Category Archives: Bogor

Pot Tanaman dari Botol Bekas

Saya mendapatkan foto-foto dari sebuah group FB pemanfaatan botol plastik bekas sebagai pot tanaman. Semoga bisa memberiman ide untuk teman2 yang sedang memberdayakan masyarakat untuk gemar menanam.
———————————————-

pot dari botol plastik bekas

Memanfaatkan sampah botol plastik bekas untuk pot tanaman

pot dari botol plastik bekas

Memanfaatkan sampah botol plastik bekas untuk pot tanaman

pot dari botol plastik bekas

Memanfaatkan sampah botol plastik bekas untuk pot tanaman


Continue reading

Advertisements

Transportasi On-line: Pendapat Konsumen

Terus terang saya mendukung transportasi on-line model Gojek, Grabike, Uber, Bo-Jek dan yang semacamnya. Saya melihatnya dari sisi konsumen, karena saya salah satu konsumen yang lebih suka menggunakan layanan transportasi on-line ini. Saya punya pengalaman buruk denga taxi maupun ojek konvensional. Dan saya menemukan solusinya ketika menggunakan layanan transportasi on-line. Ada beberapa alasan saya mendukung layanan transportasi berbasis aplikasi ini:

1. Ada kepastian harga jasa layanannya.
Kepastian harga jasa layanan memberikan kepercayaan bagi konsumen. Kami lebih percaya karena tidak merasa dikibuli/kerjain oleh sopir taxi atau ojek.Dengan aplikasi on-line, sebelum memutuskan untuk melakukan order kita sudah tahu berapa tarif dan biaya yang harus kita bayarkan. Kita tidak perlu tawar menawar seperti ketika menggunakan jasa ojek pangkalan. Taxi yang bagus dan jujur sebenarnya juga memberikan kepastian harga, namun kita tahunya setelah sampai di tujuan.

Di bagian ini jasa taxi, ojek dan angkot konvensional yang tidak ada. Contohnya, kalau kita mau menggunakan ojek panggakalan, kita mesti tawar menawar dulu. Apalagi kalau kita tidak terbiasa atau masih baru, biasanya akan ‘dikerjain’ oleh tukang ojek. Taxi meskipun menggunakan argo, tetapi beda-beda antar taxi. Selama setahun saya sering PJKA (Pulang Jum’at Kembali Ahad) Bogor – Semarang (–> Pati). Saya sering menggunakan jasa taxi atau ojek dari Bandara Terboyo atau Stasion Terboyo. Saya sengaja mencoba taxi dari operator yang berbeda-beda. Ternyata meskipun jaraknya sama, tarifnya bisa beda-beda; ada yang 45 rb, ada yg 60 rb, bahkan pernah kena 75 rb. Aneh kan. Ojek pangkalan meski langganan harganya juga lebih mahal dari ojek on-line. Dari rumah ke Stasion atau pangkalan Damri tarifnya Rp. 25rb – 30rb. Kalau pakai ojek on-line cuma Rp. 12rb. Jauh banget kan.

2. Lebih Memberikan Rasa Aman.
Setiap transaksi menggunakan aplikasi on-line akan jelas tercatat siapa sopirnya, siapa penumpangnya, tujuannya dan waktu pelayanannya. Bahkan saya yakin bisa dilacak juga rute yang dilewati. Kalau terjadi sesuatu, ketinggalan barang misalnya, bisa langsung cek ke operatornya. Kita juga bisa langsung menelpon driver yang mengantar kita. Kalau terjadi perampokan, perampasan, atau kejahatan lain yang dilakukan oleh sopir kepada konsumen akan dengan mudah bisa terlacak. Begitu juga kalau penumpang melakukan kejahatan, akan lebih mudah terlacak juga.

Taxi, ojek dan angkot konvensional kurang bisa memberi rasa aman ini. Banyak berita kejahatan yang dilakukan di Taxi, angkot atau oleh tukang ojek. Kejahatan ini seringkali sulit dilacak. Banyak juga kejahatan yang dilakukan penumpang kepada sopir taxi atau ojek. Aplikasi transportasi on-line bisa memberikan rasa aman baik kepada penumpang maupun drivernya sendiri.

