Baru kali ini aku mengalami pengalaman aneh saat hunting foto. Aku memotret boneka pocong yang digantung di atas pohon. Waktu pertama kali aku foto, dia menghadap ke samping. Nggak bagus lah. Lalu aku panggil pelan agar menoleh ke arah kamera. Eh… menoleh benaran.
Jadi ceritanya aku mengantar pacarku jalan-jalan ke pasar, cuci mata. Seperti biasa aku membawa kameraku, antisipasi kalau ada pemandangan yang menarik untuk difoto. Awalnya, aku tertarik dengan pohon yang akarnya saling bertalian. Foto genik menurutku. Aku foto akar itu. Nah, bapak-bapak penjual lapak di sebelah pohon itu menunjuk ke atas sambil bilang: “Tuh….klo mau foto yang di atas. Ada jalangkung.” Aku reflek menoleh ke atas, ada boneka putih yang digantung di pohon, bentuknya dibuat seperti pocong.
Aku berjalan agak menjauh dari pohon itu. Lalu aku mulai ambil fotonya. Foto pertama, si boneka pocong menghadap ke samping. Nggak kelihatan serem-seremnya sama sekali. Lalu, setenah berbisik aku bilang; “Nenggok dong ke kamera.” Eh…. tiba-tiba boneka itu bergerak pelan menghadap ke arah kameraku.
Kaget tentunya…. aku segera ambil foto itu. Dan, aku segera pergi dari tempat itu.
Setengah tidak percaya, apakah boneka itu mendengar dan merespon bisikanku. Atau, karena faktor angin saja…???? Aku masih berpikiran positif kalau gerakannya akibat tertiup angin. Semoga.
Mendengar kata “barang bekas”, apa yang pertama kali terlintas di benak Anda? Kumuh? Rusak? Atau mungkin, tanda ketidakmampuan finansial?
Jujur saja, bagi sebagian besar masyarakat kita, membeli barang baru (brand new in box) seringkali dianggap sebagai simbol kesuksesan. Ada rasa bangga saat membuka segel plastik, mencium aroma “barang baru”, dan menjadi pemilik pertama. Sebaliknya, membeli barang bekas atau second hand seringkali terhalang oleh satu tembok besar bernama: Gengsi.
Padahal, jika kita mau menyingkirkan gengsi itu sejenak dan melihat dari kacamata yang lebih luas, membeli barang bekas adalah salah satu tindakan paling revolusioner yang bisa kita lakukan hari ini. Bukan hanya untuk dompet kita, tapi untuk keberlangsungan tempat tinggal kita: Bumi.
Dalam tulisan bagian kedua tentang Sustainable Habit ini, saya ingin mengajak Anda menyelami dunia thrifting (belanja barang bekas). Mengapa kebiasaan ini perlu kita normalisasi, bahkan kita biasakan sebagai sebuah kebiasaan yang sustainable.
Filosofi di Balik Barang Bekas: Memperpanjang Umur Pakai Barang
Dalam konsep ekonomi sirkular yang saya bahas di tulisan sebelumnya, musuh utamanya adalah budaya “sekali pakai” dan “buang”. Setiap barang yang diproduksi di muka bumi ini—mulai dari baju, gadget, hingga mobil—membutuhkan sumber daya alam. Ada air yang dipakai, mineral yang ditambang, dan emisi karbon yang dilepaskan pabrik saat memproduksinya.
Ketika kita membeli barang baru, kita memberi sinyal ke pasar untuk “tolong ambil sumber daya alam lagi dan buatkan saya yang baru.”
Namun, ketika kita membeli barang bekas yang masih layak pakai dan fungsional, kita sedang melakukan tindakan heroik: Memperpanjang umur pakai (product life cycle) barang tersebut.
Bayangkan sebuah laptop. Energi terbesar yang dihabiskan laptop bukanlah listrik yang Anda pakai untuk men-cas setiap hari, melainkan energi saat proses manufakturnya. Jika laptop itu dibuang setelah 3 tahun, energi itu sia-sia. Tapi jika Anda membelinya dalam kondisi bekas dan memakainya 3 tahun lagi, Anda telah membagi “beban lingkungan” laptop tersebut menjadi jauh lebih ringan.
Jadi, thrifting bukan soal tidak mampu beli baru. Thrifting adalah bentuk penghargaan kita terhadap sumber daya alam yang sudah terlanjur diambil dari bumi.
