Sering aku bertanya sendiri, kenapa petani kita sulit sekali menggunakan kompos, pupuk organik, atau pestisida nabati. Sudah banyak pelatihan, resep-resep, bahkan produk-produk organik membanjiri pasaran. Tiga tahun terakhir pemerintah gencar dengan program GO ORGANIK 2010. Sekarang tahun 2010…..!!!!!??????
Pagi ini aku bertemu dengan seorang teman, Pak Gondo – sebuah nama klasik. Dia sudah menunggu sejak semalam, tapi karena aku baru sampai rumah hampir tengah malam. Pagi hari kami baru bertemu dan berdiskusi.
Temanku ini sudah lama sekali bergelut di dunia pestisida, seorang marketing, pasukan teritorial. Dia paham betul kondisi riil lapangan, apa yang disukai, dan dimaui pasar. Apa yang diceritakannya padaku, sedikit banyak memberi pemahaman baru padaku. Seperti potongan puzzle, aku menemukan lagi potongan yang lain.
Penelitian yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Tanah menemukan bahwa kandungan bahan organik di sebagian besar sawah di P Jawa menurun hingga 1% saja. Padahal kandungan bahan organik yang ideal adalah sekitar 5%. Kondisi miskin bahan organik ini menimbulkan banyak masalah, antara lain: efisiensi pupuk yang rendah, aktivitas mikroba tanah yang rendah, dan struktur tanah yang kurang baik. Akibatnya produksi padi cenderung turun dan kebutuhan pupuk terus meningkat. Solusi mengatasi permasalah ini adalah dengan menambahkan bahan organik/kompos ke lahan-lahan sawah. komposharus ditambahkan dalam jumlah yang cukup hingga kandungan bahan organik kembali ideal seperti semula.
Praktek pembuatan kompos jerami oleh H Zaka, Ket. Gapoktan Sulih Asih, Cigombong, Bogor
Padi atau tanaman menyerap unsur hara dari dalam tanah. Dengan bantuan energi dari sinar matahari, hara dari dalam tanah ditambah dengan CO2 dari udara ini diubah menjadi senyawa komplek untuk membentuk batang, daun, dan bulir-bulir padi/beras. Padi/beras akan dipanen dan dibawa ke tempat lain, sedangkan jerami sisa-sisa panen umumnya dibakar.
Proses ini berlangsung lama. Unsur hara dan bahan organik tanah semakin lama akan semakin habis. Selama ini unsur hara lebih banyak dipenuhi dengan menambahkan pupuk-pupuk kimia anorganik. Bahan-bahan organik yang ada di dalam tanah tidak mendapat perhatian dan kandungannya di dalam tanah semakin menipis.
Gambar 1. Jerami dari sisa panen padi
Jerami yang dihasilkan dari sisa-sisa panen sebaiknya jangan dibakar, tetapi diolah menjadi kompos dan dikembalikan lagi ke tanah. Kompos jerami ini secara bertahap dapat menambah kandungan bahan organik tanah, dan lambat laun akan mengembalikan kesuburan tanah.
Gambar 2. Seresah dan sisa-sisa daun dapat juga dibuat pupuk kompos
Kompos selain dibuat dari jerami dapat juga dibuat dari seresah atau sisa-sisa tanaman lain. Rumput-rumputan, sisa-sisa daun dan batang pisang, atan daun-daun tanaman dapat juga dibuat kompos. Pada prinsipnya semua limbah organik dapat dijadikan kompos.
Batang kayu, bambu, ranting-ranting pohon, atau tulang juga termasuk bahan organik tetapi sebaiknya tidak ikut dikomposkan dengan jerami. Limbah-limbah ini termasuk limbah organik keras. Meskinpun dapat juga dibuat kompos, namun bahan-bahan ini memerlukan waktu yang lama untuk terdekomposisi. Continue reading →
Saya senang jalan-jalan ke pasar tradisional. Kadang-kadang nganter bapak atau simak ke pasar. Kadang-kadang nganter istri yang pingin lihat-lihat pasar. Atau sekedar iseng aja. Kalau ke pasar aku sering mampir ke kios tani yang menjual berbagai macam benih tanaman lokal. Ada sayuran, ada buah-buahan, ada juga tanaman yang aneh-aneh yang gunanya juga aneh.
