Category Archives: Biofertilizer

tulisanku tentang biofertilizer

Makhluk Halus Itu Bernama Mikroba

Allah, Tuhan Semesta Allah, mencipatakan makhluk yang sangat beraneka ragam. Dari mahluk yang besar sampai mahluk yang sangat kecil. Ada mahluk yang terlihat dan ada juga mahluk yang tidak terlihat. Ada mahluk yang ‘kasar’ dan ada juga mahluk yang ‘halus’.

Salah satu mahluk ciptaan Tuhan itu adalah ‘mahluk halus’. Mahluk ini sangat-sangat halus hingga tidak bisa/sulit diindera oleh mata manusia. Dengan bentuknya yang sangat-sangat halus ini membuatnya dapat hidup hampir di semua tempat. Bentuknya sangat halus, lebih halus dari debu-debu yang berterbangan.

Mata manusia mempunyai kemampuan padangan yang sangat terbatas. Mata manusia normal hanya bisa membedakan dua titik dengan jarak paling kecil kira-kira 1/10 mm. Jika lebih dekat atau lebih kecil dari itu, tidak akan dapat dilihat oleh mata manusia biasa. Mahluk halus ini mempunyai ukuran yang lebih kecil lagi. Satuannya adalah micron (mikron) atau 1/1000 mm. Kurang lebih 100 x lebih kecil dari kemampuan mata manusia untuk melihatnya. Mata manusia perlu bantuan alat agar dapat melihat mahluk yang sangat halus ini, yaitu mikroskop yang dapat membesarkan objek/benda hingga ribuan kali. Agar mudah membayangkan coba perhatikan ujung jarum di bawah ini.

mikroba01
Ujung jarum dengan pembesaran 30 x
Continue reading

Rhizobium Sahabat Kacang-kacangan

scan0001bDunia ini sungguh luar biasa menajubkan. Ternyata ada tanaman yang bersahabat kental dengan mikroba. Mereka hidup rukun saling berbagi dan saling membantu. Bahkan mereka sangat setia kawan. Mereka adalah kacang-kacangan yang bersahabat dengan Rhizobium.


Baca juga: Pupuk Kimia, Pupuk Organik, dan Pupuk Hayati


Tanaman kacang-kacangan atau legum adalah tanaman yang unik. Contoh tanaman kacang-kacangan adalah kacang tanah, kedelai, Mucuna, kacang merah, kacang koro, dan lain-lain. Cobalah Anda cabut akarnya, bersihkan tanah-tanahnya, coba amati baik-baik akarnya. Biasanya ada bintil-bintil kecil di akar-akar tersebut. Kalau anda coba pecah bintil akar tersebut biasanya berwarna merah.
Continue reading

Pemanfaatan TKKS untuk Pupuk Kompos/Pupuk Organik di Kebun Sawit

pohon sawit

Kelapa Sawit

Langka dan mahalnya harga pupuk tidak hanya menjadi masalah bagi petani, tetapi juga bagi perkebunan-perkebunan besar, seperti perkebunan sawit. Harga pupuk non subsidi saat ini sangat tinggi di atas Rp. 10.000/kg. Kondisi ini mendorong perkebunan untuk mencari pupuk alternatif, karena ‘nyawa’ perkebunan sawit ada di pupuk. Alternatif terbaik adalah dengan memanfaatkan TKKS (tandan kosong kelapa sawit) untuk pupuk organik/kompos. Pembuatan kompos tkks sangat mudah, murah, dan dapat untuk subtitusi pupuk kimia.

1. TKKS Cacah
2. TKKS Utuh
3. Masalah Biaya

Continue reading

“Copy Darat” dengan Dr. Nasih

Beberapa waktu yang lalu ada pengunjung blog yang memberi komentar. Di bagian nama, tertulis Nasih. Komentar ini memberi semangat saya untuk menulis di blog. Saya memberi komentar balik dan akhirnya kami saling berkirim email.

Pak Nasih ternyata adalah dosen di Fak. Pertanian UGM di bagian kesuburan. Saya senang sekali, karena kebetulan saya juga sering berkutat di masalah kesuburan tanah. Saya pikir saya bisa menimban ilmu dengan Pak Nasih tentang masalah kesuburan tanah.

