Category Archives: Unik

Minyak Wangi Pengusir Nyamuk

image

Prototipe minyak wangi pengusir nyamuk.

Kemarin saya kedatangan saudara jauh yang sudah luama zekali tidak ketemu; Muhamat. Dia meninggalkan oleh-oleh istimewa, bukan makanan tetapi sebuah prototipe minyak wangi pengusir nyamuk.

Saudara saya ini adalah salah satu ahli nyamuk dari Indonesia bagian tengah. Baca artikel tentang dia di sini: Muhamat Si Ahli Nyamuk. Sebagai ahli nyamuk tentu saja dia sangat prihatin dengan kasus-kasus penyakit yang disebabkan oleh nyamuk, seperti demam berdarah, malaria, dan cikukunya. Penyakit ini sering menjadi wabah di musim2 pancaroba atau musim2 tertentu dan sudah banyak memakan korban jiwa. Ada beberapa nyamuk yang tidak menjadi vektor penyakit. Namun, gigitannya tetap saja membuat gatal dan mengganggu.
Continue reading

Tip menghilangkan rasa pedas di mulut

sambel masakan

Anda suka makan pedas, sambal, atau cabe? Saya juga. Makan tidak pakai sambal seperti ‘minum kopi tidak pakai gula’ atau ‘makan sayur tanpa garam’. Rasanya ada yang kurang. Namun, efeknya mulut jadi panas dan salah-salah perut mules. Tapi, jangan khawatir, ada cara sederhana dan enak untuk menghilangkan rasa pedas.

Rasa panas dan pedas di mulut setelah makan sambal disebabkan kandungan asam capsaicinoids dalam cabai. Senyawa ini sebenarnya tidak berasa dan tidak berbau, tapi menimbulkan efek panas. Tidak hanya di mulut, di kulit pun kalau digosok2 dengan cabai akan merasakan panas juga. Nah asam capsaicinoids ini larut pada lemak.

Jika asam capsaicinoids ini larut maka rasa pedasnya juga berkurang. Itulah sebabnya mengapa ketika makan gorengan kita bisa banyak mengunyah cabai tapi tidak terasa begitu pedas. Itu juga sebabnya mengapa jika kita kepedasan dan minum air putih, rasa pedasnya tidak hilang-hilang. Makan garam juga bisa mengurangi rasa pedas. Mungkin garam ini akan menetralkan asam capsaicinoids dan mengurangi rasa pedasnya.

Kalau makan yang pedas-pedas, misalnya ketika makan di warung atau rumah makan, biasanya saya pesan minuman jus alpukat. Buah alpukat banyak mengandung lemak. Nah, ketika kepedasan tinggal ‘nyruput’ jus alpukat, rasa pedasnya akan segera ‘netral’ dan siap makan pedas-pedas lagi.

Kalau Anda sama seperti saya, suka makan yang pedas-pedas, sambal, dan cabai, cobalah minum jus alpukat. Dijamin.

Semoga bermanfaat.

Pertama kalinya Abim mendapatkan uang dari usahanya sendiri

Abim (Muhammad Ibrahim) mendapatkan uang dari jerih payahnya sendiri. Meski jumlah uangnya memang tidak seberapa, namun uang ini begitu berharga.

Abim berbeda dengan kakaknya; Royan. Abim periang, banyak omong,  lucu, dan pintar merayu. Kelebihannya yang lain, dia suka membuat prakarya, suma mainan model terutama dinosaurua, model2 hero film kartun Marvel, dan lain-lain. Dia juga suka bercerita dengan mainan-mainannya itu. Tapi, Abim sulit diajari mengaji dan matematika.

Suatu ketika Abim diberi pelajaran prakarya oleh ustadzahnya di sekolah, yaitu membuat bentuk dari bilah2 kayu kecil. Seperti kayu untuk sendok es krim. Bilah2 itu di lem dengan lem kayu dan dibentuk menjadi bermacam2 bentuk. Abim suka sekali. Dengan kreativitasnya dia membuat bermacam2 bentuk. Dia membuat model pesawat, membuat rumah2an, membuat pistol, dan beberapa bentuk2 lain. Dia suka berexlorasi dan memperbaiki model2nya. Salah satu yang bagus adalah ‘archer tower’.

