Category Archives: MyStories

Kenapa kita mesti membaca doa ketika masuk WC atau toilet

Dalam agama Islam disunnahkan untuk selalu berdoa ketika akan melakukan semua aktifitas. Minimal membaca basmallah. Termasuk ketika kita akan masuk WC atau toliet untuk membuang hajat kecil atau hajat besar. Kenapa…??? Temen saya yang seorang indigo membuat saya tersadar kenapa kita mesti selalu membaca doa ketika masuk WC.

Teman saya ini, namanya Pak Gunawan, sudah sejak kecil bisa melihat ‘mahluk lain’. Awalnya beliau tidak sadar akan kemampuannya ini. Beliau mengira mereka adalah orang2 biasa. Mereka diajak ngobrol, anehnya hanya dia sendiri yang melihat ‘orang2 ini’. Lama2 beliau bisa melihat mahluk2 yang aneh2. Barulah, dia sadar bahwa ‘mahluk2 ini’ adalah jin2 dan syaiton2, salah satu mahluk ciptaan Allah yang ada di dunia ini. Katanya, di dunia ini ada banyak sekali jin dan mereka ada di mana2. Bentuknya bermacam2. Patung2 berhala-berhala yang sering dipahat dengan batu atau kayu, ada wujud aslinya dalam bentuk jin.

Nah….. salah satu tempat favorite bagi kaum jin ini adalah WC atau toilet atau tempat manusia buang hajat dan kotoran. Jin atau syaiton ini adalah mahluk ‘kotor’ dan suka yang kotor-kotor. Karena itu tidaklah mengherankan kalau mereka sangat menyukai WC dan toilet. Ketika kami menginap di sebuah hotel yang sudah tua dan sepi, toiletnya terasa gelap dan ‘wingit’, saay pergi ke toilet untuk buang air kecil. Keluar dari toilet, dia tanya: “Bagiaman suasana di toilet, Pak? Serem nggak?”

“Memang terasa agak lain sih, tapi saya tidak lihat2 apa2,” kata saya.

“Ada banyak sekali tuh, Pak, di dalam sana.”

“Hah…. beneran, Pak?”

“Iya…!”

“Ada nenek-nenek yang di langit-langit…!”

Lalu Beliau menjelaskan apa2 saja yang tinggal di toilet. Beliau menjelaskan kalau mahluk2 itu memang suka tinggal di tempat kotor dan bau. Semakin kotor dan semakin mau semakin disukai oleh jin. Apalagi sudah lama dan jarang dipakai.

Syaitan memang pekerjaannya mengganggu manusia. Orang2 yang masuk WC akan diganggu oleh jin2 ini. Kalau kita bukan pakaian dan terbuka aurot kita, jin2 ini akan bisa melihatnya juga. Orang normal kalau terlihat aurotnya pasti akan malu dan akan menutupi aurotnya. Kebetulan yang melihat adalah mahluk lain yang ‘tidak terlihat’, kita tidak sadar dan biasa2 saja. Kalau kita tahu, pastilah kita malu.

Nah, salah satu cara untuk memberi hijab atau tabir agar jin tidak bisa melihat aurot kita. Saya mendengar dari Ustad saya, bahwa cara untuk memberi hijab itu dengan membaca doa, doa masuk WC. Doa ini juga menjadi pelindung dari gangguan jin2 syaiton.

Saya semakin tersadar dan selalu berusaha berdoa setiap akan masuk WC, toilet dan tempat2 semacamnya. Agar terhindar dari gangguan jin penghuni toilet.

Bacaan doa masuk dan keluar WC adalah sebagai berikut:

Doa masuk wc

Jin-Jin Pemakan Sesaji

Di masyarakat kita masih ada yang sering memberikan sesajian – atau orang jawa bilang ‘sajen’. Sesaji ini bisa berupa bunga2, wangi2-an, membakar kemenyan, makanan, buah2an, minuman kopi atau teh. Ternyata memang makanan2 sesaji ini benar2 ‘dimakan’ oleh jin2 itu.