Aku silaturahim ke lab Dr. Nasih di Faperta UGM

Aku silaturahim ke lab Dr. Nasih di Faperta UGM

Sampai akhirnya saya janjian ketemu dengan Pak Nasih di labnya. Saya datang berdua dengan teman saya, Muhamat. Sesampai di sana saya senang sekali. Ternyata Pak Nasih adalah dosen yang masih muda, energik, dan banyak ide-ide segar. Tak berapa lama kami pun asik ngobrol tentang macam-macam. Mulai dari blog, menulis, kompos, biofertilizer, pupuk, dan literature.

Pak Nasih menyampaikan sesuatu yang sangat menarik bagi saya. Kebetulan spesialisasi Pak Nasih adalah masalah unsur karbon di dalam tanah. Pendapat Beliau (ini pendapat ahlinya…lho…) kalau saja kandungan bahan organik tanah bisa ditingkatkan sampai 5% saja, maka petani tidak perlu pupuk. “Lho..kenapa bisa begitu, Pak? “ Tanya saya menyelidik bercampur penasaran.

Kandungan bahan organik itu merupakan salah satu indicator kesuburan tanah. Dengan kandungan bahan organik yang tinggi, maka unsur-unsur lain akan diikat oleh bahan organik tersebut dan tersedia untuk tanaman. Perlu diketahui bahwa menurut Puslit Tanah (itu namanya yang dulu), kandungan bahan organik di tanah pertanian di Indonesia tidak lebih dari 2%. Apalagi dengan cara budidaya yang sangat intensif dan tidak memperhatikan pasokan bahan organik tanah, kandungan organik tanah semakin menipis. Akibatnya sangat banyak sekali, misalnya saja jumlah pupuk kimia yang diberikan harus semakin banyak.

Pak Nasih juga menunjukkan bahwa dia memiliki ribuan literature yang terkait dengan masalah kesuburan, termasuk biofertilizer, kompos, pupuk organik, dan lain-lain. Ini salah satu yang sangat saya suka, karena saya bisa ‘barter’ literature dengan Pak Nasih.
Saya berharap suatu saat nanti ada sesuatu yang dikerjakan bersama-sama antara saya dengan Pak Nasih. Insya Allah.

Limbah Pabrik Kelapa Sawit

pohon sawit

Kelapa Sawit


Download literatur tentang TKKS pdf
Klik di sini untuk mendownload literatur yang lain
Pemanfaatan limbah pabrik sawit untuk bioetanol


Indonesia saat ini adalah produsen CPO (crude palm oil) terbesar di dunia dan memiliki lahan sawit terluas di dunia. Luas areal kelapa sawit di Indonesia tahun 2007 menurut Dirjenbun, Deptan, diperkirakan mencapai 6.6 juta ha dan produksi CPO pada tahun tersebut mencapai 17.3 juta ton. Luas area dan produksi diperkirakan akan terus meningkat mengingat saat ini gencar dilakukan pembukaan lahan-lahan sawit baru, terutama di pulau Kalimantan dan Papua.

data luas sawit
 

Data luas area kelapa sawit dan produksi CPO Indonesia dari Dirjenbun.

Continue reading

Pengendalian Hama dan Penyakit dengan Pestisida Nabati


Ini adalah sebagian ilmu yang aku peroleh dari Pak Haji Zaka untuk budidaya padi organik/semi organik. Semoga bermanfaat. Info lengkap pestisida nabati klik di sini: Pestisida Nabati


Dampak Negatif dari Penggunaan Pestisida Kimia

Petani selama ini tergantung pada penggunaan pestisida kimia untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman. Selain yang harganya mahal, pestisida kimia juga banyak memiliki dampak buruk bagi lingkungan dan kesehatan manusia. Dampak negatif dari penggunaan pestisida kimia antara lain adalah:

  1. Hama menjadi kebal (resisten)
  2. Peledakan hama baru (resurjensi)
  3. Penumpukan residu bahan kimia di dalam hasil panen
  4. Terbunuhnya musuh alami
  5. Pencemaran lingkungan oleh residu bahan kimia
  6. Kecelakaan bagi pengguna

hormon tanaman giberelin auksin sitokininKira-kira sudah berapa lama petani menggunakan pestisida kimia ini? Jadi bisa dibayangkan sendiri akibatnya bagi tanah pertanian di Indonesia. Aku pernah melihat sendiri bagaimana petani awam menggunakan pestisida kimia ini. Sungguh sangat berlebihan. Ketika aku tanyakan padanya mengapa dia menggunakannya dengan dosis sangat tinggi, jawabnya:”kalau tidak banyak ngak manjur”. Nah..lho…!!!!

Continue reading

Ibu Kabulog Mampir ke Pak Haji Zaka

Hari sabtu ini ada sedikit yang istimewa. Dr. Darmono mengajak aku untuk menemani beliau ke tempat Pak Haji Zaka. Kebetulan Ibu Kabulog, Ibu Mustofa Abubakar, sedang ‘jalan-jalan’ ke sukabumi dan kepingin lihat sawah yang sudah menerapkan pertanian organik. Jadilah beliau mampir ke tempat Pak Haji Zaka, kebetulan desa Cigombong satu arah dengan Sukabumi.

Continue reading

Cara Membuat Kompos Seresah, Rumput, dan Daun

Memotong rumput atau menyapu halaman adalah aktivitas rutin masyarakat, khususnya orang yang memiliki halaman luas. Aktivitas ini juga merupakan aktivitas rutin petugas-petugas kebersihan kantor-kantor. Petugas kebersihan DKP (Dinas Kebersihan dan Pertamanan) hampir setiap hari menyapu jalan-jalan dan taman-taman kota. Sebagian besar sampah-sampah yang mereka kumpulkan adalah sampah organik. Kalaupun ada sampah non organik jumlahnya kecil dan mudah dapat dipisahkan. Sampah-sampah ini sangat potensial untuk dibuat kompos.
Continue reading

Cara Mudah Mengolah Sampah Pasar Tradisional 1

Buku KomposMasalah sampah menjadi salah satu permasalahan di setiap kota, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di dunia. Penanganan masalah sampah yang tidak baik akan menimbulkan dampak yang luas, tidak saja bagi lingkungan, tetapi juga berdampak buruk bagi perekonomian dan sosial. Contoh kongkrit adalah permasalahan sampah di kota Bandung beberapa waktu yang lalu.Penanganan masalah sampah pasar tradisional sebenarnya tidak terlalu susah. Namun juga tidak sederhana. Untuk menangani masalah sampah pasa tradisional ini diperlukan kemauan yang kuat baik dari pemerintah maupuan masyarakat. Kami ingin berbagi pengalaman tentang penanganan sampah organik dari pasar tradisional. Kegiatan ini adalah hasil kerjasama Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia dengan Yayasan Danamon Peduli. Tulisan ini ditulis berdasarkan laporan dari Dian Al Arief B yang berada di lapangan selama beberapa minggu. Semoga bermanfaat.


Baca juga: Mengelola Sampah Warga di Perkampungan


Mengelolah Sampah Pasar Tradisional Menjadi Pupuk Organik


Continue reading

Cara Sederhana Menguji Kualitas Pupuk Kompos

Pupuk kompos matang biasanya dilihat dari hasil uji rasio C/N. Namun uji ini harus dilakukandi laboratorium kimia. Sebenarnya ada cara yang sederhana dan mudah untuk menguji kualitas kompos, yaitu dengan uji kecambah dan uji dengan tanaman.

Uji Perkecambahan

Pupuk kompos diuji untuk perkecambahan biji. Biji yang digunakan adalah biji yang mudah diperoleh, mudah berkecambah, dan cepat berkecambah. Sebaiknya gunakan tanaman yang sensitif dan responsif terhadap kadungan hara kompos/tanah. Saya menggunakan biji kacang ijo untuk menguji kualitas kompos. Anda tidak harus menggunakan biji kacang ijo, boleh saja menggunakan biji-biji yang lain. Caranya sebagai berikut:
Continue reading