Category Archives: MyFamily

Sunset Pukul 22.45 Tengah Malam

Sunset di Gothenburg

Langit Godvadersgatan, Gothenburg, di sore hari ketika matahari terbenam (sunset)

Waktu sholat magrib ditandai ketika Sang Mentari mulai singgah ke peraduannya. Adalah saat Sang Mentari masih terlihat malu-malu di ufuk dan memancarkan warna jingga keemasan. Di desaku, yang tidak jauh dari garis katulistiwa, waktu magrib hampir selalu sama setiap harinya, yaitu antara pukul 17.30 – 18.30 WIB.

Saya mengalami ‘shock’ waktu sholat ketika tinggal di kota Gothenburg, Swedia. Waktu sholat yang berdasarkan posisi matahari ini tidak sama setiap harinya. Di kota yang lebih dekat ke kutup utara daripada katulistiwa ini, waktu terbit dan terbenamnya matahari berubah-ubah setiap hari. Di musim dingin, bulan Desember – Maret, Sang Surya malas bersinar. Hari lebih banyak gelapnya daripada terangnya. Gelap dan dingin……bbbrrrrr…..

Sedangkan di musim panas, bulan Juni-Agustus, Sang Surya sedang giat-giatnya menyinari bumi Skandinavia. Waktu siang lebih panjang daripada waktu malam. Di puncak musim panas, Sang Surya sudah ‘bangun’ pukul 2.30 pagi. Semburat warna merah terlihat di langit timur, tanda waktu sholat subuh. Pukul 5 pagi sudah terang benderang.

Udara menghangat dan orang-orang dengan riang menyambutnya. Wajah-wajah orang terlihat lebih cerah, senyum terkembang, dan menyapa ramah. Waktu siang sungguh panjang sekali. Sang Surya seperti tidak pernah lelah bersinar, menemani orang-orang yang bercanda riang dan berjemur di bawahnya. Lapangan sepakbola di seberang apartemen masih ramai hingga tengah malam.
Continue reading

Gajah Purba terbesar, Stegodon trigonochepalus, ditemukan di Pati Ayam

Fosil gajah purba

Fosil gajah purba di situs purbakala Pati Ayam, Kab. Kudus

Salah satu gajah purba terbesar, Stegodon trigonochepalus, ditemukan di pegunungan Pati Ayam, Kab. Kudus. Gajah purba ini bisa mencapai ukuran tinggi hingga 4 m dan panjang mencapai 12 m. Gajah Stegodon bahkan lebih besar daripada Mammoth yang ditemukan di daerah sekitar kutup.

Situs purbakala Pati Ayam terletak di sisi timur Kab. Kudus dan berbatasan dengan Kab. Pati. Tidak sulit menemukan situs pubakala ini. Dari jalan raya Pantura arah Kudus-Pati, kurang lebih 15 km dari Kota Kudus, terdapat baliho petunjuk arah Situs Purbakala Pati Ayam di kiri jalan. Jarak dari jalan raya hanya 500 m masuk wilayah desa Terban. Jalan desa ini masih sempit dan kondisinya rusak parah di beberapa ruasnya. Museum cagar budaya situs purbakala Pati Ayam berada di depan balai desa Terban. Museumnya menempati sebuah rumah kecil yang lebih mirip ruko daripada sebuah museum purbakala.

Konon fosil-fosil purba ini sudah ditemukan oleh warga desa Terban sejak awal tahun 1980-an. Mereka menemukan tulang-tulang yang sudah membatu dengan ukuran luar biasa. Warga desa menemukan ladang mereka yang berada di lereng-lereng pegunungan Pati Ayam. Menurut cerita nenek-moyang warga, konon di salah satu hutan di Pati Ayam ini juga tempat semedinya Baron Skeber.
Continue reading

Kuliner Khas Pati; Sego Gandul Gajah Mati & Soto Kemiri

Setiap daerah memiliki masakan khas yang bisa mengoyang lidah, termasuk Pati, kota kecil di pesisir utara Jawa Tengah. Pati memiliki kuliner khas yang tidak ditemukan di kota-kota lain, yaitu: Soto Kemiri dan Nasi Gandul Ds Gajah Mati.

