Bus Damri Bandara Adi Sucipto Yogyakarta

Bis Damri Bandara Adi Sucipto Yogyakarta.

Bis Damri Bandara Adi Sucipto Yogyakarta.

Pesawat terbang adalah salah satu sarana transportasi yang paling banyak dipakai untuk pergi dari satu kota ke kota lain secara cepat. Tarifnya pun semakin lama semakin murah dan terjangkau. Pesawat hanya mengantarkan penumpang dari satu bandara ke bandara lain. Masalahnya bagi penumpang adalah transportasi dari dan ke rumah – bandara. Untungnya saat ini ada Bis Damri khusus angkutan bandara. Salah satunya yang ada di Bandara Adi Sucipto Yogyakarta.

Kalau Anda datang ke Bandara Adi Sucipto Yogyakarta dan akan melanjutkan perjalanan ke kota lain di sekitar Yogyakarta; Magelang, Secang, Temanggung, Purworejo, Kebumen, Wonosari, yang paling murah dan cepat adalah naik Bis Damri Angkutan Khusus Bandara. Jadwal Bis Damri adalah setiap jam, mulai pukul 4 pagi sampai pukul 8 malam dari Yogyakarta. Tarifnya pun cukup murah, berkisar dari Rp. 50rb – Rp. 75rb. Lihat foto tarif di foto berikut ini.

Bis Damri Bandara Adi Sucipto Yogyakarta.

Tarif Bis Damri Bandara Adi Sucipto Yogyakarta.

Tempat parkir Bis Damri agak sedikit jauh dari Bandara. Kalau keluar dari Bandara, ikuti saja ke arah KELUAR atau PARKIR Mobil. Melewati jalan lorong bawah tanah menuju ke tempat parkir mobil bandara. Keluar dari pintu ke tempat parkir itu adalah tempat poolnya Bis Damri.

Jurusan Bis Damri Angkutan Khusus Bandara Adi Sucipto adalah:
– Magelang
– Secang
– Temanggung
– Purworejo
– Kebumen
– Wonosari
– Borobudur

Kalau di Magelang, pool bis Damri Angkutan khusus bandara ada di Hotel Wisata yang di dekat Jalan Ikhlas atau terminal lama Tidar. Jam 4 pagi sudah ada bis yang berangkat menuju ke bandara Adi Sucipto Yogyakarta.

Keberadaan bis ini sangat membantu penumpang. Tarifnya jauh lebih murah daripada naik taksi atau sewa mobil. Posisinya yang agak jauh juga agar tidak konflik dengan taksi dan mobil omprengan.

Kerikil Batu Akik Amethyst, Pirus, Lapis Jazuli, Kecubung Es untuk Gelang dan Kalung

Deman batu mungkin sudah mulai berkurang, tapi kreasi batu akik tidak pernah mati. Sisa-sisa bahan batu akik yang berukuran kecil, dilubangi dan dipoles. Kerikil ini bisa dibuat kalung atau gelang. Kalau Anda tertarik silahkan kontak Ummi Happy: 082325489277

bahan kerikil akik amethyst gelang kalung

Bahan kerikil amethyst untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil amethyst untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil amethyst untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil amethyst untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil amethyst untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil amethyst untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil amethyst untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil amethyst untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil amethyst untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil biduri sepah untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil biduri sepah untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil biduri sepah untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil biduri sepah untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil biduri sepah untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil biduri sepah untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil lapis jazuli untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil lapis jazuli untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil lapis jazuli untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil lapis jazuli untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil lapis jazuli untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil lapis jazuli untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil lapis jazuli untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil lapis jazuli untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil lapis jazuli untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil lapis jazuli untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil pirus (turquoise) untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil pirus (turquoise) untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil pirus (turquoise) untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil pirus (turquoise) untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil pirus (turquoise) untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil pirus (turquoise) untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil pirus (turquoise) untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil pirus (turquoise) untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil pirus (turquoise) untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil pirus (turquoise) untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil pirus (turquoise) untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

Bahan kerikil pirus (turquoise) untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

kecubung es

Bahan kerikil kecubung es untuk kalung dan gelang. Bahan sudah dilubangi dan dipoles, tinggal diberi tali saja.

kecubung es-2

kecubung es

Hilangnya Sawah di Kampungku

pemandangan dari jendela rumah

Pemandangan dari jendela kamarku tidak lagi indah. Sawah-sawah sudah tidak ada lagi. Air sungai kering, keruh, kotor dan bau.

