit ini. Potnya menggunakan gelas bekas minuman atau gelas bekas minuman apa saja. Bisa juga menggunakan tepat bekas PopMie atau mie gelas. Bisa juga menggunakan botol bekas air mineral yang dipotong. Terserah pakai apa saja boleh. Jangan lupa untuk memberi lubang pada dasar gelas-gelas ini. Lubang ini berfungsi untuk jalan air.

Bagian bawah pot diisi dengan pasir atau kerikil. Pasir dan kerikil ini berguna agar air lebih mudah untuk mengalir ke bawah melalui lubang-lubang yang sudah dibuat tadi. Kemudian diisi dengan media tanam sedikit saja. Media tanam yang digunakan adalah campuran dari tanah gembur, kompos, arang sekam, dan coco peat. Perbandinganya kira-kira satu satu.

Kemudian bibit diletakkan di dalam pot sambil diisi dengan tanah dengan hati-hati. Masukkan media tanam dengan hati-hati pula. Jangan sampai merusak akar-akarnya. Lakukan sampai tanahnya penuh menutupi seluruh leher akar. Tanah sedikit dipadatkan.

Jangan lupa untuk disiram. Secukupnya saja. Karena baru saja ditanam, letakkan pot tadi ditempat yang teduh dan cukup lembab. Bibit ini akan terus tumbuh besar. Jika ukurannya sudah kurang lebih 40cm. Bibit ini siap di tanam

Saat ini sedang musim rambutan dan durian. Kumpulkan saja bijinya dan ditanam.

Memperbanyak Tanaman Sekulen Bagian 2

Di posting sebelumnya Arroyan sudah mejelaskan tentang cara memperbanyak sekulen dengan daunnya. Posting kali ini Arroyan akan menjelaskan cara lain untuk memperbanyak sekulen, yaitu dengan memisahkan anakannya. Caranya juga mudah.

Tanaman sekulen yang sudah tua biasanya akan muncul anakan di sisi kanan dan kiri pangkal batangnya. Anakan-anakan ini bisa dipisahkan dan ditumbuhkan terpisah dari induknya. Anakan ini akan bisa tumbuh besar dan bisa digunakan sebagai indukan lagi.

Pemisahan anakan ini juga bermanfaat untuk memperbesar tanaman induknya. Jika tidak dipisahkan anakannya, induknya akan tetap kecil dan sulit untuk memjadi besar. Indukan yang bebas dari anakan akan bisa tumbuh membesar maksimal.

Media tanam yang digunakan sama seperti pada postingan sebelumnya, yaitu: sedikit kompos halus/kering, pasir, sekam bakar dan coco peat. Media tanam ini dicampur merata. Siapkan pot untuk menanam. Masukkan sedikit media tanam ke dalam pot. Selanjutnya anakan dimasukkan ke dalam pot tersebut. Tambahkan media tanam sehingga penuh. Jangan lupa untuk menyiram media tanam ini.

Memperbanyak Tanaman Sekulen

Arroyan menjelaskan cara mudah memperbanyak tanaman sekulen. Kebetulan ada beberapa tanaman sekulen yang dirusak oleh kuncing tetangga. Banyak daun-daunnya yang rontok. Nah, sekulen bisa diperbanyak dari daunnya ini. Caranya sangat mudah sekali. Kira-kira seperti ini.

Pertama, siapkan terlebih dahulu media tanamnya yang terdiri dari kompos kering halus, pasir, sekam bakar, coco peat dan pasir. Tanaman kaktus tidak perlu banyak tanah/kompos, jadi penambahan komposnya sedikit saja. Semua media dicampur jadi satu dan dimasukkan ke pot atau tempat penanaman yang lain.

Potongan daun itu di letakkan di atas media tanam itu. Sesekali dibasahi agar basah dan lembab. Dari ujung potongan daun akan muncul akar dan tunas-tunas baru. Tanaman sekulen ini akan mendapatkan makanan dari daunnya, jadi tidak perlu banyak diberi pupuk dan air. Penambahan air secukupnya saja. Kalau terlalu banyak justru akan membuat daunnya busuk dan mati.

Setelah muncul tunasnya dan sudah agak besar, tanaman sekulen bisa dipisahkan ke dalam pot-pot terpisah untuk dibesarkan. Tanaman sekulen tumbuh lambat, jadi perlu kesabaran untuk merawatnya.

