Catatan buku: The Thief of Baghdad

Novel terjemahan The Thief of Baghdad

Novel terjemahan The Thief of Baghdad


Saya sebenarnya jarang sekali membeli buku novel. Apalagi novel terjemahan. Entah mengapa waktu saya ‘refreshing’ di toko buku saya tertarik dengan buku saku bersampul merah ini. Judulnya ‘The Thief of Baghdad’ karangan Alexander Romanoff. Bukunya berukuran kecil, jadi saya pikir cocok untuk menjadi ‘teman dalam perjalanan’.

Pikiran yang terlintas di kepala ketika membaca judul buku ini adalah kisah tentang Aladin di negeri 1001 malam, atau film “The Prince of Persia”. Apalagi nama penerbitnya adalah Dastan, sama seperti nama tokoh utama dalam film The Prince of Persia. Ceritanya pasti tidak jauh berbeda, pikir saya.

Saya baca buku ini dalam ‘acara mudik mingguan’ ke Bogor-Pati. Buku ini menjadi teman setia untuk membunuh waktu di dalam kereta. Ternyata asik juga baca buku cerita heroik seperti ini.

Novel ini bercerita tentang Ahmad yang berprofesi sebagai pencuri di Bagdad. Kisahnya berlatar belakang negeri Persia yang perkasa. Persia jaman dulu adalah negera adidaya bersama dengan Romawi. Kalau Romawi berkuasa di Barat, Persia kekuasaannya di Timur. Kerajaannya makmur.

[continued....]

About these ads

Aplikasi Promi Langsung Di Sawah

Ngapain pemerintah menyiapkan lahan biomassa

Kliping Kompas tgl 29 Agustus 2014, hal 14, kol 1-2

Kliping Kompas tgl 29 Agustus 2014, hal 14, kol 1-2

Ngapain pemerintah repot-repot menyiapakan lahan untuk menyediakan biomassa, lha wong biomassa yang tersedia saja belum tergarap.

Hari ini saya baca sebuah berita kecil di Harian Kompas, tgl 29 Agustus 2014, halaman 7, kolom 1-2. Judulnya menarik bagi saya: Energi Terbarukan; Lahan Pengembangan Biomass Disiapkan. Ketika saya membaca berita itu sedikit senang, karena pemerintah punya keinginan untuk mengembangan energi alternatif yang terbarukan. Akan tetapi saya akan mengkritisi kebijakan pemerintah ini.

Saya sudah mendengar desas-desus akan pengembangan energi dari biomassa ini. Kebutuhannya memang sangat besar, khususnya untuk pasar export. Konon kabarnya Korea sudah melarang penggunaan batubara dan mengantinya dengan biomassa. Artinya, kembali ke jaman baheula lagi. Kasarnya begini; energi biomassa = kayu bakar. Karena yang dibakar sama-sama kayu, cuma namanya sekarang sedikit mentereng: energi biomassa.

Korea adalah negeri yang industrinya maju, tentu saja sangat membutuhkan banyak energi untuk menjalankan industrinya itu. Nah, mereka kan tidak punya lahan yang luas. Datanglah mereka ke Indonesia mencari lahan untuk menanam ‘kayu bakar’. Menurut kabar desas-desus lagi yang tidak jelas kebenarannya; investor korea sudah menanam ribuah hektar tanaman ‘kayu bakar’ di Indonesia, di wilayah Indonesia Timur dan Kalimantan.

Saya tidak tahu apakah ini sudah direncanakan matang-matang atau sekedar ikut-ikutan. Menurut berita Kompas di atas pemerintah akan menyiapkan lahan untuk penanaman ‘kayu bakar’. Kata kabar berita itu lagi, konon, Indonesia membutuhkan 2 juta ha lahan untuk menanam ‘kayu bakar’.

Ngapain pemerintah repot-repot menyiapkan lahan untuk ‘kayu bakar’ seluas itu. Lha wong Indonesia punya banyak limbah biomassa yang melimpah ruah dan tidak termanfaatkan. Barangnya tinggal ambil saja, tidak usah menanam, bahkan ‘mungkin’ tidak usah beli. Tinggal ongkos angkut saja. Ini saya tahu sendiri, karena lama saya mengelutinya, yaitu: Limbah biomassa KELAPA SAWIT. (Baca: Potensi Limbah Biomassa Sawit)

Indonesia adalah negera produsen kelapa sawit terbesar di dunia. Produksi minyak sawit menurut data dari BPS tahun 2013 diperkirakan mencapai 26,9 juta ton CPO. Kalau dihitung secara kasar produksi CPO sebanyak itu akan menghasilkan limbah biomassa yang ruuuaaarrr biaya besar zekali; yaitu:

TANKOS: 30.93 juta ton
FIBER dan Cangkan: 25.5 juta ton
Limbah Cair: 94.15 juta ton

Total biomassa (Tankos, fiber, cangkang): 56.43 juta ton.
(Ini hitungan kasar ….lho….)

