Monthly Archives: October 2015

Komposter Sederhana untuk Sampah Organik Rumah Tangga

Project sederhana keluarga kami, yaitu membuat pupuk kompos dari sampah organik rumah kami sendiri. Kami ingin membuat sebuah tempat pengomposan yang sederhana, mudah dipakai dan bisa dibuat dari bahan-bahan yang tidak mahal. Setelah mencari-cari dan mencoba-coba beberapa ide, akhirnya kami membuat tempat pengomposan dari bekas tempat cat tembok 25 kg. Desain dan cara membuatnya seperti berikut ini. Desain ini terinspirasi dari aktivitas Posyantek Kendal ketika saya berbagi pengalaman tentang pengomposan sampah.

Baca juga artikel saya sebelumnya: Mengolah sampah rumah tangga |

Bahan-bahan yang dipergunakan:

– 2 buah bekas tempat cat tembok 25 kg.

Peralatan yang diperlukan:

– paku besar atau besi untuk membuat lubang
– paku atau besi atau bambu yang dibuat seperti stik/tangkai kecil

Cara membuatnya:

  1. Cuci bersih bekas cat tersebut untuk menghilangkan bekas cat dan kotoran-kotoran yang lain.
  2. Salah satu tempat bekas cat, dideri lubang di bagian atas dengan paku/besi yang dipanaskan atau dengan bor. Lubang-lubang ini untuk mengalirkan air yang ada di dalam sampah organik rumah.
  3. Buat juga lubang-lubang di sisi samping tempat bekas cat hingga kira-kira 20 cm dari sisi atas.
  4. Beri lubang paku/besi/bambu untuk penjangga. Jaraknya kurang lebih 20cm dari sisi atas.
  5. Lubang-lubang ini hanya dibuat di salam satu tempat bekas cat.
  6. Tempat cat yang berlubang-lubang ini ditumpukkan di atas tempat bekas cat yang satunya lagi.
  7. Komposter ini siap dipergunakan.

Mudah sekali kan cara membuatnya.

Komposter sampah rumah tangga sederhana

Komposter sampah rumah tangga sederhana dibuat dari dua tempas bekas cat tembok 25 kg.


Continue reading

Modus Anak Pengemis dan Pemulung di Ciomas

Hati siapa yang tidak akan ‘trenyuh’ kalau melihat anak kecil mengemis dan memulung. Rasa iba akan meluluhkan hati para dermawan untuk mengulurkan tangan dan memberi sedekah pada anak-anak ini. Justru ini yang dijadikan ‘modus’ oleh para pengemis-pengemis ini.

Kalau Anda sering melintasi jalan Pasir Kuda – Ciomas, Bogor, dalam minggu-minggu terakhir ini mungkin sering melihat anak kecil yang duduk di belokan Bojong Menteng dekat Sekolah Rimba Raya. Anak ini duduk sambil membawa kantung plastik besar dan memasang wajah yang seperti kesakitan. Siapa pun orang yang melihatnya pasti akan iba. Banyak orang yang melintas dan memberikan uang atau makanan.

Anak ini adalah anak yang sama, kira-kira setengah tahun yang lalu yang sering lewat di perumahan kami. Waktu itu dia juga duduk sambil memegangi perutnya. Selepas magrib dan hujan rintik-rintik. Dia seperti meringis menahan sakit dan lapar. Saya panggil anak itu, saya ajak ke rumah. Saya tanyakan siapa namanya, berapa umurnya, tinggal di mana, masih sekolah tidak dan kenama memulung.

Dia menyebutkan namanya. Tinggalnya di Kreteg. Ibunya di rumah dan ada seorang adiknya. Bapaknya katanya galak, suka mabuk dan suka berjudi. Dia masih sekolah kelas 5. Dia memulung untuk membantu mencari uang keluarga buat makan. Dia bercerita kalau dia dan adiknya belum makan.

Hati saya luluh. Saya beri dua uang, cukup untuk makan sekeluarga beberapa hari. Saya kasih juga makanan yang ada di rumah. Saya berjanji akan mencoba mencarikan donatur/dermawan yang bisa memberikan bantuan sehingga dia tidak perlu lagi memulung atau mengemis. Saya juga berencana untuk menengok rumahnya. Ketika saya mau antar dia pulang, dia menolak diantar.

Beberapa hari kemudian dia muncul lagi. Saya beri lagi sedikit rizqi. Ini berlangsung cukup lama. Lama-lama saya ‘curiga’ juga. Anak ini kalau dikasih makanan seperti menolak dan lebih memilih dikasih uang.

