Tag Archives: angkot

Transportasi On-line: Pendapat Konsumen

Terus terang saya mendukung transportasi on-line model Gojek, Grabike, Uber, Bo-Jek dan yang semacamnya. Saya melihatnya dari sisi konsumen, karena saya salah satu konsumen yang lebih suka menggunakan layanan transportasi on-line ini. Saya punya pengalaman buruk denga taxi maupun ojek konvensional. Dan saya menemukan solusinya ketika menggunakan layanan transportasi on-line. Ada beberapa alasan saya mendukung layanan transportasi berbasis aplikasi ini:

1. Ada kepastian harga jasa layanannya.
Kepastian harga jasa layanan memberikan kepercayaan bagi konsumen. Kami lebih percaya karena tidak merasa dikibuli/kerjain oleh sopir taxi atau ojek.Dengan aplikasi on-line, sebelum memutuskan untuk melakukan order kita sudah tahu berapa tarif dan biaya yang harus kita bayarkan. Kita tidak perlu tawar menawar seperti ketika menggunakan jasa ojek pangkalan. Taxi yang bagus dan jujur sebenarnya juga memberikan kepastian harga, namun kita tahunya setelah sampai di tujuan.

Di bagian ini jasa taxi, ojek dan angkot konvensional yang tidak ada. Contohnya, kalau kita mau menggunakan ojek panggakalan, kita mesti tawar menawar dulu. Apalagi kalau kita tidak terbiasa atau masih baru, biasanya akan ‘dikerjain’ oleh tukang ojek. Taxi meskipun menggunakan argo, tetapi beda-beda antar taxi. Selama setahun saya sering PJKA (Pulang Jum’at Kembali Ahad) Bogor – Semarang (–> Pati). Saya sering menggunakan jasa taxi atau ojek dari Bandara Terboyo atau Stasion Terboyo. Saya sengaja mencoba taxi dari operator yang berbeda-beda. Ternyata meskipun jaraknya sama, tarifnya bisa beda-beda; ada yang 45 rb, ada yg 60 rb, bahkan pernah kena 75 rb. Aneh kan. Ojek pangkalan meski langganan harganya juga lebih mahal dari ojek on-line. Dari rumah ke Stasion atau pangkalan Damri tarifnya Rp. 25rb – 30rb. Kalau pakai ojek on-line cuma Rp. 12rb. Jauh banget kan.

2. Lebih Memberikan Rasa Aman.
Setiap transaksi menggunakan aplikasi on-line akan jelas tercatat siapa sopirnya, siapa penumpangnya, tujuannya dan waktu pelayanannya. Bahkan saya yakin bisa dilacak juga rute yang dilewati. Kalau terjadi sesuatu, ketinggalan barang misalnya, bisa langsung cek ke operatornya. Kita juga bisa langsung menelpon driver yang mengantar kita. Kalau terjadi perampokan, perampasan, atau kejahatan lain yang dilakukan oleh sopir kepada konsumen akan dengan mudah bisa terlacak. Begitu juga kalau penumpang melakukan kejahatan, akan lebih mudah terlacak juga.

Taxi, ojek dan angkot konvensional kurang bisa memberi rasa aman ini. Banyak berita kejahatan yang dilakukan di Taxi, angkot atau oleh tukang ojek. Kejahatan ini seringkali sulit dilacak. Banyak juga kejahatan yang dilakukan penumpang kepada sopir taxi atau ojek. Aplikasi transportasi on-line bisa memberikan rasa aman baik kepada penumpang maupun drivernya sendiri.

3. Lebih mudah dan lebih nyaman.
Nggak perlu telepon, nggak perlu oder, ngak perlu nunggu di pinggir jalan, nggak perlu tawar menawar. Bagian ini rasanya akan sulit disaingi oleh taxi dan ojek pangkalan. Order dilakukan via aplikasi yang menggunakan jaringan internet. Biayanya hanya biaya kuota internet saja. Coba kalau mesti menelpon taxi, kita telpon pakai HP telponnya ke telpon lokal. Ada tambahan biaya yang lumayan.

