Fotografi Unik dari Lalat dan Serangga yang Mati

fotografi dari lalat dan serangg mati

Fotografi dari lalat dan serangga mati karya Magnus Muhr. Sumber: http://muhrgalleri.area81.se/)

Satu lagi karya seni fotografi Magnus Muhr dari lalat-lalat dan serangga yang mati. Lalat-lalat diletakkan di kertas putih, lalu dengan pensil digambar tangan, kaki, dan properti lain sehingga membentuk gambar-gambar lucu yang menarik.

Pertama kali saya lihat karya foto Magnus Muhr ketika sedang di Swedia dan lihat-lihat di website komunitas fotografi Swedia. Karya foto Magnus sangat unik dan langsung menyedot perhatian saya. Magnus mengumpulkan lalat-lalat yang mati. (Padahal setahu saya di Swedia jarang sekali saya lihat lalat, bagaimana dia mendapatkan lalat-lalat ini….?????). Kemudian lalat-lalat itu disusun di atas kertas putih. Dengan bantuan pensil, Magnus mengambar tangan dan kaki. Lalat-lalat itu layaknya manusia yang sedang melakukan beragam aktivitas. Magnus memotret lalat-lalat ini.

fotografi dari lalat dan serangga mati Magnus Muhr

Menikmati karya foto Magnus Muhr seperti sedang menikmati karikatur. Gambarnya lucu-lucu, mengelitik, dan terkadang berisi kritik sosial. Karya Magnus sudah tersebar luas di mana-mana. Banyak yang memberi pujian, tapi ada juga yang mengkritiknya karena membunuh dan mengeksploitasi lalat-lalat itu.

Lepas dari itu semua, bagi saya karya Magnus sangat kreatif. Dia berhasil ‘menghidupkan’ lalat-lalat dan serangga yang mati menjadi karya fotografi yang asik untuk dinikmati.

Di sini banyak sekali lalat, apalagi di pasar-pasar. Mengumpulkan lalat dan serangga mati tidak sulit. Semoga foto-foto ini memberi inspirasi fotografi bagi Anda.
Salam jepret.
Silahkan baca artikel lain tentang fotografi di sini: Fotografi

fotografi dari lalat dan serangga mati magnus murh

fotografi dari lalat dan serangga mati magnus muhr

fotografi dari lalat dan serangga mati Magnus Muhr
Continue reading

Seni fotografi dari kepala ikan mati – (Anne-catherine becker-echivard)

fotografi kepala ikan Anne-Catherine

Fotografi kelapa ikan karya Anne-catherine becker-echivard (Sumber: http://www.ufunk.net/en/photos/secret-life-of-fishes/)

Bagi sebagian orang mungkin kepala ikan tidak ada keindahannya sama sekali. Tetapi tidak bagi Anne-catherine becker-echivard – Seniman Perancis yang memanfaatkan limbah kepala ikan sebagai objek seni fotografinya. Di tangan Anne-catherine kepala ikan itu disulap menjadi sosok-sosok yang berekspresi dan ‘nyeni’. Sebut saja, suasana ruang operasi, pekerja pabrik, narapidana, dan lain-lain.

Potongan-potongan kepala ikan itu didandani oleh Anne dan diberi properti yang bermacam-macam. Kemudian disusun dan diatur ke dalam sebuah diorama lengkap dengan pencahayaannya. Kejelian Anne adalah menangkap ekspresi dari kepala-kepala ikan itu dan mendadaninya dengan properti yang cocok. Hasilnya adalah karya foto yang luar biasa.

fotografi kepala ikan mati Anne-catherine

Anne-Catherine sedang menyiapan kepala-kepala ikan untuk difoto. (Sumber: http://www.mirror.co.uk/news/weird-news/dead-fish-dressed-up-artist-2076875)

Kalau diperhatikan dari karya-karya Anne, ada semacam kritik sosial yang dalam untuk kehidupan manusian saat ini. Foto-fotonya kadang-kadang lucu, menyeramkan, atau mengelitik. Silahkan nikmati beberapa foto karya anne-catherine becker-echivard yang saya peroleh dari internet ini. Siapa tahu dengan melihat-lihat foto-foto ini bisa memberikan inspirasi bagi foto-foto Anda.

