Rule of thirds atau aturan sepertiga. Ini salah satu mantera sucinya para fotografer untuk membuat foto enak dipandang. Namanya juga aturan, tidak ‘mesti’ diikuti. Seperti kata sebagian orang, aturan ada untuk dilanggar. Langgar saja kalau tidak suka.
Aturan ini membagi bidang foto menjadi sepertiga bagian atau sembilan kotak kecil Bidang foto dibagi oleh dua garis vertikal dan dua garis horisontal. Ada empat titik pertemuan dari garis itu. Hampir semua kamera menyediakan garis/grid ini. Cari di buku manual kamera saku Anda untuk menampilkan garis-garis ini. Continue reading →
Nick Brandt adalah salah satu fotografer alam favorite saya. Saya meminjam beberapa buku Nick Brandt dari perpustakaan kota. Menikmati foto Nick seperti memasuki dunia binatang yang luar biasa. Nick memotret gajah, singa, macam, leopard, jerapah, pemburu gading, kawanan gajah, kerbau buta, monyet, dan binatang-binatang lainnya. Fotografi binatang karya Nick Brand memiliki citarasa tersendiri. Foto-mnya tidak hanya sekedar gambar, tetapi seperti memiliki jiwa. Nick berhasil memotret binatang liar itu dengan ‘jiwa’nya sekaligus. Berikut ini beberapa karya Nick Brandt yang saya peroleh dari Mbah Googgle.
Nick Brandt memotret hewan-hewan liar itu dengan lensa normal. Artinya memotretnya dalam jarak yang cukup dekat. Teknik memotret ini membutuhkan keahlian dan keberanian, ditambah kesabaran yang sangat luar biasa. Pengetahuannya tentang kebiasaan dan perilaku hewan-hewan ini membantunya mendapatkan posisi yang tepat dan waktu yang tepat. Hasilnya adalah karya fotografi yang sangat luar biasa. Foto-foto Nick Brandt memberikan kesadaran baru tentang alam liar di afrika. Karya-karya fotografinya tidak hanya indah dan estetis, namun juga bisa membangkitkan kepedulian kita akan kehidupan di alam liar.
Sayang buku ini belum pernah saya temui di toko-toko buku di Indonesia. Namun, jika Anda tertarik memiliki buku fotografi karya Nick Brand ini, Anda bisa membelinya di toko Amazon. Harganya tidak terlalu mahal. Berikut link buku Nick di Amazon: On This Earth: Photographs from East Africa
Beauty of Nature. Alam selalu indah dan jadi ‘foto model’ yang menggoda untuk di-‘jepret’ dengan kamera. Apalagi bunga-bunga yanng sedang bermekaran selalu jadi ‘foto model’ yang indah. Memotret bunga dengan kamera saku gampang-gampang susah. Seringkali kita kecewa melihat foto bunga yang kita jepret tidak seindah aslinya. Berikut ini sedikit trik memotret bunga dengan kamera saku agar bunga yang kita foto lebih indah dari aslinya.
Peralatan:
Kamera yang ada fungsi macro atau close-up. Boleh pakai kamera apa saja asalkan masih berfungsi. Saya menggunakan kamera saku.
Kertas karton tebal warna putih dan hitam. Kalau tidak ada kertas, pakai kain juga boleh. Asal jangan nyuri persediaan kain kafannya Pak Modhin aja.
Tripod. Alat ini optional alias kalau ada akan lebih bagus, kalau tidak punya ya nabung dulu sampai cukup untuk beli tripod…he…he…he.
Payung. Lho..kok???!!!…Ingat kata pepatah, sedia payung sebelum hujan. Daripada gagal memotret gara-gara hujan, mendingan sedia payung dulu.
Saya masih ingat waktu praktikum taksonomi tumbuhan dan morfologi tumbuhan ketika masih kuliah S1 dulu. Kami diberi satu preparat tanaman dan disuruh mengamati, mengambar, dan mendiskripsikan preparat itu. Menggambar sedetail-detailnya, terutama bagian-bagian penting yang menjadi ciri tanaman itu. Ketika mengamati tanaman itu, saya melihat keindahan alam ciptaan Allah. Subhanallah…Allahuakbar.
Foto-foto alam karya Mbah Karl Blossfeldt bisa dilihat di link berikut ini: Karl Blossfeldt.
Siapa bilang untuk dapat mendapatkan foto yang bagus mesti dengan kamera yang mahal. Setidaknya saya sudah membuktikan sendiri, dengan kamera saku biasa pun kita tetap bisa memotret dengan bagus. Fotonya pun tidak kalah dengan foto-foto yang di kartu pos.
Sekitar 5-6 tahun yang lalu saya membeli kamera saku Kodak EasyShare 8 MP. Awalnya hanya untuk dokumentasi pekerjaan, terutama kalau sedang pergi ke kebun atau ke daerah-daerah. Jadi fotonya adalah foto standard dokumentasi.
Karena keasikan motret-motret saya merasakan memotret itu asik juga. Kadang-kadang kalau sedang di tempat yang pemandangannya indah, lalu saya jepret hasilnya bagus juga. Saya suka sekali. Continue reading →
Portrait photography mungkin salah satu objek fotofrafi yang banyak digemari. Selalu ada yang menarik dan menantang ketika memotret wajah orang. Ada karakter yang terpancar dari setiap wajah yang dipotret. Ada pesan di balik raut mukanya. Photographer-photographer besar juga banyak mengambil foto portrait (potret). Seperti sang maestro Henri Cartier-Bersson (HBC). Banyak potret yang dibuat oleh HBC, banyak diantaranya yang jadi iconik. Atau foto Mother Migran-nya Dorothea Lange yang legendaris. Atau fotonya Afgan Girl (Sharbat Gula) oleh Steve McCurry. Sorot mata Sharbat Gula menceritakan kepedihan dan kemarahan. Kadang-kadang saya juga memotret foto teman-teman atau orang di sekitar saya, bisa dilihat di link ini: Portrait of My Colleagues atau di album FB saya: Portrait.