Ini masih cerita teman saya yang indigo dan bisa melihat mahluk ‘astral’. Beliau menceritakan tentang jin2 yang suka memakan sesaji ini. Kalau ada sesaji, mahluk2 ini akan segera mendatanginya. Wujudnya mirip kera, tangannya lebih panjang daripada kakinya. Kukunya panjang2 dan berbulu lebat. Tapi ekornya pendek. Di kepalanya ada dua tanduk kecil. Mahluk ini meloncat2 seperti kera.

Jin ini makan dengan lahab. Sesaji ini dicakar2 dan dimakannya semua. Apa saja dimasukkan ke dalam mulutnya. Semuanya bisa masuk. Kalau sesajinya banyak, mahluk ini akan loncat dari satu sejaji ke sesaji yang lain. Setelah habis dia akan pergi.

Ternyata, mahluk ini datang ke jin2 lain yang lebih besar dan lebih menyeramkan. Misalnya gendruwo atau raksasa yang besar dan mengerikan. Mahluk ini memutahkan apa yang sudah mereka makan untuk dimakan oleh jin2 yang lebih besar ini. Dimutahkan utuh.

Teman saya ini membuat ujicoba sendiri. Makanan yang diberikan untuk sesaji dan dimakak jin, maka bobotnya akan berkurang meski hanya sedikit. Makanan2 yang sudah dimakan jin akan kehilangan ‘barokah-nya’. Kita, orang biasa, melihatnya seperti tidak ada perubahan apa2 pada makanan ini. Namun, hakekatnya makanan ini sudah tidak ada barokahnya lagi. Karena itu kita sebaiknya tidak memakan makanan2 sesaji atau makanan yang memang diperuntukan untuk jin. Janganlah kita makan makanan sisa jin.

Apalagi kita yang memberikan sesaji. Sesaji adalah salah satu bentuk pejembahan kepada selain Allah. Itu adalah perbuatan syirik dan salah satu dosa besar. Kadang, mungkin, orang menganggap remeh perbuatan ini, padahal dosanya ‘sundul langit’. Jangan lah sampai terucap pada kita kalau kita memberikan, makanan meskipun kecil, kepada jin dan syaitan. Karena hal itu menjadi jalan bagi jin dan syaitan untuk merasuki kita dan mengganggu kita.

Mitos Mata Air untuk Awet Muda dan Cantik

Di banyak tempat sering ada kepercayaan dan mitos yang mengatakan kalau air dari mata air atau sedang tertentu bisa menyebabkan awet muda. Orang yang mandi dan cuci muka di tempat itu, dipercayai akan terlihat awet muda, lebih cantik dan lebih ganteng. Silahkan dituliskan di komentar kalau di tempat kalian ada kepercayaan semacam ini.

Biasanya tempat2 semacam ini tekenal angker dan ‘wingit’. Tempat di mana banyak hantu dan jin-nya. Banyak orang yang ‘ngalap berkah’, bersemedi dan memberikan sesajen. Benar tidak…??????

Di hari-hari dan bulan-bulan tertentu, tempat-tempat semacam ini biasanya ramai dikunjungi orang. Bahkan banyak yang rela mengantri dan rela berdesak-desakan hanya untuk bisa ‘terlihat awet muda’.

Masih menjutkan cerita teman saya yang indigo itu. Beliau pernah datang di suatu tempat wisata yang terkenal karena airnya bisa menyebabkan awet mudah dan cantik/ganteng.

“Tahu tidak, Pak, apa yang saya lihat di tempat itu..????” Katanya mengawali pembicaraan.

“Tempat itu adalah tempat berkumpulnya para jin. Mereka buang air di situ, mereka ‘pub’ di situ. ‘E O’ di situ. Bahkan mereka ber-jima’ di situ. Itu tempat sejorok2-nya bagi bangsa jin.”

“Airnya itu tidak bening seperti yang kita lihat, Pak…”

“Air itu sampai berwarna putih, karena saking kotornya kena kotoran2 jin itu.”

“Jijik sekali pokoknya lah….”

