Category Archives: Jalan-jalan

Thrifting: Melawan Gengsi, Memperpanjang Umur Bumi

Kondisi Pasar Jembatan Item Jatinegara

Mendengar kata “barang bekas”, apa yang pertama kali terlintas di benak Anda? Kumuh? Rusak? Atau mungkin, tanda ketidakmampuan finansial?

Jujur saja, bagi sebagian besar masyarakat kita, membeli barang baru (brand new in box) seringkali dianggap sebagai simbol kesuksesan. Ada rasa bangga saat membuka segel plastik, mencium aroma “barang baru”, dan menjadi pemilik pertama. Sebaliknya, membeli barang bekas atau second hand seringkali terhalang oleh satu tembok besar bernama: Gengsi.

Padahal, jika kita mau menyingkirkan gengsi itu sejenak dan melihat dari kacamata yang lebih luas, membeli barang bekas adalah salah satu tindakan paling revolusioner yang bisa kita lakukan hari ini. Bukan hanya untuk dompet kita, tapi untuk keberlangsungan tempat tinggal kita: Bumi.

Dalam tulisan bagian kedua tentang Sustainable Habit ini, saya ingin mengajak Anda menyelami dunia thrifting (belanja barang bekas). Mengapa kebiasaan ini perlu kita normalisasi, bahkan kita biasakan sebagai sebuah kebiasaan yang sustainable.

Filosofi di Balik Barang Bekas: Memperpanjang Umur Pakai Barang

Dalam konsep ekonomi sirkular yang saya bahas di tulisan sebelumnya, musuh utamanya adalah budaya “sekali pakai” dan “buang”. Setiap barang yang diproduksi di muka bumi ini—mulai dari baju, gadget, hingga mobil—membutuhkan sumber daya alam. Ada air yang dipakai, mineral yang ditambang, dan emisi karbon yang dilepaskan pabrik saat memproduksinya.

Ketika kita membeli barang baru, kita memberi sinyal ke pasar untuk “tolong ambil sumber daya alam lagi dan buatkan saya yang baru.”

Namun, ketika kita membeli barang bekas yang masih layak pakai dan fungsional, kita sedang melakukan tindakan heroik: Memperpanjang umur pakai (product life cycle) barang tersebut.

Bayangkan sebuah laptop. Energi terbesar yang dihabiskan laptop bukanlah listrik yang Anda pakai untuk men-cas setiap hari, melainkan energi saat proses manufakturnya. Jika laptop itu dibuang setelah 3 tahun, energi itu sia-sia. Tapi jika Anda membelinya dalam kondisi bekas dan memakainya 3 tahun lagi, Anda telah membagi “beban lingkungan” laptop tersebut menjadi jauh lebih ringan.

Jadi, thrifting bukan soal tidak mampu beli baru. Thrifting adalah bentuk penghargaan kita terhadap sumber daya alam yang sudah terlanjur diambil dari bumi.

Level Up: Dari 3R Menjadi 9R

Mungkin sejak sekolah dulu kita sudah sangat akrab dengan mantra lingkungan “3R”: Reduce, Reuse, Recycle. Itu dasar yang bagus, tapi untuk tantangan lingkungan hari ini, 3R saja ternyata tidak cukup.

Dalam konsep Ekonomi Sirkular yang lebih maju, dikenal istilah 9R Framework. Ini adalah tingkatan strategi untuk meminimalkan limbah. Semakin kecil angkanya (R0), semakin tinggi dampak positifnya.

Nah, di mana posisi thrifting atau membeli barang bekas dalam peta 9R ini? Ternyata posisinya sangat tinggi dan krusial:

1. R1: Rethink (Memikirkan Ulang) Sebelum dompet terbuka, thrifting mengajak kita mengubah pola pikir. Kita diajak untuk memikirkan ulang konsep “kepemilikan”. Apakah saya butuh barang yang baru, atau saya hanya butuh fungsinyaRethink adalah mengubah mindset bahwa barang bekas bukanlah sampah, melainkan sumber daya yang masih bernilai.

2. R3: Reuse (Menggunakan Kembali) Ini adalah inti dari thriftingReuse berarti menggunakan kembali produk yang sudah dibuang atau dilepas oleh pemilik pertamanya, yang masih dalam kondisi baik dan berfungsi sesuai tujuan aslinya. Saat Anda membeli baju di pasar loak atau membeli mobil bekas tetangga, Anda sedang melakukan praktik Reuse yang sesungguhnya. Anda mencegah barang itu turun kasta menjadi sampah.

3. R5: Refurbish (Memperbarui) Ini berkaitan erat dengan barang elektronik atau mesin yang saya sebutkan tadi. Refurbish adalah proses pembaruan atau modernisasi barang tua agar kondisinya kembali prima (terkadang up-to-date). Membeli laptop refurbished berarti Anda menghargai upaya pemulihan fungsi. Anda tidak membiarkan kerangka dan komponen mesin yang masih bagus itu dilebur begitu saja (di-recycle), tapi memberinya kesempatan hidup kedua.

Jadi jelas, thrifting bukan sekadar gaya-gayaan. Dalam piramida kelestarian lingkungan, tindakan Reuse dan Refurbish(membeli bekas) itu jauh lebih mulia daripada Recycle (daur ulang). Daur ulang butuh energi besar untuk melebur bahan, sedangkan Reuse nyaris tanpa energi tambahan.

Memperbaiki Jaket di Pasar Jatinegara

Apa Saja yang Bisa Di-Thrift?

Banyak orang mengira thrifting hanya soal baju import atau fashion anak muda. Padahal, spektrumnya sangat luas. Hampir semua kebutuhan hidup sebenarnya bisa dipenuhi dari pasar sekunder, asalkan kita jeli.