Kemudian dia mangkal di jalan dekat masjid. Selepas sholat berjama’ah banyak yang lewat jalan ini. Saya tanya ke Pak Haji tetangga saya, “Kasihan anak itu, Pak Haji,”
“Biarkan saja, anak itu memang kerjaannya mengemis”,

Saya sedikit kaget dengan jawaban Pak Haji ini setahu saya adalah orang yang dermawan.

Lama-lama saya juga tidak lagi rutin memberi uang ke anak ini.

Entah sejak kapan, anak ini tidak lagi terlihat di komplek perumahan kami. Tahu-tahu dia sudah ada di pertigaan Bojong Menteng itu.

Saya mencoba mencari tahu ke tetangga sekitar dan beberapa orang tentang anak ini. Saya terkejut dan sedikit jengkel juga. Pertama, anak ini tinggal di kampung di dekat sekolah anak saya. Beberapa teman anak saya kenal dan tahu anak ini. Pantas saja anak saya tidak mau ketika saya minta untuk memberikan sedekah ke anak ini.
“Bi, nggak usah ngasih uang ke anak itu,”
“Kenapa?”
“Kata temenku, uangnya dipakai untuk ‘ngenet’ di warnet di dekat sekolah.”
“Masa…???”
“Iya…Abi sih suka nggak percaya.”

Di pertigaan Bojong Menteng (Bomen), saya coba tanya ke pedagang sepatu dan tukang gosok batu.

“Uuuuu…anak itu mah…memang begitu. Bandel.”
“Tuh….noh Bapaknya nongkrong di warteg. Bapaknya jagain di sana.”

Orang-orang di situ mengenal Bapaknya yang suka berjudi dan mabok. Dia yang mengajari anaknya untuk memulung dan mengemis. Dia gunakan uang itu untuk main judi dan mabok. Anaknya juga sama saja, lebih banyak menggunakan uangnya untuk ‘berfoya-foya’ dan main di warnet.

“Coba dikasih makanan, pasti anak itu tidak mau. Maunya dikasih uang.”

Saya baru menyadari kenapa tetangga saya yang awalnya iba dan kasihan, kemudian berubah mengacuhkan anak ini. Sebenarnya ada banyak lembaga dan dermawan yang bisa dan bersedia untuk membantu biaya hidup dan biaya sekolah anak ini. Tetapi, kalau anaknya sendiri lebih memilih untuk ‘menjual’ kefakirannya dan seperti tidak mau di tolong, mau bagaiman lagi.

Batu-batu bongkahan batu akik cantik

Toko Mesin Jahit Singer di Bogor

Toko mesin jahit Singer Bogor

Toko Singer Bogor

Kalau ditanya apa merik mesin jahit yang paling terkenal di Indonesia, jawabannya ya Singer. Mesin jahit ini sudah masuk ke Indonesia sejak jaman penjajahan Belanda. Perwakilan-perwakilan Singer bahkan pernah melakukan konvensi pada tahun 1892. Simbah saya saja belum lahir. Nah, di Bogor ada toko perwakilan Singer yang ada di Jl. Merdeka. Model tokonya masih terkesan kuno, meski ketika saya datang kemarin sudah dicat ulang dengan warna merah.

Toko Singer ini merupakan salah satu toko singer yang ‘senior’. Bagian display toko sudah dipermak menjadi lebih terlihat modern. Di bagian tengah ada tempat administrasi dan bagian dalam/belakang tempat reparasi mesin jahit. Di bagian tengah ini ada tangga kuno yang menuju ke lantai 2. Konon, kata karyawan di toko Singer itu, ‘penunggu’-nya noni-noni Belanda. Noni-noni ini biasa duduk di anak tangga itu. hiiiiiii……..

Ada sebuah perjanjian antara Singer dengan pemilik toko/lahan. Toko ini tidak bisa dipindahtangankan atau diperjual belikan tanpa sepersetujuan Singer. Jadi sampai sekarang, bahkan setelah bertahun-tahun toko ini tetap menjadi toko Singer.

Toko ini juga menjadi pusat service mesin jahit, baik yang bermerek Singer atau merek yang lain. Di kalangan komunias Singer Indonesia, toko ini juga menjadi rujukan untuk reparasi mesin jahit. Teknisi-teknisinya cukup terampil dan bersertifikat internasional.

Toko ini juga menjual mesin singer, mulai dari yang baru sampai yang model lama. Ada banyak modelnya dengan harga yang bervariasi.Lengkap lah menurut saya.