Sego Gandul Gajah Mati

Sego Gandul Gajah Mati

Sego Gandul dari desa Gajah Mati, kuliner khas Pati

Namanya Sego Gandul, tapi jangan terkecoh dengan namanya. ‘Gandul’ dalam bahasa jawa artinya adalah buah pepaya, sedangkan ‘sego’ artinya adalah nasi. Namun sego gandul bukanlah nasi pepaya. Sego Gandul adalah nasi yang diberi masakan daging kuah.

Daging sapi yang telah dibubui dan dimasak tersedia di meja dengan berbagai pilihan, seperti empal, kulit, hati, lidah, paru, dan telur rebus. Daging-daging dan telur itu telah direbus dengan bumbu yang menurut saya seperti bumbu bacem. Pembeli memilih daging mana yang disukai. Daging pilihan itu akan dipotong-potong dengan gunting, diletakkan di atas nasi putih, diberi kecap manis, bawang merah goreng, dan sambel kalau suka pedas. Kuahnya adalah kuah santan yang sangat kental berwarna coklat kemerahan, seperti kuah gulai atau coto makasar. Kuah ini nikmat dengan rasa kaldu sapi yang dibuat dengan merebus lemak, tulang, tulang kaki atau kikil. Kuah kental itu diguyurkan ke atas nasi dan potongan daging tadi.

Piring tempat makannya diberi lapisan selembar daun pisang. Daun pisang ini memberi citarasa yang khas pada sego gandul. Makannya bisa menggunakan sendok logam atau sendok daun pisang alias ‘suru’. Daun pisang disobek beberapa centi lebarnya, kemudian dilipat dan ditekuk sedemikian rupa sehingga bisa untuk menyendok nasi.

Sego Gandul memiliki citarasa asli Jawa Tengah yang terkenal gurih dan manis. Kuahnya yang kental menambah kuat rasa dagingnya. Sego gandul sangat nikmat dimakan dalam kondisi panas dan dipadu dengan tempe goreng atau krupuk.

Warung sego gandul biasanya diberi embel-embel tulisan ‘Asli Gajah Mati’. Memang sego gandul ini berasal dari Ds Gajah Mati, salah satu desa di sisi timur kota Pati yang dekat dengan terminal bis. Di pingir-pingir jalan desa ini memang banyak dijumpai warung sego gandul. Kini warung sego gandung tidak hanya ada di desa Gajah Mati. Warung sego gandul hampir bisa ditemui di semua ruas jalan kota Pati, terutama ruas jalan utama. Jika Anda kebetulan sedang lewat kota Pati via jalur pantura, rasanya kurang afdhol jika tidak mampir makan sego gandul.
Continue reading

Alhamdulillah, akhirnya kami punya rumah sendiri

Royan dan Ummi

Royan dan Umminya di depan rumah kontrakan pertama kami

Sebagai karyawan honorer waktu itu gaji saya masih sangat kecil. Uang gaji saya hanya cukup untuk makan dan bayar kontrakan saja. Saya bekerja sambil melanjutkan kuliah S2 di IPB Bogor. Meskipun gaji saya pas-pasan, saya memberanikan diri untuk segera memenuhi separo agama; menikah. Dihitung pakai calculator apa pun, uang gaji saya tidak pernah cukup untuk menghidupi anak orang. Saya mengakhiri masa lajang dengan modal 1% keberanian dan 99% nekad. Saya percaya rizqi Allah yang mengatur. Alhamdulillah, meskipun rizqi pas-pasan, saya dan istri tidak pernah sampai kelaparan.