“Mereka mandi, cuci muka …. hiiiii…. jijik pokoknya lah…”

Jadi, bayangkan saja kita cuci muka dengan air comberan yang super kotor. Muka kita dibaluri dengan kotoran-kotoran jin yang bermacam-macam jadi satu. Lalu kita senyum-senyum penuh percaya diri karena merasa terlihat lebih muda. Coba bayangkan….!!!!

Terlihat cantik atau muda hanyalah sihir bangsa jin saja. Mereka memberi tabir dan mengelabui mata manusia agar terlihat lebih muda dan cantik. Padahal hakekatnya mereka kotor dan menjijikkan sekali. Mereka sudah ditipu oleh jin syaiton.

Naudzubillahi mindzalik.

Karena itu, janganlah kita percaya dengan mitos2 yang tidak jelas. Apalagi mitos2 yang melibatkan jin dan syaiton. Percaya dengan ‘kekuatan’ air yang bisa membuat orang awet muda dan terlihat cantik adalah perbuatan syirik. Itu adalah tipu daya syaiton untuk menjerumuskan manusia dalam kesesatan. Cara itu menjadi jalan agar jin bisa merasuki dan mengganggu kita.

Kisah Nyata LGBT; Kawan Sendiri

Cerita ini adalah kisah nyata yang saya tahu sendiri. Temen-temen saya masa kecil, tetangga dan temen SMA sebagian tahu tentang kisah ini. Kisah tentang temen2 kita yang lahir normal, tetapi kemudian mengindap LGBT.

Kisahnya Isro’i

Namanya persis banget dengan nama saya. Dia adalah karyawan Bapak yang membantu berjualan di warung. Ada empat orang karyawan Bapak; 2 laki2 dan 2 perempuan. Waktu itu saya masih SD, kalau tidak salah kelas 3-4 SD. Dua orang laki2 ini namanya Pandhil dan Isro’i. Mereka lama kerja dengan Bapak, tidur di rumah kami dan sudah seperti saudara sendiri. Saya tahu banget seyakin-yakin yakinnya kalau Isroi’i adalah lekaki normal tulen. Orientasi sex-nya normal. Suka pada perempuan dan suka mengoda karyawan kami yang wanita. Kalau libur sekolah, kadang2 saya ikut pulang ke desanya di Kaliangkrik.

Karena suatu sebab, Isro’i keluar kerja dan merantau ke Jakarta. Kabarnya dia bekerja di Jakarta selama beberapa bulan atau setahun. Saya tidak tahu persis di mana dan kerja apa. Kira2 setahun lebih Isro’i datang kembali ke rumah untuk minta kerja lagi. Bapak mengijinkan dia kerja di warung kami lagi.

Tapi kini Isro’i bukan seperti Isro’i yang dulu lagi. Bicaranya ‘kemayu’, bibirnya kalau ngomong mencang-mencong, dan kalai bicara badannya tidak diam. Sama Bapak dan tetangga, Isroi’i sering digodain karena ‘kemayuannya’.

Kalau dia tanya ke pelanggan, posisinya sok akrab dan tangannya sambil ‘jowal-jawil’ ke pelanggan. Apalagi kalau yang datang laki-laki ganteng atau orang2 Cina yang putih2, Isro’i semangat sekali. Kalau jalan kadang2 dengan sengaja dia menyenggol sedikit pelanggan2 yang duduk di bangku.

Perangainya sedikit ‘njijikki’, ‘ngilani’ tapi lucu. Isro’i sering digodain oleh pelanggan2 warung kami. Isro’i pun tidak marah, malah senang dan semakin ‘menthel’.

Ternyata Isroi’i AC DC, meski dia terlihat ‘kemayu’ dan suka laki2 ganteng. Isro’i juga masih mau dengan gadis2. Isro’i juga punya pacar. Setelah sekian lama kerja di kami, Isroi’i keluar dan menikah dengan pacarnya. Dia kembali ke desa dan menjadi petani. Isro’i punya anak. Sesekali kalau ke kota Isro’i mampir ke rumah.

Saya sudah lama sekali tidak bertemu dengannya. Terakhir ketemu Isro’i sudah terlihat tua dan tidak ‘sementhel’ dulu lagi.