Neraca Massa Kelapa Sawit

Menurut berita kompas itu lagi 1 ha lahan ‘kayu bakar’ bisa menghasilkan 64 ton ‘kayu bakar’. Ini artinya limbah sawit itu equivalent dengan 882 187 ha lahan ‘kayu bakar’ atau dua kali lipat luas lahan yang akan dibangun di Madura itu.

Konversi energinya juga sangat besar. Dari Tankos, cangkang, dan fiber bisa dihasilkan energi listrik, sedangkan dari limbah cair bisa dihasilkan biogas. Angka perkiraan kasarnya adalah:

Listrik: 16 152 mega watt
Biogas: 2 692 m3.

Ini jumlah anergi yang sangat-sangat besar. Ini belum limbah biomassa yang lain yang dari agroindustri, seperti: bagas tebu, jerami padi, serbuk gergaji, batok kelapa, limbah kotoran ternak, dll. Masih banyak sekali.

Saya tahu, itu hanya itung-itungan di atas kertas. Merealisasikannya tidak mudah. Namun, mbok yao…pemerintah itu juga memikirkan potensi-potensi biomassa yang sudah ada di lapangan. Saya tahu sendiri, limbah biomassa sawit masih ‘terbengkalai’ dan tidak termanfaatkan.

Beberapa kali saya mencoba diskusi dengan pengusaha sawit dan menyampaikan ide ini. Bagi pengusaha sawit, mereka kurang tertari memanfaatkan limbah biomassa sebagai energi. Lha mereka sediri sudah kecukupan energi dari limbah cangkan saja. Bahkan sisa. Apalagi kalau disuruh repot-repot membuat biogas segala. Mereka enggan berinvestasi.

Kalau pun mereka bisa memproduksi listrik dan dijual ke pe-el-en, itungan-itungan mereka masih nggakk ‘masuk’. Masalahnya, pe-el-en maunya harganya super murah. Bagaimana pengusaha bisa untung klo harganya sama dengan ongkos produksi.

Di sini sebenarnya peran pemerintah. Menjebatani antara pengusaha dan kebutuhan masyarakat. Yang butuh energi itu masyarakat luas. Pengusaha punya ‘limbah biomassa’ yang tidak termanfaatkan dan mereka tidak tertarik untuk memanfaatkannya. Posisis pemerintah adalah ditengah-tengahnya. Jadi ‘jembatan’ itu dengan regulasi maupun kebijakan lainnya.

Contoh sederhana, misalnya; pemerintah memberikan subsidi untuk pengusaha yang bisa menyediakan listrik untuk masyarakat. Maksudnya, memberikan harga yang layak bagi pengusaha. Atau memberikan keringanan pajak, infrastruktur dll, sehingga pengusaha tetap bisa mendapatkan keuntungan dari usaha itu.Masih banyak contoh-contoh bentuk dukungan riil pemerintah untuk pemanfaatkan biomassa dari limbah perkebunan di Indonesia.

Seandainya ide ini berjalan, krisis energi akan bisa diatasi. Indonesia memiliki potensi biomassa yang besar dan lahan yang luas.
Kalau hanya sekedar ‘Kayu bakar’ tinggal ambil saja. Tinggal kemauan (good will) dari pemerintah untuk mendorong pemanfaatan ‘kayu bakar’ ini.

Kita tunggu saja kiprah pemerintahan baru ke depan. Apakah masih pro-rakyat atau justru mau mengail di atas penderitaan rakyat.

walllahu’alam.

Catatan buku: Buku konyolnya Bang Arham Kendari

image

Saya suka baca cerita-cerita lucu. Ada beberapa koleksi buku2 bergenre humor di rak buku saya. Namun, dari sekian banyak buku humor yang saya miliki buku humor yang paling lucu adalah bukunya Bang Arham Kendari.

Pertama kali saya beli buku ini ketika ada pameran buku di JCC (jogja convention centre). Saya ngublek2 semua stand buku di pameran itu, meski harus rela merogoh kocek rp. 5000. Sampailah saya di standnya Yusuf Agensi, stand buku murah yang sudah diafkir. Di balik kerumuman orang itulah saya menemukan buku “Jakarta Undekompor”-nya Bang Arham.