Saya juga merasakan respon driver sangat cepat dengan aplikasi on-line. Ketika mengklik ‘Order’, hanya dalam hitungan detik sudah ada driver yang mengontak kita. Cepat banget. Kita juga tahu kapan driver akan sampai. Bahkan seringkali ketika masih di bis Damri, saya sudah order ojek on-line duluan. Jadi ketika saya sampai, ojeknya juga sudah siap.

Aplikasi on-line ini hampir ada di semua kota-kota besar di Indonesia. Ini sangat memudahkan konsumen seperti saya ini. Terutama di tempat-tempat yang saya tidak begitu kenal, saya lebih nyaman pakai aplikasi on-line.


Selama menggunakan jasa ojek atau taxi saya sering ngobrol dengan drivernya, baik yang on-line maupun yang konvensional. Dari diskusi itu, pendapat saya pribadi, aplikasi transportasi on-line ini sungguh luar biasa. Tidak hanya bagi konsumennya, tetapi juga bagi drivernya maupun pengelolanya. Bagi drivernya sendiri ada banyak keuntungan:
1. Driver tidak perlu ngetem di pangkalan menunggu atau mencari-cari penumpang.
Driver memantau order dari aplikasinya langsung. Jika ada order akan muncul di aplikasi, driver bisa ambil order ini dengan cepat. Jadi penumpang yang mencari layanannya sendiri. Driver bisa mengatur sendiri waktu kerjanya, mau pagi, siang, sore atau malam.

2. Driver lebih yakin dengan bayarannya.
Dia tinggal bawa penumpang dan menerima bayarannya langsung dari penumpang. Beberapa bulan yang lalu banyak berita yang menyebutkan jika penghasilan driver ojek on-line sangat fantastis. Sehari ada yang bisa dapat 500rb. Gede banget, lebih gede daripada gajiku di kantor. Sekarang ketika sudah banyak ojek on-line, penghasilan driver sedikit turun, tapi menurut saya masih cukup tinggi. Daripada jadi buruh masih lebih baik menjadi driver ojek on-line.

3. Driver Lebih Mudah dan Nyaman Berhubungan dengan Operator.
Operator aplikasi on-line sudah membuat sistem aplkasi yang sederhana dan mudah bagi anggota driver mereka. Semuanya dilakukan secara on-line dan paper less. Uang disetorkan dan dibayarkan via transfer bank. Driver jarang sekali datang ke kantor pengelolanya.


Sistem, peraturan dan UU transportasi kita sepertinya belum mewadahi tranportasi model baru ini. Jadi, mungkin, banyak aturan-aturan yang tidak sesuai untuk aplikasi transportasi on-line. Menurut saya sih, kalau memang belum ada aturannya, pemerintah mestinya harus meresponnya dengan membuat aturan yang memuat dan mengatur transportasi model on-line ini. Karena, aplikasi transportasi on-line lebih memudahkan dan menguntungkan bagi konsumen.

Benturan dengan transportasi konvensional akan ada. Sama seperti halnya dulu ketika banyak sopir taxi yang mendomo Blue Bird. Akhirnya banyak taxi yang mengikuti model bisnisnya blue bird. Meski lebih mahal banyak konsumen yang menggunakan blue bird. Nah, kini malah taxi blue bird ikut-ikutan demo. Pelan tapi pasti, taxi sekelas blue bird saja takut sama ojek on-line.


Semoga akan ada solusi yang baik untuk semuanya. Buat UU yang lebih berpihak pada konsumen dan juga mewadahi ojek maupuan taxi on-line. Jangan terlalu mengikuti kemauan taxi dan ojek pangkalan saja.