Alhamdulillah

Kisahnya Si Bujangan

Waktu saya kecil, banyak anak2 yang seumuran dengan saya. Sebut saja; Bambang, Sholihin, Juju, Hari, Agus, Gotri, Wawan dan beberapa temen yang saya lupa namanya. Ada satu temen lagi namanya sebut saja ‘Si Bujangan’. Orang tuanya cukup berada dan mempunyai truk dan televisi. Sekampung hanya dia yang punya tipi. Kalau malam kami, tetanga2, nonton tipi dengan cara mengintip dari jendela nako. Kita nonton dari luar. Acaranya Aneka Safari, Dunia dalam Berita. Kalau hari minggu ada Si Unyil dan Pak Tino Sidin.

Si Bujangan seumur dengan saya. Anaknya pintar. Jadi kami sering main bareng. Ketika SMA kami masuk SMASA Mgl meski tidak sekelas. Waktu itu Si Bujangan punya motor bebek Honda 70 warna merah. Kalau minggu kita boncengan berdua main ke Kopeng, Sawangan, Curug Silawe, Curug Sekar Langit dan objek wisata seputaran Megelang. Akrab banget lah kita.

Saya yakin seyakin-yakinnya kalau sohib saya ini laki2 normal tulen. Tidak ada tanda2 dia LGBT. Di kampung saya ada juga yang seperti itu, kebetulan namanya sama. Tapi Si Bujangan normal.

Kelas dua SMA dia ke jurusan A3. Dan dia punya teman karib baru. Nama pangggilannya sama persis seperti nama sohib saya ini. Rumahnya di desa Nambangan. Kami jadi jarang main bareng lagi. Saking akrabnya sohib saya dan teman barunya ini sering menginap di rumahnya Si Bujangan. Kami melihatnya mereka sahabat karib sekali.

Si Bujangan kuliah di UGM dan saya di Unjedir alias UNSOED. Kami jadi sangat jarang ketemu. Ketika pulang ke rumah, teman di kampung memberi tahu kalau Si Bujangan sudah berubah. Desas-desus di kampung, persahabatan si Bujangan bukan persahabatan biasa dan normal seperti kami dulu. Orang tuanya dan keluarganya mengetahui ‘kisah kasih haram’ mereka. Akhirnya keluarganya mengusir kekasihnya itu dan melarang mereka bertemu. Bahkan si Bujangan di kurung di rumahnya. Meski demikian mereka tetap menjalin hubungan. Orang tuanya semakin jengkel, Si Bukangan diasingkan ke Jakarta.

‘Penyakit’ Si Bujangan semakin parah. Kalau menurut saya dia mengalami depresi berat. Ketika saya coba menenggok dia atas saran kakaknya. Dia tidak kenal saya lagi. Aneh.

Proteksi keras orang tuanya dan keluarganya tidak bisa menyembuhkannya justru membuat lebih parah dan ‘komplikasi’ sampai sekarang.

Terus terang, kami; temen2nya waktu kecil ikut sedih. Sedih bercampur jengkel dan marah. Tertama pada temen Kelas 2 Smansa-nya yang sudah menulari sahabat kami yang dulu normal menjadi ‘tidak normal’ lagi.

Apakah kalian, temen2 FB, mau dan rela jika ada saudara kita, temwn kita, sahabat kita, karib kita yang menjadi LGBT?????

Kisah “Si Babi Ganas”

(Aku pingin cerita tentang temen yang satu ini), tapi lain kali saja.

Dari ketiga temenku di atas, aku termasuk yang menyakini kalau LGBT itu semacam penyakit mental yang membuat orang normal menjadi ‘melenceng’ dari kodratnya. Dan aku juga yakin jika mereka ini sebenarnya bisa disembuhkan.

Kebiasaan Mengunyah Pinang dan Sirih Masyarakat Papua

Ketika saya turun dari pesawan di Bandara Mozes Kilangin, Timika Papua, saya melihat satpam dan beberapa petugas bandara yang orang asli Papua mengunyah sesuatu. Begitu juga ketika saya keluar dari Bandara, saya melihat beberapa orang asli Papua yang mengunyah sesuatu. Kemudian saya tahu bahwa orang-orang Papua ini mengunyah buah pinang dan kapur sirih. Mirip kebiasaan yang dilakukan oleh nenek-nenek dan orang tua di Jawa jaman dulu.