3. Lebih mudah dan lebih nyaman.
Nggak perlu telepon, nggak perlu oder, ngak perlu nunggu di pinggir jalan, nggak perlu tawar menawar. Bagian ini rasanya akan sulit disaingi oleh taxi dan ojek pangkalan. Order dilakukan via aplikasi yang menggunakan jaringan internet. Biayanya hanya biaya kuota internet saja. Coba kalau mesti menelpon taxi, kita telpon pakai HP telponnya ke telpon lokal. Ada tambahan biaya yang lumayan.

Saya juga merasakan respon driver sangat cepat dengan aplikasi on-line. Ketika mengklik ‘Order’, hanya dalam hitungan detik sudah ada driver yang mengontak kita. Cepat banget. Kita juga tahu kapan driver akan sampai. Bahkan seringkali ketika masih di bis Damri, saya sudah order ojek on-line duluan. Jadi ketika saya sampai, ojeknya juga sudah siap.

Aplikasi on-line ini hampir ada di semua kota-kota besar di Indonesia. Ini sangat memudahkan konsumen seperti saya ini. Terutama di tempat-tempat yang saya tidak begitu kenal, saya lebih nyaman pakai aplikasi on-line.


Selama menggunakan jasa ojek atau taxi saya sering ngobrol dengan drivernya, baik yang on-line maupun yang konvensional. Dari diskusi itu, pendapat saya pribadi, aplikasi transportasi on-line ini sungguh luar biasa. Tidak hanya bagi konsumennya, tetapi juga bagi drivernya maupun pengelolanya. Bagi drivernya sendiri ada banyak keuntungan:
1. Driver tidak perlu ngetem di pangkalan menunggu atau mencari-cari penumpang.
Driver memantau order dari aplikasinya langsung. Jika ada order akan muncul di aplikasi, driver bisa ambil order ini dengan cepat. Jadi penumpang yang mencari layanannya sendiri. Driver bisa mengatur sendiri waktu kerjanya, mau pagi, siang, sore atau malam.

2. Driver lebih yakin dengan bayarannya.
Dia tinggal bawa penumpang dan menerima bayarannya langsung dari penumpang. Beberapa bulan yang lalu banyak berita yang menyebutkan jika penghasilan driver ojek on-line sangat fantastis. Sehari ada yang bisa dapat 500rb. Gede banget, lebih gede daripada gajiku di kantor. Sekarang ketika sudah banyak ojek on-line, penghasilan driver sedikit turun, tapi menurut saya masih cukup tinggi. Daripada jadi buruh masih lebih baik menjadi driver ojek on-line.

3. Driver Lebih Mudah dan Nyaman Berhubungan dengan Operator.
Operator aplikasi on-line sudah membuat sistem aplkasi yang sederhana dan mudah bagi anggota driver mereka. Semuanya dilakukan secara on-line dan paper less. Uang disetorkan dan dibayarkan via transfer bank. Driver jarang sekali datang ke kantor pengelolanya.


Sistem, peraturan dan UU transportasi kita sepertinya belum mewadahi tranportasi model baru ini. Jadi, mungkin, banyak aturan-aturan yang tidak sesuai untuk aplikasi transportasi on-line. Menurut saya sih, kalau memang belum ada aturannya, pemerintah mestinya harus meresponnya dengan membuat aturan yang memuat dan mengatur transportasi model on-line ini. Karena, aplikasi transportasi on-line lebih memudahkan dan menguntungkan bagi konsumen.

Benturan dengan transportasi konvensional akan ada. Sama seperti halnya dulu ketika banyak sopir taxi yang mendomo Blue Bird. Akhirnya banyak taxi yang mengikuti model bisnisnya blue bird. Meski lebih mahal banyak konsumen yang menggunakan blue bird. Nah, kini malah taxi blue bird ikut-ikutan demo. Pelan tapi pasti, taxi sekelas blue bird saja takut sama ojek on-line.


Semoga akan ada solusi yang baik untuk semuanya. Buat UU yang lebih berpihak pada konsumen dan juga mewadahi ojek maupuan taxi on-line. Jangan terlalu mengikuti kemauan taxi dan ojek pangkalan saja.

