Indahnya Berbagi

Di hari jum’at yang penuh barokah ini saya menyaksikan pemandangan yang menyentuh hati. Seperti biasa, setiap jam berangkat kerja jalanan selalu macet. Orang-orang bergegas ingin segera sampai ke tempat kerja. Tak terkecuali para pengemis yang sudah berada di ‘pos’-nya masing2 di trotoar jalan. Di tengah-tengah kemacetan itu saya melihat ibu-ibu, naik motor matic dan membawa kantong plastik penuh nasi bungkus. Ketika sampai di dekat salah satu pengemis dia mengeluarkan nasi bungkus dan memberikannya pada pengemis itu. Dia berjalan lagi, berhenti lagi dan melakukan hal sama ke pengemis-pengemis lainnya. Saya sengaja jalan pelan2 di belakang motor si Ibu itu. Subhanallah, ternyata Ibu itu membagikan nasi bungkus ke semua pengemis yang mangkal di sepanjang jalan ini.

Hari jum’at adalah hari yang penuh barokah. Sedekah di hari ini akan dilipatkan pahalanya. Ya Rabb, lipatgandakan pahala sedekah Ibu itu dan berilah balasan yang lebih baik dari sisi-Mu. Engkalah Yang Maha Mengetahui dan Maha Pengasih. Amin.

Anak-anak Perkasa

Sulit saya mengungkapkan isi perasaan saya. Iba, sedih, marah, kecewa, geram, miris bercampur aduk jadi satu. Orang-orang yang tidak punya banyak saya temui di sekeliling saya. Mereka bukan pengemis, tetapi mereka yang berusaha sekuat tenaga untuk bertahan hidup dan berjuang. Entah dengan cara apa saya bisa membantu orang-orang ini.

Saya tidak bercerita tentang pengemis dan gelandangan. Terus terang saya jarang sekali memberi uang kepada pengemis yang sering mangkal di pingir jalan atau di masjid-masjid selesai sholat jum’at. Saya sangat selektif sekali kalau mau memberi uang kepada pengemis. Saya lebih ‘respect’ pada orang-orang miskin yang berusaha untuk bertahan hidup tanpa harus meminta-minta dengan mengeksploitasi kemiskinannya dan kemalangannya. Misalnya, Aki Penjual Telur Ayam.

Anak penjual combro

Beberapa waktu yang lalu banyak diberitakan di media tentang kisah Aisyah yang merawat bapaknya di dalam becak. Sebenarnya banyak anak-anak seperti mereka yang ada di sekitar kita. Pernahkah kita sedikit memperhatikan lingkungan kita. Banyak sekali anak-anak seperti Aisyah dan mereka membutuhkan uluran tangan kita.

Pernah saya temui seorang anak yang menjual combro malam-malam. Hujan gerimis dan malam sudah larut, tapi anak itu masih keliling komplek menjajakan dagangannya. Saya panggil anak itu. Saya pegang dagangannya sudah dingin semua. Saya tanya ke dia;”Kenapa malam-malam masih berjualan dan tidak pulang saja?”
“Takut dimarahi emak, karena dagangannya belum laku”, jawabnya singkat.
Deg…seperti disambar geledek saya mendengarnya. Saya borong gorengan-gorengan itu dan saya suruh dia segera pulang.

Anak Pemulung 1
Suatu malam saya makan di warung tenda dekat pasar. Selesai makan saya mau membayar makanan saya. Di balik gelapnya malam dan ramainya kendaraan, saya melihat seorang anak melintas dengan membawa kantong plastik. Dia memakai kaos hitam, celana seragam SD merah panjang dan tidak memakai alas kaki. Saya perhatikan anak itu memunguti botol dan gelas plastik bekas air mineral. Setelah berjalan beberapa jauh dia duduk termenung di pinggir jalan. Saya lihat jam tangan saya menunjuk angka 09.30.

Saya dekati anak itu, saya tanya namanya;”Siapa namamu, Dik?”
“Ucup”, jawabnya singkat. Saya tidak begitu jelas mendengarnya.
“Kamu sekolah?” tanya saya lagi.
Dia mengangguk singkat.
“Kamu tinggal di mana?” lanjut saya.
“Di Gang Bengkong,” jawabnya.
Trenyuh saya mendengarnya. Uang yang ada di saku saya serahkan ke dia,”Ini untuk sekolah kamu.”

Tak beberapa lama melintas seorang ibu menarik gerobak dan dibelakangnya ada seorang anak kecil lain yang juga membawa kantong plastik. Ternyata si Ibu itu adalah ibunya Ucup dan anak kecil itu adiknya.

Air mata saya tumpah tanpa terasa. Saya pulang dengan perasaaan campur aduk tidak karuan.

Anak Pemulung 2
Sore hari pulang kerja, saya melihat seorang anak berjongkok di perempatan komplek dekat rumah. Dari jauh anak itu seperti meringis, entah menangis, entah menahan sakit. Sampai di rumah saya minta orang yang kerja di rumah untuk menemui anak itu.embua
“Coba lihat, kenapa anak itu menangis,” pinta saya.
“Ajak anak itu ke rumah,” suruh saya lagi.