Koleksi Tanaman Hias Arroyan

Kami punya beberapa koleksi tanaman hias. Arroyan menunjukkan beberapa koleksi tanaman hias kami. Tanaman hias yang kami suka sebagian besar adalah tanaman kaktus dan sekulen. Ada beberapa jenis sekulen dan kaktus, antara lain adalah: ekor cicak, ekor cicak sebra, beberapa jenis agave (sejenis lidah buaya), ada juga kaktus yang berduri tajam, kaktus ekor naga dan kaktus bulat yang bisa tumbuh sangat besar. Kami juga punya tanaman sekulen ‘jenggot musa’, tanaman unik yang tidak memiliki akar.

Kami juga punya tanaman bonsai kecil-kecil. Ada tiga pot. Kami suka bonsai yang kecil karena tidak banyak makan tempat. Bonsai ini bisa ditaruh di meja, di rak buku atau di tempat-tempat lain. Sesekali bonsai ini ditaruh diluar agar cukup mendapatkan sinar matahari.

Salah satu alasan kami menyukai sekulen dan kaktus karena perawatannya sangat mudah. Tanaman ini tidak perlu banyak disiram dan dipupuk. Menyiramnya kalau medianya kering saja. Dipupuknya juga setahun sekali. Tapi tanaman ini perlu tempat yang kering dan banyak mendapat sinar matahari. Kalau tempatnya terlalu lembab justru akan membuat tanaman ini busuk dan mati.

Ada juga tanaman yang kami tanam secara hidroponik sederhana. Tanaman itu kami taruh di stoples kaca. Di stoples ini kami beri ikan cupang. Kotoran ikan ini akan menjadi pupuk untuk tanamannya. Ikannya juga lebih suka kalau ada tanamannya, airnya menjadi lebih bersih dan tidak perlu sering diganti. Ikan juga akan memakan jentik-jentik nyamuk.

Sugeng Tindak Simbah Kakung

Simbah Amad Dakwan semasa hidup.

Simbah Amad Dakwan semasa hidup.


Simbah, begitu biasanya kami memanggilnya. Nama lengkapnya Simbah Amat Dakwan. Simbah lupa tanggal dan tahun lahirnya. Yang beliau masih ingat adalah ketika sekolah SR (Sekolah Rakyat) pada tahun 1908. Mungkin usianya ketika itu sudah 8-9 tahunan. Simbah hanya lulus SR saja tidak melanjutkan sekolah lagi. Simbah kemudian nyantri di pesantren di ‘kulon progo’ (desa di seberang barat kali progo yang ada di desa Kedungingas).

Simbah tinggal di desa Kedungingas. Pekerjaannya adalah tukang kayu dan bertani. Beliau pernah kerja jadi tukang kayu di beberapa kota di Jawa, bahkan katanya pernah sampai ke Jakarta. Kalau musim tanam, biasanya awal musim penghujan, simbah kerja menggarap sawahnya. Mengolah tanah dan menanam padi. Selesai tanam simbah kembali jadi tukang kayu, yang mengurus sawahnya adalah simbah wedok.

Aku lahir di rumah Simbah. Konon katanya Simbah juga yang memberiku nama ISROI. Waktu kecil aku sering pergi ke rumah Simbah. Jaraknya dari rumahku cuma sekitar 2 km. Biasanya aku pergi dengan temen-temen naik sepeda BMX. Menyusuri kali Bening sampai ke desa Nepak. Dari Nepak turun ke Kedungingas. Di rumah Simbah ada pohon rambutan, duku dan mundung. Dulu di sawah juga ada pohon mangga. Kami paling senang ke main ke rumah Simbah apalagi kalau lagi musim buah.

Ketika SD dulu aku juga diajari simbah pencak silat. Kalau malam minggu aku nginep di rumah Simbah. Aku, Bambang dan Joko yang biasaya ke desa. Kami bertiga diajari pencak oleh Simbah. Tapi, karena Simbah sudah sepuh, keseimbanganya kurang, beliau juga sering kelihatan capek. Mungkin karena siangnya kerja di sawah. Lama-lama aku kasihan sama Simbah. Ketika lulus SD, aku masuk ke perguruan silat Kembang Setaman, anak perguruan SH. Latihannya di Stadion Abu Bakrin setiap minggu pagi.