Setelah menikah kami mengontrak rumah petak berukuran kira-kira 6 x 6 m terpotong. Rumah itu berada paling pojok, dibangun di atas bekas empang kecil, dan bentuk tanahnya miring seperti trapesium. Di rumah itu hanya ada satu kamar tidur, ruang tamu, dan dapur yang menyatu dengan kamar mandi. Di samping rumah masih ada sedikit kolam ikan yang disisakan dan tepat di teras rumah masih ada lubang sumurnya. Meskipun kami tinggal di rumah yang boleh dibilang RSSSS (Rumah Sangat-Sangat Sederhana Sekali), kami tinggal dengan tentram, senang, dan bahagia. Di rumah mungil ini, alhadulillah, setahun kemudian anak pertama kami lahir; Arroyan.

Untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang semakin meningkat, selain kerja honorer, saya mencoba untuk berusaha dan berkerja apa saja. Menjelang hari raya qurban biasanya saya berjualan hewan qurban domba dan sapi. Penjualan hewan qurban cukup laris, omzetnya pernah mencapai 210 ekor domba plus 10 ekor sapi. Sampai-sampai teman-teman saya menjuluki saya JURKAM (Juragan Kambing). Saya juga pernah berjualan komputer bekas ex luar negeri. Dari usaha kecil-kecilan itu Allah memberikan rizqi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Saya masih bisa bershodaqoh dan menambung dari sisa rizqi yang ada. Alhamdulillah.
Continue reading

Yusuf Berenang

Berkunjung ke Rumah Gösta yang Seperti Museum

This slideshow requires JavaScript.

Sudah lama sebenarnya saya ingin sekali melihat-lihat bagian dalam rumah asli Swedia. Selama ini saya hanya terkagum-kagum saja ketika melihat dari luar. Kebetulan ada orang Indonesia yang menikah dengan orang Swedia. Kami jadi punya kesempatan untuk melihat-lihat bagian dalam rumah asli Swedia.

Namanya Gösta (baya Yosta), seorang mantan pelaut yang menikah dengan Bu Ruth yang asli solo. Gösta dari keluarga pelaut, sebagian besar hidupnya dihabiskan di atas kapal di lautan lepas. Ibaratnya di darat dia hanya numpang lahir saja. Meskipun begitu, Gösta menempuh pendidikan sampai S3 (gelarnya PhD) di bidang antropologi. Bahkan dia sempat menulis beberapa buku tentang antropologi. Namun, panggilan hidupnya adalah menjadi pelaut. Akhirnya dia mengikuti jejak leluhurnya menjadi seorang kapten kapal.
Continue reading

Portrait of Keke

Portrait of keke
Lebaran tahun ini seperti lebaran tahun-tahun sebelumnya. Seluruh anggota keluarga berkumpul di rumah eyang, termasuk kami sekeluarga, saudara ipar, sepupu, dan keponakan-keponakan. Saya yang memang suka motrat-motret kebagian tugas mendokumentasikan acara keluarga. Termasuk membuat foto keluarga besar, keluarga saudara-saudara, dan juga portrait orang-per orang.

Belasan wajah sudah saya foto satu per satu. Ada satu keponakanku yang memiliki ‘wajah fotogenik’. Saudara saya ini memiliki anak dengan nama panggilan yang cukup unik. Anak terbesar panggilannya KAKA, adiknya yang nomor dua KIKI, dan yang nomor ketiga panggilannya KEKE. Entah kalau ada adiknya lagi mungkin panggilannya KUKU….:-).

KEKE, anak perempuan, baru kelas 5 SD dan bersekolah di kecamatan yang suka disebut oleh Si Tukul Arwana: RANDU BLATUNG. Nama desa yang sedikit unik dan lucu. Keke sedikit pemalu, perlu waktu bagi saya untuk mendapatkan foto ekspresi yang menarik. Ketika acara foto-foto sudah selesai, saya lihat dia tampak gembira dan ceria sekali. Tidak saya sia-siakan moment ini. Saya set kamera saya dan saya minta dia untuk berpose sedikit. Saya foto dengan jarak cukup dekat, cuma sekitar 30 sentian dari depannya. Saya foto berkali-kali sampai saya dapatkan ekspresinya yang paling menarik.