Silahkan baca artikel lain tentang fotografi di sini: Fotografi

Fotografi kreatif dari kepala ikan mati karya Anne-Catherine

fotografi kreatif dengan kepala ikan mati oleh Anne-Catherine

fotografi kreatif dari kepala ikan mati
Continue reading

Menghitung Kebutuhan Bahan Organik untuk Tanah

Pertanyaan: berapa kebutuhan bahan organik untuk tanah?, sering ditanyakan oleh para praktisi pertanian/perkebunan. Pernyataan ini tidak mudah untuk menjawabnya.

Dari literatur (Pujiyanto, 1997) sudah pernah membahas tentang rumus untuk menghitung kebutuhan bahan organik untuk tanah-tanah tertentu. Rumus ini ‘benar’, namun menurut saya tidak praktis dan kurang ekonomis. Meskipun demikian, rumus ini bisa dijadikan acuan untuk memperkirakan kebutuhan bahan organik pada tanah-tanah tertentu.

Rumusnya adalah sebagai berikut:

P = (Q – R)/100 x B

di mana:
P : kebutuhan bahan organik (ton/ha)
Q : kadar bahan organik tanah yang dikehendaki (%)
R : kadar bahan organik yang ada di tanah saat ini (%)
B : bobot tanah tiap hektar lahan

Bobot tanah/ha = luas x kedalaman x bobot jenis tanah
= 10 000 m2 x 0.2 m x 1.2 ton/m3
= 2 400 ton

Jadi untuk meningkatkan satu 1% bahan organik tanah dibutuhkan kurang lebih

24 ton

bahan organik/ha. Jumlah ini sangat besar, kurang lebih 5 truk.

Belum lagi jika diperhitungkan kandungan bahan organik dalam pupuk organik. Misalnya saja kandungan bahan organiknya kurang lebih 15%. Maka jumlah itu akan membengkak menjadi

160 ton

…….gila….’nguruk tanah ini namanya’….

Saya ingin sekali berdiskusi dengan ahli tanah yang memahami masalah ini. Apakah memang seperti ini rumus yang dipakai?

Karena, kalau hasil ini dilaksanakan di lapangan akan sangat-sangat tidak efisien dan tidak praktis. Petani tidak akan mau melakukannya. Harga pupuk organiknya memang murah, tetapi jumlahnya sangat besar. Belum lagi ongkos aplikasinya. Rumus ini jarang dipakai secara langsung di petani.

Saya sedang mencari rumus-rumus yang sudah diuji secara empirik di penelitian. Kalau belum ada, perlu dilakukan penelitian untuk menghitung kebutuhan pupuk organik/bahan organik untuk tanaman atau tanah tertentu.

Semoga ada ahli tanah yang melakukan studi ini, biar hasilnya lebih valid dan bisa dipakai di lapangan.
Semoga.

Resep MOL Nasi 3

hormon tanaman giberelin auksin sitokininIni adalah resep MOL (Mikroorganime Lokal) atau IMO (Indigeneous MicroOrganism) yang dibuat dari nasi. Resep MOL nasi ini adalah resep MOL yang ke-3 (Lihat resep MOL yang lain di link ini: Kumpulan Resep MOL). Resep MOL nasi ini saya dapatkan dari Majalah Trubus No. 527/2013. MOL ini dibuat oleh bapak Aji Sobarna dari Kab. Subang, Jawa Barat. Cara membuat MOL Nasi ini adalah sebagai berikut:

  1. Potong bambu dan buat lubang seperti membuat ketongan.
  2. Isi bambu tersebut dengan nasi.
  3. Tutup bambu dengan kertas manila dan diikat kuat.
  4. Gali lubang di sekitar perakaran rumpun bambu, kemudian benamkan bambu yang sudah berisi nasi.
  5. Tutup lubang dengan seresah bambu kering. Pada musim hujan diselubungi tumpukan seresah dengan plastik.
  6. Timbun tumpukan seresah dengan tanah. MOL atau IMO akan terbentuk pada 4-5 hari pada musim kering atau 7-10 hari pada musim penghujan.
  7. Koloni MOL atau IMO Induk akan berwarna putih bersih seperti kapas.
  8. Campurkan MOL induk dengan gula merah dengan perbandingan 1:1.
  9. Wadah ditutup rapat dan dibiarkan selama 7 hari. Setelah itu baru digunakan.