Saya baca buku itu sampai terkencing2 karena tidak kuat menahan tawa. Buku itu benar2 lucu. Hebatnya lagi, meski saya baca berulang2, tetap saya tertawa terpingkal-pingkal. Cerita yang paling saya suka adalah cerita tentang kacang mede.

Bang Arham punya urat humor yang istimewa. Kemampuan menulis dibarengi dengan keahlian mengolah foto dengan sotosop dan mengambar. Gambar2nya lucu2. Ini contohnya.

image

image

Buku Bang Arham adalah kumpulan tulisan2 yang ditulis di blognya. Dan ternyata Bang Arham juga punya akun di media sosial; facebook, twitter, kompasiana, dll. Hebatlah pokoknya.

Untuk Anda yang suka cerita humor wajib memiliki buku2nya Bang Arham. Sudah beberapa buku yang beliau terbitkan. Atau minimal kunjungi akun FB, blog, folow twitternya.

Blog: Arham Kendari
Kompasiana: Arham Kendari
Continue reading

The Legume-Rhizobium Symbiosis

image

Rhizobium yang bersimbiosis dengan tanaman kacang2an sudah sejak lama diteliti dan terbukti bisa meningkatkan produktivitas tanaman kacang-kacangan. Rhizobium banyak dimanfaatkan sebagai mikroba aktif biofertilizer. Ada banyak produk biofertilizer di pasaran yang mengandung Rhizobium. Bahkan, beberapa pupuk cair pun diperkaya dengan Rhizobium.

Buku kecil ini sangat bermanfaat dan penting untuk orang2 yang bekerja dengan Rhizobium. Meskipun tipis tetapi isinya lengkap. Mulai dari pengambilan sampel di lapang hingga pengujiannya.

Molecules | Free Full-Text | Structural Changes of Oil Palm Empty Fruit Bunch OPEFB after Fungal and Phosphoric Acid Pretreatment

Molecules | Free Full-Text | Structural Changes of Oil Palm Empty Fruit Bunch OPEFB after Fungal and Phosphoric Acid Pretreatment.

Pretreatment with Phanerochaete chrysosporium in Paper Sludge Dilute Acid Hidrolisis

Tips Android: Scan dokumen ke file pdf dengan Smartphone Android

image

Smarphone Android memiliki banyak fungsi dengan aplikasi-aplikasi tambahan. Salah satunya adalah fungsi untuk scan dokumen. Scan dokumen adalah salah satu pekerjaan rutin di kantor. Seringkali kita perlu mengirimkan dokumen dalam bentuk file pdf/image ke rekan kerja atau klien. Jaman dulu pekerjaan ini hanya bisa dilakukan dengan menggunakan scanner. Saat ini bisa dilakukan hanya dengan menggunakan smarptphone Andorid. Caranya sangat mudah.

Banyak aplikasi scanner document yang tersedia di Google play store. Banyak aplikasi yang gratis dan ada juga yang berbayar. Yang berbayar pun harganya sangat murah sekali.

Cara kerja aplikasi ini sangat sederhana dengan memanfaatkan kamera smartphone untuk memindai dokumen. Hasil fotonya selanjutnya diolah menjadi file pdf. Simple.

Screenshots_2013-11-04-14-14-09

1. Cara penggunaannya juga mudah. Dokumen yang akan kita scan diletakkan di meja atau di posisi yang datar dan cukup mendapatkan cahaya.
2. Kemudian kita foto dengan posisi tegak lurus terhadap dokument. Usahakan agar dokumen tidak terkena bayangan tangan kita. Sebaiknya alas yang digunakan juga kontras dengan dokumen yang akan discan. Kemudian ambil fotonya.

3. Aplikasi akan memuat foto dokumen. Ada beberapa pilihan untuk meng-cropping foto sehingga tepat dengan posisi dokumen. Ada juga menu-menu untuk memparbaiki kualitas fotonya; misalnya membuat lebih cerah, lebih terang, lebih kontras, hitam-putih, dll.

4. Langkah selanjutnya adalah mengkonversi ke file pdf.

Kita bisa menambahkan banyak halaman dokumen dalam satu file. File pdf yang dihasilkan juga bisa dikirim atau dishare ke teman/kolega via email, cloud, dll. Mudah sekali.

Kini dengan smartphone Android Anda tidak perlu membeli scanner lagi, karena smartphone Android bisa digunakan untuk meng-scan dokumen.

