Cerita di Balik Foto: Hutan Pinus Gunung Bunder

Sebuah foto menjadi menarik bukan hanya karena hasil dan estetikanya. Tetapi juga karena ada cerita di balik foto itu. Kali ini adalah foto hutan pinus Gunung Bunder, Bogor.

Foto ini sudah cukup lama. Kira2 sekitar tahun 2015-an. Ketika itu Kami sekeluarga pingin main2 ke alam. Kami lebih suka main ke hutan atau gunung. Kali ini kami pergi ke Gunung Bunder yg ada di Kab. Bogor. Saya sudah beberapa kali ke tempat ini. Di Gunung Bunder ada beberapa objek wisatanya. Ada bumi perkemahan, beberapa curug dan bisa juga traking ke Kawah Ratu.

Kami berangkat pagi dari rumah. Singkat cetita kami main ke curug dan pulang menjelang sore. Cuaca mendung dan gerimis. Pandangan sedikit berkabut.

Ketika dalam perjalanan pulang kami melewati hutan2 pinus. Dari sisi atas saya melihat ke hutan2 pinus itu. Saya perharikan bayangan pohonnya terlihat mistis. Matahari sore yg kekuningan, kabut dan hujan.

Saya menepi, lalu saya keluarkan kamera saya. Kamera jadul dan fokus manual. Saya setting sebentar dan keluar dari mobil. Anak2 dan istri saya melarang dan protes. Tapi saya tetap keluar untuk memotret.

Kami tidak membawa payung. Agar tidak basah kena air hujan, saya pakai handuk. Saya masuk ke hutan pinus dan ambil beberapa foto.

Foto ini adalah salah satu foto terbaik yang saya ambil hari itu.

Pertama Kali Kena Asam Urat

Kaki kiri bengkak, sakit, nyeri

Tepat sehari sebelum tujuh belas agustua 2022, di umurku yang baru masuk umur 4x, pertama kalinya kaki kiriku bengkak, sakit, nyeri dan sulit bergerak, kena gejala2 asam urat.

Hari ini aku kerja seperti biasa. Berangkat dari rumah normal2 saja. Pagi aku cuma sarapan segelas susu dan beberapa butir biskuit. Aku memang tidak biasa sarapan pagi. Jam 7.20 sudah sampai tempat kerja. Kerja seperti biasa. Hari ini ada beberapa meeting, 1 offline, dan 3 online di sore hari.

Selesai meeting pertama, aku mengerjakan pekerjaan yang lain. Ketika aku sedang diskusi dengan teman kerjaku, kaki kiri, tepat di sendi jari tengah terasa nyeri. Aku pikir ini terkilir, soalnya dulu pernah terkilir di jari tengah itu. Sholat dhuhur masih normal.

Continue reading

Bonsai Mini

Bonsai Mini

Semua bonsai yang saya miliki ukurannya < 20 cm. Hanya satu dua yang ukurannya >15 cm, sebagian besar ukurannya < 10cm. Mungil2 dan imut2. Klasifikasinya bonsai mame atau shito.

Kenapa…. ????

Pertama, karena lahan yang terbatas. Teras rumah yang cuma seuprit udah penuh dengan tanaman lain, terutama anggrek hutan. Berjubel2. Klo anggrek masih bisa disesel-seselin. Klo bonsai nggak bisa.

Bonsai aslinya adalah pohon besar yang membutuhkan sinar matahari penuh. Tumbuhnya akan kurang bagus klo ditanam berdesak-desakan. Beda dengan anggrek yang umumnya agak malu2 dengan sang mentari.

Ukurannya yang kecil mungil jadi tidak banyak makan tempat. Tempat yang terbatas bisa diisi banyak pot bonsai.

Kedua, kecil itu imut. Lebih kecil akan terlihat semakin imut, apalagi klo karakter ‘tua’-nya sudah muncul. Mengemaskan sekali.

Ukuran yang kecil juga bisa diletakkan di meja kerja, meja tamu atau rak buku. Bisa jadi pemanis ruangan. Tapi bonsai kecil ini juga jangan terus2an diletakkan di dalam ruangan. Sesekali tetap harus dikeluarkan agar kena sinar matahari langsung.

Tapi susahnya dalam perawatannya. Tanaman yang kecil perlu ekstra hati2 dan telaten untuk melilitkan kawat ke ranting2 yang masih seukuran biting. Salah2 bisa patah2 rantingnya.