  1. Kendaraan (Mobil, Motor, Sepeda): Ini adalah contoh paling rasional. Nilai mobil baru bisa turun (depresiasi) hingga 20-30% begitu keluar dari showroom. Membeli kendaraan bekas tahun muda dengan kondisi prima adalah keputusan finansial yang sangat cerdas. Fungsinya sama, harganya jauh berbeda.
  2. Perkakas dan Alat Pertukangan: Palu, kunci inggris, gergaji, atau bor listrik adalah barang-barang yang didesain tahan banting. Bor bekas yang usianya 5 tahun seringkali masih sama kuatnya dengan bor baru, tapi harganya mungkin tinggal seperempatnya.
  3. Elektronik dan Gadget: Ini favorit saya. Laptop, kamera, hingga jam tangan. Seringkali orang menjual gadget mereka bukan karena rusak, tapi karena bosan atau ingin upgrade ke model terbaru. Ini adalah peluang emas bagi kita untuk mendapatkan teknologi tinggi dengan harga miring.
  4. Furnitur: Lemari jati tua atau meja kerja bekas kantor seringkali memiliki kualitas material yang jauh lebih kokoh dibandingkan furnitur partikel serbuk kayu yang dijual di toko modern saat ini.

Mengenal Barang Refurbished: Bekas Rasa Baru

Selain barang bekas murni (used), sekarang kita juga mengenal istilah Refurbished. Ini adalah jalan tengah yang menarik bagi Anda yang masih ragu soal kualitas.

Barang refurbished adalah barang bekas (atau barang retur) yang sudah ditarik kembali oleh pabrikan atau teknisi profesional, diperbaiki komponen yang rusaknya, dibersihkan, diuji ulang fungsinya, dan dijual kembali—seringkali dengan garansi.

Membeli barang refurbished menurut saya adalah sweet spot dalam sustainable living. Kita menyelamatkan barang dari tumpukan sampah elektronik, tapi kita mendapatkan jaminan kualitas yang hampir setara barang baru. Di luar negeri, membeli iPhone atau MacBook refurbished resmi dari Apple adalah hal yang sangat lumrah dan dianggap cerdas.

Cuan dari Barang Bekas

Mari bicara angka. Idealisme lingkungan itu bagus, tapi penghematan uang adalah insentif yang nyata.

Membeli barang second bisa menghemat anggaran Anda mulai dari 30% hingga 50%, bahkan lebih. Bayangkan jika Anda perlu membeli perlengkapan rumah tangga senilai Rp 10 juta. Dengan berburu barang bekas berkualitas, Anda mungkin hanya perlu mengeluarkan Rp 5 juta. Sisa Rp 5 jutanya bisa Anda alokasikan untuk investasi, dana darurat, atau kebutuhan pendidikan anak.

Secara tidak langsung, gaya hidup thrifting membuat kita lebih kaya. Kita mendapatkan fungsi yang sama (fungsionalitas adalah kunci), tapi dengan modal yang jauh lebih kecil.

Seni Berburu Barang Trifting: Teliti Sebelum Membeli

Tentu saja, membeli barang bekas ada seninya. Tidak bisa asal ambil seperti di supermarket. Ada risiko barang tidak berfungsi normal atau cacat tersembunyi. Di sinilah letak tantangan dan keasyikannya. Kita dituntut untuk menjadi pembeli yang cerdas dan kritis.

Berikut beberapa prinsip yang saya pegang:

  • Cek Fisik dan Fungsi: Jangan hanya lihat foto. Jika memungkinkan, cek barang secara langsung (Cash on Delivery / COD). Putar semua tombol, cek semua baut, nyalakan mesin.
  • Tanya Riwayat: Tanyakan pada penjual, “Kenapa dijual?”, “Pernah servis di mana?”, “Sudah dipakai berapa lama?”. Jawaban penjual seringkali bisa menjadi indikator kondisi barang.
  • Bandingkan Harga: Cek harga barunya, cek harga pasaran bekasnya. Pastikan harganya masuk akal. Terlalu murah patut dicurigai, terlalu mahal tidak worth it.

Surga Barang Bekas di Sekitar Kita

Pasar Loak Jembatan Item Jatinegara
Pasar Loak Jembatan Item Jatinegara (photo by Anwar)

Indonesia sebenarnya adalah surganya barang bekas. Kearifan lokal kita dalam memanfaatkan barang sisa sebenarnya sangat tinggi. Di setiap kota, pasti ada “pusat harta karun” yang menunggu untuk diulik.

Jika Anda di Jakarta, pasti tidak asing dengan Pasar Jembatan Item di Jatinegara. Di sana terhampar segala macam barang, mulai dari sepatu bekas, mainan anak, hingga barang antik yang tak terduga. Ada juga Pasar Loak Kebayoran Lama yang legendaris bagi pemburu kamera analog atau barang vintage.

Bergeser ke Yogyakarta, ada Pasar Klitikan Kuncen (Pakuncen) dan pasar malam Senthir di dekat Beringharjo. Bagi pecinta otomotif atau sekadar cari sparepart motor jadul, tempat ini adalah surga.

Bahkan di Depok dan kota-kota penyangga lainnya, kini mulai bermunculan toko-toko modern yang dikhususkan menjual barang-barang bekas terkurasi (biasanya furnitur atau pakaian), atau toko barang bekas Jepang yang sedang menjamur.

Ubah Rasa Malu Jadi Rasa Bangga

Sudah saatnya kita mengubah mindset. Membeli barang bekas bukanlah tanda kemunduran. Justru, itu adalah tanda kemajuan berpikir.

Jangan malu saat teman bertanya, “Lho, itu tasnya baru ya?” lalu Anda menjawab, “Oh nggak, ini beli second, masih bagus kan?”.

Jawaban itu menunjukkan bahwa Anda adalah konsumen yang rasional. Anda mendapatkan barang bagus, harga miring, dan di saat yang sama, Anda telah berkontribusi nyata menahan laju kerusakan bumi. Anda telah menyelamatkan satu barang dari TPA dan mencegah satu barang baru diproduksi dengan emisi karbon.