Selulosa dari Tankos Sawit

selulosa tankos sawit

selulosa tankos sawit

Selulosa adalah tahapan antara untuk produksi berbagai macam turunan tankos. Selulosa ini berhasil diisolasi dari tankos sawit. Selulosa 100% dari tankos sawit. Dari selulosa ini bisa dibuat berbagai macam turunan, misalnya saja kalau mau dihidrolisis untuk menghasilkan gula/glukosa. Dari glukosa bisa dibuat berbagai macam produk lagi; bisa jadi etanol, asam organik dan lainnya. Dari asam organik seperti asam laktat bisa dipolimerisasi menjadi poly lactic acid, salah satu bahan bioplastik. Jalur tahapan yang saya tempuh adalah: tankos –> selulosa –> bioplastik. Semoga lancar dan bisa ekonomis.

tankos sawit cacah

Tankos sawit yang sudah dicacah dan dikeringkan.

down_arrow

pulp tankos sawit

Pulp tankos sawit

down_arrow

selulosa tankos sawit

selulosa tankos sawit

down_arrow

down_arrow

Bioplastik dari tankos sawit

Prottotipe bioplastik dari tankos sawit

Talas Bogor Istimewa di Jalan Surken

image

Salah satu makanan khas Bogor adalah talas. Talas diolah menjadi berbagai macam makanan. Kalau saya sih tetap suka talas Bogor yang original: talas kukus dengan kelapa muda. Nikmat.

Talas Bogor yang bayak dikenal talas yang kecil-kecil. Banyak dijual di pasar Bogor dan seputaran Kebun Raya. Itu talas Bogor biasa. Di jalan Surken (Surya Kencana) ada penjual talas Bogor yang istimewa. Pertama ukuran talasnya yang ruar biasa gede. Jauh lebih besar daripada talas Bogor yang biasa. Kedua, rasanya yang pulen dan legit banget. Ada yang menyebutnya talas ketan.

image

image

Continue reading

Museum Etnobotani Indonesia atau Herbarium Bogoriense

Belanja On-Line

Penetrasi internet semakin luas di Indonesia. Ini membuka peluang yang semakin besar untuk bisnis on-line. Lihat saja iklan di televisi, ada banyak sekali penawaran-penawaran toko online. Seperti: tokopedia.com, Olx.com, Traveloka.com dan masih banyak lagi. Di Medsos pun sekarang juga banyak sekali penawaran-penawaran barang. Saya sendiri punya juga sudah mulai jualan on-line sejak blog ini lahir. Saya yakin, dalam beberapa tahun ke depan bisnis on-line akan semakin berkibar.

Saya juga sering membeli berang secara on-line. Bahkan membeli barang yang ecek-ecek saja saya perah beli on-line. Saya pernah beli barang on-line di Indonesia sampai ke USA. Misalnya saja: saya beli benih lithops dari Amerika. Saya pernah beli batu dari India. Beli buku dari England. Situs on-line internasional yang sering saya kunjungi adalah: eBay.com, Amazon.com, Alibaba.com dan Aliexpress.com. Yang paling sering ya beli di toko-toko on-line di Indonesia. Saya beli banyak buku secara on-line. Ada buku yang baru dan banyak buku-buku bekas.

Kadang-kadang beli on-line bisa mendapatkan barang dengan harga yang lebih murah daripada yang di toko. Selain itu kita bisa lebih hemat waktu, tidak perlu ke toko. Di Bogor perjalanan adalah perjuangan. Macetnya minta ampun. Mau ke Gramedia saja butuh waktu satu jam, dua jam pp. Gila.

Memang sih. Dunia on-line seperti halnya dunia nyata. Ada juga orang jahat dan penipu. Kalau tidak hati-hati bisa kena tipu. Karena itu sebelum membeli biasanya saya lihat dulu siapa yang jual, bagaiman reputasinya dan review atau komentar-komentar dari orang yang sudah pernah membeli. Alhamduillah, selama ini belum pernah kena tipu. Semua barang diterima dengan baik.

Komposter Sampah Organik Sederhana yang Tidak Pernah Penuh

Bp. Elan Jaelani, Ketua Rt. 2, Rw. 12, Pamoyonana, Kec. Bogor Selatan, menjelaskan tentang komposter sederhana untuk pengomposan sampah organik rumah tangga. Keistimewaan komposter ini dibandingkan komposter yang sudah saya postin sebelumnya adalah komposter ini tidak pernah penuh meski diisi terus menerus. Kompos yang sudah jadi ada di bagian bawah dan tertampung di bagian bawah. Kompos ini dipanen/diambil terus, sehingga komposter ini tidak akan penuh.

