Category Archives: MyResearch

Kompor Bioethanol

Beberapa video di YouTube yang berisi informasi menarik pemanfaatan dan pembuatan peralatan berbahan bakar ethanol. Selamat menikmati.


Continue reading

Uji aktivitas beta glukosidase

Enzyme beta glucosidase adalah salah satu enzyme penting untuk menghidrolisis selulosa dalam pembuatan etanol dari biomassa lignoselulosa. Ada beberapa metode pengujian aktivitas enzyme beta glukosidase salah satunya menggunakan substrat p-nitrophenyl-B-D- glucopyranoside yang sering disingkat PNP-glu. Referensi dasarnya adalah Herr et al., 1978. Berikut ini penjelasan singkat uji aktivitas beta glukosidase dengan menggunakan PNP-glu sebagai substrate.

Substrat: 2mM PNP-glu dalam 5mM buffer sitrat pH 4.8
Catatan: buffer yang digunakan disesuaikan dengan pH dan buffer yang optimum untuk aktivitas enzyme yang akan diuji. Beberapa literatur menggunakan buffer pada pH 5, pH 4.5 dan lainnya.

Enzyme beta glucosidase: enzyme diencerkan dengan menggunakan buffer sitrat pH 4.8 5mM.
Aktivitas enzyme pada pengenceran ini kurang lebih 2-5 unit/ml. Kalau aktivitasnya belum diketahui perlu dicoba-coba dulu sampai ketemu pengenceran yang memberikan absorbansi di bawah 1.

Suhu: suhu pengujian disesuaikan dengan suhu optimum untuk aktivitas enzyme yang akan diuji, biasanya adalah 50 oC.
Continue reading

Uji Digestibility Biomassa Lignoselulosa untuk Produksi Bioethanol

Uji digestibility biomassa lignoselulosa adalah uji untuk mengetahui kemudahan biomassa lignoselulosa dihydrolisis dengan enzyme. Uji ini berdasarkan pada protokol standard NREL (National Renewable Energy Laboratory). Protokol lengkapnya bisa dibaca di referensinya langsung di link ini (Klik di sini). Saya akan menjelaskan berdasarkan pengalaman melaksanakan uji digestibiliti.

Substrat atau Bahan Lignoselulosa

  1. Substrat atau bahan yang digunakan adalah biomassa lignoselulosa. Bisa bahan apa saja, misalnya: kayu, jerami, tongkol jagung, serbuk kayu, atau limbah lignoselulosa lainnya. Bahan mestinya sudah dihaluskan. Kalau akan dikeringkan, sebaiknya menggunakan vacuum drier (Baca penjelasannya di protokol NREL). Bahan yang berbentuk bubur bisa saja digunakan.
  2. Bahan ini mesti diukur total solidnya terlebih dahulu atau bersamaan pada saat pengambilan sampel untuk uji digestibiliti.
  3. Bahan ini juga sudah dikarakterisasi dan sudah diketahui berapa kandungan selulosa, hemiselulosa, dan ligninnya.

Continue reading

Beauty of Mathematics

Repost from: http://www.sialnity.com/2010/03/beauty-mathematics/

1 x 8 + 1 = 9
12 x 8 + 2 = 98
123 x 8 + 3 = 987
1234 x 8 + 4 = 9876
12345 x 8 + 5 = 98765
123456 x 8 + 6 = 987654
1234567 x 8 + 7 = 9876543
12345678 x 8 + 8 = 98765432
123456789 x 8 + 9 = 987654321

1 x 9 + 2 = 11
12 x 9 + 3 = 111
123 x 9 + 4 = 1111
1234 x 9 + 5 = 11111
12345 x 9 + 6 = 111111
123456 x 9 + 7 = 1111111
1234567 x 9 + 8 = 11111111
12345678 x 9 + 9 = 111111111
123456789 x 9 +10= 1111111111

9 x 9 + 7 = 88
98 x 9 + 6 = 888
987 x 9 + 5 = 8888
9876 x 9 + 4 = 88888
98765 x 9 + 3 = 888888
987654 x 9 + 2 = 8888888
9876543 x 9 + 1 = 88888888
98765432 x 9 + 0 = 888888888
Continue reading

Analisa Kandungan Lingin, Selulosa, dan Hemiselulosa dalam biomassa lignocellulosa

Banyak yang bertanya kepada saya bagaimana menganalisa kandungan lignin, selulosa (cellulosa), dan hemiselulosa (hemicellulosa) di dalam biomassa lignoselulosa. Ada banyak metode yang bisa digunakan, seperti metode dari TAPPI dan metode dari NERL. Namun, karena keterbatasan peralatan laboratorium di Indonesia, jadi tidak jarang metode ini sulit dilakukan atau kalau bisa dilakukan biayanya lumayan mahal.

Ada metode lama yang bisa digunakan dengan peralatan laboratorium yang relatif mudah di dapat dan lebih murah. Memang metode ini ada kelemahannya, namun setidaknya bisa digunakan untuk memprediksi kandungan lignin, selulosa, dan hemiselulosa. Metode ini dijelaskan oleh Datta (1981) yang dimodifikasi dari metode yang dijelaskan oleh Chesson (1978). Prinsip dasar dari metode ini adalah gravimetri, jadi berdasarkan berat biomassa yang hilang. Biomassa dihidolisis secara bertahap dengan menggunakan asam sulfat. Tahapa utama metode ini bisa dilihat di dalam gambar di bawah ini.
Continue reading

Resep Reagent DNS untuk Analisa Gula Pereduksi

Berikut ini resep reagent DNS untuk analisa gula pereduksi:

Campur dan larutkan:

  • Distilled water 1416 mL
  • 3,5 Dinitrosalicylic acid 10.6 g
  • Sodium hydroxide 19.8 g

Kemudian tambahkan:

  • Rochelle salts (sodium potassium tartrate) 306 g
  • Phenol (melt at 50oC) 7.6 mL
  • Sodium metabisulfite 8.3 g

Titrasi 3 mL sample dengan 0.1 N HCl dengan menggunakan phenolphthalein endpoint. Seharusnya membutuhkan 5-6 mL HCl. Tambahkan NaOH jika diperlukan (2 g = 1 mL 0.1 N HCL).