[baca ini juga: Orok-orok tanaman kaya hara] Orok-orok mengusik rasa ingin tahuku, seperti biasa aku langsung tanya sama Om Google. Biasanya dia tahu jawabannya. Sebelumnya temen di FB memberikan link yang cukup menarik, link informasi tentang sejenis orok-orok di situsnya FAO:
Ternyata ada beberapa nama tanaman orok-orok ini saya jadi sedikit binggung. Nama orok-orok adalah nama lokal untuk daerah jawa dan sunda. Kalau di daerah lain belum ketemu nama lokalnya.
Nama ilmiahnya pun ada berbagai versi:
Crotalaria juncea L
Crotalaria anagyroioes H.B.K.
Crotalaria mucronata
Mungkin karena karakteristiknya mirip jadi nama daerahnya juga hampir sama. Tetapi kalau dilihat dari biji yang saya peroleh dan saya dibandingkan dengan internet bijinya lebih mirip dengan Crotalaria juncea L. Tetapi ada juga yang menamakan Crotalaria mucronata. Entahlah…mana yang bener…Biar ahli botanya yang menentukannya.
Yang jelas nama genusnya adalah Crotalaria dan memang termasuk tanaman legume. Ada beberapa link yang cukup lengkap informasinya, yaitu:
Tanaman ini tumbuh dengan cepat dan tahan terhadap beberapa kondisi ekstrim.
Pada saat menanam orok-orok sebaiknya tidak diberi pupuk urea, karena jika ada urea atau ion amonium di tanah, Rhizobium yang ada di dalam bintil akar tidak akan menambat N dari udara.
Sudah ada beberapa penelitian tentang orok-orok ini, terutama terkait dengan manfaatnya sebagai penambah hara N dan obat.
Ilmu bisa diperoleh dari mana saja dan siapa saja, kadang-kadang dari sumber yang tidak terduga. Kemarin ketika sedang jalan-jalan di pasar saya bertemu dengan petani. Dia membawa biji-bijian yang belum pernah saya lihat. Saya tergelitik untuk bertanya pada Beliau.
“Nopo niku, Pak?” tanya saya.
“Niki winih orok-orok“, jawabnya.
Nama benih yang asing, Orok-orok, kalau orok saya tahu, tapi kalau orok-orok belum tahu. Rasa ingin tahu saya mejadi tergelitik.
Lemi (huruf ‘e’ dibaca seperti ‘e’ pada kata lem) atau rabuk atau bahasa indonesianya pupuk, ilmu yang saya geluti. Ngak pernah denger ada rabuk namanya orok-orok. Rasa ingin tahu semakin saya semakin mengebu. Lha wong saya ini berkecimpung di dunia perpupukkan organik, tetapi baru kali ini saya denger ada rabuk dari tanaman orok-orok.
Selintas kemudian saya kembali mengorek-ngorek keterangan dari Pak Tani ini tentang orok-orok. Sebuah kearifan lokal yang perlu dicontoh. Semoga ada manfaatnya untuk yang lain, terutama temen-temen yang menanam dengan budidaya organik. Continue reading →
Tulisan saya sampaikan untuk menjawab pertanyaanm tentang pembuatan pestisida nabati dan pestisida organik. Bahan diambil dari beberapa sumber & pengalaman petani. Foto-foto nyusul. Semoga bermanfaat.
Mimba mengandung zat aktif azadirahtin, triol, salanin, nimbin. Mimba bisa digunakan untuk mengendalikan ulat, kumbang, dan kutu daun. Bahan yang dapat digunakan adalan daun dan biji, namum kandungan racun di dalam biji lebih tinggi daripada di daun.
Cara pembuatan pestisida dari biji mimba:
1. Keringkan biji mimba beserta kulitnya hingga kering.
2. Tumbuk atau haluskan biji mimba hingga jadi serbuk/tepung.
3. Timbang 50 gr serbuk biji mimba dan masukkan ke dalam satu liter air.
4. Rendam biji mimba semalaman (over night).
5. Saring rendaman biji mimba tersebut.
6. 5ambahkan kurang lebih 1 gr detergen untuk emulsifier agar campuran stabil & tidak mengendap.