Simbah hidup sangat sederhana. Rumahnya dari kayu dan bambu. Di depannya ada dipan bambu yang dibuatnya sendiri. Simbah cerita, kalau dulu punya anjing. Simbah tidak sengaja memeliharanya. Ceritanya, simbah malam-malam pulang dari kota Magelang. Pulangnya jalan kaki lewat pekuburan Giridarmoloyo (kami biasanya menyingkatnya menjadi Goriloyo). Ketika di tengah kuburan itu ada anjing yang mengikuti Simbah. Simbah menghalau anjing itu agar pergi. Tapi anjing itu tetap saja mengikuti Simbah sampai rumah. Akhirnya, karena tidak mau pergi Simbah bilang sama anjing itu:
“Nek kowe pingin melu aku, kudu nurut aku.”
“Kowe turu wae nang kene.” Sambil menunjuk ke dipan bambu itu.
“Ora oleh mblebu oman.”
Simbah adalah muslim yang taat. Tidak suka memelihara anjing. Meski tidak suka anjing, simbah tetap memelihara anjing itu. Tiap hari selalu diberi makan oleh Simbah lanang atau simbah wedok. Anjing itu jadi penjaga rumah. Kalau siang pergi dan kalau malam pulang ke rumah. Sampai suatu ketika anjing itu pergi dan tidak pernah kembali lagi.

Simbah juga pernah punya burung perkutut. Burungnya bagus dan ‘manggungnya’ bagus. Kalau ada orang pasti ‘manggung’. Kalau didekati ‘manggung’ juga. Simbah sangat menyayangi burungnya itu. Karena bagus, burung itu disukai orang dan ingin dibelinya. Simbah berat hati menjualnya, tapi karena sedang butuh uang. Burung perkutut itu akhirnya dijual juga.

Keahlian simbah sebagai tukang kayu banyak membantu bapak. Semua kusen dan kayu-kayu ketika membantun rumah yang mengerjakan Simbah dan Lik Pangat. Meja-meja warung Bapak yang membuat juga Simbah. Sampai sekarang masih bagus dan kuat.

Simbah orangnya suka bercanda. Kalau ditanya umurnya, simbah bilang:
“Umurku songolas tahun,” sambil ketawa-tawa.
Kami menyahutnya, “Ning ongkone di walik tho, Mbah?”
Kami pun ketawa bersama-sama.

Simbah sangat rajin beribadan, mengaji dan sholat. Setiap waktu sholat hampir selalu di masjid. Meskipun simbah sudah sangat sepuh sekali. Simbah masih rajin mengaji dan membaca Al Qur’an. Ketika pandangannya sudah mulai rabun dan pendengarannya berkurang, simbah mulai jarang membuka Al Qur’an. Kami belikan Al Qur’an yang ukurannya besar, biar mudah dibaca oleh Simbah.

Masih segar dalam ingatanku, simbah selalu menasehati aku dengan nasehat yang selalu diulang-ulang.
“Kowe ojo lali sholatte lan ngaji moco Quran.”
“Arepo kowe tekan ngendi-ngendi wae ojo lali sholat yo!”
“Tak dongakke kowe lan keluargamu sok ben iso munggah kaji nang mekah kono.”
“Amin…ngih, Mbah….”

“Aku wis ora pingin opo-opo. Aku wis tuwo. Mung kepingin ‘khusnul khotimah’ wae.”
“Aku ora pingin duwit opo sandang pangan sing enak. Ora.”

Meski sudah sepuh, simbah sangat sehat dan tidak pikun. Makannya banyak, apalagi kalau pakai sambel dan ikan. Meski giginya sudah banyak yang ompong, simbah tetap lahap makannya.

Simbah juga jarang sakit. Paling sakit masuk angin saja. Pernah beliau sakit parah beberapa tahun yang lalu. Di bawa ke rumah Jambon dan tidur di kamarku. Kami menyangka ini ‘sudah waktunya’ simbah. Alhamdulillah Simbah sehat lagi dan kembali beraktivitas seperti sedia kala.

Setahun yang lalu simbah juga sakit parah. Sudah lupa semuanya dan sudah tidak bisa apa-apa. Kami sudah pasrah, kalau Simbah mau ‘dipundut Sing Kuoso’. Alhamdulillah simbah kembali sehat. Waktu saya telepon ke adik saya,
“Piye kabar Simbah”,
“Alhamdulillah sehat wae, malah wingi bar seko Jambon.”