Berikut beberapa aplikasi scanner dokumen yang tersedia di Google Play Store:

image

image

image

image

Catatan buku: Statistik Indonesia Jaman Kolonial

image

image

Ketika menjajah Indonesia dulu ternyata Belanda telah melakukan pendataan yang lengkap. Buku statistik ini buktinya.

Tidak banyak yang bisa saya sampaikan. Soalnya, saya tidak bisa bahasa Belanda.

Catatan buku: Islam dan Kebatinan

image

Buku ini salah satu koleksi buku ‘kuno’ yang ada di rak buku kami. Judulnya “Islam dan Kebatinan” karangan Prof. Dr. H. M. Rasjidi. Buku ini ditulis 47 tahun yang lalu. Pertama kali buku ini saya dapatkan ada di tumpukan bawah meja tahu rumahnya Pak Arifin Mukti. Ternyata isinya menarik dan tidak saya dapatkan di buku2 keislaman kontemporer. Lalu, buku ini saya minta bersama dengan beberapa buku kuno yang lain. Isi buku ini menarik karena membahas tentang beberapa aliran kebathinan yang ada di masyarakat dan sebagian “bercampur aduk” dengan Islam.

Realitanya kebathinan memang eksis dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Ketika SMA dulu saya pernah membeli sebuah buku terjemahan dari bahasa jawa. Judulnya: Kitab Gatoloco dan Kitab Darmogandul. Buku itu dijual di toko buku Cahaya yang ada di samping masjid Agung Magelang. Toko buku ini adalah toko buku Islam yang paling besar dan paling lengkap waktu itu. Saya tertarik membelinya karena di pengantarnya tertulis bahwa buku ini menceritakan tentang sejarah masuknya Islam di Indonesia. Bukunya cukup unik, karena dicetak dalam dua bahasa; satu sisi bahasa jawa dan sisi yang lain terjemahannya.

Saya mulai membaca buku itu. Ternyata isinya benar2 diluar dugaan saya. Isi buku itu bukannya tentang cerita sejarah Islam di Indonesia, tapi justru isinya melecehkan ajaran Islam. Saya tidak meneruskan membaca buku itu. Beberapa bulan kemudian saya mendengar di tvri kalau peredaran buku itu dilarang. Saya jadi ingat dan saya cari buku2 itu lagi. Tidak ketemu. Entah saya buang ke mana buku2 itu. Beberapa tahun kemudian baru saya tahu kalau buku itu merupakan salah satu kitabnya orang kebathinan.

Ketika kuliah saya pernah menginap di rumah teman saya di lereng gunung Sumbing. Bapak teman saya memiliki beberapa koleksi buku di ruang tamunya. Iseng2 saya baca satu buku. Saya terkejut ketika membaca isinya; isinya tentang ibadah yang campur2 dan tentang kitab kejadian manusia. Ternyata bapak teman saya adalah penganut aliran kebathinan.

Ketika KKN saya tinggal di desa terpencil di lereng pegunungan Dieng di Kab. Banjarnegara. Warga di desa saya ada dua kelompok penganut agama; Islam dan Hindu. Ternyata; di desa itu atau di kecamatan itu ada juga penganut aliran kebathinan.

Ketika saya menemukan buku ini baru saya memahami jika orang2 tersebut adalah penganut aliran kebathinan atau aliran kepercayaan. Di KTP mereka mungkin saja tertulis Islam, tapi mereka tidak menjalankan syariat Islam. Mereka beribadah denga cara lain. Ya…kebathinan itu.

Budaya manusia akan saling mempengaruhi. Dalam kasus kebathinan ini entah Islam yang mempengaruhi ‘kebathinan’ orang dulu atau justru ‘kebathinan’ yang mengotori ajaran Islam. Sesudah ratusan tahun Islam masuk ke Indonesia, masih ada beberapa kelompok orang Islam yang mencampur adukkan antara ajaran Islam dengan kebathinan. Akan lebih baik jika orang-orang ini mengikuti dan memilih salah satu saja. Dalam Islam, syirik adalah dosa yang tidak terampuni. Saya rasa demikian juga dalam ‘kepercayaan’ lain. Kalau tidak ‘murni’ tidak akan ‘diterima’ amalannya.

Buku karya Prof. Rasjidi ini sangat membantu saya dalam memahami tentang ‘kebathinan’ itu. Untung saja saya tidak melanjutkan sampai selesai ketima membaca kitab Gatoloco dan Darmogandul. Namun, saya kecewa karena kedua buku itu hilang dan tidak pernah saya temukan sampai sekarang.

Salam membaca.