Level Up: Dari 3R Menjadi 9R
Mungkin sejak sekolah dulu kita sudah sangat akrab dengan mantra lingkungan “3R”: Reduce, Reuse, Recycle. Itu dasar yang bagus, tapi untuk tantangan lingkungan hari ini, 3R saja ternyata tidak cukup.
Dalam konsep Ekonomi Sirkular yang lebih maju, dikenal istilah 9R Framework. Ini adalah tingkatan strategi untuk meminimalkan limbah. Semakin kecil angkanya (R0), semakin tinggi dampak positifnya.
Nah, di mana posisi thrifting atau membeli barang bekas dalam peta 9R ini? Ternyata posisinya sangat tinggi dan krusial:
1. R1: Rethink (Memikirkan Ulang) Sebelum dompet terbuka, thrifting mengajak kita mengubah pola pikir. Kita diajak untuk memikirkan ulang konsep “kepemilikan”. Apakah saya butuh barang yang baru, atau saya hanya butuh fungsinya? Rethink adalah mengubah mindset bahwa barang bekas bukanlah sampah, melainkan sumber daya yang masih bernilai.
2. R3: Reuse (Menggunakan Kembali) Ini adalah inti dari thrifting. Reuse berarti menggunakan kembali produk yang sudah dibuang atau dilepas oleh pemilik pertamanya, yang masih dalam kondisi baik dan berfungsi sesuai tujuan aslinya. Saat Anda membeli baju di pasar loak atau membeli mobil bekas tetangga, Anda sedang melakukan praktik Reuse yang sesungguhnya. Anda mencegah barang itu turun kasta menjadi sampah.
3. R5: Refurbish (Memperbarui) Ini berkaitan erat dengan barang elektronik atau mesin yang saya sebutkan tadi. Refurbish adalah proses pembaruan atau modernisasi barang tua agar kondisinya kembali prima (terkadang up-to-date). Membeli laptop refurbished berarti Anda menghargai upaya pemulihan fungsi. Anda tidak membiarkan kerangka dan komponen mesin yang masih bagus itu dilebur begitu saja (di-recycle), tapi memberinya kesempatan hidup kedua.
Jadi jelas, thrifting bukan sekadar gaya-gayaan. Dalam piramida kelestarian lingkungan, tindakan Reuse dan Refurbish(membeli bekas) itu jauh lebih mulia daripada Recycle (daur ulang). Daur ulang butuh energi besar untuk melebur bahan, sedangkan Reuse nyaris tanpa energi tambahan.
Apa Saja yang Bisa Di-Thrift?
Banyak orang mengira thrifting hanya soal baju import atau fashion anak muda. Padahal, spektrumnya sangat luas. Hampir semua kebutuhan hidup sebenarnya bisa dipenuhi dari pasar sekunder, asalkan kita jeli.
Kendaraan (Mobil, Motor, Sepeda): Ini adalah contoh paling rasional. Nilai mobil baru bisa turun (depresiasi) hingga 20-30% begitu keluar dari showroom. Membeli kendaraan bekas tahun muda dengan kondisi prima adalah keputusan finansial yang sangat cerdas. Fungsinya sama, harganya jauh berbeda.
Perkakas dan Alat Pertukangan: Palu, kunci inggris, gergaji, atau bor listrik adalah barang-barang yang didesain tahan banting. Bor bekas yang usianya 5 tahun seringkali masih sama kuatnya dengan bor baru, tapi harganya mungkin tinggal seperempatnya.
Elektronik dan Gadget: Ini favorit saya. Laptop, kamera, hingga jam tangan. Seringkali orang menjual gadget mereka bukan karena rusak, tapi karena bosan atau ingin upgrade ke model terbaru. Ini adalah peluang emas bagi kita untuk mendapatkan teknologi tinggi dengan harga miring.
Furnitur: Lemari jati tua atau meja kerja bekas kantor seringkali memiliki kualitas material yang jauh lebih kokoh dibandingkan furnitur partikel serbuk kayu yang dijual di toko modern saat ini.
Mengenal Barang Refurbished: Bekas Rasa Baru
Selain barang bekas murni (used), sekarang kita juga mengenal istilah Refurbished. Ini adalah jalan tengah yang menarik bagi Anda yang masih ragu soal kualitas.