Ukuran pot yang kecil juga menyebabkan tanahnya menjadi lebih cepat kering kena sinar matahari. Di hari yang terik, daun2 bonsai akan lebih cepat menguapkan air, akibatnya tanah menjadi lebih cepat kering. Penyiraman di cuaca normal bisa sehari dua kali. Bonsai mini saya sudah banyak yang mati gara2 telat menyiram.

Untuk bonsai yang masih dalam ‘training’, biasanya potnya saya double. Pot aslinya kecil, lalu ditanam lagi ke pot yang lebih besar. Tujuannya agar media tidak cepat kering dan memberi ruang agar akar bisa berkembang keluar.

Lalu kenapa potnya mesti double…??? Ya … itu, agar bonsainya juga ‘ditraining’ di pot yang kecil. Agar tidak stress. Kalau dari pot besar langsung pindah ke pot kecil, akarnya kan lebih mudah stress. Bahkan bisa mati bonsainya.

Guna-guna dari Rekan Kerja

######

Tulisan ini berdasarkan cerita yang disampaikan oleh salah seorang Mandor Besar perkebunan kepada saya. Cerita ini sengaja saya samarkan dan saya kasih bumbu2 sedikit. Silahkan diambil hikmahnya sendiri.

######

Sebut saja namanya Bang Komar. Dia adalah pekerja di sebuah perusahaan perkebunan. Dia mulai karir dari bawah, tenaga harian lepas. Karena dedikasi dan kemampuan Pak Komar, karirnya menanjak menjadi mandor kecil. Banyak mandor2 kecil yang bekerja di perkebunan ini, sebagian sudah senior dan bekerja cukup lama. Kerja Pak Komar dianggap cukup baik oleh Mandor Besar (MB) dan sinder kebun. Protasnya meningkat dan kebunnya juga bagus. Karena kinerjanya tersebut ada rencana dari manajemen kebun untuk mengangkat beliau menjadi Mandor Besar. Atasan dia, Mandor Besar dan Sinder, sepakat untuk mengusulkan Pak Komar menjadi salah satu kandidat Mandor Besar.

Desas desus ini rupanya terdengar oleh rekan-rekannya sesama Mandor Kecil. Ada Mandor Kecil yang tidak suka jika Pak Komar diangkat sebagai Mandor Besar, dia merasa kalau dia yang lebih berhak, karena sudah bekerja cukup lama. Rasa iri di hatinya berubah menjadi kebencian yang mendalam.

Posisi kebun garapan Pak Komar dan rekannya itu bersebelahan. Ada yang janggal terjadi. Kebun Pak Komar terserang hama penyakit. Cukup parah. Sudah disemprot berbagai macam obat tidak ada yang mempan. Kebun rekannya yang posisinya bersebelahan tidak kena penyakit dan protasnya bagus-bagus saja. Protas dan prestasi Pak Komar turun drastis dan dia sempat mendapatkan SP (Surat Peringatan). Pak Komar batal naik pangkat menjadi mandor besar.

Kebetulan rumah Pak Komar di komplek implasment kebun. Pososinya persis di bawah kebun. Posisi rumahnya di samping lerengan. Saat itu sedang musim penghujan, dan di kebun ini memang rawan terjadi longsor ketika hujan besar.

Sore itu sepulang kerja, ayah Pak Komar sedang kerja di kebunnya sendiri yang posisinya ada di sebelah atas rumah Pak Komar. Dari kejauhan dia melihat seorang wanita yang mondar-mandir mengelilingi rumah Pak Komar. Wanita ini adalah istri dari salah satu pekerja kebun. Wanita ini tidak masuk ke rumah, hanya mengelilingi saja dan seperti melambai atau melempar sesuatu.

Seperti hari-hari biasa, sore sepulang kerja dari kebun Pak Komar masuk ke rumah. Pak Komar melihat seperti ada tumpahan garam di dekat rumah. Dalam hati Pak Komar berfikir; kenapa garam dibuang-buang percuma seperti ini. Masuk ke dalam rumah, Pak Komar menanyakan ke istrinya kenapa garam2 dibuang ke luar rumah. Istrinya menjawab kalau dia tidak membuang2 garam apa2. Ya … sudah… Pak Komar berfikir kalau ada anak yang main2 garam.

Ayah Pak Komar pulang dari ladang. Ayah Pak Komar memberi tahu kalau tadi ada wanita yang mencari istri Pak Komar. Tapi, dia cuma sebentar dan segera balik lagi.