Ternyata kebiasaan ini adalah kebiasaan yang sangat umum dilakukan oleh masyarakat asli Papua. Kebetulan saya jalan-jalan di pasar Timika, saya melihat banyak sekali pedagang yang menjual buah pinang. Buah pinangnya disusun berkelompok di atas meja. Ada juga kapur sirih yang dibungkus dengan plastik. Yang menarik adalah orang Papua tidak menggunakan daun sirih sebagai campuran buah pinang yang dikunyah, tetapi menggunakan bunga sirih yang berbentuk panjang-panjang.

Saya minta ijin untuk merekam video Bapak-bapak ini yang sedang mengunyah buah pinang.

Suntik Vaksin Meningitis di KKP Soekarno Hatta

suntuk vaksin meningitis KKP Soeta haji umroh

Kartu bukti sudah disuntuk vaksin meningitis di KKP Bandara Soekarno Hatta.

Meningitis adalah penyakit radang selaput otak atau membram pelindung syaraf pusat. Penyakit yang sangat berbahaya. Untuk melindungi tubuh dari serangan penyakit ini perlu disuntik vaksin meningitis. Terutama untuk masyarakat yang ingin berangkat haji dan umroh. Salah satu klinik yang melayani suntik vaksin meningitis adalah Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Soekarno Hatta,

Vaksin ini diwajibkan oleh pemerintah Saudi sejak tahun 2002 bagi jamaah haji dan umroh dari seluruh dunia, termasuk Indonesia. Calon jamaah haji dan umroh sangat banyak di Indonesia, permintaan suktik vaksin ini pun sangat banyak. Tidak heran kalau sampai mengantri lama untuk vaksin meningitis.

Salah satu klinik yang melayani suntik vaksin ini adalah Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Bandara Soekarno Hatta. Lokasinya ada di komplek perkantoran Bandara Soekarno Hatta, Tangerang Jakarta. Jika Anda ingin suntik vaksin di sini, ada beberapa tips yang perlu diperhatikan.

suntuk vaksin meningitis KKP Soeta haji umroh

Kantor Kesehatan Pelabuhan Bandara Soekarno Hatta yang melayani suntik vaksin meningitis untuk calon jamaah haji dan umroh.


Continue reading

Daun Gatal; Obat Tradisional Papua

daun gatal obat tradisional papua

Daun gatal (Laportea ducumana), salah satu obat tradisional papua.


Papua terkenal dengan obat-obatan tradisional yang diambil dari hutah. Beberapa yang sudah terkenal adalah buah merah dan sarang semut. Ada satu lagi obat tradisional Papua yang unik, yaitu daun gatal (Laportea ducumana). Seperti namanya, daun ini menyebabkan gatal-gatal pada kulit, tetapi setelah itu badan akan terasa lebih enak dan nyaman.

Bentuk Daun Gatal (Laportea ducumana)

Saya kebetulan menemukan daun ini ketika sedang jalan-jalan di pasar Timika. Ada penjual warga asli Papua yang menjual daun unik. Saya tanya pada ibu penjualnya:
“Apa ini, mama?”
“Ini daun gatal.”
“Untuk apa daun gatal ini?”
Beberapa mama-mama di sekitar situ menjelaskan bagaimana menggunakan daun ini dan manfaatnya. Katanya daun ini bisa untuk menyegarkan badan, mengobati masuk angin dan pegal-pegal.

Saya pun tertarik untuk mencoba khasiat daun ini.

Guide yang mengantarkan saya menggatakan kalau daun ini sangat gatal dan perih sekali. Kalau tidak kuat sebaiknya jangan mencobanya.

Daun ini beruukuran cukup besar. Panjangnya sekitar 20 cm dan lebarnya 15 cm. Ujung daun meruncing dan bagian pangkalnya membulat. Warnanya daun hijau tua. Namun di bagian tengahnya terdapat pola warna daun yang lebih muda. Permukaan daun bagian atas dan bawah tidak rata dan berbulu-bulu kecil. Bulu-bulu ini seperti jarum kecil yang akan menempel pada kulit yang terkenal daun ini.