Jadi, untuk kebutuhan Anda berikutnya—entah itu ganti HP, beli meja belajar anak, atau cari perkakas—cobalah cek pasar barang bekas dulu sebelum ke toko barang baru. Siapa tahu, jodoh Anda ada di sana.

Teliti sebelum membeli, dan selamat berburu harta karun!

Anggrek Tanah Spesies Spiranthes sinensis

orchids Spiranthes sinensis

Anggrek Tanah Spiranthes sinensis

Gara-gara Pandemi Covid-19: Berburu Anggrek Liar

 

Pandemi Covid-19 membuat kehidupan serasa melambat. Kerja nggak bisa leluasa, main nggak leluasa, pokoknya serba terbatas. Tapi, bagi saya ini kesempatan untuk melakukan sesuatu yang saya sukai, yaitu: mencari anggrek spesies. Kebetulan banyak sekali waktu luang. Dan, kebetulan sejak bulan lalu, saya ‘meninggalkan’ dunia penelitian dan menjadi ‘petani’ saja.

Saya kerja di pelosok Jawa Barat bagian selatan. Di saat-saat tidak banyak pekerjaan, saya dan anak saya yang paling besar jalan-jalan menyusuri pingir-pinggir kebun dan hutan untuk mencari anggrek liar. Ketemu beberapa anggrek mini di pohon-pohon pinggir jalan.

Kebetulan juga, saya ketemu dengan ‘hunter’ anggrek daerah sini. Dia membuka gubuk kecil berisi anggrek-anggrek liar yang diambil dari hutan. Tentu saja hati saya ber-anggrek-anggrek. Nggak banyak yang saya ambil dari hunter ini. Cuma, saya jadi punya ‘guide’ yang bisa mengajak saya hunting anggrek hutan.

Kawan Lama Perawat Anggrek Liar

Nah, saya jadi inget kawan lama saya yang juga kerjanya mengurusi anggrek setiap hari di kaki Gn. Pangrango. Main lah saya ketempatnya. Dari sekian banyak anggrek di rumahnya, ada satu tanaman mini yang unik. Saya pikir ini tanaman hias apa gitu. Kecil dan mini.

“Ini apa, kang?”

“Ini anggrek juga. Anggrek tanah.”

“Kok, beda…., buat saya satu deh…”.

“Sok..atuh…”

“Alhamdulillah, haturnuhun, Kang,”

“Ini anggrek asli pribumi, kan ya Kang?”

“Iya asli sini. Tumbuh di padang rumput sana.”

Saya langsung jatuh cinta dengan bentuknya yang unik. Apalagi asli pribumi… Makin jatuh cinta lagi.

Anggrek tanah ini nama latinnya adalah Spiranthes sinensis. Dan memang dulu pernah ditemukan oleh ahli tanaman penjajah Belanda dan dicantumkan di bukunya ‘Flora Pegunungan Jawa’ C.G.G.J. van Steenis. Wow….., seakan saya menemukan hartanya Qarun yang terpendam di dalam perut Pakmi (Maaf, Bu mi sedang ada urusan).

Continue reading

Anggrek Besi Sulawesi Dendrobium speudoconanthum

anggrek besi sulawesi dendrobium speudoconanthum
Anggrek besi sulawesi dendrobium speudoconanthum

Siang itu, selepas dari lihat-lihat kebun tebu, saya diajak oleh Pak Anwar main ke kebun pribadinya. Nggak jauh katanya dari kebun.

“Nanti kita lihat ada rejeki apa di kebun,” kata Pak Anwar.

Saya ikuti motor Pak Anwar dari belakang. Setelah menyusuri kebun Sumaling, masuk ke Patimpa lalu belok ke arah kiri menuju kebun warga. Jaraknya nggak terlalu jauh, sekitar 10 menit saja perjalanan. Kita masuk ke kebun jalan kaki saja, ternyata di kebun Pak Anwar lagi musim buah rambutan. Kebunnya banyak pohonnya, lebih mirip hutan kecil daripada kebun. Saya pikir di sini sepertinya ada anggreknya.

Mata saya melihat ke atas, kalau-kalau ada anggrek yang nempel di pohon-pohon itu. Ternyata benar, Nggak jauh dari pohon rambuatan ada anggrek dendro besar yang mengantung. Saya minta tolong ke anggota yang ikut untuk menurunkan anggrek ini. Setelah diambil ke bawah, ukurannya memang besar lebih dari 1 m. Anggrek ini adalah anggrek besi sulawesi. Rejeki nomplok.

anggrek besi sulawesi dendrobium speudoconanthum
ADapat anggrek besi sulawesi dendrobium speudoconanthum

Kisah-kisah di ArasoE: Musim Durian

Durian lokal di Ujung Tanah, Bone

King of Fruit, itu julukan untuk buah durian. Dan saat ini lagi mulai musim durian. Di ArasoE mulai musim durian sekitar awal bulan Januari 2020 ini. Di pinggir-pinggir jalan mulai banyak yang menjajakan durian lokal. Harganya pun cukup murah, masih dikisaran Rp. 5000 sampai Rp. 50.000 perbutir. Tergantung ukuran dan kualitas buahnya. Saya dan teman-teman tim berburu durian local bone sampai ke kebunnya.

Kebun Durian di Pattiro Riolo, Sibulue

Ternyata Kec. Cina, Kab. Bone adalah salah satu sentra durian di Sulawesi Selatan ini. Informasi pertama yang kami dapat ada sentra durian di dekat kebun Sibulue. Ketika ke kebun Polewali, sampingnya kebun Sibulue, kami minta diantarkan oleh mandor Polewali. Kami jalan menyusuri kebun ke arah Sibulue. Sibulue ini nama desa dan kecamatan. Di pasar Sibulue sudah banyak orang yang menjajakan durian di pinggir jalan. Tapi bukan di situ sentralnya. Kebun duriannya ada di desa Pattiro Riolo. Kami diajak ke desa Pattiro Riolo. 