Ketika aku masih kecil dulu, belakang rumahkau adalalah sawah. Konturnya menurun, dan di dasar bawahnya ada mata air yang jernih. Tepat di belakang rumahku ada sungai irigasi, kami menyebutnya ‘Kali Bening’, karena memang bening sekali airnya waktu itu. Mata airnya ada di kali bening, Payaman, Magelang.

Aku dan teman-teman biasa main di sawah. Kalau musim kering, biasanya kami main layang-layang. Di sawah tidak ada kabel listrik dan tidak ada pohon yang tinggi. Langitnya lapang, tempat yang cocok untuk main layang-layang. Kalau capek main layang-layang kami mandi di pancuran. Seger sekali airnya.

Paling asik adalah pada saat musim tanam padi tiba. Sawah biasanya dibajak dengan kerbau. Selesai olah tanah sawahnya diairi sedikit. Tanahnya gembur sekali. Kami biasanya main bola di sawah, main bola sambil main lumpur. Karena masih kecil, kami biasa telanjang, atau cuma pakai CD saja. Maklumlah masih anak-anak. Biasanya kami main kalau sudah sore, sepulang sekolah. Jaman dulu pulang sekolah jam 12. Tidak seperti anak-anak sekolah jaman sekarang, pulang sekolah jam 16. Sampai rumah sudah capek banget.

Kami main sore-sore untuk menghindari petani yang punya sawah. Soalnya, Pak tani sangat melarang kami main di sawah yang sudah diolah tanahnya. Begitu pak tani pulang, kami langsung mainan lumpur. Seneng sekali rasanya. Sepertinya tidak ada permainan yang paling mengasikkan selain main mandi lumpur.

Main di lumpur ada susahnya juga. Paling menyakitkan adalah kalau digigit TENGU. Tengu itu adalah serangga kecil berwarna merah dan kalau menggigit selalu di tempat spesial, yaitu di-titit. Rasanya gatal-gatal sakit, seperti ditusuk duri kecil di bagian tititnya. Kalau kegigit tengu biasanya kami duduk di atas batu di dekat pancuran mata air. Tititnya dibersihkan dulu, lalu dengan bantuan temen-temen kami mencari di mana tenguitu. Biasanya kelihatan merah kecil sekali. Kami hilangkan dengan ‘lengo klentik’ (minyak kelapa) dan dicukil pakai jarum. Wuiiihhh….saaakkitttt.

Kalau sawahnya sudah ditanami, kami tidak bisa lagi main ke sawah. Biasanya kami cuma mencari ikan di galengan-galengan (parit sawah). Kami mencari ikan gabus kecil, seperti ikan lele tapi tidak ada patilnya. Atau kami mancing belut. Tapi kami harus hati-hati kalau main di sawah, karena banyak ularnya. Belum pernah sih ada yang digigit ular, tapi kami sering bertemu dengan ular. Kebanyakan ular berbisa.

Kalau padi mulai tua dan menguning akan banyak burung-burung yang makan padi di sawah. Pak tani mulai memasang ‘memedi sawah’,orang-orangan sawah untuk menakuti burung. Pak tani membuat gubuk di sawah. Orang-orangan sawah itu dibuat beberapa buah, lalu diikat pakai tali panjang. Tali-talinya digantungi kain dan kaleng yang diisi kerikil. Talinya panjang sampai ke gubuk. Kalau ada burung, tapinya di tarik-tarik. Orang-orangan sawah akan bergerak dan kalengknya berbunyi nyaring. Burung-burungnya akan terbang ketakutan.

Burung-burung yang makan bulir padinya ada banyak; emprit, gereja dan glatik. Burung glatik yang paling cantik. Di pipinya ada warna merahnya, burungnya kecil seperti emprit, warnanya putih dan sayapnya coklat tua/hitam. Mereka hidup berkelompok, sekali terbang bisa ada ratusan burung. Pemandangan yang indah sekali.

Lain waktu kami mencari-cari sliring, hewan reptil kecil yang warnanya belang-belang kuning hijau coklat. Ukurannya kecil seperti kadal yang ramping, tetapi lebih panjang. Kami tangkap dan kami belai-belai. Kalau bosan kami lepaskan lagi ke rumput-rumputan.