Minggu lalu ketika acara ulang tahun Yusuf, teman-teman Abim datang. Salah satunya melihat hasil karya Abim, archer tower. Dia suka sekali. Sampai-sampai dia minta dibuatkan model seperti itu. Bahkan dia mau membelinya.

Abim pun senang sekali. Dia segera membuat archer tower pesanan itu. Pesanan yang sudah jadi diserahkan ke temennya dan Abim mendapatkan bayaran Rp. 5000. Dia senang dan bangga. Model2 pesawatnya juga disukai teman2nya. Dia mulai berencana untuk menjual model2nya ke teman2nya yang lain.

Terus berkarya Abim. Belajarlah mencari uang sendiri dengan halal. Kamu akan sukses kelak. Insya Allah.

Pilihlah Roti yang Berjamur

image

Roti sudah menjadi bagian dalam menu makanan masyarakat kita. Banyak sekali jenis roti yang dijajakan di warung, toko, atau pedagang keliling. Namun, berhati-hatilah dalam memilih roti untuk Anda makan. Banyak roti yang dibuat dengan bahan-bahan yang tidak layak di makan manusia. Pilihlah roti yang bisa ditumbuhi jamur.

Ceritanya saya membeli roti di warung untuk ‘suguhan’ tamu yang datang mendadak. Jadi saya membeli roti yang ada saja. Rupanya roti itu tidak habis dan saya simpah lagi hingga saya lupa dengan roti itu. Sampai beberapa minggu roti itu dibiarkan saja. Anehnya roti itu tetap saja utuh. Bentuknya masih sama seperti ketika baru saya beli. Terus terang saya jadi curiga kalau roti ini banyak pengawetnya. Ketika dibiarkan lebih lama, rotinya justru menjadi mengeras dan mengering. Lama-kelamaan jadi rapuh dan mudah dihancurkan.

Di lain waktu saya bertemu dengan kawan lama yang berprofesi sebagai marketing bahan-bahan roti. Dia menyuplai hampir semua bahan kue ke pengrajin roti. Nah, saya ceritakan pengalaman saya di atas kepadanya. Komentarnya:
“Oo…itu berarti bahan rotinya ‘feed grade’ “.
“Loh memangnya ada bahan roti yang bukan untuk manusia. Feed grade kan berarti untuk pakan binatang?” tanya saya.

Kemudian dia menjelaskan kalau di ‘dunia’ bahan-bahan roti ada dua kelompok. Satu kelonpok food grade dan satu kelompok feed grade. Harganya jelas jauh berbeda.  Harga bahan feed grade murah dan lebih tahan lama, karena ada pengawetnya. Biasanya digunakan oleh pegrajin roti yang harganya murah. Roti yang dibuat dengan bahan feed grade bisa tahan sampai beberapa minggu dan tidak akan berjamur. Rotinya justru akan mengering.

Kalau harga bahan roti food grade lebih mahal dan biasanya digunakan oleh pembuat roti yang sudah ternama dan harganya juga lebih mahal. Kualitas rasanya pun berbeda. Roti yang memakai bahan food grade akan berjamur dalam beberapa hari, tergantung penambahan bahan pengawet rotinya.

Bahan pengawet sudah diketahui membahayakan kesehatan manusia apabila digunakan dalam jumlah yang berlebihan.  Banyak studi-studi yang menyebutkan keterkaitan antara bahan pengawet dan munculnya masalah gangguan kesehatan atau penyakit. Penggunaan bahan pengawet harus terkontrol dan hanya bahan-bahan tertentu yang boleh dipergunakan untuk makanan.

Gila. Bahan untuk pakan binatang dibuat untuk makanan manusia. Entah apa yang ada dipikiran para pembuat roti itu. Mereka sudah meracuni orang banyak. Roti-roti yang harganya murah umumnya dikonsumsi oleh masyarakat pra sejahtera. Kehidupan mereka saja sudah sulit, makanan yang tidak sehat akan menambah beban hidupnya.

Sekarang saya lebih berhati-hati dalam memilih roti. Mendingan beli roti yang bisa jamuran, yang food grade. Mahal sedikit tidak apa-apa, daripada kena penyakit yang lebih parah. Kalau tidak punya uang mendingan tidak beli roti. Beli makanan tradisional lain yang lebih sehat dan murah.