Durian di desa ini memang murah-murah bingit. Ukurannya sih nggak terlalu besar. Cenderung kecil-kecil. Harganya murah banget, satu ikat isi3 biji cuma RP. 15rb. Yang ukurannya agak gede cuma Rp. 35rb per ikat. Meskipun kecil, tapi duriannya enak, manis dan creammy. Mantap. Kami berlima habis 5 ikat durian. Pulangnya bawa durian lagi.

Ukuran Buah Durian Lokal Bone




Kebun Durian di Ujung Tanah

Sentra durian tidak hanya di desa Pattiro Riolo saja. Ada banyak lokasi-lokasi lain. Informasi dari sinder dan mandor kebun juga. Salah satunya ada di dekat kebun Ujung Tanah. Dari kebun Ujung Tanah kita lewati sungai lalu naik ke Sanrego, trus ke atas ke arah gunung. Jalan tanah dan licin. Kami melewati kebun-kebun cengkeh. Masih naik lagi. Semakin ke atas semakin banyak kebun cengkeh yang ada pohon duriannya.

Kami berhenti di salah satu rumah pondok yang banyak pohon duriannya. Pondok itu diisi satu keluarga. Salah satu anak perempuannya menggantar kami keliling kebun mencari buah durian yang jatuh. Ada cukup lumayan banyak.

Kami makan sepuasnya. Nggak keitung lah berapa butir yang sudah kami buka. Setelah habis, ternyata penjaga kebun itu tidak mau dibayar atas buah durian yang sudah kami santap. Binggung juga kami. Tapi meskipun begitu, kami tetap menitipkan uang ke penjaga itu. 

Yogo, di antara durian-durian di kebun durian Ujung Tanah

Durian lokal di Ujung Tanah, Bone

Kisah-kisah di ArasoE: Dikerjain Pohon Kelapa

Pohon Kelapa Sendirian di Tengah Kebun Tebu

Masih ingat dengan kisah pohon kelapa yang ada di tengah-tengah kebun Tempeh (baca di sini: Kisah Horor Pohon Kelapa)? Ternyata memang horor.

Saat ini mulai musim durian. Saya dapat informasi dari mandor kalau ada sentra durian di dekat desa Sibulue, nama desanya kalau tidak salah Pattiro Riolo. Kami berlima; saya, Yogo, Andi, Ai dan Elsam, berencana mencari lokasi sentra durian ini. Kami berangkat selepas sholat asar. Kami mengambil jalan mutar lewat desa Kaju baru Sibulue dan ke Pattiro. Lumayan jauh juga. (Cerita duriannya lain kali saja).

Pulangnya sudah agak sore. Kami ingin mengejar sholat magrib di rumah. Kami putuskan untuk lewat jalan tengah kebun, jalan tanah berbatu. Pas kebetulan ada perbaikan jalan. Jalan sepanjang beberapa kilo meter penuh dengan tumpukan-tumpukan pasir dan kerikil. Apalagi lagi musim hujan seperti ini, jalan sempit dan licin. Kami mesti super hati-hati.

Setelah lewat jembatan, kami masuk ke kebun Sibulue, belok kanan memutari bukit Cinnong (kalau nggak salah namanya Cinnong). Jalan kebun tanah berbatu yang sepi. Setelah lewat pondok kebun Polewali, kami mendekat ke belokan pertigaan kebun Tempeh. Letak pohon kelapa itu. Matahari sudah tenggelam, adzan magrib sudah berkumandang. Jalanan sedikit gelap. Mendung lagi.

Agak dekat dengan pertigaan, tiba-tiba gigi motor saya masuk ke gigi satu. Motor mengerang agak keras, tapi motor tidak mau melaju. Saya coba pindah-pindah gigi. Tetap saja tidak mau pindah gigi. Saya naik motor sendirian, yang lain berboncengan. Mereka menyalip saya. Saya coba kejar. Motor tidak mau melaju. Setelah lewat belokan, mereka semakin menjauh dan saya tertinggal agak jauh di belakang. Saya kasih tanda pakai lampu.

Mereka menunggu di belokan batas antara kebun Kasimpureng dan kebun Tempeh.

“Ada apa, Pak?”

“Ini motor saya tidak mau pindah gigi.”

Lalu saya turun untuk melihat kondisi motor. Tetap saja tidak mau hidup dan tidak mau pindah gigi. Yogo coba menghidupkan motor dengan cara dibawa lari. Nggak bisa juga. Posisi kita sudah agak menjauh dari pohon kelapa itu.

Setelah dicoba-coba agak lama, akhirnya motorku bisa hidup juga. Yogo bawa motor saya dan saya membonceng Elsam. Sambil di jalan Elsam bilang ke saya:

“Di sini memang biasa seperti itu, Pak.”

“Nanti saya ceritakan.” katanya sambil terus melaju.

Setelah agak jauh dan mulai dekat dengan komplek PG. Elsam mulai menceritakan kisah tentang pohon kelapa itu. Sedikit dibumbui cerita-cerita horor dan dramatisasi. Mirip dengan cerita yang disampaikan oleh mandor dan sinder.

Dikerjain juga akhirnya.

Pohon Kelapa di Tengah Kebun Tempe

Pak Haji Yasmin, yang namanya jadi tiga spesies serangga

Pak Haji Yasmin (kanan) menunjukkan salah satu koleksi serangga langkanya.