Hari jum’at, istri Pak Komar dan anaknya sakit. Pak Komar lebih banyak di rumah. Sore hari Pak Komar mendengar suara gemuruh dari atas kebun. Suranya seperti angin puting beliung. Pak Komar keluar rumah kalau2 terjadi sesuatu di atas kebun. Pak Komar perhatikan ke arah atas tidak ada apa2, pohon2 pelindung biasa2 saja. Memang terdengar suara gemuruh keras.

Tiba2 tanah di atas bergerak. Pak Komar berteriak dan keluarganya keluar rumah. Tanah longsor dari atas dan menimpa rumah Pak Komar. Hanya sebagian rumah yang kena. Ayah Pak Komar menuju rumah mencoba menyelamatkan barang2 yang ada, beliau masuk ke dapur. Tiba2 tanah bergerak lagi dan dinding dapur roboh.

“Abah…. Abah…..!!!!!!!”

Tidak ada jawaban. Pak Komar panik dan masuk ke rumah mengejar orang tuanya. Alhamdulillah, ayah Pak Komar selamat terlindung di balik lemari dapur yang roboh. Sehat tidak ada luka yang serius.

Namun, rumah Pak Komar rusak berat. Hanya sedikit barang2 dapur yang berhasil diselamatkan.

Singkat cerita, dengan bantuan temannya, Pak Komar membangun rumah lagi di tempat lain yg posisinya lebih aman.

Beberapa bulan kemudian, sore hari sepulang kerja dia pulang menuju rumahnya di komplek implasment kebun. Nama kampungnya agak serem; Pasirmeriam. Di ujung kampung dia dipanggil rekannya yang punya warung.

“Ndor … mampir ke sini. Ngopi-ngopi dulu,” panggilnya. Mandor biasanya dipanggil dengan sebutan Ndor atau Mandor.

Pak Komar mampir ke warung, rekannya membuatkan kopi hitam. Kebetulan warung sedang sepi, hanya ada mereka berdua saja. Setelah berbasa-basi sebentar rekannya itu bilang: “Sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan, Mandor! Tapi… maaf sebelumnya. Aku ingin menceritakan yang sebenarnya.”

“Silahkan… santai aja…”

“Sebenarnya gini… ingatkan dulu waktu Pak Mandor kena musibah? Tanah longsor itu…?”

“Ya… ingat lah…, habis rumahku.”

“Maaf… ya … Mandor… bener2 maaf sebelumnya.”

“Iya… nggak apa2….!!!!! Maaf – maaf melulu.”

Akhirnya, rekannya itu menceritakan kembali tentang beberapa musibah yang Pak Komar alami beberapa bulan yang lalu. Rekannya ini adalah pekerja dan kepercayaan mandor kecil yang kebunnya di dekat kebun Pak Komar. Dia yang diberi kepercayaan dan diminta untuk melakukan hal2 banyak hal ke Pak Komar.

Dia mulai cerita tentang kebun Pak Komar yang banyak terserang penyakit dan gagal panen. Sampai kejadian rumah Pak Komar yang kena longsor.

Semua itu terjadi karena ada guna2 dari mandor kecil yang tidak suka dengan kenaikan jenjang karir Pak Komar. Dia yang disuruh pergi ke rumah dukun di sebuah desa di pesisir selatan. Dia yang membawa air dari Dukun dan disiramkan ke kebun Pak Komar agar hama dan penyakit berdatangan. Dia juga yang disuruh untuk menaburkan garam di sekeliling rumah Pak Komar. Karena khawatir ketahuan, dia minta istrinya yang menaburkan. Dia sendiri yang menaburkan garam di tanah di atas rumah pak Komar.

Dia sebenarnya tidak mau, tapi dia tidak bisa menolak. Akhirnya dia sudah tidak tahan dan dia menyesali perbuatannya. Hari ini ada kesempatan dia berbicara. Dia lihat Pak Komar yang baru pulang kerja, dan diajak minum kopi di warung.

Di sini saya salut dengan kebesaran hati Pak Komar. Dia tidak marah atau dendam. Kejadiannya sudah berlalu lama. Pak Komar sudah punya rumah lagi, kebunnya sudah sehat lagi dan Pak Komar sudah jadi Mandor Besar.