Komposter ini dibuat dari tong plastik berukuran 50 L. Bisa saja dibuat dari tong yang lebih besar jika digunakan untuk volume sampah organik yang lebih besar. Bagian bawah, di sisi sampingnya, tong ini diberi lubang untuk pintu memanen kompos yang sudah jadi. Sedikit di lubang panen ini dipasang pejangga dari pralon yang disusun sedemikian rupa untuk menahan kompos/sampah organik. Bagian tutupnya diberi lubang seukuran pralon. Di atas penahan pralon ini diberi saringan plastik yang ukuran lubang-lubangnya besar. Kira-kira berukuran 3 cm. Lubang ini harus cukup besar agar kompos bisa turun ke tempat penampungan. Jika ukuran lubang-lubang saringan ini terlalu kecil, kompos akan sulit turun ke tempat penampungan kompos.

Cara pemakaianya sangat mudah dan sederhana sekali. Pertama, dibagian bawah diberi lapisan daun. Lapiran daun ini berfungsi sebagai alas penahan. Bisa juga diberi sobekan kertas karton. Kedua, dibagain bawah diberi selapis kompos yang sudah jadi atau tanah topsoil/tanah atas yang subur. Setelah itu baru ditambahkan sampah organik.

Sampah organik tidak perlu disemprot air, karena sampah organik umumnya sudah cukup mengandung air. Air hanya perlu ditambahkan jika sampah organiknya kering sekali. Kemudian ditambahkan dekomposer, misalnya: Promi atau MOL atau dekomposer yang lain. Pengunaannya sedikit saja. Dekomposer ini berfungsi untuk mempercepat proses dekomposisi bahan organik menjadi kompos. Sampah organik ditambahkan secara bertahap setiap hari.

Sesekali tong ini digoyang-goyang agar kompos yang sudah jadi turun ke bawah ke tempat penampungan. Dengan demikian, tumpukan kompos akan turun secara bertahap pula. Jika penambahan sampah organik sebanding dengan kecepatan dekomposisi, tong komposter tidak akan pernah penuh.

Kompos yang dihasilkan dari komposter ini dimanfaatkan untuk memupuk tanaman di pekarangan sendiri.

Berkunjung ke Museum Tentara PETA, Bogor

This slideshow requires JavaScript.

Museum Tentara PETA Bogor

Museum Tentara PETA Bogor

Museum Tentara PETA Bogor

Museum Tentara PETA Bogor


Continue reading

Benih Lithops Mulai Tumbuh

Alhamdulillah. Royan senang sekali. Benih lithops yg ditanamnya sudah mulai tumbuh. Sebagian benih sudah mulai tumbuh pada usia 5-7 hari setelah semai. Bentuknya masih kecil-kecil dan mungil. Meski kecil, sudah terlihat jika tanaman kecil ini adalah bibit lithops. Ciri khasnya jelas terlihat.

Ternyata menanam benih lithops atau living stone tidak lah sulit. Hanya perlu kesabaran dan ketekunan.

Semoga tanaman-tanaman mungil ini bisa tumbuh besar menjadi tanaman living stone yang unik dan indah.

sprout of lithops living stone seed

sprout of lithops/living stone

sprout of lithops living stone seed

sprout of lithops/living stone

sprout of lithops living stone seed

sprout of lithops/living stone

sprout of lithops living stone seed

sprout of lithops/living stone

Benih Lithops umur dua bulan.

Benih Lithops umur dua bulan.

Benih Lithops umur dua bulan.

Benih Lithops umur dua bulan.

Benih Lithops umur dua bulan.

Benih Lithops umur dua bulan.

Berkunjung ke Museum Etnobotani Indonesia, Herbarium Bogoriense

This slideshow requires JavaScript.

Museum Etnobotany Bogor, Herbarium Bogoriensis.

Museum Etnobotany Bogor, Herbarium Bogoriensis.

Museum Etnobotany Bogor, Herbarium Bogoriensis.

Museum Etnobotany Bogor, Herbarium Bogoriensis.

Museum Etnobotany Bogor, Herbarium Bogoriensis.

Museum Etnobotany Bogor, Herbarium Bogoriensis.

Museum Etnobotany Bogor, Herbarium Bogoriensis.

Museum Etnobotany Bogor, Herbarium Bogoriensis.

Museum Etnobotany Bogor, Herbarium Bogoriensis.

Museum Etnobotany Bogor, Herbarium Bogoriensis.


Continue reading