Pengomposan Limbah Kayu dengan Promi

limbah serutan kayu

Limbah serutan kayu

Limbah kayu seperti serbuk gergaji, sisa serutan kayu atau serpihan-serpihan kayu banyak dihasilkan dari pabrik-pabrik pengolahan kayu maupun produk jadi kayu. Kayu, apalagi kayu-kayu yang terkenal awet, tidak mudah dikomposkan. Rasio C/N kayu umumnya sangat tinggi, artinya kandungan N-nya sangat rendah atau C-nya sangat tinggi. Beberapa kayu yang terkenal awet, seperti kayu jati, lebih sulit lagi untuk dikomposkan.

Rasio C/N dari sampel limbah kayu yang saya analisa sebesar 359. Nilai ini besar sekali jika dibandingkan dengan rasio C/N dari tankos sawit yang hanya 60-an atau sampah yang kurang dari 40. Pengomposan limbah kayu tanpa perlakuan apa-apa bisa membutuhkan waktu yang sangat lama. Meskipun dengan penambahan aktivator pengomposan.

Pertama kali saya mencoba mengkomposkan limbah kayu ini hanya dengan aktivator pengomposan hasilnya sangat diluar harapan. Sampai tiga bulan, proses pengomposannya berjalan sangat lambat, atau boleh dikatakan tidak terkomposakan sama sekali. Kemudian kami mencoba mencari cara agar limbah kayu seperti ini bisa lebih cepat dikomposkan. Alhamdulillah, ada kemajuan proses pengomposan limbah kayu ini.

Berikut ini beberapa stategi yang kami lakukan untuk mengkomposkan limbah kayu dengan Promi.

1. Menambahkan bahan lain yang relatif lebih mudah dikomposkan pada limbah kayu tersebut. Kami menggunakan daun-daun atau seresah yang ditambahkan pada serutan kayu. Cara ini ternyata cukup efektif. Mikroba aktivator promi bisa tumbuh lebih dulu di daun-daunan ini.

2. Kadar air harus cukup. Kayu relatif sulit menyerap air. Jadi sebelum proses pengomposan harus dikondisikan agar kadar air di dalam bahan mencukupi untuk proses pengomposan. Kadar air yang dianjurkan kurang lebih 60%. Namun, proses penambahan air bisa lebih dari itu, apalagi untuk kayu-kayu yang sudah dikeringkan.
Continue reading

Pembuahan Mangga Podang di Luar Musim dengan Paclobutrazol

Informasi hormon paclobutrazol silahkan klik: Paclobutrazol atau kontak ke WA dan SMS ke nomor 082325489277

Inovasi Teknologi dan Diseminasi Pembuahan Mangga di Luar Musim di Jawa Timur dengan Paclobutrazol

Informasi hormon paclobutrazol silahkan klik: Paclobutrazol atau kontak ke WA dan SMS ke nomor 082325489277

INDUKSI PEMBUNGAAN DAN PEMBUAHAN DI LUAR MUSIM TANAMAN BUAH DENGAN PENGGUNAAN PACLOBUTRAZOL

Informasi hormon paclobutrazol silahkan klik: Paclobutrazol atau kontak ke WA dan SMS ke nomor 082325489277

Pengaturan Pembungaan Mangga Gadung 21 di Luar Musim dengan Paclobutrazol

Informasi hormon paclobutrazol silahkan klik: Paclobutrazol atau kontak ke WA dan SMS ke nomor 082325489277

Pak Supar; Tidak Sekolah, Jadi Petani Saja Bisa Kaya

Petani Kaya Lampung

Pak Supar di Kebun Sayurannya, Lampung

Laki-laki tua yang di sebelah kiri itu namanya Pak Supar. Pak Supar adalah contoh nyata bahwa profesi menjadi petani bisa jadi kaya raya. Tidak perlu sekolah tinggi-tinggi untuk jadi petani. Belajar sambil bekerja;’Learning by doing’. Setelah sekian tahun jadi petani, Pak Supar kini memiliki lahan (tanah, kebun dan sawah) yang luasnya puluhan ha, punya pabrik tapioko medern dengan pengering bahan bakar biogas, pengolahan jagung dan lahan pertanian yang subur.

Pak Supar lahir di Kediri, Jawa Timur. Masa kecilnya bandel dan tidak mau sekolah. Pak Supar kecil hanya mau sekolah selama 10 bulan di kelas 1 SD. Setelah itu nggak mau sekolah dan memilih untuk kerja kasar. Umur 15 tahun merantau ke Lampung, daerah bukaan transmigrasi baru yang masih rawan. Kerja serabutan apa saja, jadi kuli panggul singkong dan pindah-pindah dari satu kota ke kota lain di Lampung.

Badannya yang kecil membuatnya tidak cukup kuat dan tangkas untuk jadi kuli panggul. Mandor kuli dan teman-temannya tidak mau memakai tenaganya. Lalu dia belajar dan coba-coba untuk menjadi pedagang singkong saja, yang kerjanya menyetor singkong ke pabrik-pabrik tapioka di Lampung. Usahanya maju, dia dipercaya oleh engkoh-engkoh juragan pabrik tapioka. Sampai akhirnya dia punya beberapa truk untuk mengangkut singkong.

Pak Supar berteman baik dengan engkoh-engkoh juragan pabrik tapioka itu. Pak Supar memang tidak bisa membaca tulis, tapi bisa berhitung. Kalau uang tau lah. Tambah-tambahan tahu. Pak Supar banyak belajar dari Engkoh-engkoh itu. Belajar bagaimana cara orang-orang china berbisnis dan berdagang, termasuk belajar bagaimana mereka memanfaatkan pinjaman dari Bank.