Konflik di tempat kerja adalah hal yang biasa. Tapi, kadang-kadang konflik bisa menjurus sampai ke hal-hal yang menyeramkan, termasuk dengan menggunakan jasa paranormal untuk mencelakai orang yang tidak disukainya. Bahkan sampai ke usaha untuk menghilangkan nyawa sekeluarga. Na’udzubillahimindzalik.

Kerasukan Jin Muslim

Pagi2 ada pesan singkatn masuk ke WA; “Pak ke Layung, Pak Irod kerasukan.”

Biasanya pagi hari saya lihat benih2 tanaman buah yang saya tanam. Kira2 satu jam baru saya ke kebun lihat tanaman yang sudah besar. Pagi ini saya memang mau ke kebun Layung, ada aplikasi pupuk di sana. Saya belum ‘ngeh’ dengan pesan WA itu. Pergilah saya ke Layung naik motor.

Sampai di saung 1 ada banyak orang yang berkumpul, saya pikir sedang ada ‘koordinasi’ sebelum kerja. Sengaja saya parkir agak jauh.

“Ada apa, Mang?”

“Pak Irod, Pak, kesurupan..”

Saya tidak segera melihat ke saung. Sudah ada yang menangani dan katanya sudah sadar.

Tidak tahunya, jin-nya masuk lagi. Lalu saya coba mendekat. Ada sekitar 5 orang yang memegangi Pak Irod. Pak Adur memeluk kepalanya dan membisikkan sesuatu. Kedua kaki dan tangan dipegangi masing2 satu orang. Lalu Pak Manager memegang dadanya dan menatap mata Pak Irod.

Pak Irod meronta, matanya mendelik marah ke arah manajer. Giginya bergeretak menahan amarah.

“Sok jagoan kamu ya…!!!!!”

Terus mengeram dan meronta, pandangannya tajam tidak berkedip.

Saya mulai kasihan, tapi saya masih hanya melihat saja dari dekat.

Lalu, saya coba membaca benerapa ayat ruqyah yang pernah diajarkan ustad Dr. Suhendi (Bogor). Saya baca dengan cukup keras sambil memijat beberapa bagian tubuhnya. Pandangan Pak Irod melemah dan mulutnya mengucapkan istigfar. Mulai sadar. Saya terus membaca ayat. Tiba jinnya masuk lagi. Saya tahu dari pandangan matanya dan suaranya yang berubah.

Dia menatapku dengan pandangan biasa, tidak ada amarah. Saya coba ajak komunikasi.

“Kamu siapa?”

Tidak menjawab.

“Tinggalmu di mana..?”

“Aku tinggal di sana…! Kamu tidak tahu.”

Dia menunjuk ke satu arah.

“Kamu tidak akan tahu!” Sahutnya lagi.

Lalu matanya melihat ke sekeliling. Sampai ke salah satu orang yang memegang kaki kanannya.

“Kamu.. ya kamu…! Kamu tahu tempat tinggalku…!”

Penasaran. Pikirku, jin ini berasal dari tempat sekitar sini.

“Kamu kenapa masuk ke tubuhnya Pak Irod…??”

“Dia jalan sembarangan, nggak tahu sopan santun.”

“Maafkan Pak Irod, dia tidak sengaja. Sekarang pualng sja, ya?”

“Aku minta diantar pulang.”

“Kamu bisa pulang sendiri.”

“Nggak mau…!!!!”

Kami coba bujuk untuk keluar. Tetap saja tidak mau. Lalu saya baca beberapa ayat lagi. Saya baca surat Al Mulk. Jin itu ikut menirukan bacaanku. Bahkan bacanya bersama2.

“Kamu bisa baca surat ini…?”

“Bisa…, kan aku muslim.”

“Kalau kamu muslim, maafkan Pak Irod, keluar saja.”

“Kamu jaga kebun ini saja…”

“Mana kebunnya…??”

“Kebun ini!”

“Di mana aku tinggal?”

“Ya.. di tempatmu sendiri lah.”

“Tempat yang mana…????!!!!”

Saya coba tanya ke orang yang diajak bicara sama jinnya tadi. Ternyata tempat yang dimaksud agak jauh dari sini, nama kampungnya Ciparai. Dekat dengan tempat tinggal Pak Irod. Ada satu tempat yang dikenal agak angker. Karena itu, jinnya minta tempat tinggal di kebun ini.

“Aku mau jaga kebun, tapi aku minta sesuatu.”

