Tag Archives: media

Media Tanam Jahe: Pupuk Kompos dan Pupuk Kandang

Di semua petunjuk budidaya jahe, baik yang dari Balitro, Deptan, Warintek bahkan India dan China selalu mencantumkan pupuk kompos atau pupuk kandang atau pupuk organik sebagai salah satu pupuk yang sangat direkomendasikan. Variasi dosisnya bermacam-macam mulai dari 10 ton hingga 60 ton per ha.

Dosis pupuk kompos dan pupuk kandang tersebut untuk penanaman di lapang/ladang. Nah, untuk penanaman di dalam polybag belum ada panduannya. Ada yang menyarankan sekian kg. Ada juga yang perlu penambahan bermacam2 bahan tambahan lain di dalam pupuk kompos (dedak, molases, gula, dan lain-lain). Panduan penambahan pupuk kompos untuk media tanam dalam polybag bisa dihitung dari panduan yang ada di dalam buku2 di atas.

Syarat Pupuk Kompos dan Pupuk Kandang

Syarat pertama pupuk kompos dan pupuk kandang yang dipakai harus sudah “matang”. Beberapa panduan mengajarkan cara pembuatan pupuk kompos yang menurut saya sangat rumit. Perlu tambah ini itu, dibolak-balik atau bahkan mengambil tanah/humus dari daerah tertentu. Padahal menurut saya membuat pupuk kompos dan pupuk kandang mudah dan tidak perlu langkah2 yang rumit seperti itu. Satu lagi, menurut saya semua pupuk kompos dan pupuk kandang bisa digunakan, tidak mesti dari daerah tertentu dari tanaman tertentu atau dari hewan tertentu.

Cara membuat pupuk kompos dan pengomposan kotoran ternak sudah saya tuliskan di artikel lain; silahkan baca: Kompos Promi.

Continue reading

Advertisements

Mengecek Fungi Pelapuk Putih dengan Bavendamm Test

Phanerochaete crysosporium[TomVolkFungi.net]
Metode untuk menentukan tipe pelapukan kayu oleh jamur dikembangkan 83 tahun yang lalu oleh Bavendamm (1928) dan diterbitkan di jurnal Pflanzenschutz, karena itu test ini sering disebut dengan Bavendamm Test dan media untuk mengujinya sering disebutkan hanya dengan nama media Bavendamm. Saya tidak bisa mendapatkan literatur aslinya dan tidak tahu bahasanya juga. Cuma uji ini sudah sangat umum digunakan untuk determinasi fungi pelapuk putih atau fungi pelapuk coklat. Ada beberapa literatur tahun 50-an dan 70-an yang menyebutkannnya. Metode ujinya sangat sederhana, mudah, cepat, dan akurat (terima kasih Pak Bavendamm yang telah menemukan metode ini).

Untuk mengenali apakah fungi atau jamur itu termasuk fungi pelapuk putih atau bukan, pertama, tentukan terlebih dahulu jamur tersebut termasuk Basidiomycetes atau bukan. Cara mudah membedakan basidiomycetes adalah dengan melihat tubuh buahnya. Umumnya basidiomycetes adalah jamur makro dan bisa membentuk tubuh buah. Memang ada beberapa jamur pelapuk putih yang tidak membentuk tubuh buah, seperti Phanerochaete chrysosporium. Di bawah mikroskop, miselia basidiomycetes juga terlihat lebih besar daripada jamur Ascomycetes atau Deuteromycetes.
Continue reading

Keuntungan Nanam Jamur Tanpa Sterilisasi/Pasteurisasi

Nanam jamur tanpa sterilisasi ketemunya secara tidak sengaja. Setelah aku coba-coba sejak kurang lebih setahun yang lalu, hasilnya tetap konsisten. Bahkan membuka peluang2 lain yang tadinya tidak terlihat.

Mulai dari kekurangannya dulu. Pertama, pertumbuhan tidak secepat kalau pakai media yang disterilisasi. Namun, masalah ini relatif mudah diantisipasi & sudah ketemu solusinya. Kedua, kontaminasi mikroba/jamur lain. Karena tidak disterilisasi, tentun saja banyak kontaminan. Bahkan badlog saya pernah ditumbuhi belatung, jamur tricho, dll. Anehnya, jamur tiram yang saya tanam tetap tumbuh dan menang dalam kompetisi. Badlog tetap tumbuh tubuh buahnya. Ketiga, produksinya tidak sebanyak jamur dengan substrat yang disterilisasi. Ini bisa dimaklumi dan konsekuensi dari ketidaksterilan itu.Produktivitas 10-20% sepertinya mudah dicapai.

Yang menarik adalah keuntungan dari cara ini. Pertama, menghemat biaya produksi, terutama untuk biaya sterilisasi. Waktu produksi juga bisa dipersingkat, karena tidak perlu menunggu sterilisasi 8 jam. Bisa menghemat waktu sehari. Tenaga kerja juga bisa dihemat. Peralatan juga bisa dihemat. Yang efeknya juga investasi lebih rendah, cost juga lebih rendah. Badlog bisa disimpan lama. Jamurku saya simpan 4-5 bulan, setelah aku buka, tubuh buahnya bisa tumbuh seperti biasa. Dan yang terakhir, tidak ada limbah. Kalaupun ada sedikit sekali. Karena semua limbah bisa digunakan kembali jadi untuk produksi, kecuali limbah plastiknya.