Toko mesin jahit Singer Bogor

Konvensi Singer Indonesia 1982


Continue reading

Modifikasi Gugus Fungsional Selulosa

selulosa murni TKKS sawit

Modifikasi gugus fungsional selulosa murni dari TKKS

Melanjutkan lagi hasil-hasil percobaan yang lalu (selulosa murni dari TKKS). Selulosa murni masih sangat rigid, sulit untuk diajak ‘bergandengan’ dengan bahan-bahan lain. Selulosa murni lebih suka ‘bergandengan’ dengan selulosa sendiri. Karena itu, perlu dilakukan sedikit modifikasi pada gugus fungsional selulosa.

Alhamdulillah, setelah gagal berkali-kali, sejak beberapa bulan yang lalu, hari ini mulai ada titik terang. Setelah seharian kemarin saya dan teknisi kerja di lab, hasilnya sudah mulai terlihat. Sampel selulosa yang sudah diberi perlakuan kami analisa dengan FTIR, metode analisis gugus fungsional. Alhamdulillah, peak gugus fungsional yang kami inginkan sudah muncul. Sedangkan di kontrolnya tidak ada.

Selangkah lebih maju. Alhamdulillah.
Semoga bisa terus berhasil ketika selulosa ini ‘digandengkan’ dengan bahan-bahan lainnya.

Asal-usul Teh Wangi dan Teh Melati

kebun teh pasir sarongge

Di kebun teh Pasir Sarongge milik Pusat Penelitian Teh dan Kina

Siang tadi di sela-sela acara Workshop PUI saya ngobrol santai dengan Bu Oha (Dr. Rohayati), Kabid Riset Pusat Penelitian Teh dan Kina. Beliau cerita banyak tentang teh di Indonesia. Sampailah pada ceita tentang teh wangi melati.

Kalau diperhatikan, sebagian besar teh yang dikonsumsi di Jawa Tengah dan Jawa Timur adalah teh melati. Berbeda dengan teh yang banyak diminum di Sumatera atau di Jawa Barat. Kalau orang Jateng minum teh di Jabar akan terasa sedikit aneh. Orang Sunda lebih suka minum teh tawar bening. Oranf Jateng lebih suka minum teh tubruk yang super manis. Kalau di daerah Slawi, Tegal dan sekitarnya, teh diminum dengan gula batu; manis banget.

Bu Oha sedikit cerita tentang asal-usul dan sejarah teh wangi ini. Seperti yang kita ketahui, teh adalah tanaman yang diintroduksikan oleh kolonial Belanda. Mereka menanam teh di daerah jajahan mereka, salah satunya di Indonesia. Sejak jaman dulu teh adalah komoditas eksport. Teh yang dihasilkan dari perkebunan di Indonesia dikirim ke Eropa. Teh-teh yang dikirim ini adalah teh-teh2 yang berkualitas bagus.

Sisa-sisa produksi teh eksport ini yang hanya batang2 dan sisa2 daun yang sudah tidak laku. Ya… boleh dikatakan sampahnya lah…. Teh itulah yang diseduh dan dikonsumsi oleh budak2 pribumi di perkebunan teh. Karena kwalitasnya yang sangat jelek, citarasa tehnya pun sangat jelek. Kalau menurut bu Oha, sudah tidak ada rasa tehnya.

Nah, rupanya orang jawa cukup kreatif. Teh2 yang rasanya tidak jelas ini diberi tambahan aroma dan yang dipakai adalah bunga melati. Aroma melati harum dan wangi. Teh melati ini rupanya disukai oleh orang pribumi.

Continue reading

Selulosa Murni dari Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS)

Selulosa murni dari TKKS

Selulosa murni dari TKKS

Tandan kosong kelapa sawit (TKKS) adalah potensi biomasa lignoselulosa yang sangat melimpah dari limbah pabrik kelapa sawit (PKS). Volumenya sangat-sangat besar dan belum termanfaatkan. Biomassa lignoselulsoa ini merupakan potensi yang luar biasa. TKKS tidak hanya berpotensi untuk dijadikan kompos atau pupuk organiks saja. Ada banyak yang bisa dihasilkan dari TKKS ini.

tkks tankos sawit

Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) yang masih utuh.