Saya tidak mau memenuhi permintaannya dan tetap minta jinnya untuk keluar.

“Kamu masuk lewat kaki, ya?”

“Kamu tahu ya…???? Kamu tahu ya…???”

Lalu saya baca surat Al Kahfi. Jin itu ikut membaca bareng saya. Saya pijak2 dan urut kakinya. Dia tetap tidak mau keluar. Saya terus membaca ayat2 yang saya hafal.

Tidak berselang lama, ada orang yang datang dengan memboncengkan bapak tua berkopiah. Ustad setempat yang biasa mengobati kerasukan.

Saya hentikan bacaan saya. Ustad itu mulai membaca sholawat dan ayat2 ruqyah. Jinnya tampak sedikit ketakutan, dia membalikkan badan.

Suasana mulai kondusif, Pak Irod sadar. Orang2 mulai meninggalkan saung untuk bekerja lagi. Pak Irod diantar Pak Heru dan saudara Pak Irod pulang ke Ciparai.

Saya pun pergi ke kebun untuk kemberi pengarahan ke orang2 yang mau aplikasi pupuk.

****

Siang hari saya diberitahu kalau Pak Irod masih kesurupan siang hari dan sore harinya. Beliau sudah dibawa pulang oleh anaknya.

Kerasukan Jin Muslim

Pagi2 ada pesan singkatn masuk ke WA; “Pak ke Layung, Pak Irod kerasukan.”

Biasanya pagi hari saya lihat benih2 tanaman buah yang saya tanam. Kira2 satu jam baru saya ke kebun lihat tanaman yang sudah besar. Pagi ini saya memang mau ke kebun Layung, ada aplikasi pupuk di sana. Saya belum ‘ngeh’ dengan pesan WA itu. Pergilah saya ke Layung naik motor.

Sampai di saung 1 ada banyak orang yang berkumpul, saya pikir sedang ada ‘koordinasi’ sebelum kerja. Sengaja saya parkir agak jauh.

“Ada apa, Mang?”

“Pak Irod, Pak, kesurupan..”

Saya tidak segera melihat ke saung. Sudah ada yang menangani dan katanya sudah sadar.

Tidak tahunya, jin-nya masuk lagi. Lalu saya coba mendekat. Ada sekitar 5 orang yang memegangi Pak Irod. Pak Adur memeluk kepalanya dan membisikkan sesuatu. Kedua kaki dan tangan dipegangi masing2 satu orang. Lalu Pak Manager memegang dadanya dan menatap mata Pak Irod.

Pak Irod meronta, matanya mendelik marah ke arah manajer. Giginya bergeretak menahan amarah.

“Sok jagoan kamu ya…!!!!!”

Terus mengeram dan meronta, pandangannya tajam tidak berkedip.

Saya mulai kasihan, tapi saya masih hanya melihat saja dari dekat.

Lalu, saya coba membaca benerapa ayat ruqyah yang pernah diajarkan ustad Dr. Suhendi (Bogor). Saya baca dengan cukup keras sambil memijat beberapa bagian tubuhnya. Pandangan Pak Irod melemah dan mulutnya mengucapkan istigfar. Mulai sadar. Saya terus membaca ayat. Tiba jinnya masuk lagi. Saya tahu dari pandangan matanya dan suaranya yang berubah.

Dia menatapku dengan pandangan biasa, tidak ada amarah. Saya coba ajak komunikasi.

“Kamu siapa?”

Tidak menjawab.

“Tinggalmu di mana..?”

“Aku tinggal di sana…! Kamu tidak tahu.”

Dia menunjuk ke satu arah.

“Kamu tidak akan tahu!” Sahutnya lagi.

Lalu matanya melihat ke sekeliling. Sampai ke salah satu orang yang memegang kaki kanannya.

“Kamu.. ya kamu…! Kamu tahu tempat tinggalku…!”

Penasaran. Pikirku, jin ini berasal dari tempat sekitar sini.

“Kamu kenapa masuk ke tubuhnya Pak Irod…??”

“Dia jalan sembarangan, nggak tahu sopan santun.”

“Maafkan Pak Irod, dia tidak sengaja. Sekarang pualng sja, ya?”

“Aku minta diantar pulang.”

“Kamu bisa pulang sendiri.”

“Nggak mau…!!!!”

Kami coba bujuk untuk keluar. Tetap saja tidak mau. Lalu saya baca beberapa ayat lagi. Saya baca surat Al Mulk. Jin itu ikut menirukan bacaanku. Bahkan bacanya bersama2.