Continue reading

Tidur Sambil Berdiri di Commuterline

tidur berdiri

Orang tidur umumnya dengan cara berbaring. Jika tidak merasakan sendiri atau tidak melihat sendiri, mustahil orang bisa tidur dengan cara berdiri. Jika Anda ingin mencoba sensasi tidur sambil berdiri, saya akan beritahu bagaimana caranya.

Pengalaman ini saya alami ketika naik commuterline jurusan Jakarta – Bogor sore selepas jam kerja. Jarang sekali saya kerja di Jakarta, tapi seminggu ini memaksa saya untuk berangkat dini hari dan pulang sore hari ke Jakarta. Saya lebih suka pergi PP Jakarta-Bogor dengan memanfaatkan kereta listrik atau Commuterline. Biasanya saya sudah kembali ke Bogor sebelum pukul 3 sore, untuk menghindari orang-orang yang pulang dari kerjaan mereka. Namun, hari ini terpaksa saya pulang sampai sore. Saya naik kereta dari Stasiun Sudirman dan turun transit di Stasiun Manggarai. Dari Stasiun ini naik dari peron 6 kereta yang ke arah Bogor.

Jam-jam ini adalah jam orang pulang kerja. Stasiun Manggarai sudah penuh dengan orang, apalagi yang jurusan ke Bogor. Di sepanjang peron orang sudah bergerombol menunggu datangnya kereta. Begitu kereta datang, orang-orang berebut naik ke kereta, berjubel-jubel dan saling dorong. Semua orang ingin naik ke kereta meski kereta sudah sangat penuh. Saya ikut arus saja, terdorong sendiri masuk ke kereta.

Di dalam kereta tentu saja sudah tidak kebagian tempat duduk. Penumpang berdiri sambil berjubel-jubel. Rasanya tidak ada tempat lowong di kereta tanpa orang yan berdiri. Dari stasiun Manggarai ke Bogor melewati beberapa stasiun. Di stasiun-stasiun yang dilewati lebih banyak orang yang naik daripada orang yang turun. Gerbong kereta semakin penuh sesak. Berdiri berdempet-dempet. Termasuk saya. Meski tidak dapat pegangan tangan, tidak akan bisa jatuh. Berdiri saja tegak.

Jarak Jakarta-Bogor kurang lebih 1 sampai 1.5 jam perjalanan. Badan capek sekali dan mata sudah mulai sayu. Meski bedesak-desakan, udara di kereta lumayan dingin. Kereta ber-AC dan dilengkapi kipas angin yang cukup kecang. Angin membuat saya semakin mengantuk. Saya lihat orang-orang yang di dalam kereta pun juga banyak yang tertunduk mengantuk.

Goncangan kereta seperti ayunan nina-bobo. Tak terasa mata semakin berat dan tidak tertahankan rasa mengantuknya. Mata yang semakin berat membuat penumpang tertidur sambil berdiri. Meski tidurnya tidak benar-benar pulas, orang-orang tetap bisa tertidur meski cuma sekejab.

Jika Anda ingin merasakan sensasi tidur sambil berdiri, silahkan coba naik kereta commuterline hari senin atau jum’at pukul 5 sore dari stasiun Manggarai. Rasakan sensasinya.

Pak Supar; Tidak Sekolah, Jadi Petani Saja Bisa Kaya

Petani Kaya Lampung

Pak Supar di Kebun Sayurannya, Lampung

Laki-laki tua yang di sebelah kiri itu namanya Pak Supar. Pak Supar adalah contoh nyata bahwa profesi menjadi petani bisa jadi kaya raya. Tidak perlu sekolah tinggi-tinggi untuk jadi petani. Belajar sambil bekerja;’Learning by doing’. Setelah sekian tahun jadi petani, Pak Supar kini memiliki lahan (tanah, kebun dan sawah) yang luasnya puluhan ha, punya pabrik tapioko medern dengan pengering bahan bakar biogas, pengolahan jagung dan lahan pertanian yang subur.