Pengalaman Memalukan & Menjijikkan: Defekasi yang tak terkendali (bag. 2)

2. Gara-gara minum kopi di Siborong-borong

Kejadiannya sudah cukup lama, tapi pengalaman ini tidak pernah terlupakan.

Ceritanya saya sedang menjadi ‘enumerator’ untuk survey kopi di Prop. SumUt, tepatnya di Kab. Tapanuli Utara. Ini pengalaman pertama saya pergi ke daerah sekitar danau Toba. Saya pergi sendirian. Di daerah ini terkenal dengan kopi Sidikalang. Saya tidak pergi ke Sidikalang, tetapi ke daerah lain sentra penghasil kopi. Ada dua jenis kopi yang ditanam di daerah ini, yaitu kopi Robusta dan kopi Arabika. Citarasa kedua kopi ini berbeda. Kalau kopi arabika ada rasa asamnya.

Singkat cerita saya menyewa motor dan satu orang guide untuk mengantar saya keliling daerah danau Toba. Orang batak memang gemar minum kopi dan tuak. Kalau sore biasanya mereka minum2 di kedai. Kopi biasanya mereka sangrai dan tumbuk sendiri. Cita rasanya pun bisa berbeda2 antar warung kopi. Saya diantar oleh guide saya, Pak Purba, ke salah satu warung yang cukup terkenal kopinya. Sampai di warung saya langsung pesan satu gelas kopi panas. Pak Purba sudah memperingatkan saya, kalau belum terbiasa minum kopi arabika jangan minum banyak2. Sajian kopi ala warung kopi itu adalah satu gelas gede.

“Ah….tidak apa2, Pak Purba. Saya suka minum kopi, kok,” jawab saya sedikit sombong.

Kami pun ngobrol, makan, dan minum kopi. Tak terasa satu gelas kopi itu pun habis tak tersisa. Kopinya terasa sedikit asem tapi enak. 

Kopinya memang nikmat di mulut, tapi ketika sampai di perut rasanya lain. Perut seperti dikocok2. Seperti ada gas yang mulai terakumulasi perut. Saya pun mengajak P Purba segera pulang.

Perut saya semakin terasa tidak karuan. Mules, kembung, dan seperti mau meledak. Sampai di tempat penginapan saya segera lari menuju toilet. Secepat kilat saya buka celana dan langsung jongkok di jamban.

“Jrrrooootttr…..cret…..dduuuuttt…,”
Isi perut keluar tanpa bisa dicegah. Malam itu saya pergi ke toilet tiga empat kali.

Esok hari, Pak Purba sudah datang menjeput. Hari ini rencananya saya mau wawancara dengan beberapa petani kopi. Perut sebenarnya masih belum ‘tenang’. Namun, saya tetap pergi.

Kami pergi ke desa2 dengan naik motor sewaan. Ketika sampai di tengah2 kebun, perut mulai berulah lagi.
“Pak….pak berhenti dulu…..perut saya….tidak tahan…..,” pinta saya ke Pak Purba.

Setengah berlari saya turun dari motor dan lari menuju rimbunan pohon kopi. Tanpa pikir panjang saya segera buka celana dan jongkok. Isi perut langsung keluar tanpa permisi. Cair-cair kenthal. Aku intip sedikit, seperti bumbu kacang….hiiiii…..

[Tidak perlu aku ceritakan detailnya]

“Kan sudah saya peringatkan kemarin, jangan banyak2 minum kopinya. Si Mas sih tidak nurut. Tuh akibatnya, ” kata Pak Purba.

“Iya…pak. Saya tidak tahu kalau seperti ini jadinya.”

Tiga hari lamanya aku sering buang hajat di kebun kopi. Yah….anggap ngasih pupuk gratis ke petani. Sejak itu saya kalau minum kopi di warung pesan porsi kecil.

Sebulan lamanya saya keliling Taput dan sekitarnya. Cukup kenyang nyobain bermacam2 kopi lokal. Dan saya tidak kapok minum kopi arabika lagi. Nikmat sih.