“Kamu bisa baca surat ini…?”

“Bisa…, kan aku muslim.”

“Kalau kamu muslim, maafkan Pak Irod, keluar saja.”

“Kamu jaga kebun ini saja…”

“Mana kebunnya…??”

“Kebun ini!”

“Di mana aku tinggal?”

“Ya.. di tempatmu sendiri lah.”

“Tempat yang mana…????!!!!”

Saya coba tanya ke orang yang diajak bicara sama jinnya tadi. Ternyata tempat yang dimaksud agak jauh dari sini, nama kampungnya Ciparai. Dekat dengan tempat tinggal Pak Irod. Ada satu tempat yang dikenal agak angker. Karena itu, jinnya minta tempat tinggal di kebun ini.

“Aku mau jaga kebun, tapi aku minta sesuatu.”

Saya tidak mau memenuhi permintaannya dan tetap minta jinnya untuk keluar.

“Kamu masuk lewat kaki, ya?”

“Kamu tahu ya…???? Kamu tahu ya…???”

Lalu saya baca surat Al Kahfi. Jin itu ikut membaca bareng saya. Saya pijak2 dan urut kakinya. Dia tetap tidak mau keluar. Saya terus membaca ayat2 yang saya hafal.

Tidak berselang lama, ada orang yang datang dengan memboncengkan bapak tua berkopiah. Ustad setempat yang biasa mengobati kerasukan.

Saya hentikan bacaan saya. Ustad itu mulai membaca sholawat dan ayat2 ruqyah. Jinnya tampak sedikit ketakutan, dia membalikkan badan.

Suasana mulai kondusif, Pak Irod sadar. Orang2 mulai meninggalkan saung untuk bekerja lagi. Pak Irod diantar Pak Heru dan saudara Pak Irod pulang ke Ciparai.

Saya pun pergi ke kebun untuk kemberi pengarahan ke orang2 yang mau aplikasi pupuk.

****

Siang hari saya diberitahu kalau Pak Irod masih kesurupan siang hari dan sore harinya.

Anggrek Tanah Spesies Spiranthes sinensis

orchids Spiranthes sinensis

Anggrek Tanah Spiranthes sinensis

Gara-gara Pandemi Covid-19: Berburu Anggrek Liar

 

Pandemi Covid-19 membuat kehidupan serasa melambat. Kerja nggak bisa leluasa, main nggak leluasa, pokoknya serba terbatas. Tapi, bagi saya ini kesempatan untuk melakukan sesuatu yang saya sukai, yaitu: mencari anggrek spesies. Kebetulan banyak sekali waktu luang. Dan, kebetulan sejak bulan lalu, saya ‘meninggalkan’ dunia penelitian dan menjadi ‘petani’ saja.

Saya kerja di pelosok Jawa Barat bagian selatan. Di saat-saat tidak banyak pekerjaan, saya dan anak saya yang paling besar jalan-jalan menyusuri pingir-pinggir kebun dan hutan untuk mencari anggrek liar. Ketemu beberapa anggrek mini di pohon-pohon pinggir jalan.

Kebetulan juga, saya ketemu dengan ‘hunter’ anggrek daerah sini. Dia membuka gubuk kecil berisi anggrek-anggrek liar yang diambil dari hutan. Tentu saja hati saya ber-anggrek-anggrek. Nggak banyak yang saya ambil dari hunter ini. Cuma, saya jadi punya ‘guide’ yang bisa mengajak saya hunting anggrek hutan.

Kawan Lama Perawat Anggrek Liar

Nah, saya jadi inget kawan lama saya yang juga kerjanya mengurusi anggrek setiap hari di kaki Gn. Pangrango. Main lah saya ketempatnya. Dari sekian banyak anggrek di rumahnya, ada satu tanaman mini yang unik. Saya pikir ini tanaman hias apa gitu. Kecil dan mini.

“Ini apa, kang?”

“Ini anggrek juga. Anggrek tanah.”

“Kok, beda…., buat saya satu deh…”.

“Sok..atuh…”

“Alhamdulillah, haturnuhun, Kang,”

“Ini anggrek asli pribumi, kan ya Kang?”

“Iya asli sini. Tumbuh di padang rumput sana.”

Saya langsung jatuh cinta dengan bentuknya yang unik. Apalagi asli pribumi… Makin jatuh cinta lagi.