Di sawah kami juga biasa mencari ‘tambang’, tanaman menjalar yang panjang dan kuat. Biasa buat main tali-talian. Tambangnya kami buat main ‘polisi-polisian’, kalau ada yang tertangkap kami ikat dengan tambang itu dan kami jadikan tawanan.

Kini pemandangan indah sawah-sawah dan padi-padi yang menguning sudah tidak ada lagi. Entah sejak kapan sawah itu tidak lagi ditanami padi. Mungkin sawahnya dijual dan ditanami pohon sengon laut (albasia). Anak-anak kampung jarang main ke sawah atau ladang. Sudah tidak asik lagi. Apalagi sekarang jamanya tivi dan smartphone. Mereka lebih asik main game dengan HP. Jalan pingir sawah yang dulu sempit, kini juga sudah dibangun dan dilebarkan. Jalannya sudah jadi melalui program padat karya. Sebentar lagi mau diaspal katanya.

Kali bening sekarang juga tidak ‘bening’ lagi. Malah airnya kering dan kotor. Banyak sampahnya, bau lagi.

Kalau aku buka jendela kamarku, pemandangan tidak lagi indah dan mengasikkan seperti dulu.

Sugeng Tindak Simbah Kakung

Simbah Amad Dakwan semasa hidup.

Simbah Amad Dakwan semasa hidup.


Simbah, begitu biasanya kami memanggilnya. Nama lengkapnya Simbah Amat Dakwan. Simbah lupa tanggal dan tahun lahirnya. Yang beliau masih ingat adalah ketika sekolah SR (Sekolah Rakyat) pada tahun 1908. Mungkin usianya ketika itu sudah 8-9 tahunan. Simbah hanya lulus SR saja tidak melanjutkan sekolah lagi. Simbah kemudian nyantri di pesantren di ‘kulon progo’ (desa di seberang barat kali progo yang ada di desa Kedungingas).

Simbah tinggal di desa Kedungingas. Pekerjaannya adalah tukang kayu dan bertani. Beliau pernah kerja jadi tukang kayu di beberapa kota di Jawa, bahkan katanya pernah sampai ke Jakarta. Kalau musim tanam, biasanya awal musim penghujan, simbah kerja menggarap sawahnya. Mengolah tanah dan menanam padi. Selesai tanam simbah kembali jadi tukang kayu, yang mengurus sawahnya adalah simbah wedok.

Aku lahir di rumah Simbah. Konon katanya Simbah juga yang memberiku nama ISROI. Waktu kecil aku sering pergi ke rumah Simbah. Jaraknya dari rumahku cuma sekitar 2 km. Biasanya aku pergi dengan temen-temen naik sepeda BMX. Menyusuri kali Bening sampai ke desa Nepak. Dari Nepak turun ke Kedungingas. Di rumah Simbah ada pohon rambutan, duku dan mundung. Dulu di sawah juga ada pohon mangga. Kami paling senang ke main ke rumah Simbah apalagi kalau lagi musim buah.

Ketika SD dulu aku juga diajari simbah pencak silat. Kalau malam minggu aku nginep di rumah Simbah. Aku, Bambang dan Joko yang biasaya ke desa. Kami bertiga diajari pencak oleh Simbah. Tapi, karena Simbah sudah sepuh, keseimbanganya kurang, beliau juga sering kelihatan capek. Mungkin karena siangnya kerja di sawah. Lama-lama aku kasihan sama Simbah. Ketika lulus SD, aku masuk ke perguruan silat Kembang Setaman, anak perguruan SH. Latihannya di Stadion Abu Bakrin setiap minggu pagi.

Simbah hidup sangat sederhana. Rumahnya dari kayu dan bambu. Di depannya ada dipan bambu yang dibuatnya sendiri. Simbah cerita, kalau dulu punya anjing. Simbah tidak sengaja memeliharanya. Ceritanya, simbah malam-malam pulang dari kota Magelang. Pulangnya jalan kaki lewat pekuburan Giridarmoloyo (kami biasanya menyingkatnya menjadi Goriloyo). Ketika di tengah kuburan itu ada anjing yang mengikuti Simbah. Simbah menghalau anjing itu agar pergi. Tapi anjing itu tetap saja mengikuti Simbah sampai rumah. Akhirnya, karena tidak mau pergi Simbah bilang sama anjing itu:
“Nek kowe pingin melu aku, kudu nurut aku.”
“Kowe turu wae nang kene.” Sambil menunjuk ke dipan bambu itu.
“Ora oleh mblebu oman.”
Simbah adalah muslim yang taat. Tidak suka memelihara anjing. Meski tidak suka anjing, simbah tetap memelihara anjing itu. Tiap hari selalu diberi makan oleh Simbah lanang atau simbah wedok. Anjing itu jadi penjaga rumah. Kalau siang pergi dan kalau malam pulang ke rumah. Sampai suatu ketika anjing itu pergi dan tidak pernah kembali lagi.