Continue reading

Indra Keenam Rizki

Rizki, anak dengan indra keenam

Rizki, anak dengan indra keenam.

Namanya Rizki, umurnya baru lima tahun. Rizki tak ubahnya seperti anak-anak seumurnya yang suka bermain dan masih sering manja dengan orang tuanya. Namun, Rizki memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh anak-anak lain seusianya. Rizki memiliki ‘indra keenam’ yang bisa merasakan dan melihat mahluk-mahluk lain yang tidak ‘kasat mata’.

‘Keistimewaan’ Rizki ini pertama kali disadari oleh orang tuanya ketika Rizki berumur sekitar dua tahun. Pada saat itu Rizki diajak ke kamar Bu Dhenya di rumah neneknya. Rumah itu cukup besar dengan beberapa kamar. Perlu diketahui, rumah ini tepat di belakang rumah salah satu pasangan para(tidak)normal terkenal di negeri ini yang menjadi anggota DPR/MPR. Sang para(tidak)normal ini memiliki rumah yang besar dan sebuah padepokkan. Kabarnya sang para(tidak)normal ini memiliki ‘kesaktian’ dan memelihara banyak ‘dedemit’. (Wallahu a’lam kebenarannya). Nah, ketika Rizki memasuki kamar itu tiba-tiba dia menangis meraung-raung. Sebuah tangisan yang tidak sewajarnya. Ketika dia sudah mulai tenang, Rizki mengatakan kalau ada kakek-kakek tua berpakaian hitam yang duduk di salah satu ujung kamar itu, karena itu dia takut dan menangis.
Continue reading

Gelandangan di jalan ‘Ngarakkan’

gelndangan magelang

gelandangan magelang

Malam itu saya mengantar umminya anak-anak ke dokter. Istri saya sudah beberapa hari batuk dan belum juga reda meskipun sudah meminum obat batuk. Dalam perjalanan kami melihat seorang gelandangan yang sedang duduk di depan sebuah ruko yang sudah tutup. Pakaiannya compang-camping, sudah robek di sana-sini. Rambutnya pun panjang dan gimbal karena tidak pernah mandi. Kami ingat gelandangan ini, beberapa hari yang lalu kami juga melihatnya di sisi jalan yang lain. Malam-malam dia berjalan di kegelapan, kemudian berhenti di sebuah tong sampah dan mengais-ngais isinya. Mungkin dia lapar lalu mencari-cari sisa makanan yang bisa untuk mengisi perutnya.

Kali ini dia duduk di trotoar yang sedikit gelap. Cahaya remang-remang dari arah depan membuat tubuhnya terlihat seperti siluet. Dia duduk termenung dan sekali-kali mengais-ngais isi keranjangnya. Entah apa yang dia cari.
‘Kasihan dia, Bi!’, celetuk istri saya.
‘Iya’, jawab saya lirih.
Continue reading

Informasi Tempat Membeli Kue kering dan Cemilan Grosir Murah untuk Lebaran di Magelang Jawa Tengah

Menyambut hari raya lebaran biasanya orang menyediakan banyak makanan kue kering dan cemilan untuk suguhan tamu. Di toko dan supermarket memang banyak menyediakan kue-kue kering untuk lebaran. Namun harganya cukup tinggi. Kalau Anda membutuhkan banyak kue kering untuk persediaan lebaran alangkah baiknya jika membeli di toko-toko grosir. Harganya cukup miring dan kualitasnya tidak kalah dengan kualitas kue yang dijual di supermarket.

Ada beberapa tempat penjualan kue kering grosir yang harganya cukup murah. Pertama adalah di Toko Aneka yang ada di sablongan Magelang. Toko ini cukup terkenal di kota Magelang. Letaknya di dekat KSD sebelum pasar. Di toko ini Anda akan melihat banyak sekali kaleng dan stoples kue-kue kering yang bermacam-macam dengan harga relatif murah.

Grosir kue kering dan cemilan magelang jawa tengah

Grosir kue kering dan cemilan di Magelang jawa tengah


Continue reading