“Kemu kenapa menangis?” tanya saya ke anak itu.
“Tidak apa-apa,” jawabnya malu-malu.
“siapa namamu?”
“Rizki.”
“Rizki, kenapa kamu menangis? Ada anak yang nakal sama kamu?”
Riski mengeleng pelan.
“Perut saya sakit….belum makan”, jawabnya lirih sambil menunduk.

“Dir, ambil kue yang di meja dan buatkan anak ini minum!” pinta saya. Kebetulan di rumah sedang tidak ada makanan apa2, hanya ada sisa kue kemarin saja.

Anak itu saya suruh duduk di teras rumah. Sambil makan biskuit saya tanya lagi anak itu, dia tinggal di mana, apakah dia sekolah, dan orang tuanya siapa.

Rizki anak pertama dari empat bersaudara. Adiknya ada yang meninggal satu. Bapaknya kerja buruh membuat sepatu, tapi bapaknya suka main judi dan mabok. Jadi tidak pernah punya uang. Ibunya yang kerja serabutan. Dia memulung untuk mencari tambahan uang. Rizki sekolah di MI swasta sudah kelas 6, tapi tidak tahu apakah bisa melanjutkan sekolah atau tidak.

***
Hidup ini memang keras. Ada anak-anak perkasa yang harus berjuang bertahan hidup.

Buat Sepasang Mata Tak Dikenal

Buat Sepasang Mata Tak Dikenal

Juita
Kalaulah kegandrungan yang kunyatakan ini menarik perhatianmu
Atau tak berarti apa-apa bagimu
Maafkanlah aku. Namun di matamulah
Dalam lindup bayangannya, suatu petang aku bersandar istirah
Dan sebentar terhantar dalam tidur yang indah.
Dalam ketenangannya kubelai bulan dan bintang-bintang
Kuanyam kapal khayal dari kelopak-kelopak kembang
Dan kubaringkan jiwaku yang lelah di sana
Kuberi minum bibirku yang dahaga
Dan kupuaskan gairah mataku yang mendamba

Juita
Waktu kebetulan kita bertemu sebagai dua orang asing yang bertemu
Dukaku pun berjalan juga di jalan itu
Telanjang, tak terselubung
Dengan langkah murung…
Dan engkaulan dukaku itu
Kesedihan dan kegagalan
Kebisuan dan kekecewaan
Mengungkung penyair yang bergulat habis-habisan
Karena puisi, Juita, ialah orang asing dinegeriku
Dibunuh kekosongan dan kehampaan.
Jiwaku gemetar ketika aku melihatmu
Aku merasa tiba-tiba seakan sebuah golok mengorek ke dalam darahku
Membersihkan hatiku, mulutku
Meniarapkan aku dengan kening kotor dan tangan meminta
Dalam lindap bayangan matamu yang jelita

Juita
Jika tiba-tiba kita bertemu
Jika mataku memandang matamu
Yang anggun, hijau, tenggelam dalam kabut dan hujan
Jika kebetulan pula kita bertemu lagi di jalan
(Dan bukankah hanya nasib kebetulan ini)
Maka akan kucium jalan itu, kucium dua kali

Muhammad Al Fayaturi (1930 – )

********

Waktu sekolah di SMA aku pernah baca sebuah puisi cinta terjemahan dari bahasa arab. Puisi itu masih kuingat hingga sekarang.

Dialog

DIALOG

Jangan katakan bahwa cintaku
Sebentuk cincin atau gelang
Cintaku ialah pengepungan benteng lawan
Ialah orang-orang nekat dan pemberani
Sambil menyelidik mencari-cari, mereka menuju mati.

Jangan katakan bahwa cintaku
Ialah bulan,
Cintaku bunga api bersemburan.

‘Ali Ahmad Sa’id (Anonis) (1930 – )
***
Waktu sekolah di SMA aku pernah baca sebuah puisi cinta terjemahan dari bahasa arab. Puisi itu masih kuingat hingga sekarang.

Ngadimin Hadiprayitno, veteran perang ’45

veteran perang 45 Mbah Ngadimin

Mbah Ngadimin Hadiprayitno, sedang menyanyi keroncong di gerbong 7.

NGADIMIN, nama itu tertulis di atas saku kiri baju veterannya. Beliau memakai baju seragam lengkap, hijua tentara, langbang jasa, dan topi kuning. Umurnya saya perkirakan sudah kepala tujuh. Mungkin seumuran dengan Bapak Alhmarhum.

Sejak nunggu kereta di stasiun Pasar Senen, beliau sudah menarik perhatian. Biacaranya ceplas-ceplos. Beliau duduk menunggu di dekat tempat aku duduk. Ternyata waktu di kereta pun duduknya di depanku.