Simbah juga pernah punya burung perkutut. Burungnya bagus dan ‘manggungnya’ bagus. Kalau ada orang pasti ‘manggung’. Kalau didekati ‘manggung’ juga. Simbah sangat menyayangi burungnya itu. Karena bagus, burung itu disukai orang dan ingin dibelinya. Simbah berat hati menjualnya, tapi karena sedang butuh uang. Burung perkutut itu akhirnya dijual juga.

Keahlian simbah sebagai tukang kayu banyak membantu bapak. Semua kusen dan kayu-kayu ketika membantun rumah yang mengerjakan Simbah dan Lik Pangat. Meja-meja warung Bapak yang membuat juga Simbah. Sampai sekarang masih bagus dan kuat.

Simbah orangnya suka bercanda. Kalau ditanya umurnya, simbah bilang:
“Umurku songolas tahun,” sambil ketawa-tawa.
Kami menyahutnya, “Ning ongkone di walik tho, Mbah?”
Kami pun ketawa bersama-sama.

Simbah sangat rajin beribadan, mengaji dan sholat. Setiap waktu sholat hampir selalu di masjid. Meskipun simbah sudah sangat sepuh sekali. Simbah masih rajin mengaji dan membaca Al Qur’an. Ketika pandangannya sudah mulai rabun dan pendengarannya berkurang, simbah mulai jarang membuka Al Qur’an. Kami belikan Al Qur’an yang ukurannya besar, biar mudah dibaca oleh Simbah.

Masih segar dalam ingatanku, simbah selalu menasehati aku dengan nasehat yang selalu diulang-ulang.
“Kowe ojo lali sholatte lan ngaji moco Quran.”
“Arepo kowe tekan ngendi-ngendi wae ojo lali sholat yo!”
“Tak dongakke kowe lan keluargamu sok ben iso munggah kaji nang mekah kono.”
“Amin…ngih, Mbah….”

“Aku wis ora pingin opo-opo. Aku wis tuwo. Mung kepingin ‘khusnul khotimah’ wae.”
“Aku ora pingin duwit opo sandang pangan sing enak. Ora.”

Meski sudah sepuh, simbah sangat sehat dan tidak pikun. Makannya banyak, apalagi kalau pakai sambel dan ikan. Meski giginya sudah banyak yang ompong, simbah tetap lahap makannya.

Simbah juga jarang sakit. Paling sakit masuk angin saja. Pernah beliau sakit parah beberapa tahun yang lalu. Di bawa ke rumah Jambon dan tidur di kamarku. Kami menyangka ini ‘sudah waktunya’ simbah. Alhamdulillah Simbah sehat lagi dan kembali beraktivitas seperti sedia kala.

Setahun yang lalu simbah juga sakit parah. Sudah lupa semuanya dan sudah tidak bisa apa-apa. Kami sudah pasrah, kalau Simbah mau ‘dipundut Sing Kuoso’. Alhamdulillah simbah kembali sehat. Waktu saya telepon ke adik saya,
“Piye kabar Simbah”,
“Alhamdulillah sehat wae, malah wingi bar seko Jambon.”

Minggu yang lalu, hari kamis malam, sepulang kerja. Seperti biasa kami sholat magrib di masjid dan pulang ke rumah sambil menghafal Al Qur’an. Saya buka laptop saya. Tiba-tiba ada ‘notification’ dari Facebook kalau adik saya men-tag sebuah foto. Sangat jarang adik saya men-tag foto, karena itu saya buka linknya.
Adik saya memposting foto lama simbah dan ada tulisannya; Innalillahi wa innailaihi rojiun.

Seperti disambar geledek. Langsung saya telepon ke adik.
“Ono opo, Ngek?”
“Simbah sedo” jawabnya singkat.
Innalillahi wa innailaihi rojiun, ucap saya lirih.

“Mau awan jam siji.”
“Lha saiki piye, wis disarekke durung?”
“Wis, iki bar rampung wae, mau jam limo sore.”
“Aku mau telpon kowe ora iso-iso.”