==TO BE CONTINUED==

Pengalaman Memalukan & Menjijikkan: Defekasi yang tak terkendali

Setiap orang punya pengalaman yang memalukan, tapi mungkin tidak banyak yang punya pengalaman memalukan sekaligus menjijikkan. Berat dan malu sebenarnya saya ketika akan menuliskan cerita ini. Biarlah.  Saya manusia normal dan biasa saja. Ada sisi-sisi kelam dalam hidup saya.

PERINGATAN KERAS:
KALAU ANDA SEDANG MAKAN ATAU MAU MAKAN. JANGAN TERUSKAN MEMBACA. KALAU ANDA JIJIK. JANGAN TERUSKAN MEMBACA.

1. SERANGAN “BOM ATOM”

Belakang rumah saya ada sungai irigasi. Kali Bening namanya. Persis di belakang rumah adalah DAM kali bening. Dulu kali ini jernih sekali. Ikan2 terlihat jelas. Batu-batu kerikil di dasar kali terlihat. Banyak tumbuh ganggang/tanaman air di kali bening.

Seperti halnya sungai2 lain di Indonesia. Kali adalah jamban raksasa. Hampir semua penduduk sepanjang kali kalau buang hajat di kali. Dan, dam adalah tempat favorit untuk ‘buang hajat’. Kami sering menyebutnya juga kali “Mekong” (meme bokong = menjemur pantat). Di beberapa tempat kali bening juga jadi tempat untuk mandi dan mencuci.

Ketika masih kecil, usia SD, saya dan teman2 biasa “mekong” di dam. Maklumlah anak kecil, di mana saja selalu bercanda. Bahkan, buang hajat saja sambil bercanda. Sampai keterlaluan bercandanya. Suatu hari ketika main dengan temen2, salah seorang temenku mengajak ‘buang hajat’ bareng di dam kali bening.
“Wetengku meles he … kepingin ng***ng,” katanya.
“Nang kali yuk…..,” ajaknya.
“Wegah ah….ora arep ng***ng aku,” jawabku dan temen yang lain.
“Alah….ayo lah….wis kebelet ki, ” rengeknya sambil menahan sakit perutnya.

Karena merengek terus dan demi solidaritas antar teman, akhirnya kami berempat pergi ke dam. Sampai di dam kami ambil posisi masing2. Dua orang jongkok menghadap barat dan dua orang menghadap timur. Kami “buang hajat” berhadap-hadapan di jembatan dam yang lebarnya cuma 1 meter.

Seperti biasa kami jongkok sambil bercanda2. Kami taruhan siapa yang keluar BABnya duluan. (Terlalu ng***ng aja taruhan). Rupanya temen saya yang mengajak tadi sudah beberapa hari tidak buang hajat. BABnya mungkin keras dan susah keluar. Saya dan teman2 yang memang tidak ada rencana buang hajat juga tidak keluar2 BABnya.

Kami ‘ngeden’ (mengejan) agar isi perut segera keluar. Tiba2:
“Breeettttt…..bessss…., ” keluar suara serak2 sember dari salah seorang temen. Vibrasinya jelas2 kurang lancar, tanda ada ‘benda’ yang menghambat jalannya udara.

Kami semua tertawa semua….
“Bom atom…bom atom…..” teriak temen2 sambil menutup hidung dan ketawa.
“Dudu….iki dudu bom atom. Bom atome durung metu,” kata temen yang baru saja buang angin.

Kami pun mengolok2 temen tadi. Wajahnya lucu dan mengemaskan ketika ‘ngeden’. Dia tidak terima diolok2 seperti itu. Lalu dia mengancam.

“Etheni wae bom atomku. Nek metu tak bom kowe,” ancamnya.

Kami pun ketawa-ketawa lagi. Kembali taruhan, kalau ada “bom” yang duluan keluar akan di-bom. Kami jadi balapan ‘ngeden’.
‘Eeeggggghhhhhh….’

Tiba-tiba temenku tadi meletakkan telapak tangannta di bawah d***rnya.
“Meh ngopo kowe…meng ngopo kowe,” teriak temen2 yang lain.

Temenku diam saja, bahkan semakin menngeraskan ‘edennanya’.

‘Hhhhgggghhh…”

Perlahan tapi pasti keluar benda coklat hitam dari d***rnya. Sepertinya keras jadi susah keluar. Aroma tidak sedap mulai merayapi hidung2 kami. Bisa dibayangkan bagaimana bau *A* yang sudah beberapa hari tidak keluar dari perut.