Cara pemakaian:

  1. MOL ditambahkan/diencerkan dengan dosis 2ml/liter air.
  2. Campuran diaduk merata dan siap disemprotkan.
  3. Penyiraman/penyemprotan dilakukan dengan selang waktu 10 hari.

Berdasarkan pengalaman Bapak Aji Sobarna, dengan mengaplikasikan MOL nasi tersebut bisa panen padi hingga > 8 ton pe ha.
Silahkan para petani, bisa dicoba resep baru MOL nasi ini.

Baca juga: Pestisida Nabati untuk Pertanian Organik

Tips Android: Men-scan dokumen menjadi file pdf dengan CamScanner

CamScanner, pdf, dokumen, Android

Wellcome screen dari app CamScanner


Men-scan dokumen menjadi file pdf sangat mudah dilakukan dengan applikasi CamScanner. Aplikasi pinter ini bisa didownload di Google Store: CamScan. Dengan menggunakan aplikasi ini Anda bisa dengan sangat mudah men-scan dokumen dan langsung merubahnya menjadi file pdf hanya dengan menggunakan smartphone Android Anda.

Aplikasi ini simple, kecil, mudah digunakan dan sangat bermanfaat. Langkah pertama, tentunya mengunduh applikasi CamSanner dari Google Store dan menginstallnya di smartphone Anda. Setelah terinstall, Anda bisa menggunakan smartphone Anda sebagai alat scanner.

Prinsip kerja dari CamScanner ini sebenarnya sederhana, yaitu memanfaatkan camera handphone untuk merekam dokumen dan merubahnya menjadi dokumen pdf. CamScanner menambahkan kemampuan untuk meng-cropping dokumen sesuai dengan dokumen aslinya, fasilitas untuk mengatur kecerahan, dan merubah ke hitam putih. Cara menggunakannya sangat mudah, kita tidak perlu belajar menggunakan aplikasi ini dalam waktu lama.
Continue reading

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 70/Permentan/SR.140/10/2011 TENTANG PUPUK ORGANIK, PUPUK HAYATI DAN PEMBENAH TANAH

buku pupuk organik granul
Baca juga: Video Membuat Pupuk Granul | membuat pupuk organik sendiri | Mesin Cacah Kompos | Pupuk Organik, Pupuk Kimia, dan Pupuk Hayati | Tata Letak Mesin Pabrik Pupuk Organik | Bagan Pabrik POG | Permentan No. 70/2011 tentang Pupuk Organik, Pupuk Hayati dan Pembenah Tanah | Lampiran 1 Permentan No. 70/2011 | Lampiran 1 Permentan No. 70/2011

 


Lampiran PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 70/Permentan/SR.140/10/2011 TENTANG PUPUK ORGANIK, PUPUK HAYATI DAN PEMBENAH TANAH

Persyaratan Teknis Pupuk Organik, Pupuk Hayati, dan Pembenah Tanah

buku pupuk organik granul
Baca juga: Video Membuat Pupuk Granul | membuat pupuk organik sendiri | Mesin Cacah Kompos | Pupuk Organik, Pupuk Kimia, dan Pupuk Hayati | Tata Letak Mesin Pabrik Pupuk Organik | Bagan Pabrik POG | Permentan No. 70/2011 tentang Pupuk Organik, Pupuk Hayati dan Pembenah Tanah | Lampiran 1 Permentan No. 70/2011 | Lampiran 1 Permentan No. 70/2011

 


PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 70/Permentan/SR.140/10/2011 TENTANG PUPUK ORGANIK, PUPUK HAYATI DAN PEMBENAH TANAH

buku pupuk organik granul
Baca juga: Video Membuat Pupuk Granul | membuat pupuk organik sendiri | Mesin Cacah Kompos | Pupuk Organik, Pupuk Kimia, dan Pupuk Hayati | Tata Letak Mesin Pabrik Pupuk Organik | Bagan Pabrik POG | Permentan No. 70/2011 tentang Pupuk Organik, Pupuk Hayati dan Pembenah Tanah | Lampiran 1 Permentan No. 70/2011 | Lampiran 1 Permentan No. 70/2011

 


PRETREATMENT BIOMASSA:Kunci Keberhasilan Teknologi Produksi Bioetanol Generasi Kedua

Bioetanol generasi ke dua berbahan baku biomassa lignoselulosa ‘digadang-gadang’ akan menjadi salah satu energi alternatif di masa depan. Namun, penerapan teknologi ini belum banyak berhasil ditingkat komersial. Salah satu kendala terbesar adalah sulitnya mememecah holoselulosa menjadi monomer gula yang bisa difermentasi menjadi etanol. Pengembangan teknologi pretreatment adalah salah satu solusi untuk memecahkan permasalahan ini. Keberhasilan pretreatment biomassa lignoselulosa akan membuka ‘bottle neck’ teknologi produksi bioetanol generasi kedua.

 

Kendala Hidrolisis Holoselulosa

Biomassa lignoselulosa terdiri dari tiga bagian utama, yaitu: selulosa, hemiselulosa, dan lignin. Selulosa dan hemiselulosa sering juga disebut dengan holoselulosa. Holoselulosa adalah polimer gula. Bagian lignoselulosa yang bisa difermentasi menjadi bioetanol hanya holoselulosa setelah dihidrolisis menjadi monomer gula penyusunnya. Lignin adalah polimer dari gugus aromatik dan bukan merupakan polimer gula. Lignin dan monomernya tidak bisa difermentasi menjadi bioetanol.

Hidrolisis holoselulosa menjadi gula monomernya adalah langkah awal dalam proses produksi bioetanol. Permasalahanya adalah menghidrolisis holoselulosa di dalam lignoselulosa tidak selalu mudah. Kecernaan (digestibilitas) biomassa lignoselulosa asli adalah sangat rendah. Sebagai contoh, hasil hidrolisis enzymatik tandan kosong kelapa sawit (TKKS) hanya <4% dari kandungan selulosanya (Isroi 2013). Artinya dari satu kg TKKS yang mengandung 39% selulosa hanya diperoleh gula sebanyak 15.6 gr saja. Jika hasil gula ini difermentasi menjadi etanol, maka hanya diperoleh etanol sebanyak 8 gr. Hasil ini sangat-sangat tidak menarik secara ekonomi.

Padahal potensi biomassa lignoselulosa sangatlah besar. Sebagai contoh untuk TKKS; kandungan 39% selulosa dalam TKKS bisa menghasilkan 19.89% bioetanol. Sedangkan kandungan 23% hemiselulosa bisa dihasilkan bioetanol sebesar 18.17%. Jadi jika dijumlahkan akan bisa dihasilkan sebanyak 38.06%. Ini artinya dari setiap 1 kg bisa diperoleh 380,06 g bioetanol. Jumlah ini sangat banyak, apalagi jika dikalikan dengan volume TKKS yang tersedia.

Faktor-faktor yang menghambat hidrolisis biomassa lignoselulosa juga disebut sebagai ‘Biomass Recalcitrance’ (Himmel 2008). Sulitnya holoselulosa dihidrolisis menjadi gula monomernya disebabkan oleh beberapa hal. Pertama adalah komposisi dan struktur lignoselulosa. Selulosa dilindungi oleh hemiselulosa dan lignin (Gambar 1). Jika diibaratkan sebuah kabel, selulosa adalah bagian dari serabut elemen kabel. Serabut elemen ini dilindungi secara kuat oleh selaput pelindung, yaitu hemiselulosa, dan dilindungi lagi oleh lapisan lignin. Hemilselulosa merupakan polimer gula yang relatif lebih mudah dihirolisis daripada selulosa. Sedangkan, lignin adalah senyawa komplek yang sangat sulit untuk dipecah, baik secara kimia, fisika maupun biologi. Lignin tersusun dari unit phenylptopan dan terdiri dari tiga unit yaitu: unit guaiacyl (G), syringyl (S), dan p-hydroxyphenyl-alcohol (P). Semakin banyak kandungan lignin dan hemiselulosa di dalam biomassa akan semakin menyulitkan selulosa untuk dihidrolisis.