Saya sangat dekat dengan Simbah. Setelah Bapak ’tilar’, Simbah lah yang saya anggap sebagai orang tua penganti Bapak. Sangat sulit saya menceritakan bagaimana perasaanku waktu mendengar kabar ini. Dulu ketika Bapak ’tilar’, saya tidak sempat menunggui dan pulang. Kini, ketika simbah ’tilar’ saya juga tidak bisa menunggui dan pulang.

Tapi saya bangga dengan Simbah. Beliau ‘sedo’ dengan kondisi baik. Hanya sakit biasa dua hari saja. Insha Allah, khusnul khotimah seperti yang selalu beliau inginkan.

Nasehat Simbah selalu tergiang di telinga saya. Karena nasehat itu selalu diucapkan beliau sejak aku masih SMA dulu sampai sekarang. Nasehatnya sama terus dan diulang-ulang.
Simbah menjadi suritauladan saya; kesederhanaan Simbah, keistiqomahan Simbah, kepasrahan Simbah, ke-itmi’nan beliau, ke-qona’ahan Simbah.

Sugeng Tindak Simbah.

simbah kakung

Foto kenangan terakhir bersama Simbah Kakung ketika lebaran 1436H/2015. Simbah masih sehat wal afiat.

Simbah Kakung Magelang semasa hidup.

Simbah Kakung Magelang semasa hidup.

Simbah Kakung Magelang semasa hidup.

Simbah Kakung Magelang semasa hidup.

Simbah Kakung Magelang semasa hidup.

Simbah Kakung Magelang semasa hidup.

Simbah Kakung Magelang - 1 (1)

Simbah Kakung Magelang - 1 (2)

Simbah Kakung Magelang - 1 (3)

Simbah Kakung Magelang - 1 (4)

Simbah Kakung Magelang - 1 (5)

Simbah Kakung Magelang - 1 (8)

Simbah Kakung Magelang - 1 (9)

Simbah Kakung Magelang - 1 (10)

Herbal Daun Bluntas: cara tradisional mengobati wasir/ambeien

bluntas tanaman obat

Daun bluntas sebagai obat wasir

Saya main ke rumah tentangga, Pak Yanto. Saya lihat di depan rumahnya ada tanaman yang saya kenal. Saya tanya ke Pak Yanto:
“Wit opo ki, Pak Yanto?” (Tanaman apa ini, Pak Yanto)
“Ooo… kuwi wit nggo tombo ambeien.” (ooo….itu tanaman untuk obat ambeien/wasir)
“Mosok tho….” (Massa sih)
“Koncoku ki loro ambeien. Njur diobati nggango godong wit iki. Lha ndelalah kok yo mari.” (Temanku itu sakit ambeien. Trus diobati pakai daun ini. Ternyata bisa sembuh)
“Carane yo mung dienggo lalap ngene wae.” (caranya cuma dengan dimakan sebagai lalapan saja)
Pak Yanto lalu mengambil satu daun dan dimakan.
“Rasanya enak tidak pahit.”

Saya kenal tanaman ini. Namanya adalah Bluntas atau Beluntas (Pluchea indica L.). Banyak ditemui di Jawa (jawa tengah jawa timur). Biasa digunakan sebagai lalapan atau disayur sop/lodeh. Rasanya enak dan tidak pahit. Daun Bluntas mudah di tanam. Tanamanya perdu, daunnnya lunak dan pingir-pingirnya bergerigi. Saya pernah juga menemukan tanaman ini di kebun percobaannya PKTH yang di Ciawi. Di Desa Balumbang Jaya, Bogor saya juga pernah menemukan tanaman ini di depan rumah warga. Kalau di tempat saya dulu, tanaman ini juga dikenal bisa menghilangkan bau badan, sama seperti khasianya daun kemanggi. Ternyata daun bluntas/beluntas juga bisa digunakan untuk mengobati sakit ambeien/wasir. Tanaman ini menjadi salah satu tanaman herbal kekayaan negeri ini.

Jika Anda kebetulan sakit ambeien/wasir, bisa mencoba memakan daun beluntas ini. Siapa tahu sakit ambeien/wasir Anda bisa segera sembuh.

Semoga bermanfaat.

tanaman obat bluntas

Tanaman obat bluntas, bisa dimakan sebagai lalapan atau kuluban.