Pak Supar lahir di Kediri, Jawa Timur. Masa kecilnya bandel dan tidak mau sekolah. Pak Supar kecil hanya mau sekolah selama 10 bulan di kelas 1 SD. Setelah itu nggak mau sekolah dan memilih untuk kerja kasar. Umur 15 tahun merantau ke Lampung, daerah bukaan transmigrasi baru yang masih rawan. Kerja serabutan apa saja, jadi kuli panggul singkong dan pindah-pindah dari satu kota ke kota lain di Lampung.

Badannya yang kecil membuatnya tidak cukup kuat dan tangkas untuk jadi kuli panggul. Mandor kuli dan teman-temannya tidak mau memakai tenaganya. Lalu dia belajar dan coba-coba untuk menjadi pedagang singkong saja, yang kerjanya menyetor singkong ke pabrik-pabrik tapioka di Lampung. Usahanya maju, dia dipercaya oleh engkoh-engkoh juragan pabrik tapioka. Sampai akhirnya dia punya beberapa truk untuk mengangkut singkong.

Pak Supar berteman baik dengan engkoh-engkoh juragan pabrik tapioka itu. Pak Supar memang tidak bisa membaca tulis, tapi bisa berhitung. Kalau uang tau lah. Tambah-tambahan tahu. Pak Supar banyak belajar dari Engkoh-engkoh itu. Belajar bagaimana cara orang-orang china berbisnis dan berdagang, termasuk belajar bagaimana mereka memanfaatkan pinjaman dari Bank.

Tahun 1997 terjadi krisis. Ekonomi memburuk dan banyak usaha yang tumbang, termasuk usaha pabrik tapioka. Pasokannya ke pabrik pun turun drastis. Banyak orang yang tidak punya kerja, mengganggur. Termasuk tetangga-tetangganya sendiri. Pak Supar merasa kasihan dan ingin membantu memberikan lapangan kerja untuk tetangga-tetangganya yang jadi penggangguran. Lalu dia memberanikan diri untuk membuat pabrik tapioka sendiri. Semuanya masih manual.

Petani Kaya Lampung

Berkunjung ke rumah pak Supar

Barokah dari Allah. Usahanya maju dan berkembang. Pak Supar mulai berani memajukan usahanya. Pak Supar mendapat pinjaman dari Bank. Karena dia tidak bisa baca tulis, orang bank-nya yang membantu dia mengisi semua formulir. Pokoknya dia hanya tandan tangan dan dapat pinjaman. Dengan uang itu dia mulai membangun pabriknya, sampai dia bisa membangun pabrik dengan nilai lebih dari Rp. 6 M.

Pak Supar juga mengambangkan usaha pertanian yang lain. Pak Supar menanam singkong sendiri, jagung, berternak sapi, menanam padi, sayuran, tomat, terong dan buah-buahan. Dia senang dan bahagia, terutama bisa memberikan lapangan kerja untuk tetangga dan saudara-saudaranya.

Bahkan Pak Supar salah satu pengusaha kecil yang berhasil memanfaatkan limbah dari pabri tapioka menjadi biogas. Kolam limbah biogasnya besar dan berukuran 40m x 70m. Metodenya covered lagoon. Penutup lagoonnya itu mengembung tinggi sekali, bahkan bisa dinaiki motor di atasnya. Energi dari biogas ini digunakan untuk mesin pengering pabrik tapioka, memasang dan kebutuhan lainnya.