 


Gambar 1. Gambar skematik struktur biomassa lignoselulosa (Isroi et al. 2011).

Kendala berikutnya adalah suprastruktur dari selulosa. Selulosa merupakan polimer glukosa yang tidak bercabang. Banyaknya monomer glukosa yang mementuk rantai selulosa disebut dengan derajat polimerisasi yang berkisar antara beberapa ribu hingga puluhan ribu. Sebagai contoh, polimer selulosa kayu memiliki derajat polimerisasi kurang lebih 1500, sedangkan katun memiliki derajat polimerisasi hingga 15000. Semakin tinggi derajat polimerisasi selulosa akan semakin sulit selulosa tersebut dihirolisis (Alvira et al. 2010).

Beberapa rantai selulosa akan saling berikatan melalui ikatan hidrogen menjadi untaian serabut yang disebut dengan mikrofibril. Beberapa mikrofibril akan bergabung dan saling berikatan menjadi satu membentuk makrofibril. Ikatan antara rantai selulosa membentuk bagian yang disebut dengan area kristalin. Selulosa di area ini sangat kuat ikatannya dan sulit untuk dihidrolisis. Perbandingan antara area kristalin dan area yang amorf disebut derajat kristalisasi selulosa. Semakin tinggi derajat kristalisasi selulosa, semakin sulit selulsosa tersebut dihidrolisis (Al-Zuhair 2008).

Beberapa biomassa lignoselulosa memiliki struktur khusus yang melindungi dari proses degradasi dan dekomposisi. TKKS memiliki struktur yang disebut dengan silica bodies (Law et al. 2007). Silica bodies (tubuh silika) ini berbentuk seperti bola bergerigi yang mengelilingi serabut TKKS (Gambar 2).Tubuh silika ini ibaratnya paku-paku kecil yang menancap kuat di sekeliling permukaan serabut TKKS. Faktor –faktor lain yang menghambat hidrolisis selulosa antara lain adalah luas permukaan, ukuran partikel, volume pori-pori, dan beberapa kelompok asetil yang terikat pada selulosa (Anderson and Akin 2008).

 


Gambar 2. Tubuh silika (silica bodies) yang menyelubungi permukaan serabut TKKS (Isroi 2013).

 

Pretreatment Biomassa Lignoselulosa

Biomassa lignoselulosa memerlukan perlakuan awal (pretreatment) sebelum bisa dihidrolisis menjadi gula dan difermentasi menjadi bioetanol. Pretreatment ini bertujuan untuk memecah pelindung lignin, merubah struktur lignoselulosa, dan membuat selulosa dan/atau hemiselulosa menjadi lebih mudah dihirolisis (Mosier et al. 2005). Perhatikan pada Gambar 3 di bawah ini. Setelah pretreatment struktur lignin dan hemiselulosa akan pecah. Bagian kristalin selulosa akan merenggang dan menjadi berkurang kristalinitasnya.


Gambar 3. Efek pretreatment terhadap stuktur biomassa lignoselulosa (Mosier et al. 2005)

Pretreatment bisa dilakukan dengan metode fisika, kimia, biologi, atau pun kombinasi dari metode-metode itu. Berbagai macam metode dan teknik pretreatment telah dicoba pada biomassa yang berbeda-beda. Hasilnya bervariasi untuk setiap metode maupun jenis biomassa lignoselulosa. Setiap metode pretreatment juga memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Beberapa metode pretreatment yang telah dilaporkan dalam literature diperlihatkan pada Tabel 1.