Kami pun mulai riuh dan berteriak2…
“He…heh….bomme metu..bomme metu,”

Temenku benar2 ‘kurang waras’, *A*nya bener2 ditangkap dengan tangannya. Benda yang lunak2 anget itu sudah ada di tangannya.

“Hhhhaaaaaa……..”, dia menyeringai penuh ancaman.

Kami pun serempak berdiri tanpa menaikkan celana kolor kami. Tanpa diberi aba-aba kami lari menuju sawah2 di samping dam. Kami lari sambil tertawa.

Rupanya temen saya tadi terus mengejar kami sambil membawa “bom atomnya”. Kami kejar2an di parit sawah tanpa pakai celana.

Sekian lama kami kejar-kejaran akhirnya temenku melempar “bom”nya. Dan salah seorang temenku beruntung kena lemparan bom itu.

“Haaaa…..hoek…..njelehi….” teriaknya setengah menangis.

“Bom Atom” itu tepat kena punggungnya dan melumer dengan sukses. Yang punya bom ketawa kepingkal2. Kami semua ketawa.

Dengan wajah cemberut mau nangis, temenku pergi ke pancuran air. Di bawah sawah2 itu ada mata air yang ada pancurannnya. Tempat ini biasa buat mandi orang2 kampung. Akhirnya temenku yang kena bom tadi melepas bajunya dan mandi di pancuran. Dia marah2 dan minta temen yang empunya bom untuk mencucikan bajunya.

Kami pun mandi dan mencuci baju ramai2, sambil terus bercanda dan ketawa. Kecuali temenku yang jadi korbam bom. Wajahnya tetap cemberut dan marah.

===TO BE CONTINUED===

Pengalaman Konyol: Salah Naik Kereta

Hari itu saya baru saja menyelesaikan pekerjaan pengomposan seresah tebu di kebun Glenmore, dekat Kec. Genteng Banyuwangi. Seminggu di kebun, badan rasanya sudah seperti ikan asin. Biasanya kalau kerja di lapangan saya bawa satu pasang pakaian lapang khusus untuk kerja. Mau kerja seminggu atau dua minggu pokoknya pakaiannya itu. Tidak pernah dicuci sebelum selesai kerja. Keringat, debu, asep, semua numpuk jadi satu. Kalau pernah ke TPI (Tempat Pelelangan Ikan), pasti bisa membayangkan baunya. 🙂

Badan rasanya seperti habis digebukin. Capek banget. Saya dianter orang kebun sampai terminal Jember. Saya melanjutkan perjalanan ke Surabaya dengan naik bus umum. Sampai di Surabaya sudah tengah malam. Terpaksa saya cari penginapan sedapatnya. Saya menginap di losmes kelas melati. Horor suasananya. Meski kamar2nya terkesan sedikit kumuh dan mesum, saya tetap ambil, yang penting bisa ‘merem’ sejenak.

Esok harinya saya mampir ke dinas, ketemu seseorang. Selesai dari sana saya bergegas ke Stasion Turi. Saya cuma diberi tiket kereta Agro Bromo dari stasiun Turi ke Gambir. Singkat cerita sampailah saya di Gambir menjelang magrib.

Badan letih. Isi pikiran cuma satu, cepat sampai rumah, berendam air panas, makan masakan istri, suruh mijitin anak2, lalu molor sepuasnya. Saya segera beli tiket KRL Eksekutif Pakuan jurusan Bogor (waktu itu baru ada Pakuan). Saya nunggu di peron. Duduk di bangku sambil ngantuk-ngantuk.
Continue reading

Ngadimin Hadiprayitno, veteran perang ’45

veteran perang 45 Mbah Ngadimin

Mbah Ngadimin Hadiprayitno, sedang menyanyi keroncong di gerbong 7.

NGADIMIN, nama itu tertulis di atas saku kiri baju veterannya. Beliau memakai baju seragam lengkap, hijua tentara, langbang jasa, dan topi kuning. Umurnya saya perkirakan sudah kepala tujuh. Mungkin seumuran dengan Bapak Alhmarhum.