Ulat Hongkong, ulat pemakan sampah plastik styrofoam

Ulat hongkong yang bisa memakan sampah plastik styrofoam

Ulat hongkong (Tenebrio molitor) yang bisa memakan sampah plastik styrofoam

Ulat ini sangat dikenal oleh para pencinta burung, karena ulat ini biasanya digunakan sebagai pakan burung. Nama dagangnya adalah ‘Ulat Hongkong’. Siapa sangka ternyata ulat ini bisa menjadi solusi bagi masalah sampah plastik styrofoam.

Dua jurnal ilmiah yang diterbitkan baru-baru ini mengungkapkan kehebatan ulat kecil ini dalam memakan sampah plastik styrofoam. Silahkan dilihat di link berikut ini:

  1. Biodegradation and Mineralization of Polystyrene by Plastic-Eating Mealworms: Part 1. Chemical and Physical Characterization and Isotopic Tests
  2. Biodegradation and Mineralization of Polystyrene by Plastic-Eating Mealworms: Part 2. Role of Gut Microorganisms

Penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti dari China itu membuktikan bahwa ulat hongkong yang mempunyai nama ilmiah Tenebrio molitor memakan sampah plastik styrofoam. Mikroba-mikroba yang ada di dalam usus ulat ini mampu memecah styrofoam menjadi karbon dioksida (CO2). Hebat sekali. Selama ini sampah plastik dikenal sebagai sampah yang tidak bisa didegradasi.

Penemuan ini membuka peluang untuk menangani masalah sampah plastik, khususunya sampah plastik styrofoam. Apalagi ulat hongkong sangat mudah diternakkan.

ulat hongkong tenebrio molitor sampah plastik styrofoam

Ulat hongkong pemakan sampah plastik styrofoam

Pemanfaatan Botol Bekas Air Mineral untuk Kerajinan

Botol bekas bisa dimanfaatan untuk berbagai macam kegunaan, selain sebagai pot tanaman. Salah satunya adalah dipakai sebagai bahan sapu, sikat. Caranya cukup sederhana seperti yang ditunjukkan pada video di atas. Pertama botol plastik dijadikan serat terlebih dahulu. Kemudian baru digunakan sebagai bulu sikat/sapu.

Pemanfaatan Kompos dari Sampah Organik untuk Kebun Rumahan

Sampah organik rumah tangga bisa dibuat kompos dengan teknik yang sederhana dan murah. Pupuk kompos yang dihasilkan dimanfaatkan sebagai media tanam, misalnya untuk tanaman sayuran, tanaman buah-buahan dan tanaman hias. Untuk tempat penanaman bisa memanfaatkan botol bekas air mineral atau botol-botol bekas lainnya. Lokasinya pun bisa memanfaatkan sisa lahan pekarangan yang ada. Meskipun sempit, lahan kosong ini bisa menghasilkan sayuran atau buah-buah. Keunggulan lainnya adalah tanaman ini dibudidayakan secara organik, sehingga produk sayuran yang dihasilkan juga organik. Sayuran organik lebih sehat dan lebih aman bagi kesehatan.

Tanaman Obat Bermanfaat Binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis.)

Daun tanaman obat binahong

Daun Tanaman Obat Binahong. Seduhannya bisa menyegarkan tubuh.

Umminya Royan, diberitahu oleh tetannga saya, Bu Ujang tentang tanaman Binahong. Konon katanya daun tanaman ini bisa untuk obat bermacam-macam penyakit. Binahong bisa untuk mengobati luka. Kalau luka, daun binahong digerus dan dioleskan ke luka. Bisa juga untuk gatal-gatal/eksim. Ternyata seduhannya pun bisa untuk obat macam-macam. Teman saya Yudi Wahyudin yang kerja di dinas kesehatan, mengatakan kalau dia biasa minum seduhan daun binahong jika merasa tidak enak badan. Istrinya juga biasa melakukan itu. Dulu mereka biasa mengkonsumsi obat warung, sekarang sudah tidak lagi. Teman-teman saya juga bilang kalau seduhan daun binahong bisa untuk mengobati asam urat.

Cara membuat seduhannya sangatlah mudah. Caranya: ambil beberapa lembar daun binahong yang masih segar (5-10 lembar). Daun dicuci dengan air bersih. Ditiriskan. Kemudian diseduh dengan air mendidih. Setelah dingin, airnya diminum. Jika perlu bisa diminum pagi dan sore. Saya sih biasanya minum kalau sedang tidak enak badan saya. Sehari sekali sudah cukup.
Continue reading

Memanfaatkan tempat bekas telur untuk persemaian