Tabel 1. Beberapa metode pretreatment biomassa lignoselulosa

Prinsip

Proses/Metode

Perubahan pada biomassa

Referensi

Pretreatment mekanik atau fisik    

Milling:

  • ball milling
  • two-rol milling
  • hammer milling
  • colloid milling
  • vibrotory ball milling

Irradiation:

  • gamma-ray
  • electron beam
  • microwave

Lainnya:

  • hydrothermal
  • uap bertekanan tinggi
  • expansi
  • extrusi
  • pirolisis
  • air panas
  • mengurangi ukuran partikel
  • meningkatkan luas permukaan yang kontak dengan enzim
  • mengurangi kristalisasi selulosa

(Taherzadeh & Karimi, 2008)

(Sun & Cheng, 2002)

(Zhu, et al.,, 2005)

(Thomsen et al., 2008)

(Ahring et al.,, 1996)

(Hendriks & Zeeman, 2009)

(Eggeman & Elander, 2005)

(Ohgren et al.,, 2006)

(Kabel et al.,, 2007)

Pretreatment kimia dan fisiko-kimia

Explosion:

  • eksplosi uap panas
  • ammonia fiber explotion (AFEX)
  • eksplosi CO2
  • eksplosi SO2

Alkali:

  • sodium hidroksida
  • ammonia
  • ammonium sulfat
  • ammonia recycle percolation (ARP)
  • kapur (lime)

Asam:

  • asam sulfat
  • asam fosfat
  • asam hidroklorat
  • asam parasetat

Gas:

  • Clorin dioksida
  • Nitrogen dioksida
  • Sulfur dioksida

Agen Oksidasi:

  • Hidrogen peroksida
  • oksidasi basah
  • Ozone

Pelarut untuk ekstraksi lignin:

  • ekstrasi etanol-air
  • ekstrasi benzene-air
  • ekstraksi etilen glikol
  • ekstraksi butanol-air
  • agen pemekar (swelling)
  • meningkatkan area pemukaan yang mudah diakses
  • delignifikasi sebagian atau hampir keseluruhan
  • menurunkan kristalisasi selulosa
  • menurunkan derajat polimerisasi
  • hidrolisis hemiselulosa sebagian atau keseluruhan

(Sun & Cheng, 2002)

(Taherzadeh & Karimi, 2008)

(Eggeman & Elander, 2005)

(Eklund et al., 1995)

(Negro et al., 2003)

(Bower et al., 2008)

(Cara et al., 2008)

(Kim & Hong, 2001)

(Mosier, et al., 2005)

(Saha & Cotta, 2008)

(Shimizu et al., 1998)

(Sun & Chen, 2008)

(Sun & Chen, 2008b)

(Sun & Cheng, 2005)

(Zhang et al., 2008)

(Kim & Lee, 2002)

(Zhao et al., 2008)

(Lloyd & Wayman, 2005)

(Ahring et al., 1996)

(Silverstein et al., 2007)

Biologi

  • Jamur Pelapuk Putih
  • Aktinomicetes
 

(Taniguchi et al., 2005)

(Shi et al., 2008)

(Keller et al., 2003)

(Kirk & Chang, 1981)

 

 

Target Pretreatment Bioassa Lignoselulosa

Pretreatment merupakan tahapan yang banyak memakan biaya dan berpengaruh besar terhadap biaya keseluruhan proses (Chen and Qiu 2010). Sebagai contoh, pretreatment yang berhasil dapat mengurangi jumlah enzyme yang diperlukan dalam proses hidrolisis. Biomassa lignoselulosa memiliki karaktaristik yang berbeda-beda. Faktor-faktor yang mempengaruhi digestibilitas juga berbeda-beda untuk setiap biomassa lignoselulosa. Tidak ada satu metode pretreatment yang sesuai untuk semua biomassa. Demikian pula metode pretreatment yang berhasil diterapkan untuk satu biomassa belum tentu berhasil diterapkan pada biomassa yang lain. Pencarian metode pretreatment yang tepat dan ekonomis untuk jenis biomassa tertentu sangat diperlukan.

