Problem & Solusi Penambahan Mikroba Biofertilizer di dalam Pupuk Organik Granul (POG)

Dalam tulisan sebelumnya saya sudah menjelaskan tentang penambahan mikroba biofertilizer di dalam pupuk organik, baik granul maupun curah ( Penjelasan Tambahan Tentang Mikroba untuk Memperkaya Kompos). Saat ini pemerintah mensyaratkan jika semua pupuk organik granul (POG) terutama yang bersubsidi harus mengandung mikroba biofertilizer. Namun, ternyata ada permasalahan pada penerapan aturan pemerintah tersebut.

Rhizobium

Salah satu tahapan pembuatan POG adalah pengeringan. POG dikeringkan dengan menggunakan mesin pengering ( rotary dryer) dengan suhu tinggi agar POG cepat kering (dengan kadar air <15%) dan granulnya mengeras. Proses pengeringan ini menggunakan suhu yang sangat tinggi. Saya lihat sendiri di salah satu pabrik pupuk organik yang memanaskan granul dengan suhu 700 oC. Ada juga yang suhunya > 200 oC. Pada suhu yang sangat tinggi seperti itu, sebagian mikroba akan mati selama proses pengeringan. Akibatnya populasi mikroba menjadi rendah dan tidak berperan di dalam pupuk organik granul tersebut.

mikroba pelarut fosfat

Beberapa produsen pupuk organik mengatasi permasalah ini dengan cara dua kali penambahan mikroba. Pertama pada saat pembuatan granul dan kedua setelah proses pengeringan. Jadi setelah POG dikeringkan disemprotkan kembali mikroba di sekelilingnya. Dengan cara ini diharapkan populasi mikroba dapat meningkat kembali. Permasalahnnya adalah proses penyemprotan ini akan meningkatkan kadar air POG lagi.

Permasalahan populasi mikroba yang rendah di dalam POG ini saat ini diduga menjadi penyebab dari rendahnya kualitas POG yang beredar di pasaran. Meskipun, saya secara pribadi kurang sependapat. Saya melihat sendiri di lapangan, rendahnya kualtias POG tidak hanya disebabkan oleh rendahnya populasi mikroba, tetapi oleh banyak faktor. Misalnya saja; kualitas bahan baku yang kurang baik, banyak penipuan yang dilakukan oleh suplier, proses pembuatan yang tidak memenuhi SOP, dan tekanan-tekanan non teknis lainnya.

Ada beberapa solusi yang saya rasa bisa memjawab permasalahan ini.

PERTAMA, mikroba biofertilizer dikemas dalam kondisi tahan panas dan tahan kering. Mikroba secara alami/natural bisa melindungi dirinya menjadi bentuk-bentuk yang tahan terhadap kondisi ekstrim. Misalnya saja ada mikroba yang membentuk endospora, spora, atau bentuk-bentuk lainnya. Andaikan mikroba biofertilizer di kemas dalam bentuk ini, mikroba akan tahan selama proses pengeringan dan suhu tinggi. Saya sudah berhasil menyimpan mikroba biofertilizer dengan kadar air 5% (Lihat di posting ini: Fosfat Alam Granul)

fosfat alam granul

sampul depan

Buku Gratis Pupuk Organik Granul

KEDUA, mikroba diberikan bukan dalam bentuk cairan. Setahu saya hampir semua mikroba tambahan untuk pupuk organik granul diberikan dalam bentuk cair. Mikroba yang berada di dalam cairan fermentasi biasanya berada dalam fase normal. Kondisi mikroba ini sangat rentan dengan perubahan lingkungan dan lebih mudah mati. Mikroba bisa dikemas dalam bentuk padatan dengan kadar air sangat rendah (<10%). Dalam kondisi ini mikroba biasanya tidak tumbuh dan berada dalam kondisi diam/dorman. Mikroba ini lebih bisa bertahan dalam kondisi ekstrim.

KETIGA, mikroba tidak ditambahkan pada pupuk organik granul. Jika penambahan mikroba di dalam pupuk organik granul justru mempersulit proses pembuatan pupuk organik granul, saya sarankan jangan ditambahkan di dalam granulnya langsung. Selama ini apliksi pupuk organik granul disertai dengan pemberian pupuk organik cair (POC). Mikroba bisa ditambahkan di dalam POC itu sendiri.

Promo

[Posting ini dibuat dengan menggunana OpenOffice Writer]



Download literatur gratis: Download di sini | Recomended site: Gudang Ebook Gratis

donwload ebook gratis microbiology

Advertisements

7 responses to “Problem & Solusi Penambahan Mikroba Biofertilizer di dalam Pupuk Organik Granul (POG)

  1. Sebenarnya alam sudah menyediakan bahan baku organik tinggal kita olah sendiri,penggunaan pupuk kandang atau kompos sebagai bahan bokasi dan sumber lainnya dikombinasikan dgn poc hayati hasilnya lebih bagus dan biaya lebih murah dari pada POG.1 ha hanya memerlukan 500kg-1 ton pupuk kandang/kompos.Sehingga tidak perlu lagi pupuk kimia,granule dan pestisida kimia.

  2. Berapa lama mikroba tersebut dapat bertahan hidup jika tidak diaplikasikan sebagai pupuk?

  3. Salam kenal, mau tanya, seberapa pengaruh penggunaan zeolite dan kaptan pada proses pembuatan POG terhadap kandungan mikroba?

    • Zeolit bisa mempertahankan kehidupan mikroba dlm POG. Sedangkan kapur jika terlalu banyak menyebabkan peningkatan pH POG, & ini kurang bagus untuk mikroba.

      • bila boleh menambahkan,…..kami dari tim peduli lingkungan,………kami mampu menjawab bioaktif yang hidup di segala suhu hingga 100 drajat atau lbh. dan keadaan,..dan bersifat memecah kandungan hingga level Nano .ini adalah biomateri, dan pertama kali sy expose disini. dan bisa dites.solusi untuk pupuk nanotech,….trm kasih mdh mudahan membantu.

  4. Pingback: PROBLEM & SOLUSI PENAMBAHAN MIKROBA BIOFERTILIZER DI DALAM PUPUK ORGANIK GRANUL (POG) | 1M-Bio

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s