Pak Haji Yasmin, hidupnya untuk serangga dan kumbang. Waktunya dihabiskan menjelajah hutan mencari dan mengidentifikasi serangga asli Indonesia. Namanya diabadikan untuk tiga spesies serangga; Pyrops jasmini dan Aegus jasmini dan satu sub spesies miky jasmini (lupa nama genusnya).
Saat ini sedang proses identifikasi serangga daun, mirip dengan serangga yang di foto tengah bagian bawah.
Dia sedang mencari juga serangga batang spesies Papua yang panjangnya sampai 70cm. Belum ketemu sampai sekarang, karena hidupnya di pohon2 besar dan tinggi.
Ketika menjelajah hutan sering nemu anggrek, sayang koleksi anggreknya mati. Aduuhh…. Pak Haji. Sayang banget.

Pyrops jasmini
Aegus jasmini

Kawah Sikidang, Dieng, Banjarnegara, Jawa Tengah

Jalan-jalan ke Dieng, cuma sebentar saja sih. Salah satunya mampir ke kawah Sikidang. Salah satu objek wisata di Dieng, Kab. Banjarnegara, Jawa Tengah.

Air Terjun Bantimurung, Bulu Saraung; Surganya Kupu-kupu di Indonesia Timur

Air terjun Bantimurung yang terletak di salah satu kaki gunung Bulusaraung ini adalah salah satu lokasi surganya kupu-kupu di Indonesia. Ada kurang lebih 200 spesies kupu-kupu hidup di habitat ini.

Kupu-kupu di Bantimurung

Kupu-kupu di Bantimurung

Kupu-kupu di Bantimurung

Kupu-kupu di Bantimurung

Continue reading

Anggrek Spesies Dendrobium mutabile (Blume) Lindl. 1830 dari Kaki Gunung Salak

anggres spesies dendrobium gunung salak

Anggrek spesies hutan yang kami dapat dari kaki gunung salak ini sangat rajin berbunga. Saya belum tahu nama spesies dari bunga anggrek ini. Dari bentuk bunganya, saya menduga bunga anggrek spesies ini dari marga Dendrobium.

Bunganya muncul dari ujung daun yang menjuntai ke bawah. Warnanya dominan putih, sedikit agak kemerahan. Dan di bagian tengahnya ada bintik berwarna orange. Ukuran bunganya kecil dan tidak berbau wangi.

***
Setelah cari-cari dan tanya sana-sini, akhirnya ketemu juga ID dari anggrek spesies ini, yaitu: Dendrobium mutabile (Blume) Lindl. 1830
Sumber: http://www.orchidspecies.com/denmutabile.htm
Dan
https://en.wikipedia.org/wiki/Dendrobium_mutabile

anggres spesies dendrobium gunung salak

anggres spesies dendrobium gunung salak

anggres spesies dendrobium gunung salak

anggres spesies dendrobium gunung salak

anggres spesies dendrobium gunung salak

anggres spesies dendrobium gunung salak

anggres spesies dendrobium gunung salak

anggres spesies dendrobium gunung salak

Dendrobium mutabile (Blume) Lindl. 1830

Dendrobium mutabile (Blume) Lindl. 1830
(https://en.wikipedia.org/wiki/Dendrobium_mutabile)

Mudik Lewar Jalur Selatan Jabar; Mencoba Tantangan Baru

(Foto2 dan videonya menyusul ya….)

Mudik melalui jalur pantura dan lewat jalan tol sudah terlalu mainstream. Apalagi jalur tol sekarang sudah bisa tembus ke Semarang, meski sebagian masih tol fungsional, menjadikan perjalanan mudik tidak lagi banyak tantangan dan hambatan. Tahun 2018 ini, kami ingin mencoba jalur baru; jalur pantai selatan Jabar. Jalur mudik yang baru pertama kali kami coba ini ternyata penuh kejutan dan sangat mengasikkan. Hanya saja kami melalui jalur ini ketika balik kembali dari Jawa (Pati) ke Bogor.

Menyiapkan Rute Perjalanan

Ketika berangkat mudik kami sengaja lewat jalur pantura, karena buru-buru ingin cepat sampai rumah. Kami berangkat hari jum’at selepas saya pulang kerja. Saya pulang kerja pukul 15. Siap2 satu jam, kurang lebih pukul 16.30 kami berangkat. Jalan masih cukup penggang, karena perkiraan puncak arus mudik hari sabtu dan minggu. Kami masuk tol dari Baranangsiang masuk ke Tol Jagorawi. Jalan tol terus, JORR-Cikampek-Cipali-tol fungsional Gringsing- tol fungsional Gringsing-Seramang-masuk tol Semarang-tol Bawen dan keluar di Bawen. Tol terus sejauh 400km. Lancar jaya.

Nah. Baliknya, kami membaca himbauan pak Gubernur Jabar Aher, kalau jalur pantai selatan jabar jalannya sudah mulus dan lancar. Tantangan yang perlu dicoba. Malamnya saya coba cek jalur ini melalui aplikasik Google Maps dan Waze. Start dari Pati, lewat Semarang, trus ke Temanggung, trus ke Wonosobo, lanjut ke Banjarnegara, trus ke Banyumas, ‘mlipir’ ke Rowalo dan lanjut ke Pangandaran. Jalur ini saya sudah hafal di dalam kepala. Karena sering saya lewati sejak jaman kuliah dulu.

Nah. Jalur berikutnya adalah jalur baru. Saya coba beberapa kali dengan berbagai pilihan rute. Google Maps dan Waze seringkali menyarankan rute via Bandung. Tapi kami ingin lewat jalur pantai selatan. Ketemu juga rute dari Pangandaran ke Cianjur, puncak baru ke Bogor. Kepikiran juga untuk lewat Pelabuhan Ratu trus lanjut Sukabumi baru ke Bogor. Saya trauma dengan kemacetan Sukabumi – Bogor. Pilih rute yang pertama saja. Lumayan jauh juga, kurang lebih 700km. Lebih jauh duaratusan km dari jarak mudik yang biasa kami lalui. Tidak apa-apalah.