Target pretreatment biomassa lignoselulosa adalah meningkatkan digestibilitas holoselulosa setinggi-tingginya. Patokannya adalah potensi gula masimal yang bisa dihasilkan oleh biomassa lignoselulosa. Sebagai contoh, potensi glukosa yang bisa dihasilkan oleh TKKS adalah sebanyak 39% x 0.51 = 43.29%. Digestibilitas dinyatakan dalam persen (%) dan dihitung dari banyaknya gula yang dihasilkan dibagi dengan gula total dalam biomassa dan dikalikan dengan 100%. Semakin tinggi nilai digestibilitas artinya semakin banyak gula yang bisa dihasilkan. Digestibilitas tidak mungkin bisa mencapai 100%. Menurut saya, pretreatment yang bisa menghasilkan digestibilitas >85% sudah cukup baik.

Faktor lain yang perlu dipertimbangkan untuk mendapatkan metode pretreatment adalah faktor ekonomis dari teknologi tersebut. Biaya yang dibutuhkan untuk melakukan pretreatment + kebutuhan biaya hingga dihasilkan produk harus lebih rendah daripada nilai jual produk tersebut. Nilai jual ini bisa sangat relatif, tergantung pada kondisi perekonomian pada saat itu. Teknologi yang pada saat ini belum ekonomis, kemungkinan akan menjadi ekonomis pada masa-masa yang akan datang.

Teknologi pretreatment yang dikembangkan juga harus relatif mudah dan bisa dilakukan dalam skala yang besar. Banyak metode pretreatment yang telah dilaporkan di jurnal-jurnal ilmiah. Sebagian besar, metode tersebut baru dilaksanakan pada skala laboratorium. Peningkatan skala pretreatment ke skala yang lebih besar membutuhkan penelitian yang lebih cermat dan belum tentu akan sama hasilnya dengan skala kecil. Problem-problem yang belum muncul pada skala laboratorium akan muncul pada saat scaling-up. Kemudahan sebuah metode pretreatment dilakukan dalam skala yang besar merupakan salah satu target dari pengembangan metode pretreatment biomassa lignoselulosa.

Salah satu alasan pemanfaatan biomassa lignoselulosa adalah biomassa lignoselulosa dianggap lebih ramah lingkungan dan re-newable. Metode pretreatment yang dikembangkan sebaiknya juga ramah lingkungan dan tidak menghasilkan limbah yang berbahaya bagi lingkungan.

 

Penutup

Indonesia memiliki potensi biomassa lignoselulosa yang sangat besar. Apabila potensi besar ini bisa diwujudkan menjadi produk bioetanol akan mencukupi sebagian kebutuhan energi bangsa Indonesia. Salah satu kunci untuk mewujudkannya adalah pengembangan teknologi pretreatment yang sesuai dengan jenis biomassa lignoselulosa di Indonesia. Jika pengembangan ini berhasil, bukan tidak mungkin bangsa Indonesia akan mandiri dan berdaulat di bidang energy, karena tidak tergantung pada sumber energy dari bahan bakar minyak (BBM).

 

Daftar Pustaka

Al-Zuhair S. 2008. The effect of crystallinity of cellulose on the rate of reducing sugars production by heterogeneous enzymatic hydrolysis. Bioresource Technology 99: 4078-4085.

Alvira P, Tomás-Pejó E, Ballesteros M, Negro MJ. 2010. Pretreatment technologies for an efficient bioethanol production process based on enzymatic hydrolysis: A review. Bioresour Technol 101: 4851-4861.

Anderson WF, Akin DE. 2008. Structural and chemical properties of grass lignocelluloses related to conversion for biofuels. J Ind Microbiol Biotechnol 35: 355–366.

Chen H, Qiu W. 2010. Key technologies for bioethanol production from lignocellulose. Biotechnology Advances 28: 556-562.

Himmel ME. 2008. Biomass Recalcitrance: Deconstructing the Plant Cell Wall for Bioenergy. Edition 1.: Wiley, John & Sons, Incorporated.

Isroi. 2013. Peningkatan Digestibilitas dan Perubahan Struktur Tandan Kosong Kelapa Sawit oleh Pleurotus floridanus dengan Penambahan Mn dan Cu. Dissertation. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Isroi, Millati R, Syamsiah S, Niklasson C, Cahyanto MN, Lundquist K, Taherzadeh MJ. 2011. Biological pretreatment of lignocelluloses with white-rot fungi and its applications: A review. BioResources 6: 5224-5259.