Erza Pound, Henri Cartier-Bresson
Mother Migran, Dorothea Lange
Afgan Girl (Sharbat Gula) by Steve McCurry.
Namun, kalau menikmati potreat yang dibuat oleh Loretta Lux terasa beda dengan potreat-potret klasik. Loretta Lux salah satu fotografer komteporer yang mengkhususkan diri memotreat Portrait Photo. Potret-potret Loretta Lux seperti potret dari dunia mimpi. Wajah anak-anak yang polos, warna-warna yang lembut, dan ada bayangan seperti dari dunia imajinasi. Wajah-wajah itu terlihat polos dan membawa kita kembali ke masa-masa kanak-kanak.
Elliot Erwitt adalah salah satu legenda Magnum Photo yang cukup unik. Photographer satu ini punya ‘urat humor’ yang luar biasa. Menikmat foto-foto EE bisa ketawa-ketiwi sendiri. Saya membaca beberapa buku fotografinya, salah satunya buku EE terbitan Thames & Hudson, kemudian serching di internet. Elliot Erwitt memiliki insting dan kejelian pengamatan yang unik. Dia bisa menangkap moment yang absurd, abnormal, parodi, dan mengelitik urat saraf kita. Foto-fotonya adalah kejadian-kejadian yang terjadi seketika, begitu saja, dan tanpa direncana. Kesigapannya mengabadikan moment-moment ini sungguh luar biasa, sedetik saja terlewat mungkin akan menjadi sangat lain fotonya.
Baca juga artikel lain tentang fotografi: Fotografi
Perhatikan foto berikut ini. Fotonya sarat magna, lebih bercerita dari ribuan kata-kata.
Elliot Erwitt menyukai anjing. Banyak foto-fotonya yang menceritakan tentang anjing. Dalam sebuah wawancara dia menyampaikan salah satu triknya memotret anjing. Kadang-kadang dia perlu mengertak anjingnya agar anjin itu loncat ketika dia memotretnya.
Foto berikut ini Elliot Erwitt minta sebuah kelas seni untuk menanggalkan pakaiannya, sesuatu yang tidak lazim. Yang saya heran, orang-orang itu kok mau ya melakukannya….????
Foto close up bunga dendolion yang saya ambil pakai kamera Kodak
Awalnya saya suka motret hanya untuk dokumentasi saja. Tujuan awalnya simpel saja, bagaimana membuat foto yang bagus untuk dokumentasi dan ilustrasi. Kemudian saya seperti terhenyak ketika menyadari bahwa foto tidak hanya sekedar gambar saja. Foto bisa bercerita, foto bisa mempengaruhi orang, foto bisa ‘nyeni’, bahkan foto bisa ‘memprovokasi’.
Saya masih ingat bertahun-tahun yang lalu, waktu saya masih kecil, Mas Lasimin – saudara sepupu saya – menunjukkan sebuah kamera analog kuno. Saya lupa mereknya, tapi rasa ingin tahu saya membuat saya coba-coba memotret dengan kamera itu. Pernah hasil fotonya hitam semua alias kebakar, karena saya salah membuka tutup filmnya.
Sebuah buku yang memuat fotografi klasik karya Eugene Atget (1857-1927). Kuno banget ya…, saya tidak bisa membayangkan seperti apa kamera yang dipakai oleh Mbah Atget ini dan proses mencetaknya. Atget mungkin tidak terkenal di masanya, tetapi melihat karya-karya yang dihasilkannya saya jadi terkagum-kagum. Coba bayangkan semasa hidupnya Atget tidak kurang telah membuat foto sebanyak 9000-10.000 foto. Kalau jaman sekarang sih sekali jalan-jalan cari foto bisa memotret ratusan kali.
Buku Fotografi Asik dengan Kamera Saku
Saya membayangkan jaman dulu pastilah Mbah Atget ini momotret dengan sangat hati-hati. Memperhitungkan bener objeknya, komposisinya, dan exposure-nya. Setelah melalui proses pencucian dan pencetakan, baru bisa dilihat hasilnya. Biayanya pun pasti cukup mahal untuk ukuran jaman itu. Continue reading →
Kalau Anda tertarik dengan tulisan di blog ini dan berniat untuk meng-copy-nya serta menyebarluaskannya. Jangan malu-malu, copy aja langsung atau save as lewat menu bar. Boleh diubah, dimodifikasi, dan diperkaya, asal tetap mencantumkan credit-nya dan alamat URL-nya. Diperbolehkan selama untuk tujuan kebaikan, tidak melanggar hukum, norma-norma etika dan kesulilaan, tidak menyinggung SARA, dan BUKAN UNTUK TUJUAN KOMERSIAL. Yang terakhir ini harus bayar Royalti ;). Jika Anda memiliki sesuatu yang ingin ditambahkan, koreksian, komplain, bantahan, protes, gugatan, atau yang lainnya, silahkan masukkan di kolom komentar. Kalau Anda merasa bahwa isi blog bermanfaat, silahkan berbagi dengan yang lain. Silahkan klik icon-icon berbagi yang ada di bawah setiap artikel.