Advertisements

Catatan di Maluku Utara: Jalan yang Mulus dan Angkot yang Sangar

honda jazz angkot halmahera

Honda Jazz jadi angkot di pulau Halmahera jurusan Sofifi-Tobelo. Keren dan full music mirip diskotik. (Foto koleksi Pribadi)

Lokasi penelitian yang akan saya kunjungi adalah Kab. Halmahera Utara.Jaraknya dari kota Sofifi kurang lebih 5 jam perlanan dengan menggunakan mobil. Hari kedua, saya bersama dengan Pak Andriko dan Pak Assegaf berangkat menuju Halmahera Utara.

“Siap-siap, Pak Isroi. Perjalanan kita cukup jauh”, kata Pak Andriko.

Untung mobil yang Kita pakai Toyota Hilux, bodynga garang dan tenaganya juga besar. Roda-roda yang besar cukup nyaman untuk perjalanan jauh.

Jalanan utama Halmahera Utara sangat mulus, halus, dan marka jalannya masih baru saja di cat. Kalau lihat di peta Indonesia, pulau Halmahera seperti berbentuk huruf K. Nah, saya menyusuri pingiran pulau ini di ujung bagian utara.

Jalanan berkelok-kelok. Sopir kami, Iwan, cukup tangkas mengendarai mobil gede ini. Sepertinya dia cocok jadi pembalap rally. Gayanya menyopir membuat saya pusing tujuh keliling. Satu jam pertama perut seperti dikocok-kocok, mual-mual, dan mulai berkeringat dingin.

Untungnya pemandangan di luar sungguh luar biasa. Pantainya terlihat cantik dari dalam mobil. Airnya jernih banget. Udara sangat cerah dan awan berarak-arak, membuat pemandangan semakin cantik saja. Beberapa kali saya berhenti mengambil foto, sekalian menstabilkan kondisi perut yang mulai mau keluar isinya.

Rumah-rumah penduduk juga masih jarang. Jarak antar desa cukup jauh. Diselingi dengan perkebunan kelapa dan pala. Kelapa, pala dan cengkeh merupakan penghasilan utama penduduk pulau Halmahera ini. Kebun pala biasanya bercampur dengan kebun kelapa. Sebagain terlihat juga pohon cengkeh. Pohon kakao/coklat juga ada, namun tidak cukup banyak.

Di tengah perjalanan kami berhenti di sebuah rumah makan. Namanya rumah makan Ladduni. Letaknya di pingir selat atau mungkin danau. Rumah makan ini cukup ramai. Banyak kendaraan yang berhenti untuk makan dan beristirahat sejenak. Menu makanan di warung makan ini umumnya adalah ikan laut bakar, udang dan cumi. Perut saya masih cukup kenyang, jadi saya hanya mengambil nasi sedikit dan lauk udang dan cumi. Rasanya cukup enak. Cuminya gurih dan udangnya sedikit pedas.
Continue reading

Pengalaman Pertama Pergi ke Kepulauan Maluku

speed boat ternate

Dari dalam speed boat. (Foot koleksi pribadi)

Belum semua wilayah Indonesia sempat saya kunjungi, terutama Indonesia bagian timur. Salah satunya adalah kepulauan Maluku. Alhamdulillah, kerjasama penelitian saya dengan Dr. Andriko Noto Susanto, Kepala BPTP Maluku Utara disetujui dan mendapatkan anggaran dana meski dipotong lebih dari separonya. Ini menjadi kesempatan bagi saya untuk mengunjungi kepulauan Maluku. Saya jadi teringat dengan pelajaran sejarah ketika sekolah SD dulu, bagaiman heroiknya Kesultanan Ternate dan Tidore berjuang melawan penjajah Portugis yang ingin menguasai wilayah Maluku dan menguasai perdagangan pala pada saat itu.