Barang refurbished adalah barang bekas (atau barang retur) yang sudah ditarik kembali oleh pabrikan atau teknisi profesional, diperbaiki komponen yang rusaknya, dibersihkan, diuji ulang fungsinya, dan dijual kembali—seringkali dengan garansi.
Membeli barang refurbished menurut saya adalah sweet spot dalam sustainable living. Kita menyelamatkan barang dari tumpukan sampah elektronik, tapi kita mendapatkan jaminan kualitas yang hampir setara barang baru. Di luar negeri, membeli iPhone atau MacBook refurbished resmi dari Apple adalah hal yang sangat lumrah dan dianggap cerdas.
Cuan dari Barang Bekas
Mari bicara angka. Idealisme lingkungan itu bagus, tapi penghematan uang adalah insentif yang nyata.
Membeli barang second bisa menghemat anggaran Anda mulai dari 30% hingga 50%, bahkan lebih. Bayangkan jika Anda perlu membeli perlengkapan rumah tangga senilai Rp 10 juta. Dengan berburu barang bekas berkualitas, Anda mungkin hanya perlu mengeluarkan Rp 5 juta. Sisa Rp 5 jutanya bisa Anda alokasikan untuk investasi, dana darurat, atau kebutuhan pendidikan anak.
Secara tidak langsung, gaya hidup thrifting membuat kita lebih kaya. Kita mendapatkan fungsi yang sama (fungsionalitas adalah kunci), tapi dengan modal yang jauh lebih kecil.
Seni Berburu Barang Trifting: Teliti Sebelum Membeli
Tentu saja, membeli barang bekas ada seninya. Tidak bisa asal ambil seperti di supermarket. Ada risiko barang tidak berfungsi normal atau cacat tersembunyi. Di sinilah letak tantangan dan keasyikannya. Kita dituntut untuk menjadi pembeli yang cerdas dan kritis.
Berikut beberapa prinsip yang saya pegang:
Cek Fisik dan Fungsi: Jangan hanya lihat foto. Jika memungkinkan, cek barang secara langsung (Cash on Delivery / COD). Putar semua tombol, cek semua baut, nyalakan mesin.
Tanya Riwayat: Tanyakan pada penjual, “Kenapa dijual?”, “Pernah servis di mana?”, “Sudah dipakai berapa lama?”. Jawaban penjual seringkali bisa menjadi indikator kondisi barang.
Bandingkan Harga: Cek harga barunya, cek harga pasaran bekasnya. Pastikan harganya masuk akal. Terlalu murah patut dicurigai, terlalu mahal tidak worth it.
Surga Barang Bekas di Sekitar Kita
Pasar Loak Jembatan Item Jatinegara (photo by Anwar)
Indonesia sebenarnya adalah surganya barang bekas. Kearifan lokal kita dalam memanfaatkan barang sisa sebenarnya sangat tinggi. Di setiap kota, pasti ada “pusat harta karun” yang menunggu untuk diulik.
Jika Anda di Jakarta, pasti tidak asing dengan Pasar Jembatan Item di Jatinegara. Di sana terhampar segala macam barang, mulai dari sepatu bekas, mainan anak, hingga barang antik yang tak terduga. Ada juga Pasar Loak Kebayoran Lama yang legendaris bagi pemburu kamera analog atau barang vintage.
Bergeser ke Yogyakarta, ada Pasar Klitikan Kuncen (Pakuncen) dan pasar malam Senthir di dekat Beringharjo. Bagi pecinta otomotif atau sekadar cari sparepart motor jadul, tempat ini adalah surga.
Bahkan di Depok dan kota-kota penyangga lainnya, kini mulai bermunculan toko-toko modern yang dikhususkan menjual barang-barang bekas terkurasi (biasanya furnitur atau pakaian), atau toko barang bekas Jepang yang sedang menjamur.
Ubah Rasa Malu Jadi Rasa Bangga
Sudah saatnya kita mengubah mindset. Membeli barang bekas bukanlah tanda kemunduran. Justru, itu adalah tanda kemajuan berpikir.
Jangan malu saat teman bertanya, “Lho, itu tasnya baru ya?” lalu Anda menjawab, “Oh nggak, ini beli second, masih bagus kan?”.
Jawaban itu menunjukkan bahwa Anda adalah konsumen yang rasional. Anda mendapatkan barang bagus, harga miring, dan di saat yang sama, Anda telah berkontribusi nyata menahan laju kerusakan bumi. Anda telah menyelamatkan satu barang dari TPA dan mencegah satu barang baru diproduksi dengan emisi karbon.