Beberapa jamur yang saya rasa bisa ditanam tanpa sterilisasi adalah semua jenis jamur kayu. Seperti jamur tiram, lingzhi, gonoderma, kuping, dan sejenisnya. Kalau jamur merang, champignon, mungkin perlu sedikit manipulasi kondisi & substrat agar dapat tumbuh dengan baik. Pada kenyatannya, saya banyak menemukan jamur merang tumbuh liar di limbah sawit & limbah kertas. Mestinya bisa juga ditanam tanpa sterilisasi.

Memang masih perlu waktu untuk membuktikan thesis ini. Kita lihat saja setahun atau dua tahun lagi. Amin.

Posted from WordPress for Android

Jamurku Berhasil Muncul Tubuh Buahnya (tanpa sterilisasi media)

jamur tiram tanpa sterilisasi mediaDi posting yang lalu saya sudah menyampaikan tetang menanam jamur tanpa sterilisasi media. Silahkan lihat linknya di sini:

Saya coba nanam jamur tiram dalam skala menengah (ukuran badlog) dan kecil (tabung reaksi). Ternyata teknik ini berhasil diaplikasikan. Pertama saya coba di ukuran yang kecil-kecil, seperti di dalam tabung reaksi, erlenmeyer, dan botol. Dalam ukuran kecil miselia jamur bisa tumbuh dengan sangat baik. Kemudian di dalam plastik yang lebih besar, miselia jamur bisa tumbuh dengan baik juga. Saya coba hitung berapa populasi bakteri atau jamur kontaminan lain, ternyata tidak begitu besar, sekitar 3 x 10^8 untuk bakteri dan 2 x 10^6 untuk jamur.

jamur di dalam tabung
Menanam jamur tanpa sterilisasi di dalam tabung reaksi.
Continue reading

Kultur JPP Tanpa Sterilisasi Media (Lanjutan)

Di posting sebelumnya saya sudah bisa menanam jamur pelapuk putih (JPP) tanpa sterilisasi substratnya. Karena terdesak keadaan. Sekarang, saya mencoba mengulang metode ini dengan skala yang lebih kecil, sekitar beberapa puluh gram saja. Ada sekitar 8 isolat JPP yang aku coba, dan untuk substratnya menggunakan tandan kosong kelapa sawit (TKKS). Untuk ‘fermentor’-nya masih menggunakan plastik. Fermentor ini saya pilih karena lebih mudah di dapat dan murah.

Kultur JPP tanpa sterilisasi substrat


Continue reading

Nanam JPP Tanpa Sterilisasi Media

Menumbuhkan JPP Tanpa Sterilisasi Media

Penelitianku bertumpu pada isolat Jamur Pelapuk Putih (JPP). Ada beberapa isolat yang aku pakai, sebagian koleksi laboratoriumku, sebagian mendapatkan dari temen, dan sebagian dapat dari pasaran..

Dalam penelitian mikrobiologi, sterilisasi media seperti ‘wajib’ hukumnya. Media, alat-alat, bahan-bahan harus disterilkan terlebih dahulu sebelum dipakai. Kerjanya pun juga wajib aseptis bin higienis. Kalau tidak bisa terkontaminasi semua oleh mikroba-mikroba lain yang ‘tidak diundang’. Untuk sterilisasi ini alat yang digunakan adalah autoclave. Tanpa autoclave atau misalnya autoclave-nya ngadat, bisa molor semua kerjaan.

Ternyata musibah autoclave ngadat benar-benar terjadi. Entah mengapa, autoclave yang biasa kami pakai tiba-tiba bermasalah. Semua pekerjaan yang kami lakukan selalu terkontaminasi. Semua prosedur sudah dievaluasi ulang, sesuai SOP atau tidak. Setelah diselidiki dan disidik berhari-hari, kecurigaan kami tertuju pada Sang Autoclave ini. Kami jadi curiga kalau autoclave-nya tidak bekerja sebagaimana mestinya. Harusnya men-sterilkan media & alat, kenyataanya tidak bisa steril. Pusing……!!!!!!

Continue reading

Media untuk Pertumbuhan Jamur: Media Kentang

Media yang paling umum digunakan untuk menumbuhkan jamur/kapang/fungi adalah media PDA (Potato Dextrose Agar). Bahan baku utama media ini adalah ekstrak kentang dengan penambahan sumber karbon berupa dextrose. Saat ini sudah ada media PDA instant dari Merk, tetapi harganya selangit. Terakhir aku beli tahun lalu sudah di atas rp. 1 jt/kg. Membuat PDA sendiri cukup mudah, namun gula dextrose-nya yang harganya juga lumayan mahal. Untuk penggunaan rutin pemakaian PDA cukup memakan biaya.


Continue reading