Mbah Ngadimin mengajak ngobrol akrab dengan siapa saja. Ngobrol sambil bercanda. Sayangnya pendengarannya sudah jauh berkurang. Jadi kalau diajak ngobrol tidak nyambung. Jadi kami mangut2 saja kalau beliau ngajak ngomong.

Ketika para penumpang sedang asik dengan HP masing2, tiba-tiba Mbah Ngadiman memecah kesunyian. Beliau menyanyi keroncong dengan keras. Kami jadi terhenyak. Beliau terus menyanyi dengan keras, tampa memperdulikan sekitarnya. Ketika sebuah lagu selesai, Mbah Ngadiman menyelanya dengan pantun;

“Ali-ali ilang matane; ojo lali karo kancane”

“Pring peting cagakke radio; pontang panting bojone loro”

“Semarang kaline banjir, jo sumelang ra dipikir”

Mendengar pantun itu penumpang tertawa kepingkal-pingkal. Kami semua jadi terhibur. Kemudian dia berhenti sejenak.

“Sik ….. aku meh nguyuh sik,” katanya sambil berdiri menuju wc.

***
Setelah diam beberapa saat. Dia minta saya untuk mengambilkan tas rangselnya yang disimpan di tempat tas di atas. Saya ambil dan serahkan tas itu padanya.

Dia membuka tas dan mengambil seauatu dari dalam tas. Sebuah tumpukan kertas yang diikat dengan tali karet. Dia membuka ikatan karetnya dan memilah2 isinya. Lebar demi lembar dia buka, seperti sedang mencari seauatu. Dia mengambil sebuah buku catatan lusuh. Bukunya sudah tidak ada sampulnya. Kertasnya sudah menguning dan tulisannya sudah agak luntur.

“Di bawah sinar bulan purnama…..”
Mbah Ngadiman mulai menyanyi lagi. Ternyata Mbah Ngadiman mengambil buku catatan lagu keroncong.

Tujuh lagu dia bawakan. Dengan selingan pantun2 lucu yang menghibur. Mbah Ngadiman membawakan lagu dengan gaya penyiar radio.

Kami semua jadi terhibur sepanjang perjalanan ini.

Mbah Ngadiman bercerita kalau dia pemimpin band keroncong veteran di Semarang dan biasa siaran di RRI. Pantes.

Sampai di Semarang Mbah Ngadamin turun. Saya pun turun di sini. Beliau sudah ditunggu oleh anaknya.

Sugeng tindak. Semoga tetap sehat Mbah Ngadiman.

Saya meneruskan perjalanan ke timur. Memuntahkan rasa rinduku pada buah hatiku.

Ajit

image

Ajit, malam2 mencari sampah untuk biaya sekolah

Namanya Ajit, tinggal di Gang Bengkong. Umurnya sekitar 10 tahunan. Pakai celana merah panjang sebetis, seragam SD, kaos oblong hitam dan tidak beralas kaki.  Malam2 seperti ini dia menyusuri jalanan dengan membawa karung. Dia punguti gelas & botol bekas air mineral. Dia punguti ‘sampah’ yang masih bisa dijual lagi.

Dia duduk di pinggir jalan sambil mengamati kendaraan & orang2 yang berlalu lalang. Saya tanya ke dia, ” Kamu sekolah?”
“Ya…”, jawabnya singkat.

Wajahnya polos. Pandangannya cerah. Saya melihat cahaya semangat di matanya.

“Sekolah yang rajin, ya”,  lanjutku.
Dia mengangguk sedikit.

Ternyata dia tidak sendiri. Adik laki2nya membututi agak jauh darinya. Di belakangnya lagi aku lihat seorang ibu2 menarik gerobak rongsokan.

……………….
;-(

PP No. 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga

Artikel lain tentang sampah, klik di sini: SAMPAH

Undang-undang No. 18 Tahun 2008 tentang PENGELOLAAN SAMPAH

Artikel lain tentang sampah silahkan klik di sini: SAMPAH

Tabiat Warga yang Selalu Membuang Sampah di Kali

Kali di daerah Tajur Bogor, tepatnya di belakang Alfamart Tajur, yang jadi tempat warga membuang sampah. Warga sama sekali tidak peduli. Mereka selalu membuang sampah di dekat jembatan ini. Tumpukan sampah menggunung dan kalau hujan turun, sampah-sampah itu akan terbawa masuk ke badan sungai.
Entah dari mana mulainya untuk menyadarkan orang-orang ini agar tidak membuang sampah sembaranngan ke badan sungai/kali.

Info tentang sampah klik di https://isroi.wordpress.com/?s=sampah
Info pelatihan pengelolaan sampah berbasis bioteknologi: http://goo.gl/VwspLu

Pelatihan Pengelolaan Sampah Berbasis Bioteknologi

Pelatihan Pengelolaan Sampah Berbasis Bioteknologi

Pelatihan Pengelolaan Sampah: BERKAH DARI SAMPAH

Info lengkap pelatihan pengelolaan sampah klik disini: BERKAH DARI SAMPAH