Karena rute ini seumur hidup baru pertama kali ini kami lewati. Saya coba atur ketika melewati jalur itu sebisanya ketika matahari masih terang benderang. Kalau malam lewat jalur itu tidak ada yang bisa dinikmati.

Berangkat …!!!!!

Senin pagi, tanggal 18 kami sudah bersiap2. Setelah menyelesaikan urusan thethek bengek, kira2 jam sebelas siang kami baru bisa berangkat. Jalan santai saja. Isi BBM full tank dan tancap gas.

Biasanya kami berhenti sholat di Masjid Demak. Tapi karena agak macet di ring road Demak, kami sholat di masjid pingir jalan saja. Lanjut ke Semarang. Jam setengah dua sudah sampai Bawen.

Makan Siang di Rawa Pening

Rawa Pening

Indahnya pemandangan sawah di Rawa Pening, Ambarawa.

Perut mulai keroncongan. Akuirnya kami pesan bebek goreng Pak Slamet. Tapi kami tidak makan di tempat. Kami makan siang di Rawa Pening. Makan sambil menikmati pemandangan gunung2 di seputaran Rawa Pening.

Saya jadi ingat kisahnya Baru Klinting, kisah asal muasal Rawa Pening. Kisah anak manusia yang berwujud naga. Kisah anak buruk rupa dan lidi yang tertancap ditanah. Salah satu gunung di sekeliling rawa ini terbentuk dari lidi yang tertancap itu.

Perut sudah kenyang, saatnya melanjutkan perjalanan. Jalanan naik gunung dan berkelok2. Mobil melaju lambat. Di Temanggung ternyata juga macet. Mlipir lewat pingiran kota pun jalanan ramai. Kira2 selepas magrib kami baru lolos dari Parakan.

Rawapening, Ambarawa, Jawa Tengah

Rawapening, Ambarawa, Jawa Tengah

Makan Malam di Tengah2 Dua Gunung

Di jalur ini ada rumah makan yang biasa kita singgahi; Warung Joglo. Lokasinya hampir tepat di tengah2 antara gunung Sumbing dan gunung Sindoro. Kalau siang pemandangannya bagus baget. Pertama kali makan di tempat ini sekitar 3 lebaran yang lalu. Kami makan sahur di sini. Sepi. Hanya kami saja tamu yang makan. Kini, warung joglo sudah ramai sekali. Kami berhenti untuk sholat dan makan.

Agak lama juga kami berhenti di warung joglo ini. Sempat ngobrol2 dengan anak kecil yang jadi tukang parkir. Anak desa sekitar. Namanya Agus dan baru kelas 4 SD.

Melanjutkan perjalanan lagi. Mobil melaju agak kencang karena jalanan relatif sepi. Banyak juga mobil2 Plat B, A dan F yang sudah mulai balik dari kampung menuju ke Barat.

Sampai di Klampok saya ambil jalan ke Banyumas. Mobil2 lain belok kanan menuju ke Purbalingga dan Purwokerto. Ada jalan pintas menuju ke Jawa Barat yang tidak melewati Purwokerto. Saya tahu jalur ini dari sopir travel. Jadi dari Klampok ke Banyumas dan lanjut ke Rowalo. Baru masuk Jabar ke Bajar. Jalanan bagus, karena jalur ini salah satu jalur alternatif utama.

Dari Rowalo kami menuju ke Pangandaran. Google Maps menujukkan jalan pintas yang belum saya kenal. Kami ikuti saja. Lewat jalan2 desa. Jalan kecil. Bukan hanya kami yang melewati jalan ini. Ada empat mobil plat Jabar yang konvoi bersama-sama. Lumayan ada teman. Maklum, jalanan sepi dan gelap. Jelek lagi jalannya.

Menikmati Sunrise di Pantai Pangandaran

Jalanan mulai bagus dan ramai setelah melewati pertigaan yang dari arah Banjar. Banyak motor2 yang menuju ke Pangandaran. Terus terang, baru pertama kali ini kami ke pantai Pangandaran.

Masuk gerbang pantai Pangandaran macet. Mobil2 dan motor ngantri beli tiket masuk. Untuk mobil, tiketnya Rp. 65rb. Mahal amir.

Saya tanya ke salah satu pedagang di warung tempat parkir, mana lokasi yang paling bagus untuk menikmati matahari terbit. Mereka menunjukkan lokasinya, yaitu Pantai Timur. Kami menuju ke sana dan parkir di salah satu sudut lapangan. Saya istirahat sambil menunggu masuk sholat subuh. Kami sholat di mushola samping pos Polisi Air.

Saya mencoba untuk istirahat dan tidur di mobil. Anak2 menikmati suasana pagi di pantai Pangandaran.

Menurut kami sih pantai Pangandaran kurang bagus. Terlalu ramai dan banyak sampahnya.

Jam tujuh lewat kami melanjutkan perjalanan.

Bodyrafting di Green Canyon

Royan jadi navigator, maklum saya belum tahu rute ini. Jalanan bagus dan sudah di beton. Di salah satu papan penunjuk jalan saya lihat ada tulisan Green Canyon, latar belakang coklat; tempat wisata. Saya minta Royan cek di internet tempat apa itu.

Foto2 dan informasi di internet bagus-bagus. Sepertinya lokasi yang wajib di kunjungi, apalagi rutenya dilewati. Berhentilah kami di Green Canyon, Cijulang.

Belum juga mobil di parkir, sudah ada orang yang menawari bodyrafting. Saya tidak tahu, jadi ikut saja dengan ‘calo’ marketing agen wisata itu. Kami diajak jalan ke atas dan berhenti di kantornya.

Ada lelaki muda yang menjelaskan paket2 wisata Green Canyong yang mereka tawarkan. Paket bidyrafting menyusuri Green Canyon selama 2-3 jam plus makan siang dan guide. Biayanya per 6 orang Rp. 1 jeti. Basah2an di air.