Jadi, untuk kebutuhan Anda berikutnya—entah itu ganti HP, beli meja belajar anak, atau cari perkakas—cobalah cek pasar barang bekas dulu sebelum ke toko barang baru. Siapa tahu, jodoh Anda ada di sana.
Teliti sebelum membeli, dan selamat berburu harta karun!
Pandemi Covid-19 membuat kehidupan serasa melambat. Kerja nggak bisa leluasa, main nggak leluasa, pokoknya serba terbatas. Tapi, bagi saya ini kesempatan untuk melakukan sesuatu yang saya sukai, yaitu: mencari anggrek spesies. Kebetulan banyak sekali waktu luang. Dan, kebetulan sejak bulan lalu, saya ‘meninggalkan’ dunia penelitian dan menjadi ‘petani’ saja.
Saya kerja di pelosok Jawa Barat bagian selatan. Di saat-saat tidak banyak pekerjaan, saya dan anak saya yang paling besar jalan-jalan menyusuri pingir-pinggir kebun dan hutan untuk mencari anggrek liar. Ketemu beberapa anggrek mini di pohon-pohon pinggir jalan.
Kebetulan juga, saya ketemu dengan ‘hunter’ anggrek daerah sini. Dia membuka gubuk kecil berisi anggrek-anggrek liar yang diambil dari hutan. Tentu saja hati saya ber-anggrek-anggrek. Nggak banyak yang saya ambil dari hunter ini. Cuma, saya jadi punya ‘guide’ yang bisa mengajak saya hunting anggrek hutan.
Kawan Lama Perawat Anggrek Liar
Nah, saya jadi inget kawan lama saya yang juga kerjanya mengurusi anggrek setiap hari di kaki Gn. Pangrango. Main lah saya ketempatnya. Dari sekian banyak anggrek di rumahnya, ada satu tanaman mini yang unik. Saya pikir ini tanaman hias apa gitu. Kecil dan mini.
“Ini apa, kang?”
“Ini anggrek juga. Anggrek tanah.”
“Kok, beda…., buat saya satu deh…”.
“Sok..atuh…”
“Alhamdulillah, haturnuhun, Kang,”
“Ini anggrek asli pribumi, kan ya Kang?”
“Iya asli sini. Tumbuh di padang rumput sana.”
Saya langsung jatuh cinta dengan bentuknya yang unik. Apalagi asli pribumi… Makin jatuh cinta lagi.
Anggrek tanah ini nama latinnya adalah Spiranthes sinensis. Dan memang dulu pernah ditemukan oleh ahli tanaman penjajah Belanda dan dicantumkan di bukunya ‘Flora Pegunungan Jawa’ C.G.G.J. van Steenis. Wow….., seakan saya menemukan hartanya Qarun yang terpendam di dalam perut Pakmi (Maaf, Bu mi sedang ada urusan).
Siang itu, selepas dari lihat-lihat kebun tebu, saya diajak oleh Pak Anwar main ke kebun pribadinya. Nggak jauh katanya dari kebun.
“Nanti kita lihat ada rejeki apa di kebun,” kata Pak Anwar.
Saya ikuti motor Pak Anwar dari belakang. Setelah menyusuri kebun Sumaling, masuk ke Patimpa lalu belok ke arah kiri menuju kebun warga. Jaraknya nggak terlalu jauh, sekitar 10 menit saja perjalanan. Kita masuk ke kebun jalan kaki saja, ternyata di kebun Pak Anwar lagi musim buah rambutan. Kebunnya banyak pohonnya, lebih mirip hutan kecil daripada kebun. Saya pikir di sini sepertinya ada anggreknya.
Mata saya melihat ke atas, kalau-kalau ada anggrek yang nempel di pohon-pohon itu. Ternyata benar, Nggak jauh dari pohon rambuatan ada anggrek dendro besar yang mengantung. Saya minta tolong ke anggota yang ikut untuk menurunkan anggrek ini. Setelah diambil ke bawah, ukurannya memang besar lebih dari 1 m. Anggrek ini adalah anggrek besi sulawesi. Rejeki nomplok.