Anggrek tanah ini nama latinnya adalah Spiranthes sinensis. Dan memang dulu pernah ditemukan oleh ahli tanaman penjajah Belanda dan dicantumkan di bukunya ‘Flora Pegunungan Jawa’ C.G.G.J. van Steenis. Wow….., seakan saya menemukan hartanya Qarun yang terpendam di dalam perut Pakmi (Maaf, Bu mi sedang ada urusan).

Continue reading

Belajar Menabung Saham

Nabung uang koin dicelengan mah itu jaman dulu. Nabung di uang di bank sama saja. Nilai uang lama-lama akan turun termakan inflasi. Cara terbaik menyimpan uang (harta kekayaan) adalah dalam bentuk investasi. Misalnya; emas atau saham.

Bagaimana cara saya menabung emas sudah saya sampaikan di postingan terdahulu (Baca: Menabung Emas). Nah, menabung saham yang saya belum tahu. Kata saham sih sudah dari dulu saya dengar. Tapi saya nggak ngerti sama sekali apa itu saham, wujudnya kaya apa, bagaimana cara membeli dan menjualnya, apalagi cara menabung saham. Nggak ngerti sama sekali.

Suatu ketika saya pergi ke Bank untuk satu urusan. Sambil menunggu nomor antrian saya lihat ada selebaran yang tulisannya “Ayo Nabung Saham”. Saya coba baca2, sepertinya menarik. Tapi, bagaimana caranya. Sampai beberapa waktu kemudian saya masih belum tahu cara menabung saham.

Pada kesempatan lain saya lihat postingan di IG tentang Pasar Modal Syariah. Intinya tentang jual beli saham dan bentuk investasi lain yang berdasarkan prinsip syariah. Dijelaskan juga perusahan2 yang sudah masuk ke Pasar Modal Syariah. Menarik. Saya ikuti lebih lanjut. Sebagai orang awam, saya coba cari2 informasi tentang nabung saham syariah ini.

Membuat Akun Saham

Saya baru tahu kalau mau jual beli saham kita harus mendaftar di salah satu agen saham dan punya rekening ‘saham’ dulu. Setelah saya cari2, ada satu rekomendasi perusahaan sekuritas yang melayani perdagangan saham syariah; namanya IndoPremier. Apalagi perusahaan ini sudah mengembangkan aplikasi untuk memudahkan seseorang melakukan perdagangan saham. Nama aplikasinya IPOTGo. Saya coba kunjungi websitenya dan cari tahu bagaimana cara mendaftarkan akun. Yang cukup menarik bagi saya adalah saya bisa mendaftarkan diri tanpa harus datang langsung ke kantornya. Sangat mudah. Apalagi saat ini saya sedang di desa kecil; Desa Arasoe. Masih 5 jam dari Makassar.

Lalu saya donwload semua formulirnya. Saya isi lengkap. Syaratnya saya penuhi. Lalu saya print dan saya kirim via pos ke Jakarta.

Formulir saya sampai tiga hari kemudian. Hari selasa siang saya dapat pesan dari petugas Indopremier yang akan melakukan video call. Padahal saya sedang di tengah kebun tebu. Saya okey kan saja. Setelah proses verifikasi selesai; petugas itu bilang kalau rekening saya akan jadi dalam beberapa hari. Setelah itu baru saya bisa melakukan pembelian saham. Mudah sekali menurut saya.

Gagal Membeli Saham

Dua hari kemudian saya mendapatkan email kalau akun saya di IndoPremier sudah jadi. Besoknya; rekening syariah saya juga jadi. Ada kiriman username; password sementara dan pin.

Saya sudah download aplikasi IPOTGO. Saya coba login dan ikuti petunjuknya. Saya lihat2 list saham. Saya coba beli. Nggak bisa; ada pesan pesanan saya di-suspend. Apa yang salah nih…

Karena beberapa kali saya gagal, saya coba kontak CS Indopremier. Setelah mereka cek; baru ketahuan klo rekening saham saya isinya “0” rupiah. Saya harus isi dulu rekening itu dengan sejumlah uang baru saya bisa melakukan pembelian. Maklum pemula; masih Oon.

Saya coba isi rekening saya dengan sejumlah uang. Nggak banyak, soalnya saya masih takut2 klo uangnya hilang. Jiwasraya saja rugi trilyunan rupiah gara2 saham. Saya isi agar saya bisa belajar beli saham.