Minggu yang lalu, hari kamis malam, sepulang kerja. Seperti biasa kami sholat magrib di masjid dan pulang ke rumah sambil menghafal Al Qur’an. Saya buka laptop saya. Tiba-tiba ada ‘notification’ dari Facebook kalau adik saya men-tag sebuah foto. Sangat jarang adik saya men-tag foto, karena itu saya buka linknya.
Adik saya memposting foto lama simbah dan ada tulisannya; Innalillahi wa innailaihi rojiun.

Seperti disambar geledek. Langsung saya telepon ke adik.
“Ono opo, Ngek?”
“Simbah sedo” jawabnya singkat.
Innalillahi wa innailaihi rojiun, ucap saya lirih.

“Mau awan jam siji.”
“Lha saiki piye, wis disarekke durung?”
“Wis, iki bar rampung wae, mau jam limo sore.”
“Aku mau telpon kowe ora iso-iso.”

Saya sangat dekat dengan Simbah. Setelah Bapak ’tilar’, Simbah lah yang saya anggap sebagai orang tua penganti Bapak. Sangat sulit saya menceritakan bagaimana perasaanku waktu mendengar kabar ini. Dulu ketika Bapak ’tilar’, saya tidak sempat menunggui dan pulang. Kini, ketika simbah ’tilar’ saya juga tidak bisa menunggui dan pulang.

Tapi saya bangga dengan Simbah. Beliau ‘sedo’ dengan kondisi baik. Hanya sakit biasa dua hari saja. Insha Allah, khusnul khotimah seperti yang selalu beliau inginkan.

Nasehat Simbah selalu tergiang di telinga saya. Karena nasehat itu selalu diucapkan beliau sejak aku masih SMA dulu sampai sekarang. Nasehatnya sama terus dan diulang-ulang.
Simbah menjadi suritauladan saya; kesederhanaan Simbah, keistiqomahan Simbah, kepasrahan Simbah, ke-itmi’nan beliau, ke-qona’ahan Simbah.

Sugeng Tindak Simbah.

simbah kakung

Foto kenangan terakhir bersama Simbah Kakung ketika lebaran 1436H/2015. Simbah masih sehat wal afiat.

Simbah Kakung Magelang semasa hidup.

Simbah Kakung Magelang semasa hidup.

Simbah Kakung Magelang semasa hidup.

Simbah Kakung Magelang semasa hidup.

Simbah Kakung Magelang semasa hidup.

Simbah Kakung Magelang semasa hidup.

Simbah Kakung Magelang - 1 (1)

Simbah Kakung Magelang - 1 (2)

Simbah Kakung Magelang - 1 (3)

Simbah Kakung Magelang - 1 (4)

Simbah Kakung Magelang - 1 (5)

Simbah Kakung Magelang - 1 (8)

Simbah Kakung Magelang - 1 (9)

Simbah Kakung Magelang - 1 (10)

Jalan-jalan ke Kebun Raya Cibodas, Cipanas – Puncak

Kebun Raya Cibodas

Pintu Utama (1) Kebun Raya Cibodas, Cipanas.

Hari minggu ini kami pergi ke Kebun Raya Cibodas. Sudah lama kami ingin main ke sini, tapi baru sekarang terlaksana. Jaraknya sih tidak terlalu jauh dari rumah kami di Bogor. Cuma 48km. Masalahnya buka jaraknya, tapi waktu. Maklum, arah ke Puncak dan Ciboas sudah terkenal macetnya. Pengalaman saya pergi ke Cianjur, Cipanas dan Cibodas, jalur ini sangat macet di akhir pekan dan polisi menerapkan sistem buka tutup. Tipsnya untuk menghindari kemacetan adalah:

  • Harus sudah keluar tol Ciawi sebelum jam 6 pagi.
  • Harus sudah turun ke Bogor dan sampai di pintu tol Ciawi sebelum pukul 6 sore.

Karena itu kami berangkat di pagi buta. Selesai sholat subuh di masjid langsung berangkat. Kami sudah bangun pukul 03.30 pagi. Barang-barang yang mau dibawa sudah disiapkan sejak kemarin malam. Sholat subuh pun sudah dengan pakaian siap berangkat.