Tahun 1997 terjadi krisis. Ekonomi memburuk dan banyak usaha yang tumbang, termasuk usaha pabrik tapioka. Pasokannya ke pabrik pun turun drastis. Banyak orang yang tidak punya kerja, mengganggur. Termasuk tetangga-tetangganya sendiri. Pak Supar merasa kasihan dan ingin membantu memberikan lapangan kerja untuk tetangga-tetangganya yang jadi penggangguran. Lalu dia memberanikan diri untuk membuat pabrik tapioka sendiri. Semuanya masih manual.

Petani Kaya Lampung

Berkunjung ke rumah pak Supar

Barokah dari Allah. Usahanya maju dan berkembang. Pak Supar mulai berani memajukan usahanya. Pak Supar mendapat pinjaman dari Bank. Karena dia tidak bisa baca tulis, orang bank-nya yang membantu dia mengisi semua formulir. Pokoknya dia hanya tandan tangan dan dapat pinjaman. Dengan uang itu dia mulai membangun pabriknya, sampai dia bisa membangun pabrik dengan nilai lebih dari Rp. 6 M.

Pak Supar juga mengambangkan usaha pertanian yang lain. Pak Supar menanam singkong sendiri, jagung, berternak sapi, menanam padi, sayuran, tomat, terong dan buah-buahan. Dia senang dan bahagia, terutama bisa memberikan lapangan kerja untuk tetangga dan saudara-saudaranya.

Bahkan Pak Supar salah satu pengusaha kecil yang berhasil memanfaatkan limbah dari pabri tapioka menjadi biogas. Kolam limbah biogasnya besar dan berukuran 40m x 70m. Metodenya covered lagoon. Penutup lagoonnya itu mengembung tinggi sekali, bahkan bisa dinaiki motor di atasnya. Energi dari biogas ini digunakan untuk mesin pengering pabrik tapioka, memasang dan kebutuhan lainnya.

Petani Kaya Lampung

Pabrik tapioka milik Pak Supar


Continue reading

Babad Tanah Jawi

Catatan tentang buku Babad Tanah Jawi.

Babad Tanah Jawi

Babad Tanah Jawi

Waktu kecil dulu saya kadang2 diajak Bapak nonton wayang kulit atau pagelaran ketoprak di alun2. Dulu ada acara ketoprak di Tvri Jogja yang sering saya lihat, yaitu ketroprak Gito-Gati. Jadi dikit2 saya tahu cetita2 babad tanah jawa.

Ketika membaca buku ini pikiran saya serasa kembali ke masa2 lalu. Cerita2 ketoprak itu seperti hadir kembali. Ceritanya Ario Penangsang, Joko Tingkir, Breh Wijaya, dan Kanjeng Sunan Gunung Jati.

Buku ini ditulis oleh orang Belanda W.L.Olthof, di Leiden tahun 1941 dalam bahasa jawa. Lalu diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Saya tidak tahu cerita ini asli atau campur aduk dengan cerita fiksi. Mungkin ada fakta2 sejarah yang dituliskan di sini, tapi sepertinya juga ada ‘bunga2’ fiksinya. Namun, Disitulah menariknya buku ini.

Ada keterkaitan antara sejarah2 kerajaan Hindu, Budha dan Islam di tanah Jawa, Sumatera sampai ke Champa dan China. Beberapa waktu yang lalu sempat ramai dengan adanya fakta sejarah koin jaman Majapahit yang bertuliskan arab/Islam. Mungkin juga ada benarnya. Di dalam buku ini disebutkan bahwa jaman Majapahit dulu sudah ada hubungan dengan kerajaan Champa yang sudah masuk Islam. Bahkan sunan2 jaman dulu datang dari Makkah ke Kerajaan Majapahit.

Menariknya di dalam buku ini banyak cerita2 tentang masuknya Islam di Nusantara, asmara, perselingkuhan dan pengkhianatan, intrik2 perebutan kekuasaan, cerita2 kesaktian tokoh2 jaman dulu, kesaktian Kanjeng Sunan Walisongo, Ki Ageng Selo, Aria Penangsang, Ki Ageng Pemanahan, Raden Patah, Kisahnya Joko Tingkir yang terkenal, dan kisah2 keturunan raja2 yang akan berkuasa di tanah jawa ini.

Sejak jaman dulu sebenarnya agama Islam dan politik (pemerintahan) tidak pernah dipisahkan dalam sejarah tanah jawa. Tokoh agama, Para Sunan, juga merupakan tokoh politik atau pimpinan politik kerajaan. Yang menjadi raja2 di tanah jawa punya garis keturunan dengan para Sunan.

Jarang saya tahan membaca buku sejarah dan cerita yang tebalnya sampai 800 halaman. Tidak ada gambarnya sama sekali. Isinya tulisan semua. Justru ‘gambar2’ itu muncul di dalam kepala.

Buku ini menjadi teman bacaan yang menarik, di sela-sela bacaan ‘keras’ sehari2. Menambah wawasan tentang sejarah dan budaya Islam di tanah Jawa ini. Andaikan saya bisa baca langsung yang berbahasa Jawa atau yang ditulis oleh orang jawa asli akan lebih menarik lagi.

Bioplastik dari Singkong

Pertanian-pertanian yang Menajubkan

Alternatif Pemakaian Botol Bekas untuk Tanaman