King of Fruit, itu julukan untuk buah durian. Dan saat ini lagi mulai musim durian. Di ArasoE mulai musim durian sekitar awal bulan Januari 2020 ini. Di pinggir-pinggir jalan mulai banyak yang menjajakan durian lokal. Harganya pun cukup murah, masih dikisaran Rp. 5000 sampai Rp. 50.000 perbutir. Tergantung ukuran dan kualitas buahnya. Saya dan teman-teman tim berburu durian local bone sampai ke kebunnya.
Kebun Durian di Pattiro Riolo, Sibulue
Ternyata Kec. Cina, Kab. Bone adalah salah satu sentra durian di Sulawesi Selatan ini. Informasi pertama yang kami dapat ada sentra durian di dekat kebun Sibulue. Ketika ke kebun Polewali, sampingnya kebun Sibulue, kami minta diantarkan oleh mandor Polewali. Kami jalan menyusuri kebun ke arah Sibulue. Sibulue ini nama desa dan kecamatan. Di pasar Sibulue sudah banyak orang yang menjajakan durian di pinggir jalan. Tapi bukan di situ sentralnya. Kebun duriannya ada di desa Pattiro Riolo. Kami diajak ke desa Pattiro Riolo.
Durian di desa ini memang murah-murah bingit. Ukurannya sih nggak terlalu besar. Cenderung kecil-kecil. Harganya murah banget, satu ikat isi3 biji cuma RP. 15rb. Yang ukurannya agak gede cuma Rp. 35rb per ikat. Meskipun kecil, tapi duriannya enak, manis dan creammy. Mantap. Kami berlima habis 5 ikat durian. Pulangnya bawa durian lagi.
Ukuran Buah Durian Lokal Bone
Kebun Durian di Ujung Tanah
Sentra durian tidak hanya di desa Pattiro Riolo saja. Ada banyak lokasi-lokasi lain. Informasi dari sinder dan mandor kebun juga. Salah satunya ada di dekat kebun Ujung Tanah. Dari kebun Ujung Tanah kita lewati sungai lalu naik ke Sanrego, trus ke atas ke arah gunung. Jalan tanah dan licin. Kami melewati kebun-kebun cengkeh. Masih naik lagi. Semakin ke atas semakin banyak kebun cengkeh yang ada pohon duriannya.
Kami berhenti di salah satu rumah pondok yang banyak pohon duriannya. Pondok itu diisi satu keluarga. Salah satu anak perempuannya menggantar kami keliling kebun mencari buah durian yang jatuh. Ada cukup lumayan banyak.
Kami makan sepuasnya. Nggak keitung lah berapa butir yang sudah kami buka. Setelah habis, ternyata penjaga kebun itu tidak mau dibayar atas buah durian yang sudah kami santap. Binggung juga kami. Tapi meskipun begitu, kami tetap menitipkan uang ke penjaga itu.
Yogo, di antara durian-durian di kebun durian Ujung Tanah
Masih ingat dengan kisah pohon kelapa yang ada di tengah-tengah kebun Tempeh (baca di sini: Kisah Horor Pohon Kelapa)? Ternyata memang horor.
Saat ini mulai musim durian. Saya dapat informasi dari mandor kalau ada sentra durian di dekat desa Sibulue, nama desanya kalau tidak salah Pattiro Riolo. Kami berlima; saya, Yogo, Andi, Ai dan Elsam, berencana mencari lokasi sentra durian ini. Kami berangkat selepas sholat asar. Kami mengambil jalan mutar lewat desa Kaju baru Sibulue dan ke Pattiro. Lumayan jauh juga. (Cerita duriannya lain kali saja).
Pulangnya sudah agak sore. Kami ingin mengejar sholat magrib di rumah. Kami putuskan untuk lewat jalan tengah kebun, jalan tanah berbatu. Pas kebetulan ada perbaikan jalan. Jalan sepanjang beberapa kilo meter penuh dengan tumpukan-tumpukan pasir dan kerikil. Apalagi lagi musim hujan seperti ini, jalan sempit dan licin. Kami mesti super hati-hati.
Setelah lewat jembatan, kami masuk ke kebun Sibulue, belok kanan memutari bukit Cinnong (kalau nggak salah namanya Cinnong). Jalan kebun tanah berbatu yang sepi. Setelah lewat pondok kebun Polewali, kami mendekat ke belokan pertigaan kebun Tempeh. Letak pohon kelapa itu. Matahari sudah tenggelam, adzan magrib sudah berkumandang. Jalanan sedikit gelap. Mendung lagi.