Petani Kaya Lampung

Pabrik tapioka milik Pak Supar


Continue reading

Wiwit dan Rikin


Kisah-kisah yang menginspirasi saya


Di kampung saya dulu ada dua orang ‘kurang waras’ yang biasa keliling-keliling kampung. Yang satu namanya Wiwit, laki-laki, umurnya kira-kira 15 tahun di atas saya. Badannya kurung kering, jalannya cepat penuh semangat, selalu tertawa dan ngoceh ke mana-mana. Dia sering digodain oleh anak-anak di kampung saya. Macam-macamlah cara ngodainnya. Sampai kasihan saya.
Wiwit hampir setiap hari datang ke rumah. Kadang-kadang pagi, kadang-kadang siang. Masuk ke rumah lalu duduk dan ngoceh apa saja. Kadang-kadang dikerjain sama saya dan pembantu-pembantu di rumah saya. Dia mah ketawa-ketawa saja.
“Arep ngombe opo kowe, Wit?” tanya Mak saya.
Lalu Mak saya menyiapkan segelas teh manis hangat untuk Wiwit. Kalau makan siang sudah siap:
“Arep mangan sisa ora? Ki aku lagi masak jangan gori karo tempe bacem.”
Wiwit makan dengan lahap. Setelah itu dia pergi lagi, jalan-jalan keliling kampung.
Wiwit biasa memanggil ibu saya dengan panggilan “Makke” (Ibuk) dan bapaknya saya dengan “Pakke”. Kalau lagi pingin minta makan dia masuk rumah dan langsung teriak:
“Pakke, aku luwe ki lho, pingin mangan!”
Bapak saya menyuruh salah seorang ‘rewang’ di rumah saya mengambilkan makan untuk Wiwit.
Ini hampir setiap hari. Subhanallah.
Satu lagi namanya Rikin. Rikit sudah agak tua, badannya tegap, tubuhnya kuat, matanya bulat dan sepertinya banyak putihnya. Anak-anak kampung jarang ngodain Rikin, suka ngamuk soalnya. Kalau ada yang ngodain pasti dikejar dan ditabok. Nggak ada yang berani sama dia. Saya tidak tahu di mana rumah Rikin ini. Kadang-kadang saja dia mampir ke kampung saya.
Sama seperti Wiwit, Rikin juga sering masuk ke rumah. Duduk di bangku kayu panjang yang ada di depan rumah. Rikin ngomongnya juga ngalor-ngidul nggak jelas. Bapak saya sering menyuruhnya mengerjakan sesuatu, bersih-bersih kadang atau kebun.
Pernah suatu hari dia datang ke rumah. Waktu itu belakang rumah masih kebun kosong dan banyak pohon pisangnya. Rumputnya sudah tinggi-tinggi. Bapak saya meminta Rikin untuk membersihkan kebun.
“Kebonan omah kae reged, sukette duwur-duwur. Diresiki kono. Ki gamanne.”,
(Kebon belang rumah sudah kotor. Rumputnya tinggi-tinggi. Dibersihkan ya. Ini sabitnya)
“Yoh….Pakke. Diresikki kabeh, tho?”
“Nganti resik tenah lho, ojo disisakke.”
“Yoh….pak”.
Rikin mengambil sabit itu dan segera ke belang rumah untuk membersihkan kebun. Dia memang rajin sekali dan didukung oleh badannya yang kuat.
Beberapa waktu kemudian, menjelang siang dia selesai mengerjakan tugasnya. Dia kembali ke depan menemui Bapak saya.
“Wis rampung, Pak. Wis tak resikki kabeh.”
“Tenan.”
“Tenah, Pakke. Ora percoyo. Lha mbok ditilikki dewe kae nang mburi.”
Bapak saya menuju ke kebun belakang rumah. Betapa terkejutnya Bapak ketika melihat kebunnya.
Allahuakbar….!!!!
Kebunnya bersih banget, rumputnya dibabat habis oleh Rikin. Termasuk pohon-pohon pisangnya semua. Bersih…sih…. tidak ada yang tersisa.
Bapak pingin marah, tapi juga geli. Bapak ngombel-ngomel ke Rikin. Rikinnya malah nyengar-nyengir saja.
“Mau ngongonnge kon ngersiki kabeh. Yo tak resiki kabah tho……”
“Maksude sukette thok……. ora sak wit-wit gedannge mok enthekke kabeh……..!!!!!”
Tapi Bapak tidak terus-terusan marah. Rikin tetap dikasih makang siang dan sedikit uang. Rikin masih sering datang ke rumah dan Bapak juga ngasih dia kerjaan apa saja.
******
Isroi
Bogor, 07-07-2017