Sejak nunggu kereta di stasiun Pasar Senen, beliau sudah menarik perhatian. Biacaranya ceplas-ceplos. Beliau duduk menunggu di dekat tempat aku duduk. Ternyata waktu di kereta pun duduknya di depanku.

Mbah Ngadimin mengajak ngobrol akrab dengan siapa saja. Ngobrol sambil bercanda. Sayangnya pendengarannya sudah jauh berkurang. Jadi kalau diajak ngobrol tidak nyambung. Jadi kami mangut2 saja kalau beliau ngajak ngomong.

Ketika para penumpang sedang asik dengan HP masing2, tiba-tiba Mbah Ngadiman memecah kesunyian. Beliau menyanyi keroncong dengan keras. Kami jadi terhenyak. Beliau terus menyanyi dengan keras, tampa memperdulikan sekitarnya. Ketika sebuah lagu selesai, Mbah Ngadiman menyelanya dengan pantun;

“Ali-ali ilang matane; ojo lali karo kancane”

“Pring peting cagakke radio; pontang panting bojone loro”

“Semarang kaline banjir, jo sumelang ra dipikir”

Mendengar pantun itu penumpang tertawa kepingkal-pingkal. Kami semua jadi terhibur. Kemudian dia berhenti sejenak.

“Sik ….. aku meh nguyuh sik,” katanya sambil berdiri menuju wc.

***
Setelah diam beberapa saat. Dia minta saya untuk mengambilkan tas rangselnya yang disimpan di tempat tas di atas. Saya ambil dan serahkan tas itu padanya.

Dia membuka tas dan mengambil seauatu dari dalam tas. Sebuah tumpukan kertas yang diikat dengan tali karet. Dia membuka ikatan karetnya dan memilah2 isinya. Lebar demi lembar dia buka, seperti sedang mencari seauatu. Dia mengambil sebuah buku catatan lusuh. Bukunya sudah tidak ada sampulnya. Kertasnya sudah menguning dan tulisannya sudah agak luntur.

“Di bawah sinar bulan purnama…..”
Mbah Ngadiman mulai menyanyi lagi. Ternyata Mbah Ngadiman mengambil buku catatan lagu keroncong.

Tujuh lagu dia bawakan. Dengan selingan pantun2 lucu yang menghibur. Mbah Ngadiman membawakan lagu dengan gaya penyiar radio.

Kami semua jadi terhibur sepanjang perjalanan ini.

Mbah Ngadiman bercerita kalau dia pemimpin band keroncong veteran di Semarang dan biasa siaran di RRI. Pantes.

Sampai di Semarang Mbah Ngadamin turun. Saya pun turun di sini. Beliau sudah ditunggu oleh anaknya.

Sugeng tindak. Semoga tetap sehat Mbah Ngadiman.

Saya meneruskan perjalanan ke timur. Memuntahkan rasa rinduku pada buah hatiku.

Membaca Cerpenya Pak Sapardi Djoko Damono

cerpen puisi sapardi djoko damono Membaca puisi dan cerpennya Pak Sapardi, seperti sedang mengelana di dunia khayal. Peristiwa-peristiwa muncul tak terduga, dan ada humor yang lembut.

Pertama kali saya membaca karya Pak Sapardi adalah ketika di SMU (SMA N 1 Magelang). Sekolah saya memiliki perpustakaan yang cukup lengkap, termasuk koleksi buku-buku sastra. Saya paling suka ke perpustakaan dan mungkin saya siswa yang paling banyak meminjam (dan sebagian tidak terkembalikan) buku. Buku sastra yang paling saya suka adalah kumpulan puisinya Pak Sapardi Djoko Damono. Ada dua buku kumpulan puisi yang masih saya simpan sampai sekarang, yaitu: Perahu Kertas dan Mata Pisau. Namun, saya belum pernah membaca cerpen-cerpennya Pak Sapardi.

Sampai suatu ketika saya sedang naik pesawat dan tersedia koran gratis. Saya ambil Kompas minggu. Sambil menunggu terbang saya baca-baca koran itu, sampailah saya di halaman 20 yang membuat rubrik seni. Biasanya saya lewati halaman ini. Kali ini cerpen yang ditampilkan adalah cerpennya Pak Sapardi. Ada lima cerpen di halaman itu; yaitu: Wartawan itu menunggu pengadilan terakhir, Dalam tugas, Naik Ka-Er-El, Naik Garuda, dan Meditasi Sunan Kalijaga.