Agak dekat dengan pertigaan, tiba-tiba gigi motor saya masuk ke gigi satu. Motor mengerang agak keras, tapi motor tidak mau melaju. Saya coba pindah-pindah gigi. Tetap saja tidak mau pindah gigi. Saya naik motor sendirian, yang lain berboncengan. Mereka menyalip saya. Saya coba kejar. Motor tidak mau melaju. Setelah lewat belokan, mereka semakin menjauh dan saya tertinggal agak jauh di belakang. Saya kasih tanda pakai lampu.
Mereka menunggu di belokan batas antara kebun Kasimpureng dan kebun Tempeh.
“Ada apa, Pak?”
“Ini motor saya tidak mau pindah gigi.”
Lalu saya turun untuk melihat kondisi motor. Tetap saja tidak mau hidup dan tidak mau pindah gigi. Yogo coba menghidupkan motor dengan cara dibawa lari. Nggak bisa juga. Posisi kita sudah agak menjauh dari pohon kelapa itu.
Setelah dicoba-coba agak lama, akhirnya motorku bisa hidup juga. Yogo bawa motor saya dan saya membonceng Elsam. Sambil di jalan Elsam bilang ke saya:
“Di sini memang biasa seperti itu, Pak.”
“Nanti saya ceritakan.” katanya sambil terus melaju.
Setelah agak jauh dan mulai dekat dengan komplek PG. Elsam mulai menceritakan kisah tentang pohon kelapa itu. Sedikit dibumbui cerita-cerita horor dan dramatisasi. Mirip dengan cerita yang disampaikan oleh mandor dan sinder.
Pak Haji Yasmin (kanan) menunjukkan salah satu koleksi serangga langkanya.
Pak Haji Yasmin, hidupnya untuk serangga dan kumbang. Waktunya dihabiskan menjelajah hutan mencari dan mengidentifikasi serangga asli Indonesia. Namanya diabadikan untuk tiga spesies serangga; Pyrops jasmini dan Aegus jasmini dan satu sub spesies miky jasmini (lupa nama genusnya). Saat ini sedang proses identifikasi serangga daun, mirip dengan serangga yang di foto tengah bagian bawah. Dia sedang mencari juga serangga batang spesies Papua yang panjangnya sampai 70cm. Belum ketemu sampai sekarang, karena hidupnya di pohon2 besar dan tinggi. Ketika menjelajah hutan sering nemu anggrek, sayang koleksi anggreknya mati. Aduuhh…. Pak Haji. Sayang banget.
Jalan-jalan ke Dieng, cuma sebentar saja sih. Salah satunya mampir ke kawah Sikidang. Salah satu objek wisata di Dieng, Kab. Banjarnegara, Jawa Tengah.
Air terjun Bantimurung yang terletak di salah satu kaki gunung Bulusaraung ini adalah salah satu lokasi surganya kupu-kupu di Indonesia. Ada kurang lebih 200 spesies kupu-kupu hidup di habitat ini.
Anggrek spesies hutan yang kami dapat dari kaki gunung salak ini sangat rajin berbunga. Saya belum tahu nama spesies dari bunga anggrek ini. Dari bentuk bunganya, saya menduga bunga anggrek spesies ini dari marga Dendrobium.
Bunganya muncul dari ujung daun yang menjuntai ke bawah. Warnanya dominan putih, sedikit agak kemerahan. Dan di bagian tengahnya ada bintik berwarna orange. Ukuran bunganya kecil dan tidak berbau wangi.
Kalau Anda tertarik dengan tulisan di blog ini dan berniat untuk meng-copy-nya serta menyebarluaskannya. Jangan malu-malu, copy aja langsung atau save as lewat menu bar. Boleh diubah, dimodifikasi, dan diperkaya, asal tetap mencantumkan credit-nya dan alamat URL-nya. Diperbolehkan selama untuk tujuan kebaikan, tidak melanggar hukum, norma-norma etika dan kesulilaan, tidak menyinggung SARA, dan BUKAN UNTUK TUJUAN KOMERSIAL. Yang terakhir ini harus bayar Royalti ;). Jika Anda memiliki sesuatu yang ingin ditambahkan, koreksian, komplain, bantahan, protes, gugatan, atau yang lainnya, silahkan masukkan di kolom komentar. Kalau Anda merasa bahwa isi blog bermanfaat, silahkan berbagi dengan yang lain. Silahkan klik icon-icon berbagi yang ada di bawah setiap artikel.