Referensi:

Miller GL: Use of dinitrosalicylic acid reagent for determination of reducing sugar. Anal Chem 1959, 1:426-428.
NERL – Measurement of Cellulase Activities, August 1996
IUPAC – Measurement of Cellulase Activities

Download literatur lain: Download Referensi

Buffer Na-Citrate pH 4.8

Resep buffer Na-Citrate pH 4.8

Larutan Stock buffer 1M

Citric acid monohydrate 210 g
DI water 750 mL
NaOH – tambahkan hingga mendekati pH 4.3 50 – 60 g

Larutkan semua bahan hingga terlarut semua, kemudian tambahkan hingga volumenya 1 L. Tambahkan NaOH jika perlu hingga pH buffer kurang lebih 4.5.
Pengenceran stock buffer dengan air hingga konsentrasi 50 mM, pH larutan seharusnya 4.8.

Pembuatan buffer lain: Buffer Phosphate, Acetate, Lactatate, Citrate

Chalmers Poster Exibition: Biological Pretreatment of Lignocellulosic Biomass with White-rot Fungi for Biofuel Production

Download document ini: Biological Pretreatment of Lignocellulosic Biomass

Knut Lundquist, salah satu ahli lignin di Chalmers


Saya dan Alm. Prof. Knut Lundquist (Foto by: Erna Astuti)


Artikel saya yang saya tulis dengan Prof. Knut sebelum beliau meninggal:
BIOLOGICAL PRETREATMENT OF LIGNOCELLULOSES WITH WHITE-ROT FUNGI AND ITS APPLICATIONS: A REVIEW


Orangnya sudah sangat sepuh, menurut temanku Linda Helström, umurnya sekitar 78 tahun. Rambutnya sudah putih semua, farfar alias sudah kakek-kakek. Namanya Prof. Knut Lundquist. Pak Knut sudah sebenarnya sudah pensiun, tetapi masih kerja di kantornya di level 4. Meskipun sudah berumur, Pak Knut masih sangat produktif. Beliau adalah salah satu ahli kimia organik, khususnya tentang lignin. Publikasi terbaru beliau diterbitkan di Bioresources tgl. 13 Februari 2011, judulnya: ”DIFFERENT TYPES OF PHENOLIC UNITS IN LIGNINS”.

Saya dikenalkan ke Pak Knut melalui Prof Claes Niklasson, ketika mengkoreksi draft tulisan saya. Katanya, kamu sebaiknya ketemu dengan Knut, salah satu ahli lignin. Saya hubungi Pak Knut via email, hari senin. Beliau langsung meresponnya. Besok paginya, hari selasa, ada orang tua datang ke ruangan saya, ternyata Pak Knut sendiri. Dia cuma ingin melihat saya dan tanya apakah saya bisa bahasa Swedia. Saya jawab: jag talar lite svenska, litle-litle sih I can….

Prof Knut Lundquist salah satu ahli lignin. Publikasinya sangat banyak, bisa di cek di Google Scholar: Knut Lundquist. Beliau pernah menulis dengan beberapa ahli lignin dan jamur pelapuk putih terkemuka. Seperti Brunow (Klik di sini). Brunow adalah salah satu ahli yang membuat model struktur lignin berdasarkan simulasi komputer pada tahun 1978. Luar biasa, ketika aku masih ingusan Beliau sudah membuat model struktur lignin dengan komputer. Pak Knut juga pernah menulis bersama dengan Prof. Kirk (klik di sini): Prof Kirk banyak meneliti tengan jamur pelapuk putih dan enzym ligninolityc.

Saya kirimkan draft paper saya via email. Hari rabu dia sudah datang lagi ke ruangan saya dengan sambil membawa draft saya yang sudah banyak coretannya. Dia bilang, ada beberapa bagian yang salah pemahaman. Kemudian dia memberiku beberapa literatur tentang lignin dan satu buku tentang kimia kayu. Hari kamis dia datang lagi dan menanyakan apakah saya ada waktu untuk diskusi tentan paper saya. Saya jawab: absolut, inga problem..,
Continue reading

Jamur Pelapuk Putih: Phanerochaete chrysosporium

Phanerochaete chrysosporium juga salah satu jamur pelapuk putih yang sangat banyak diteliti sejak 3 dekade yang lalu. Genom dari jamur ini juga sudah dipetakan (Martinez). Phanerochaete chrysosporium dideskripsikan oleh Hal Burdsall. Berikut ini beberapa gambar Phanerochaete chrysosporium dari website TomVolkFungi.net. Tom Volk adalah salah satu murid Hal Burdsall. Anda ingin mengetahui lebih banyak tentang jamur ini silahkan kontak ke Tom Volk.

Phanerochaete crysosporium

Phanerochaete crysosporium

Beberapa link literatur tentang jamur ini yang sangat menarik:
http://linkinghub.elsevier.com/retrieve/pii/0168644594900779
http://www.nature.com/nbt/journal/v22/n6/abs/nbt967.html
http://mmbr.asm.org/cgi/content/abstract/57/3/605
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/3322681


Artikel saya tentang pemanfaatan jamur pelapuk putih:
BIOLOGICAL PRETREATMENT OF LIGNOCELLULOSES WITH WHITE-ROT FUNGI AND ITS APPLICATIONS: A REVIEW