Kami lalu berdiskusi. Baju kami semua ada di koper dan diikat di rak atas mobil. Kalau basah2an berabe ambil baju gantinya. Akhirnya kami batal tidak body raffing dan ambil paket reguler naik perahu saja.

Kami parkir di lokasi parkir depan dramaga perahu wisata. Harga tiketnya terpampang jelas di baliho dan papan pengumuman. Satu perahu maksimal 6 orang biayanya Rp. 200rb. Lama perjalanan kurang lebih 1 jam. Kalau ada kelebihan waktu ada tambahan biaya.

Setelah membeli tiket, kami menuju ke dramaga perahu. Antrian kami nomor 48. Ada banyak perahu, tidak perlu antri lama. Langsung ada perahu yang siap kami naiki. Di perahu ada dua orang. Satu orang pemandu dan satu orang yang mengemudikan perahu.

Sepanjang perjalanan, si Pemandu ini banyak bercerita. Dia juga menawarkan untuk melihat2 lebih jauh masuk ke Green Canyon dengan tambahan biaya Rp. 100rb per setengah jam. Tapi kami harus basah2an. Di perahu sudah di sediakan baju pelampung.

Kami sempar ragu2 juga untuk basah2an lagi. Tapi, si pemandu gigih mengiming-imingi dengan pemandangan menawan di Green Canyon. Akhirnya, kami luluh juga. Apalagi banyak juga wisatawan lokal yang berenang ke bagian hulu sungai.

Green Canyong memang menawan. Rasnya tidak rugi tambah biaya untuk menikmati keindahan green canyon ini.

Liburan mendatang kami ingin mencoba paket 4 jam menyusuri Green Canyon. Wajib dicoba.

Menyusuri Pantai Selatan Jawa Barat

Badan masih terasa capek setelah berenang di sungai Cijulang. Tapi, perjalanan tetap harus dilanjutkan.

Arroyan jadi navigator lagi. Kami menuju ke Barat. Jalanan bagus. Sebagian aspal hotmix dan sebagian beton. Kondisi jalanan bagus seperti promosi Pak Gubernur Aher.

Setelah melewati Bandara kecilnya Bu Susi. Kami mulai menyusuri pantai. Jalan raya memang dekat dengan bibir pantai. Ombak laut selatan terlihat jelas dari mobil. Hari masih siang dan terik, membuat pemandangan pantai menjadi lebih menawan. Di salah satu pantai kami menepi, memarkirkan mobil kami di salah satu warung kecil di pingir pantai.

Pantainya masih sepi, tidak banyak pengunjung yang datang. Hanya beberapa mobil pemudik yang berhenti di pantai ini. Warung-warungnya juga masih sedikit.

Untungnya, kondisi ini membuat pantai selatan ini lebih bersih. Tidak banyak sampah yang terlihat. Kami pun berhenti dan mendekat ke bibir pantai. Ombak laut selatan yang besar menghempas ke pantai. Lautnya ‘ganas’, sangat berbahaya dan tidak memungkinkan untuk berenang di pantai ini. Anak-anak; Royan, Abim dan Yusuf pun bermain-main di pinggir pantai. Mereka bermain cukup lama. Baju yang baru saja kering dari sungai Cijulang, kini basah lagi. Malah sekarang basah dengan air asin. Yusuf basah kuyup dan celananya penuh pasir.

Meskipun anak-anak masih senang bermain-main di pantai, kami tetap harus melanjutkan perjalanan. Sudah lebih dari 24 jam perjalanna kami. Saya pun mulai terasa lelah dan ingin cepat-cepat sampai rumah. Akhirnya, kami pun melanjutkan perjalanan menyusuri pingir pantai ini.

Dalam perjalanan ini, banyak pantai-pantai yang menjadi lokasi wisata. Banyak orang yang menikmati liburan di pantai-pantai ini. Ada pantai yang pasirnya putih, ada pantai yang karang-nya terjal-terjal, ada pantai yang cukup tinggi sehingga pemandangan lautnya tampah lebih menawan. Sebenarnya kami ingin berhenti menikmati pantai-pantai ini, tapi kami sudah cukup lelah dan ingin cepat-cepat sampai.

Jalanan di sepanjang pantai ini bagus, sebagian besar sudah dibeton. Tapi di beberapa tempat masih ada jembatan-jembatan yang hanya cukup dilalui satu mobil. Kalau tidak salah ada dua atau tiga jembatan seperti ini. Posisinya sangat dekat dengan pantai. Ada juga jembatan-jembatan yang cukup panjang dan lebar. Banyak motor-motor dan muda-mudi yang berhenti di pingir jembatan untuk menikmati pemandangan laut selatan.

Pingir pantai selatan Jawa Barat belum terkenal sebagai lokasi tujuan wisata. Terlihat dari fasilitas wisatawan yang masih minim. Belum ada penginapan di sekitar sini. Warung-warung pun masih sederhana. Padahal pantainya menawan, tidak kalah dengan Pangandaran dan Pelabuhan Ratu.

Mengisi Bahan Bakar

Jalur pantai selatan masih sepi. Tidak banyak POM Bensin atau SPBU di jalur ini. Sebagian besar SPBU ada di ibukota kecamatan atau beberapa tempat yang cukup ramai. Jadi, saran saya kalau melalui jalur selatan ini upayakan full tank dan cukup untuk sekitar 400-500 km. Kalau isi tanki bansin sudah separo dan ketemu dengan SPBU, sebaiknya isi lagi sampai full. Jaga-jaga daripada kehabisan bensin di jalan malah berabe jadinya.