Akhirnya Berhasil Beli Saham Petama Kali

Sebenarnya saya masih binggung dan tidak tahu saham apa yang mesti ditabung. Saya coba cari tahu. Saya ikuti postingan di IG, video YouTube dan artikel yang tersebar di jagad maya. Dari beberapa postingan saya dapatkan beberapa rekomendasi saham2 yang cocok untuk ditabung oleh orang seperti saya.

Terus terang, saya masih buta banget tentang saham. Apa kata orang-orang itu saya ‘telan’ saja.

Saya pilih saham yang harganya murah dulu; cuma beberapa ratus perak sampai beberapa ribu saja. Harga satu lotnya masih terjangkau lah. Masih lebih mahalab harga kuota saya per bulan. Murah.

Kisah-kisah di ArasoE: Meninggalnya Imam Masjid ArasoE

Meninggalnya Imam Masjid ArasoE

Pagi ini saya ke kebun ArasoE. Di ujung komplek dekat timbangan ada keramaian dan bendera kuning. Siapa yang meninggal. Biasanya kalau di Bogor, kalau ada orang meninggal diumumkan lewat speaker masjid. Di sini tidak seperti itu. Karena saya tidak tahu, saya lewati saja.

Pak Mapesangka, mandor Arasoe IV, menceritakan kalau yang meninggal adalah Pak Haji Imam. Usianya di atas 110 tahun. Subhanallah. Beliau adalah tokoh desa. Jabatannya imam masjid. Tapi di sini imam masjid tidak hanya sekedar mengimani sholat fardu di masjid saja. Tugasnya juga sebagai penghulu pernikahan dan memimpin acara2 keagamaan yang dilaksanakan warga.

Beliau sudah tua, tapi badannya masih sehat dan kuat. Bahkan katanya masih bisa membawa mobil sendiri. Beberapa hari ini beliau jatuh sakit. Mungkin beliau merasa ajalnya sudah dekat. Sebelum meninggal beliau kumpulkan keluarganya. Beliau ambil simpanan uangnya. Jumlahnya tidak sedikit, ratusan juta. Beliau minta kepada anaknya untuk mensedeqahkan uang itu untuk masjid2 di sekitar desa ArasoE. Dua masjid yang di dekat rumahnya mendapat bagian 50jt. Masjid yang agak jauh mendapat 25jt. Masjid komplek PG mendapat bagian 10jt. Masjid2 lain mendapat 10jt. Tidak kurang uang yang disedeqahkan malam itu lebih dari 300jt. Beliau berpesan, jika uangnya masih ada sisa, dikasihkan ke anak yatim. Subhanallah.

Hari jumpat dini hari tadi, menjelang subuh beliau menghembuskan nafas terakhir.

Innalilahi wainnailaihi roji’un. Husnul khotiman, insya Allah.

Anggrek Besi Sulawesi Dendrobium speudoconanthum

anggrek besi sulawesi dendrobium speudoconanthum
Anggrek besi sulawesi dendrobium speudoconanthum

Siang itu, selepas dari lihat-lihat kebun tebu, saya diajak oleh Pak Anwar main ke kebun pribadinya. Nggak jauh katanya dari kebun.

“Nanti kita lihat ada rejeki apa di kebun,” kata Pak Anwar.

Saya ikuti motor Pak Anwar dari belakang. Setelah menyusuri kebun Sumaling, masuk ke Patimpa lalu belok ke arah kiri menuju kebun warga. Jaraknya nggak terlalu jauh, sekitar 10 menit saja perjalanan. Kita masuk ke kebun jalan kaki saja, ternyata di kebun Pak Anwar lagi musim buah rambutan. Kebunnya banyak pohonnya, lebih mirip hutan kecil daripada kebun. Saya pikir di sini sepertinya ada anggreknya.

Mata saya melihat ke atas, kalau-kalau ada anggrek yang nempel di pohon-pohon itu. Ternyata benar, Nggak jauh dari pohon rambuatan ada anggrek dendro besar yang mengantung. Saya minta tolong ke anggota yang ikut untuk menurunkan anggrek ini. Setelah diambil ke bawah, ukurannya memang besar lebih dari 1 m. Anggrek ini adalah anggrek besi sulawesi. Rejeki nomplok.

anggrek besi sulawesi dendrobium speudoconanthum
ADapat anggrek besi sulawesi dendrobium speudoconanthum