Law KN, Daud WRW, Ghazali A. 2007. Morphological and chemical nature of fiber strands of oil palm empty-fruit-bunch (OPEFB). BioResources 2: 351-362.

Mosier N, Wyman C, Dale B, Elander R, Lee YY, Holtzapple M, Ladisch M. 2005. Features of promising technologies for pretreatment of lignocellulosic biomass. Bioresour Technol 96: 673-686.

 

 

Tips cara mudah dan cepat menyimpan referensi dari Google Scholar dan membuat daftar pustaka

tips google scholar referensi isroi

Google Scholar untuk mencari pustaka

Google Schoolar, Search Engine Khusus Jurnal Ilmiah

Google Scholar menyimpan lautan pustaka dan jurnal-jurnal ilmiah. Pencarian pustaka dengan Google Scholar akan mendapatkan ratusan atau bahkan ribuan pustaka ilmiah yang sesuai dengan kata kunci yang kita masukkan dalam waktu yang sangat singkat. Menyimpan dan membuat daftar pustaka dengan cara menuliskan atau meng-copy-paste satu persatu sangat-sangat tidak efektif. Saya ingin berbagi tips bagaimana cara menyimpan dan membuat daftar pustaka dari Google Scholar yang lebih cepat dan lebih efisien.

Di tulisan sebelumnya saya sudah menyampaikan tips mencari pustaka yang efisien secara on-line. Baca di link ini Tip Mencari Literatur Gratis di Internet.

Saya juga sudah menuliskan tips mengelola daftar pustaka dengan menggunakan aplikasi gratis yang bisa didownload di internet: JabRef atau Zotero. Silahkan baca di link ini JabRef dan Zotero.

Tips berikut ini berkaitan dengan tulisan sebelumnya. Saya tidak akan mengulang tip-tip tersebut. Jadi kalau Anda belum membacanya silahkan pelajari di link yang saya sebutkan di atas.

Langkah-langkah Menyimpan Daftar Pustaka dari Google Schoolar

Pertama Anda memasukkan beberapa kata kunci penting referensi yang ingin Anda cari ke dalam kotak pencarian Google Scholar. Kemudian klik tombol SEARCH. Google Schoolar akan menampilkan hasil pencarian yang sesuai dengan katan kunci yang Anda masukkan. Semakin spesifik kata kunci yang Anda masukkan, akan semakin spesifik pula hasil pencariannya.

tips google scholar referensi isroi

Klik pada link More > Cite untuk melihat pilihan untuk mendownload file sitasinya.

Di bagian bawah daftar pencarian akan ditampilkan beberapa menu. Salah satunya adalah menu untuk mendownload file sitasinya. Di bagian kanan akan ditampilkan link untuk mendownload file full text jika tersedia. Silahkan klik menu MORE>CITE untuk menampilkan beberapa pilihan sitasi.

tips google scholar referensi isroi

Klik pada file yang sesuai dengan aplikasi manajemen pustaka Anda.

Jika Anda menggunakan aplikasi Endnote, download file untuk EndNote. Jika Anda menggunakan JabRef atau Zotero, download file BibTex. Tentukan nama file dan tempat penyimpanan file tersebut.

tips google scholar referensi isroi

Simpan file dengan nama tertentu pada folder Anda.

Langkah berikutnya adalah membuka file tersebut dengan mengklik dua kali pada file yang sudah didownload atau melalui aplikasi manajemen daftar pustaka yang Anda gunakan: Endnote, Zotero, atau JabRef. Aplikasi akan secara otomatis memasukkan sitasi tersebut ke dalam aplikasi manajemen daftar pustaka.

Dari daftar pustaka yang sudah Anda kumpulkan, Anda bisa menambahkan sitasi pada tulisan ilmiah yang sedang Anda buat dan menambahkan daftar pustakanya.

Selamat mencoba. Semoga bermanfaat.