7. Pestisida nabati mimba siap digunakan.
Cara aplikasi:
1. Larutkan 1/2 liter larutan biji mimba dengan 14 liter (satu tangki semprot).
2. Aduk hingga tercampur merata.
3. Semprotkan di pagi atau sore hari.
Pembuatan pestisida dari daun menggunakan prosedur yang sama, hanya mengganti biji dengan daun.
Resep MOL ini istimewa dibandingkan dengan resep-resep MOL yang lain, karena konon MOL ini kaya akan unsur K. Bahan dan cara pembuatannya juga suangat mudah zekali.
Bahan-bahan:
1. Sabut Kelapa
2. Air bersih
Cara pembuatan:
1. Masukkan sabut kelapa ke dalam drum. Jangan penuh-penuh.
2. Masukkan air sampai semua sabut kelapa terendam air.
3. Drum ditutup dan dibiarkan selama dua minggu.
4. Air yang sudah berwarna coklat kehitaman digunakan sebagai MOL.
Selain sabut kelapa bisa juga ditambahkan dengan jerami kering. Penambahan jerami bisa bermanfaat sebagai pestisida nabati.
Pemakaian:
MOL bisa disiramkan atau disemprotkan ke tanaman. Cara pemakaian sama seperti MOL-MOL yang lain.
Ada satu resep MOL yang perlu dicoba, yaitu MOL dari Gedebok (batang) pisang. Resepnya sederhana dan mudah membuatnya.
Bahan-bahan:
Perbandingan bahan adalah 1:1, seperti contoh di bawah ini
1. Batang pisang 1 kg
2. Nira 1 liter atau bisa diganti dengan gula jawa 1,5 ons.
Untu produksi yang lebih banyak tinggal dikalikan kelipatannya.
Cara pembuatan:
1. Batang pisang dipotong-potong. Jangan diparut/ditumbuk/dicincang.
2. Campurkan batang pisang dengan 3/4 nira.
3. Masukkan ke dalam baskom dan atur agar memadat.
4. Tambahkan sisa nira lagi.
5. Tutup rapat dan dibiarkan selama dua minggu.
6. Setelah dua minggu diperas dan diambil airnya.
Pemakaian:
1. Untuk pupuk daun MOL diencerkan dengan perbandingan 1:1000.
2. Disemprotkan ke seluruh bagian tanaman di pagi hari atau sore hari.
Dulu waktu aku masih kecil, aku & teman-temanku sering main di sawah di belakang rumah. Mungkin jarang aku perhatikan, di sawah banyak sekali tanaman yang mengambang di permukaan air. Ada beberapa jenisnya. Setelah aku kuliah baru aku tahu kalau salah satu tanaman air ini sangat bermanfaat untuk padi, yaitu Azolla.
Azolla adalah tanaman air yang berdaun kecil-kecil dan pada saat-saat tertentu tumbuh sangat banyak. Warna daunnya bisa sangat hijau dan tebal.
Kalau Anda tertarik dengan tulisan di blog ini dan berniat untuk meng-copy-nya serta menyebarluaskannya. Jangan malu-malu, copy aja langsung atau save as lewat menu bar. Boleh diubah, dimodifikasi, dan diperkaya, asal tetap mencantumkan credit-nya dan alamat URL-nya. Diperbolehkan selama untuk tujuan kebaikan, tidak melanggar hukum, norma-norma etika dan kesulilaan, tidak menyinggung SARA, dan BUKAN UNTUK TUJUAN KOMERSIAL. Yang terakhir ini harus bayar Royalti ;). Jika Anda memiliki sesuatu yang ingin ditambahkan, koreksian, komplain, bantahan, protes, gugatan, atau yang lainnya, silahkan masukkan di kolom komentar. Kalau Anda merasa bahwa isi blog bermanfaat, silahkan berbagi dengan yang lain. Silahkan klik icon-icon berbagi yang ada di bawah setiap artikel.