Karena masih pagi, jalanan masih cukup lancar. Masuk Tol cuma perlu waktu 20 menit. Keluar tol Ciawi masih pukul 5.30 pagi. Masih lancar. Meski begitu, jalan raya puncak sudah mulai ramai. Kecepatan rata-rata kami cuma 30 km/jam. Alhamdulillah, kami sudah sampai di pintu gerbang Cibodas pukul 06.20 pagi.

Masuk ke Kebun Raya Cibodas ada berlapis-lapis tiketnya. Sebel sebenarnya di sini. Pertama ada pungutan dari desa, besarnya di tiketnya Rp.3000 per orang, tapi tambah pungutan PMI Rp. 2000. Jadi total per orang Rp. 5000. Masih ada lagi pungutan untuk mobil. Entah berapa saya lupa.

Berikutnya tiket masuk ke Kebun Raya Cibodas. Ini tiket resmi dari LIPI yang mengelola Cibodas. Menurut saya sih murah. Harga tiket masuknya Rp. 9.500 per orang dan untuk Mobil Rp. 16.000. Tiket ini lebih murah daripada yang di Kebun Raya Bogor.

Kebun Raya Cibodas

Tiket masuk kebun raya Cibodas, Cipanas.

Jam 07.00 pagi loket baru buka. Jadi kami masuk ke pintu gerbang yang pertama kali. Pertama masuk belok ke kiri. Ini pertama kali kami masuk, jadi kami belum tahu tempat-tempat mana yang bagus dan mana yang kurang bagus. Kami berjalan sambil menyusuri taman-taman yang ada. Kalau ada tempat yang bagus kami turun dan bermain-main di situ.

Anak-anak seneng banget bermain-main di taman itu. Terutama Yusuf, dia lari sana-sini, plosotan dan kejar-kejaran dengan kakaknya.

Kebun Raya Cibodas sedikit berbeda dengan Kebun Raya Bogor. Mungkin karena belum tua umurnya. Tanamannya belum terlalu banyak. Beberapa yang unik di tempat ini yang tidak ada di Kebun Raya Bogor adalah koleksi lumut dan koleksi kantung semar. Namun, sayang sekali, ketika kami ke sana, kedua taman ini tutup.

Di Kebun Raya Cibodas juga ada beberapa air terjun. Di Kebun Raya Bogor tidak ada air terjunnya. Airnya pun masih jernih sekali, bisa untuk mandi dan main air. Ketika kami sholat pun wudhu dengan air sungai yang jernih ini.

Kami juga seneng sekali, karena di Cibodas kami bisa membeli tanaman hias. Ada banyak sekali jenisnya. Harganya pun lumayan miring daripada di Bogor. Asalkan kita pintar-pintar menawar saja. Ada berbagai macam kaktus, tanaman bunga, bonsai, sekulen, anggrek dan beberapa jenis tanaman lainnya. Kami memborong banyak sekali tanaman.

Tapi kamu juga sedikit kecewa, terutama dengan pedagang asongan di parkiran Kebun Raya Cibodas. Kami beli kue moci dan straberry. Kecewa banget, karena kue mocinya kecil-kecil. Satu kotak cuma isi lima gelintir yang kecil-kecil. Rasanya nggak karu-karuan. Kapok deh. Sama ketika beli berry-berryan. Kalau pergi ke sana, mendingan tidak usah beli makanan-makanan seperti ini.

Untuk menghindari macet, kami harus keluar dari Kebun Raya sebelum pukul 3 sore. Pertimbanganya, meski jaraknya cuma sekitar 20km ke pintu tol Ciawi, jalan di sini macet. Bener saja, ketika kami keluar masih macet dan masih jalan dua arah. Pukul 3, jalan dibuat satu arah ke bawah saja. Meski begitu, jalanan tetap saja macet. Perjalanan pulang ke rumah kami tempuh dalam waktu 2.5 jam. Artinya 45km/2.5 jam, kecepatannya cuma 18 km per jam. Gila kan.

Tapi kami puas sih main-main ke Cibodas. Kapan-kapan main ke sini lagi, tentunya dengan persiapan yang lebih matang. Kalau bisa dihari kerja, biar tidak macet banget.

Kebun Raya Cibodas

Di salah satu taman di Kebun Raya Cibodas

Kebun Raya Cibodas

Pemandangan di salah satu taman di Kebun Raya Cibodas, Cipanas

Continue reading