Saya tetap membaca dan tidak peduli meskipun lampu dalam kabin dimatikan. Saya nyalakan lampu baca dan terus membaca cerpen-cerpen itu.

Cerpen-cerpen Pak Sapardi mirip dengan puisi-puisinya. Cerpennya singkat, jauh lebih singkat daripada cerpen-cerpen yang lain. Mungkin hanya sekitar 500-2000 kata saja. Saya suka cerpen-cerpen ini, bahkan saya membacanya berkali-kali. Sepertinya saya tidak pernah bosan membaca cerpen-cerpen itu.

Pak Sapardi dengan nakal membuat peristiwa-peristiwa absurd yang tidak mungkin terjadi di dunia nyata. Seperti halnya wartawan yang mau mewancarai kakek-nya di cerpen Wartawan itu Menunggu Pengadilan Terakhir. Atau peristiwa tertukarnya kaki penumpang Ka-Er-El. Kita akan menemukan sebuah kesimpulan atau penutup yang benar-benar tidak terduga. Meskipun tidak disampaikan secara eksplisit, tetapi kita akan tahu siapa yang dimaksud dalam cerita itu.

Misalnya, tentang kakek, kita akan tahu bahwa si kakek yang dimaksud adalah kakek kita semua, kakek seluruh ummat manusia, yaitu Nabi Adam.

Di cerpen kedua, Dalam Tugas, saya menduga Pak Sapardi sedang bercerita tentang foto Eddie Adam yang memotret eksekusi petani di vietnam. Kita jadi berfikir bagaimana perasaan sang fotografer ketika mengabadikan foto itu.

foto eddie adams vietnam

Yang paling absurd adalah cerpen Naik Ka-Er-El, bagaimana mungkin kaki bisa tertukar gara-gara naik Ke-Er-El. Namun, Pak Sapardi menyampaikannya dengan sangat menarik. Dan saya pun tertawa ketika membacanya. Apalagi cerpen Naik Garuda. Kebetulan saya sedang naik Garuda, jadi membayangkan bagaimana jika si kakek itu adalah orang di sebelah saya…..hiiiii……

Cerpen terakhir, meditasi Sunan Kalijaga, saya tidak tahu. Tapi mungkin ini gambaran kekecewaan Pak Sapardi ketika menyaksikan pertunjukan teater atau seni yang diluar ekspektasinya. Mungkin.

Saya masih membaca lagi 5 cerpen itu. Dan lagi.

Cerpen Sapardi Djoko Damono

Cerpen Sapardi Djoko Damono

Permainan Uang dan Judi dalam Pemilihan Kepala Desa

Ini kisah nyata. Money Politik dalam pemilihan kepala desa sudah dianggap lumrah, bahkan dilakukan terang-terangan. Lebih ‘crazy’ lagi pemilihan kepala desa jadi ajang perjudian. Bebotoh-bebotoh ikut taruhan dan menebar uang. Edan.

Minggu lalu di sebuah desa Kenong (sebut saja begitu) dilaksanakan pemilihan kepala desa. Kontenstannya ada dua orang, yang satu mewakili tokoh tua, namanya Warnawi, yang satu lagi mewakili tokoh pemuda, namanya Jartono. Mereka berdua tinggal di RW yang sama, bahkan di jalan yang sama. Jarak rumah mereka tidak lebih dari 200m. Kondisi ini membuat suasana desa Kenong menjadi meriah dua bulan terakhir.

Desa Kenong adalah sebuah desa di kota kecil di Jawa Tengah. Desa ini cukup ‘kaya’ dibandingkan desa2 lain di kota itu. Letaknya dekat pusat kota. Desa ini memiliki pasar tradisional terbesar di kota ini. Ada juga pujasera, stadion olah raga, dan rumah sakit milik seorang dukun yang jadi politisi di senayan. Ada juga beberapa komplek ruko dan pertokoan yang tersebar di beberapa tempat. Kondisi ini mungkin yang menjadi salah satu daya tarik untuk memperebutkan posisi kepala desa.

Continue reading