Perjalanan dengan Sisa-sisa Tenaga

Rute ini lebih jauh sekitar 200 km dari rute yang biasa saya lalui. Kami pun sudah di jalan lebih dari 30 jam. Lelah dan capek mulai terasa. Saya bawa mobil sendiri, Royan memang sudah bisa bawa mobil, tetapi saya belum berani memberi kepercayaan pada dia untuk membawa mobil di jalur yang masih ‘asing’ ini. Untungnya kondisi jalan bagus dan tidak ramai. Jadi mobil bisa melaju dengan santai dan lancar. Kecepatan mobil bisa mencapai >100 km/jam dalam kondisi sepi. Kalau ramai bisa 40-60 km/jam.

Rintangan di jalan yang menurut saya agak mengganggu adalah motor-motor yang berseliweran. Saya lihat banyak juga konvoi motor dengan jumlah 5 sampai puluhan motor. Rombongan motor biasanya lebih tertib, karena ada pemimpin dan pemandu jalannya. Yang biasa menjadi masalah adalah para pengendara motor lokal. Mereka ibaratnya ‘Rosi’ kampung. Naik motor nggak pakai helm, boncengan dan ngebut seperti di lintasan balap. Parah. Kalau ketemu dengan rombongan motor seperti ini, mendingan mengalah saja, Sing waras Ngalah…..!!!!

Perut keroncongan. Kami terpaksa makan siang di warung kecil setelah melewati kebun karet-nya PTPN VIII. Mengisi perut sambil istirahat. Selepas sholat asar baru kami berangkat lagi melanjutnya menyusuri pingiran pantai.

Kalau tidak salah ingat, sampai di suatu tempat/desa atau kecamatan yang namanya Cidaun, baru ada aba-aba belok kanan dari Google Maps. Di perempatan jalan ada penunjuk arah ke Pelabuhan Ratu ke kiri. Tadinya saya mau ambil jelan ke pelabuhan ratu dan lanjut ke Sukabumi. Terlalu jauh pikir saya. Saya sudah pernah lewat jalan ini. Kondisi jalan cukup bagus, tapi saya trauma dengan kemacetan Sukabumi-Bogor. Saya pikir kalau lewat Cianjur akan lebih lancar.

Kami berhenti istirahat di sebuah SPBU. Isi tanki full tank dan menunggu sholat magrib. Selesai menunaikan kewajiban dan baca-baca dzikir sore. Lanjut lagi perjalannannya.

Berbeloklah kami ke kanan ke arah Cianjur. Awalnya, saya ragu-ragu.
“Bener nih jalannya, Mas Royan?”
“Kok kecil dan sepi begini?”

“Bener….!!! Nih lihat di Maps!”

Kondisi jalanan berubah drastis. Jalanan menanjak ke arah gunung. Jalanan kecil dan berkelok-kelok. Apalagi matahari sudah tidak kelihatan dan tidak ada lampu penerangan jalan. Setelah melewati perkampungan, jalanan lanjut ke hutan. Pohon kanan kiri besar-besar dan ada jurang-nya. Kelokannya tajam-tajam lagi. Saya jadi ingat waktu melalui jalan Deandles, setelah melewati Gombong, jalanan berubah terjal dan lewat hutan.

Jalanan sepi. Saya hanya bertemu dengan truk dan bak terbuka. Hanya satu dua mobil pribadi yang saya salip di jalanan. Saya tanya lagi ke Royan, “Berapa jauh sampai ke Cipanas?”

“136 km lagi…!”

Walah… jauh juga. Dengan kondisi jalan seperti ini, paling 4 jam lagi baru masuk ke Cianjur.

Tengah malam, kami masih di jalanan berhutan. Mata sudah mulai mengantuk. Minuman air mineral ber-oksigen yang saya minum tidak mampu lagi menahan rasa kantuk ini. Akhirnya, di Cibeber saya berhenti di sebuah SPBU. SPBU-nya sepi. Saya parkir di dekat kantornya yang ada WC-nya.

Anak-anak sudah tidur sejak dalam perjalanan tadi. Mereka tetap tidur bahkan tidak sadar kalau mobilnya berhenti. Saya coba memejamkan mata, mengosongkan pikiran dan mencoba untuk terlelap walau sejenak.

Sejam atau dua jam saya istirahat. Lanjut perjalanan lagi. Oh…ya. Isi full tank dulu.

Macet di Jalur Puncak

Cianjur masuk ke kota, trus lanjut ke arah Cipanas. Jalanan mulai ramai dan tersendat. Masih jauh dari istana Cipanas jalanan semakin tersendat. Akhirnya macet-cet…

Astagfirullah.

Mau bagaimana lagi. Tidak ada pilihan.

Saya lupa kalau di puncak pas ada beberapa tempat yang longsor. Mobil besar, bus dan truk, tidak boleh lewat jalur ini. Saya lihat di peta, kemacetannya 36km dan waktu tempunya diperkirakan lebih dari satu jam.

Mobil-mobil berjalan merayap. Sesekali berhenti sesaat baru jalan lagi.

Titik kemacetannya ada di puncak pas, bagian yang longsor itu dan di Masjid Ta’awun, karena banyak mobil yang berhenti di sini.

Rasa ngantuk mulai menyerang lagi. Saya harus istirahat lagi nih.

Setelah melewati gerbang Gunung Mas dan pintu masuk taman Safari, saya minggir di sebuah SPBU. Istirahat lagi. Parkiran SPBU penuh.

Menjelang subuh saya sholat di SPBU ini.

Sudah dekat dengan rumah, tinggal beberapa km lagi. Mesti mata masih agak mengantuk, saya lanjutkan perjalanan.

Tidak beberapa lama jalanan mulai lancar dan masuk ke tol. Alhamdulillah. Perjalanan lancar jaya sampai ke Ciomas.

Mobil masuk garasi kurang lebih pukul setengah enam pagi.

Saya langsung mandi air hangat. Maklum, badan rasanya masih gatal-gatal kene air di Cijulan dan air asin pantai.

TEPAR……