Saya berangkat Minggu tengah malam dari bandara Soekarno Hatta. Sambil menunggu di ruang tunggu bandara saya sempatkan menulis beberapa point apa-apa yang akan saya kerjakan di Maluku. Pukul setengah dua belas tengah malam, pesawat mulai boarding. Pesawat take off dengan lancar. Saya mencoba untuk tidur, karena besok mesti mulai kerja. Namun, meski mata sudah pejamkan, saya tidak bisa tidur. Hanya tidur-tidur ayam.

Kurang lebih dua jam, pesawat mendarat di bandara Makasar. Pesawat akan langsung ke bandara Baabullah di Ternate, penumpang dengan tujuan Ternate tetap diminta tinggal di pesawat. Setengah jam lebih penumpang lain memenuhi pesawat dan pesawat segera take off menuju Ternate. Jam tangan saya menunjuk pukul dua, tetapi pilot mengatakan pukul tiga. Saya tidak sadar jika sudah memasuki wilayah Indonesia Bagian Tengah (WITA).

Saya rasa dua jam lebih pesawat terbang menuju Ternate hingga pilot dan pramugari senior memberitahukan jika pesawat sudah bersiap-siap akan landing. Saya lihat dari balik kaca jendela pesawat, matahari sudah bersinar di ufuk, meski jam tangan saya masih menunjukkan pukul lima. Pramugari mengatakan jika pesawat mendarat di bandara Baabullah pukul 7. Waktu dua jam lebih cepat dari jam tangan saya.

Di bandara saya dijemput oleh Dr. Assagaf, salah seorang peneliti di BPTP Maluku Utara. Dengan menggunakan mobil avansa sewaan kami menuju pelabuhan. Kita masih menyeberang lagi ke Sofifi, kata Pak Assegaf. Dari pelabuhan kecil ini kami naik speed boat, kapal kecil dengan dua mesin baling-baling merek yamaha. Ada sekitar 8 penumpang di boat ini. Saya duduk di deretan belakang.

pelabuhan ternate

Suasana pelabuhan ternate. (Foto koleksi pribadi)


Continue reading

Cerita di Jalanan Kota Bogor: Matot di Gunung Batu

Bogor sudah dinobatkan sebagai kota termacet di Indonesia. Ada banyak cerita ketika menyusuri jalanan kota Bogor sambil menikmati kemacetannya. Salah satunya yang parah adalah kemacetan di pertigaan Gunung Batu.

Posisi pertigaan Gunung Batu memang unik, dari arah bawah adalah jalan menanjak tajam, dari arah barat laut adalah pasar gunung batu, dari arah selatan Pasir Kuda. Nah di tengah pertigaan ini ada taman batas berbentuk segitiga. Tidak ada traffic light di pertigaan ini. Pasir Kuda salah satu rawan macet. Pasar Gunung Batu juga rawan macet. Arah Merdeka yang relatif aman dari macet.

Pertigaan ini sangat rawan macet karena merupakan jalur tiga angkot, angkot No. 2 dan 3, angkot no. 5, 5A, dan angkot No. 14. Angkot No. 5, 5A dan 14 sering ngetem di tengah pertigaan ini. Tahu sendiri kan sopir angkot? Kalau berhenti sembarangan dan menutupi jalan mobil lain.
Continue reading

Bogor; The City of Angkot and The Most Crowded Road in Indonesia

image

Angkot kota Bogor (Sumber:
New Bogor Geulis)

Bogor located in south of Jakarta. Bogor is satellite city of Jakarta together with other cities around Jakarta that called Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang and Bekasi). Most people work in Jakarta are living in Jabodetabek. Because they just living in Jakarta during the day and then back to Bodetabek after work, they called ‘day citizen’ in Jakarta and ‘night citizen’ in Bogor.

Bogor is very busy city. Bogor population is 987.448 peoples (2012) and 8.838 peoples per km2. For transportation, citizen of Bogor use bicycles, motorcycle or car, but mostly use motorcycles. And, for public transportation there are ‘angkot’ and small bus.
Continue reading