Tiga komponen utama TKKS adalah selulosa, hemiselulosa dan lignin. Setiap komponen punya potensinya sendiri-sendiri. Misalnya saja selulosa. Selulosa adalah polimer dari glukosa. Rantainya lurus. Selulosa dan glukosa adalah bahan yang bisa dijadikan bahan baku untuk berbagai macam produk. Yang paling umum pemanfaatan dari selulosa adalah pulp atau bubur kertas. Pulp masih mengandung sedikit lignin dan sedikit hemiselulosa. Pulp bisa dimurnikan lebih lanjut menjadi selulosa murni.

biopulp tkks

Biopulp TKKS

Selulosa murni masih berukuran mikron. Ukuran selulosa masih bisa diperkecil lagi menjadi berukuran nano yang dikenal dengan sebutan Nano Kristal selulosa (NCC, Nano Crystalline Cellulose) dan Serat Nano Selulosa (NFC, Nano Fiber Cellulose). Nano selulosa banyak dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, antara lain untuk bahan baku bioplastik atau untuk filler produk-produk tertentu.

image

Selulosa dari Tkks

Selulosa bisa dipecah-pecah lagi menjadi glukosa penyusunnya. Sebagaimana halnya gula yang lain, glukosa dari selulosa juga berasa manis dan semut juga menyukainya. Kalau sudah jadi gula banyak yang bisa dibuat, antara lain: ethanol, asam sitrat, asam laktat, atau asam-asam organik lainnya. Etanol bisa jadi bahan bakar atau pelarut. Asam laktat juga bisa jadi bahan baku bioplastik.

tankos sawit tkks

Semut sedang mengerumini sirup glukosa yang dibuat dari TKKS.

Mengisolasi dan memurnikan selulosa dari TKKS adalah langkah awal yang baik untuk memanfaatkan TKKS menjadi produk-produk baru yang memiliki manfaat dan memiliki nilai ekonomi.

Tanaman Karet Pertama Kali Ditanam di Bogor

image

Tanaman karet pertama di Indonesia di tanam tahun 1876 di Cultuurin Bogor.

Indonesia adalah produsen lateks/karet terbesar kedua di dunia. Tanaman karet bukanlah tanaman asli Indonesia. Pertama kali ditanam di Bogor, Jawa Barat tahun 1876 . Dari sini kemudian menyebar ke Sumatera dan Jawa. Penjajah Belanda menjadikan Indonesia sebagai daerah perkebunan karet dan akhirnya menjadi salah satu produsen karet terbesar di dunia.

image

image

Nggak Cuma Orang Indonesia yang Gila ‘Batu’

Pengila batu akik Indonesia

Pengila batu akik

Meski demam batu sudah berlalu, saya masih penasaan dengan orang-orang yang demam batu. Saya coba ‘surfing’ di Internet. Ternyata tidak hanya orang Indonesia yang menyukai batu. Orang di belahan dunia lain juga banyak menyukai batu (gemstone) dengan desain yang tidak kalah ‘gila’nya dengan orang Indonesia. Kalau orang Indonesia modelnya monoton, kalau tidak lonjong ya lebih lonjong (pandan). Kalau orang luar bentuknya lebih beraneka dan tidak jarang lebih natural/apa adanya. Perhatikan beberapa desain batu akik dari negeri seberang ini.

Jangan-coba-coba-pake-batu-akik-kalau-kamu-gak-sekeren-orang-orang-ini

product-hugerect-40661-6521-1341387699-020b6117a2088b1ce852786c4270c548
Continue reading

Ornamen Indah dari Guntingan Kertas oleh Calvin Nicholls

calvin nicholls paper sculpture

paper sculpture by calvin nicholls (Source: calvin nicholls’s FB account)

Karya seni bisa dibuat dari apa saja, termasuk dari media-media yang tidak lazim. Calvin Nicholls, seniman kanada, membuat ornamen seni dengan media guntingan kertas. Ornamen dan pahatan biasanya dibuat dengan media kayu atau batu atau semen. Calvin membuatnya dengan kertas putih yang digunting-gunting dan dibentuk menjadi sebuah karya seni yang luar biasa. Karya seni tiga dimensi. Kertasnya memang putih saja, tetapi bentuknya yang tiga dimens memberi rasa keindahan yang berbeda.

Perhatikan salah satu karya Calvin Nicholls yang saya ambil dari akun FB-nya. Beruang itu begitu nyata. Detail bulu-bulunya begitu nyata. Tidak akan mengira jika karya itu dibuat dari guntingan-guntingan kertas. Masih banyak karya-karyanya yang lain yang bisa kita nikmati. Bahkan video YouTubenya pun ada yang mengambarkan bagaimana dia menciptakan karyanya.

Selamat menikmati.
Website: http://www.calvinnicholls.com/
Facebook: Calvin Nicholls

1263883_215088698658646_631233886_o
Continue reading